Dunia memiliki sistem mutlak yang ditetapkan jutaan tahun lamanya. Sistem rimba, yang terkuat dialah yang berkuasa dan yang lemah akan tersingkir. Sistem itulah awal terlahir kasta antara mahkluk hidup, sebuah hukum yang tidak dapat diubah dan akan terus berjalan. Tahun berganti, hukum mulai goyah. Keadilan tidak diberikan pada yang hak. Namun pada yang berkuasa. Jutaan tahun berlalu. Langit menciptakan hukum baru yang berpusat pada keseimbangan. Malaikat penyelamat bagi mereka yang tersingkir, memiliki tujuan menghancurkan sistem yang telah goyah. Dewa agung menjadi dakwa yang berdosa telah menciptakan iblis berwujud cahaya. Mereka yang berkuasa melawan mereka yang dibuang, terus bertahan hidup untuk melanjutkan perang tiada akhir demi jawaban kebenaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arkara Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 021 —Xiao Die
Pagi telah datang, namun pagi ini terasa berbeda dari hari-hari yang telah Zabarin lalui. Ia tidur begitu nyenyak, bangun pun begitu. Badan nya sangat dimanjakan oleh kelembutan kasur.
Ia memutuskan untuk bangkit dari kasur, dan berjalan kearah jendela. Membuka nya lebar dan merasakan, angin laut menerpa wajah nya. Dengan aroma-aroma yang begitu khas, matahari bersinar terang. Memanjakan matanya yang baru terbuka.
"Huh... Hah... Inilah hidup yang sebenarnya!" Suara nya terdengar pelan, seperti bergumam. Sembari menarik dan menghembuskan nafas dari udara yang segar. Kota caelundra begitu indah saat pagi hari, dengan lautan dan arsitektur serta bangunan-bangunan megah. Membuat nya seperti kota kerajaan.
Ia kemudian melihat kebawah, dimana sebuah jalan telah dipenuhi oleh banyak orang berlalu lalang. Membuka kedai, menuju tempat kerja, dan bahkan ada yang bersiap mencari ikan di laut lepas.
Namun, saat kedamaian itu menyilaukan mata nya. Ia kembali teringat akan sesuatu, membuat ekspresi wajah nya berubah dari yang damai. Menjadi sedikit emosi.
"Sebenarnya... Siapa yang tega merenggut kedamaian ini dari semua orang?!" Gumam nya kecil, matanya dipenuhi sorot tajam dengan kilatan kejam di silauan nya.
Wuuusshhh! Angin menderu diatas nya, membawa dengungan yang bisa dirasakan. Seekor burung terbang bebas, dan kemudian mendarat diatas atap rumah seorang warga. Menggigit setangkai kecil daun dan menyusun nya, Zabarin memperhatikan dari jauh. Dedaunan yang dikumpulkan membentuk sarang yang rapi.
Burung itu pun pergi, namun beberapa saat kembali lagi. Membawa daun lain dan menyusun nya kembali, penuh perjuangan untuk membuat rumah yang burung itu inginkan.
Zabarin tersenyum melihat kerja keras nya, namun begitu burung itu kembali lagi. Seekor kucing datang dari atap rumah lain, menyambar burung yang sedang membuat rumah.
Meong! Untung nya burung itu berhasil terbang kembali, namun dengan merelakan sarang nya hancur akibat dihantam oleh tabrakan kucing itu.
"Burung hanya ingin bebas dan hidup dirumah yang tenang, namun kucing menghancurkan rumah nya hanya karena serakah. Ingin memangsa burung itu!" Gumam Zabarin tidak sadar, melihat interaksi kecil itu. Akhirnya ia sadar, kenapa dunia ini disebut seperti neraka.
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba sebelum ia berpikir lagi, tiga ketukan dipintu mengagetkan nya. Membawa kesadarannya kembali, "tunggu sebentar!" Seru nya dan kemudian menghambur kearah pintu, merapikan sedikit wajah dan rambutnya. Ia membukanya.
Seorang pelayan masuk, dengan mendorong troli yang dipenuhi bekal makanan. "Ini sarapan anda tuan... Silahkan dinikmati!" Ucap wanita itu, Zabarin menerima nya dengan senang hati sembari tersenyum dan mengangguk kecil. Kemudian pelayan wanita itu pergi ke kamar lain.
"Wanita itu... Seperti nya aku pernah melihat nya!" Gumam Zabarin memperhatikan kembali wanita itu, dengan rambut hitam panjang sepunggung. Begitu halus dan lebat, tidak seperti penampilan seorang pelayan. Wajah nya yang cantik tanpa noda memperkuat itu, tubuh nya sangat ideal dan tidak terlalu tinggi. Mungkin setinggi bahu nya.
Ia kemudian masuk dan menutup pintu, seberapa keras ia mengingat. Hanya sia-sia karena ada banyak wanita Yang ia lihat, jadi ia tidak bisa mengingat satu-satu.
Duduk diatas sofa sederhana dikamar nya, ia membuka bekal makanan itu. Yang terbuat dari besi namun cukup elastis. Matanya dipenuhi bintang saat melihat isi nya, walaupun tidak banyak. Namun, hidangan ini baru pertama kali ia makan.
Nasi putih panas, dengan lauk ikan gulai dan juga daging cumi yang di cincang hingga kecil. Aroma nya begitu lezat, sampai tidak sadar. Ia melahap nya dengan cepat.
Beberapa menit kemudian, seluruh isi yang ada didalam bekal makan itu habis tanpa sisa. Hanya tertinggal tulang ikan, ia kemudian meletakkan bekal kosong itu diatas meja depan kamar. Yang memang tersedia satu setiap ruangan.
Ia kemudian pergi mandi, didalam kamar ini ada ruangan untuk membersihkan diri. Begitu kilat dan juga bersih, membuat nyaa nyaman untuk berlama-lama.
Namun itu tidak ia lakukan, daripada menghabiskan waktu ditempat ini. Lebih baik mereka berjalan-jalan dikota, karena masih banyak yang ingin ia rasakan dan juga lihat. Belum lagi, kota ini begitu kaya akan keunikan nya.
Selepas mandi, ia mengenakan baju itu lagi. Baju putih dengan corakan emas seperti bangsawan, mungkin ini terlihat norak jika dikenakan oleh rakyat biasa sepertinya. Namun yah, ia tidak memiliki baju lain selain yang diberikan Shi Jian.
Berjalan keluar dan pergi kekamar enam belas, dan mengetuk nya. Beberapa saat, Enki keluar dengan Azrealon yang tampak lebih bertenaga dan hidup. Tidak seperti sebelumnya, yang kurus dan kecil itu.
"Apakah dia berhasil naik tingkat lagi?" Tanya Zabarin begitu mereka keluar, Enki hanya mengangguk walaupun ia tidak bisa menyembunyikan rasa gembira nya.
"Enki... Bukan kah masih ada banyak tempat dikota ini? Ayo pergi kesana, tempat yang menurutmu bagus dan tidak membosankan!" Seru nya lagi, mengikuti Enki dari belakang.
"Tentu saja... Kita memiliki empat hari lagi kan sebelum batas penginapan berakhir?. Kita telusuri saja seluruh kota!" Balas Enki membuat Zabarin gembira.
Ia kemudian berjalan kesamping Enki, mengikuti nya untuk keluar dari penginapan. Dalam keheningan itu, hati Zabarin berteriak gembira. Walaupun tidak ada Shi Jian, ia bisa mendapatkan pengalaman lebih kaya dikota ini.
Saat kegembiraan itu menutupi mata nya, ia sedikit lengah. Dan kebetulan, dari samping lorong tempat nya berjalan, muncul sebuah troli makanan yang didorong oleh seorang wanita pelayan!. Itu begitu mendadak keluar, sampai ia tidak siap untuk berhenti atau menghindar.
Bruk! Pyaarr!
Ia menabrak wanita itu, yang terkejut juga. Troli besi itu jatuh hingga terdengar nyaring diseluruh lorong. Suasana tampak ramai, ia dan wanita pelayan itu jatuh bersamaan namun untungnya ia tidak menimpa wanita itu.
"Zabarin!. Kau tidak apa-apa?" Ucap Enki panik, ia juga terkejut dengan kejadian itu. Dan bergegas membantu nya bangkit, sementara wanita itu tampak menahan ngilu ditangan nya.
"Maaf tuan... Saya ceroboh karena tidak melihat sekitar!" Suara wanita itu terdengar meminta maaf. Zabarin dan Enki yang mendengar itu menoleh, dan mendapati wanita itu adalah pelayan yang memberikan mereka sarapan.
"Kau tidak mengapa nona?. Ini juga salah ku... Aku sedikit melamun dan tidak memperhatikan mu keluar dari lorong ini!" Balas Zabarin menyalahkan diri nya, dan bergegas membantu wanita itu bangkit. Sementara Enki, ia menyusun kembali troli yang terjatuh. Untung nya tidak ada bekal lagi, jadi mudah untuk dibereskan.
"Tidak, tidak perlu... Itu tugas saya!" Seru wanita itu, membalas Zabarin juga menegur Enki yang membereskan kekacauan sendirian.
"Tidak apa... Ini juga salah teman saya, jadi tidak masalah untuk itu!" Balas Enki tenang, Wanita itu mengangguk pelan.
"Xiao die!" Dari jauh, diujung lorong kiri ini. Seorang wanita berlari menghampiri mereka dengan khawatir, sembari memanggil nama wanita pelayan ini. Zabarin yang melihat wanita itu berlari langsung teringat pada saat itu, dimana mereka pertama kali ke penginapan ini. Wanita itu sekilas melirik nya, dan wanita ini... Adalah teman nya?.
Ia tidak menyangka mereka berdua adalah pelayan di penginapan ini, padahal dari baju mereka saat itu. Seperti orang yang kaya raya.
"Xiao die... Kau, kau tidak apa-apa?. Apa mereka berdua mengganggu mu?" Seru wanita itu khawatir, saat tiba didekat pelayan Bernama Xiao die itu.
"Tidak... Aku tidak apa-apa, ini kesalahan ku karena tidak fokus bekerja!" Ucap Xiao die tersenyum tipis. Membawa keyakinan yang besar, namun wanita itu tidak percaya. Dan langsung ingin menghadapi mereka.
"Kalian!. Apa yang kalian lakukan pada teman ku?!" Teriak nya membuat Zabarin heran, sementara itu Xiao die tampak mencegah wanita itu dan menarik nya untuk menjauh. Menyudahi perdebatan ini agar tidak melebar lebih jauh.
"Ling Qi... Sudah, mereka tidak melakukan apapun pada ku... Lihat lah, aku baik-baik saja kan?" Suara Xiao die kembali terdengar, meyakinkan teman nya itu yang bernama Ling Qi.
"Hei nona... Dengar lah penjelasan teman mu itu, ini hanya kejadian tidak sengaja... Kami tidak berniat buruk apapun!" Ucap Zabarin ikut menyuarakan, sedikit kesal dengan sikap wanita ini yang baginya sedikit bar-bar dan keras kepala.
Ling Qi menoleh kearah Xiao die. Mencoba mencari tahu kebenarannya, dan Xiao die hanya mengangguk membenarkan. "Selamat kalian kali ini... Tidak peduli kalian tamu terhormat atau apalah itu, kalau kalian macam-macam dengan teman ku... Aku akan mematahkan tulang-tulang kalian!" Ancam wanita itu, begitu kejam. Tidak seperti seorang wanita yang seharusnya anggun.
"Ling Qi... Sudah. Ayo kita kembali, kita masih ada banyak kerjaan!" Ajak Xiao die. Mengajaknya pergi agar tidak menimbulkan masalah lain, wanita itu hanya menurut.
"Wanita itu... Apa dia tidak tau cara menghormati tamu?" Geram Zabarin dalam batin nya, kemudian Enki pun menepuk bahu nya. Mengajak nya untuk pergi, karena masalah ini sudah kelar.
Gggrrr! Namun tiba-tiba saja, saat keempat orang itu hanya melangkah beberapa saat dari tempat itu. Suara derak dan gesekan terdengar nyaring diseluruh lorong, keempat nya membeku. Zabarin merasakan sinyal bahaya yang begitu kuat dari instingnya!.
Derakan itu semakin kencang, sampai disusul dengan lantai dibawah kaki mereka bergetar sedikit demi sedikit. Sampai menjadi guncangan yang sedikit kuat.
Enki yang merasakan hal itu langsung panik seketika, tanda-tanda ini. Ia pernah merasakan nya!. "SEMUANYA KELUAR DARI GEDUNG INI!" Teriak nya kencang, sampai terdengar diseluruh lorong. Zabarin begitu terkejut dengan apa yang Enki katakan.
"Kalian, cepat lah keluar... Bencana gempa bumi akan datang kekota ini!" Panggil Enki pada Xiao die dan Ling Qi. Mereka berdua, yang sadar akan hal itu langsung bergegas mengikuti mereka.
"Zabarin... Kita juga bergegas keluar, akan berbahaya jika kita tetap didalam!" Seru Enki dan bergegas menggendong Azrealon ke punggungnya. Zabarin yang tidak tau akan hal itu, hanya mengikuti saja.
"Semua nya, cepat keluar selagi bisa!" Teriak Enki sekali lagi, disepanjang lorong. Memanggil seluruh penghuni nya untuk keluar, segera setelah itu. Lorong langsung dipenuhi oleh orang-orang Yang panik.
Semua orang bisa merasakan nya, getaran hebat itu. Dan sadar bahwa itu gempa bumi, tangga dipenuhi oleh banyak orang, berbondong-bondong untuk keluar. Sampai menghimpit sesama lain, namun Enki dan Zabarin, serta kedua pelayan itu yang sudah berlari lebih dahulu dapat keluar tanpa berdesakan.
Diluar, sudah ada banyak warga berkumpul. Memenuhi jalan, kepanikan melanda semua orang, yang ingin menyelamatkan nyawa nya sendiri. Namun, dalam situasi kacau itu. Sebuah suara terdengar dari pusat kota.
Wooonggg! Sebuah lonceng besar menggema diseluruh kota, dapat terdengar oleh siapa saja. Pertanda sesuatu yang besar akan datang, Zabarin dan Enki. Juga mendengar itu, namun dengan indra Enki yang begitu luas. Ia tiba-tiba menoleh kearah laut, matanya terbelalak begitu melihat apa yang ada.
"Hoi... Hoi... Hoi, ini bercanda kan!" Teriak Enki menatap lautan, segera setelah ia mengucapkan itu. Semua orang beralih menatap laut, keterkejutan dan ketakutan langsung menghampiri semua orang. Begitu juga Zabarin, kejadian ini. Baru pertamakali ia lihat.
Diatas laut, tsunami besar setinggi puluhan meter datang dengan kecepatan tinggi. Namun dengan sesuatu yang berbeda, dari langit tampak ribuan cahaya kegelapan terbang dengan kecepatan tinggi bersama gelombang tsunami. Teror memenuhi kepala mereka, akan kejadian ini. Tentang apa yang melanda kota, kehancuran... Sudah ada didepan mata!.
judul : Professor & Student: Love Through Time.
ikuti setiap langkah bab barunya sampai tamat enggak setengah², terima kasih ☺️🙏🏻💪.