NovelToon NovelToon
KEJEBAK CINTA

KEJEBAK CINTA

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Obsesi / Persahabatan / Keluarga & Kasih Sayang / Mengubah Takdir / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunny0065

"Tanpa kita sadari, perasaan ini tumbuh seiring berjalannya waktu."

— Naura dan Rahsya —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunny0065, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resah

"Naura enggak rampas apapun dari hidup Lo. Dia jujur sekolah. Tentang perasaan Rahsya yang berpindah ke lain hati, itu kemauannya sendiri tanpa adanya paksaan dari pihak siapapun. Kami tahu, kasih sayang Lo kepada Rahsya seluas taman Asteena tetapi untuk memiliki hidupnya, itu egois," desis Kinan.

"Ada apa dengan pikiran Lo, Kinan? Dulu, sebelum ada Naura, Lo dukung kehendak gue. Ketika Naura muncul Lo khianati gue! Kenapa Lo ikutan dukung hubungan mereka? Kenapa kaki Lo mundur jauhi gue? Kenapa mesti Naura yang dapatin Rahsya? Kenapa satu kelas membenci gue? Apa salah gue?!" teriak Adara.

"Hubungan Lo dan Rahsya enggak bisa dibenarkan! Sadar Adara, Lo itu adiknya dia! Lo enggak boleh menyukai Rahsya melebihi ala kadarnya, perasaan yang Lo anggap sayang bukan perduli, pemahaman Lo keliru, Lo udah kejebak sama perasaan Lo sendiri!" Kinan balas berteriak.

"Gue enggak sakit jiwa!"

"Gue enggak ada bilang Lo sakit. Gue bicara apa adanya! Ra, menyukai abang sendiri tentunya bahaya! Sebelum perasaan Lo jatuh lebih dalam, lebih baik introspeksi diri dan lupain Rahsya. Gue berani kasih nasehat begini karena Lo teman gue! Gue peduli sama Lo. Gue enggak mau Lo terjerumus jauh!"

"Lo sengaja kan laporin Naura dan Rahsya ke guru BK supaya Naura di keluarin dari asrama? Dengan begitu, Lo berharap semua saingan Lo kalah, dan Lo bisa miliki Rahsya seutuhnya, benar-benar licik!" lanjut Kinan menggebu-gebu.

Adara menutup telinga dengan telapak tangan, menggeleng keras membantah tuduhan tersebut. "Gue enggak pernah mengadukan kejadian itu ke Pak Eric. Gue cuma jebak Naura. Udah, itu aja!" 

...

Cerita Kinan saat mengintimidasi Adara di ruang musik mempengaruhi suasana kelas menjadi hening.

Gibran melempar atensi ke beberapa kursi kosong di sekitarnya, hari ini, Adara, Naura dan Rahsya tidak masuk sekolah.

"Bisa kompak begini mereka alfa," gumam Dimas.

Mengenai permasalahan ini, Kevin termenung merangkai puzzle di kepala.

"Naura juga enggak tahu siapa orangnya, kalau Adara bukan pelaku pelaporan, lalu siapa?" bingung Kevin.

"Selaku orang tua sepertinya Bu Salma tahu siapa pelaku penjebakan Rahsya dan Naura tempo lalu. Gue punya ide, gimana abis pulang sekolah, kita bertamu ke rumah beliau? Kita gali informasi buat usut masalah," saran Gibran.

Kevin manggut setuju.

"Kita jenguk Adara juga," tambah Kinan.

"Acungkan jari bagi yang mau ikut," kata Kevin.

Gibran, Kevin serta Kinan, mengangguk maklum melihat teman-teman lainnya tidak mengacungkan jari.

*

"Dobrak Gib!" suruh Kevin.

"Ini pintu rumahnya Bu Salma bukan pintu toilet waktu lalu yang Gibran dobrak," ujar Kinan.

"Kasus tengah kita tangani serius, jangan rendam lama-lama, kita ambil jalan pintasnya aja biar cepat mengintrogasi," geram Kevin.

"Dari tadi kerjaan Lo ngegas terus, diam kek," sahut Gibran.

"Lagian pergerakan Lo terbatas amat, masalah ketuk pintu ragu-ragu. Awas, gantian posisi!" gatal Kevin.

Pintu rumah terbuka. Ralat, dibuka oleh pemilik kediaman.

"Selamat siang, Bu," sapa Gibran.

"Kalian," gumam Bu Salma.

Gibran menoleh kepada Kinan dan Kevin, meminta bantuan bicara.

"Anu, Bu, kita mau ketemu Adara. Soalnya hari ini dia enggak masuk kelas tanpa keterangan. Apa, Adara nya ada?" alasan Kinan.

"Kalian mencari Adara? Mari, saya tunjukkan sesuatu." Bu Salma mengajak murid didiknya masuk.

Kesan pertama menginjakkan kaki ke dalam rumah wali kelasnya adalah sepi dan dingin seolah di kediaman ini tak berpenghuni.

"Silakan duduk. Saya ke dapur sebentar ambil minuman untuk kalian."

Bu Salma berjalan menuju dapur, meninggalkan murid-muridnya di ruang tamu.

"Untung alasannya masuk akal," lega Kinan.

Gibran dan Kevin sibuk berbisik mendiskusikan langkah berikutnya.

Wanita berprofesi sebagai guru kembali dengan membawa nampan terdapat tiga gelas minuman dingin. Bu Salma menaruh nampan di atas meja dan menyuruh anak-anak didiknya minum.

"Terimakasih, Bu," ucap Gibran meraih gelas berkaki panjang, ikutan minum seperti Kinan dan Kevin lakukan.

"Untuk ketemu Adara, kalian harus berusaha cukup extra," ucap Bu Salma.

"Adara baik-baik aja kan Bu?" khawatir Kinan.

Bu Salma menggeleng samar.

Kinan menyenggol badan Kevin lalu Kevin menyambung senggol lengan Gibran.

Mereka bingung melihat wajah sendu Bu Salma.

"Ibu enggak apa-apa?" tanya Kinan hati-hati.

Bu Salma beranjak, mengambil dua amplop putih dari nakas dan meletakkannya dihadapan tiga remaja.

"Silakan buka. Kalian pasti terkejut membaca isi suratnya," kata Bu Salma.

Kevin mengambil dua amplop sekaligus, membuka satu per satu dan membaca barengan dengan Gibran serta Kinan.

Amplop pertama menerangkan kondisi psikologis Adara. Amplop kedua menjelaskan pengunduran sekolah atas nama Rahsya dan Naura.

Kevin, Gibran, dan Kinan tercengang, tidak menduga pernyataan di kedua surat merupakan jawaban atas serentetan tanda tanya di benak masing-masing.

"Kapan Rahsya dan Naura pergi?" tanya Kevin, menekan sesak di dada.

Fakta menyakitkan bahwa perempuan disukainya akhir-akhir ini terbukti menyimpan hubungan spesial dengan cowok si paling unggul.

"Kemarin. Dini hari. Saya mendapatkan surat pengunduran langsung dari tangan kepala asrama. Saya tidak bisa berbuat apa-apa ketika kepala asrama mencoret nama Rahsya dan Naura dari buku agenda. Beliau menerima keputusan mereka berdua yang mengakhiri pendidikan," jawab Bu Salma, sendu.

"Alasan membingungkan. Di sini mereka enggak mencantumkan alasan di balik pengunduran diri. Mengapa kepala asrama menyetujui begitu aja?" protes Kevin merasa tak rasional.

"Mereka berdua sudah menikah. Kepala asrama mengetahui hal itu karena beliau pemberi hukuman atas kesalahan Naura dan Rahsya. Kalian ingat kejadian kala itu? Naura dan Rahsya tertangkap basah berduaan di kamar mandi. Itu mengapa, Rahsya tidak menjelaskan detail keputusannya meninggalkan asrama bersama Naura karena kepala sekolah sudah mengizinkannya pergi." Bu Salma mengungkap penuh kerelaan hubungan gelap putranya dengan siswi itu.

Keterkejutan hinggap di wajah Gibran.

Kinan terhenyak.

Kevin berteriak.

Ketiganya syok.

Jadi selama ini Rahsya dan Naura diam-diam merahasiakan perkara nikah!

"Gimana kondisi Adara?" tercekat Gibran.

"Surat ini sudah dibaca Adara. Dia tahu kepergian Rahsya meninggalkan rumah.   Dia jatuh terpuruk, mengisolasi diri di kamar. Jangankan makan, minum pun tak lagi mengisi perutnya, Adara sangat menghukum kesehatannya sendiri," isak Bu Salma.

"Ya ampun, Adara! Bu, boleh saya coba mengetuk pintu kamarnya? Siapa tahu, Adara keluar," cemas Kinan.

Bu Salma mengangguk pasrah.

Gibran mencari kamar Adara dan mengetuk brutal pintu berwarna biru bergantung papan nama Princess.

Kinan menyusul, memanggil-manggil nama Adara berharap gadis sengaja mengurung diri, mau membuka pintu.

Kevin meraup wajah kusutnya. Apa yang harus dilakukan?

"Ibu tahu ke mana perginya Rahsya bawa Naura?" tanya Kevin.

"Rahsya tidak bilang pergi ke mana. Tapi, kamu bisa coba menelponnya." Bu Salma mengambil pena dan buku, mencatat dua belas digit angka nomor putranya.

Kevin menekuk kedua alis, menatap buku di sodorkan gurunya. "Kenapa enggak Ibu aja yang menghubungi?" tanyanya.

Bu Salma mengusap lelehan air mata. "Puluhan kali saya menghubunginya, tapi tak jua diangkat."

Miris.

Emosi Kevin naik ke ubun-ubun, si misterius Rahsya bersikap kelewatan mengabaikan kecemasan ibunya.

Kevin mengeluarkan ponsel dari kantung celana abunya, mengetik nomor Rahsya dan coba memanggil.

Berdering, namun tak dijawab.

"Tersambung?" tanya Bu Salma.

"Nihil," geleng Kevin.

"Coba telpon sama dua temanmu," usul Bu Salma.

"Gimana bisa Bu. Kami semua enggak ada simpan nomornya Rahsya. Ini pun baru dapat dari Ibu. Anak itu terlalu seleb."

Sementara. Gibran berhenti menggedor pintu, terbayang wajah sedih Naura.

"Ini salah," lirih Gibran perlahan mundur.

Kinan menoleh bingung.

Gibran menggeleng, lari menjauh dengan membawa perasaan tak tentu.

Apa yang terjadi pada Gibran? Kinan memutuskan mengejar lalu terkesiap dipanggil Kevin.

"Gibran mau ke mana?" tanya Kevin.

Kinan menggeleng lantas menyambung lari.

"Kayaknya ada yang enggak beres. Bu, kami pamit!"

Kevin menyusul dua temannya yang duluan meninggalkan rumah.

Di halaman Asrama, Kinan meraih lengan Gibran dan membalik paksa tubuh lawan bicaranya.

"Lo kenapa main pergi. Kita belum tahu kondisi Adara kayak gimana!" sentak Kinan.

"Mengkhawatirkan orang egois seperti Adara enggak ada gunanya. Ingat, berkat Adara menjebak Rahsya dan Naura, mereka berdua jadi nikah. Adara melakukan itu dengan penuh perencanaan, terus untuk apa kita memperdulikannya? Dia terluka karena ulahnya sendiri, coba aja Adara enggak melakukan hal bodoh semacam itu, perasaan sakit hati enggak akan dia dapat!" Gibran berkata tajam.

"Jadi ini alasan Lo memilih pergi karena Naura korban penjebakan Adara? Lo belum bisa memaafkan kesalahan Adara? Sekarang jawab gue. Lo suka kan sama Naura?" todong Kinan.

"Iya. Gue menyukai Naura!"

Deg!

1
Không quan tâm🧚‍
Gak nyangka endingnya bakal begini keren!! 👍
Naruto Uzumaki
Bosen gak ada akhirnya!
Bunny Bear: Belum juga selesai, memang alur agak lambat sih
total 1 replies
minsook123
Penuh kejutan, ngga bisa ditebak!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!