*HARAP BIJAK*
Tulisan ini mengandung konten dewasa dan dikhususkan untuk yang sudah berusia 18+
Chloe adalah wanita yang dianugerahi dengan tubuh sempurna, hidup berkecukupan dan dikejar banyak lelaki. Setiap orang yang melihatnya sekilas akan menginginkan hidup sepertinya. Namun, tidak dengan dengannya. Apakah yang terjadi pada Chloe?
Mengampuni adalah satu kata yang mudah diucapkan namun sulit bahkan hampir mustahil Chloe lakukan. Masa lalu mengikatnya seperti tali dan mengikutinya layaknya bayangan.
Bagaimana Chloe bangkit dari masa lalu? Akankah ia berhasil melaluinya? Atau justru semakin tenggelam dan larut didalamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SRIYANTI 150317, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penerimaan
Bella sangat malu dan berusaha mengontrol mimik wajahnya didepan Max. Dia tak mau Max terbawa ke dalam masalah yang ia buat. Bella mempercepat langkah kakinya dan membawa Max kedalam mobil. Untung saja ia memakai kacamata jadi Max tak menyadari matanya sedang berkaca-kaca.
Sesampai di mobil, Bella mengatur nafasnya sedangkan Max tiba-tiba memeluk Bella.
“Bella, apakah pipimu sakit?” (Melepas pelukan dan mengelus wajah Bella.
Bella yang melihatnya tak mampu menahan air matanya dan menangis sesenggukan didepan Max. Ia melepas kacamatanya dan memeluk Max erat.
“Max, maafkan aku. Aku merusak hari ini dan mengacaukannya. Seharusnya ini tak pernah terjadi. Aku mi...minta maaf, Max.”
“Bella, aku tak akan marah. Semua akan baik-baik saja. Kita bisa mencari sekolah lain. Bella, aku sangat menyayangimu. Jangan menangis, Bella.”
“Aku sangat bangga memiliki mu, Max. Bahkan di kehidupan manapun aku ingin kau tetap menjadi adikku, Max.”
“Aku juga, Bella. Bagaimana jika kita menjemput ibu dan membeli es kirim?”
“Ide yang bagus, Max. Kita akan makan es krim sepuasnya.”
“Yeayyyyy, aku mau es krim Vanilla yang banyak.”
“Mari berangkatttttt,” ucap Bella semangat sambil menghapus air matanya.
Sesampainya dirumah sakit, Bella menelepon ibunya yang kebetulan sudah selesai cek gula darah. Setelah itu, mereka berangkat ke toko es krim dimana Bella dan Sam pernah kesana.
Mereka memesan es krim kesukaan mereka masing-masing. Tertawa dan bersenang-senang.
“Bagaimana Max hari pertamamu menginjakan kaki di sekolah?”
“Bu, aku tak suka sekolah itu. Ada ibu-ibu yang tiba-tiba menampar Bella. Aku mau sekolah ditempat lain saja Bu.”
Ibunya yang mengerti, memberi dukungan pada Max.
“Tentu sayang. Kau bisa memilih tempat dimana kau akan dididik dan bertumbuh didalamnya.”
“Apakah kau sangat menyayangi, Bella?”
“Tentu saja, Bu. Aku akan menjaga Bella dan ibu selalu.”
“Kau harus berjanji pada ibu. Bagaimanapun keadaannya kedepannya, kau harus tetap menyayangi Bella.”
“Max janji, Bu.” (Sambil menyantap es krim miliknya).
Ibu Bella (Ribca) tentu mengetahui pekerjaan Bella. Pertama kali mengetahui pekerjaan Bella, ia sangat terkejut dan sangat marah. Bahkan, ia menampar Bella.
Bella yang saat itu sudah 1 tahun bekerja pada mama-San dan penyakit Ribca pun sedang parah-parahnya. Ia tak punya jalan keluar untuk permasalahan ekonomi mereka. Ribca menangis sejati-jadinya saat ia sendiri tak kuasa dengan keadaan mereka. Ditambah lagi, Max yang masih sangat kecil dan memiliki kebutuhan khusus.
Ribca memperbolehkan Bella untuk melanjutkan pekerjaannya dan meminta untuk berhenti saat keadaan lebih terkendali. Sejujurnya, sampai hari ini ia masih tak bisa memaafkan dirinya sendiri atas keadaan Bella. Ia tak henti-hentinya mengutuki dirinya untuk pilihan Bella. Memilih menutupi luka hatinya adalah cara Ribca untuk membuat Bella tak semakin terbebani.
“Bella?”
“Iya, Max?” (sambil membersihkan bibir Max dari es krim yang belepotan)
“Pria yang pernah kerumah kita menjemputmu, apakah dia adalah pacarmu?”
“Aishhhh, kau ini. Menurutmu, apakah dia baik dan tampan?”
“Kelihatannya baik dan sopan. Untuk ketampanannya tak perlu diragukan karena memang sangat kelihatan.”
“Pria yang mana, Bell? Kenapa ibu tidak tahu?
“Kebetulan saat dia datang, ibu sedang berada dikamar.”
“Apa dia pacarmu? tanya Ribca.
“Aishhh, ibu sama saja dengan Max. Dia belum menembak ku, Bu. Namun, ia sudah menyatakan cintanya.” (sambil tersenyum malu)
“Bagaimana karakternya, Bell? Ibu dan Max tentu ingin tahu bagaimana dia.”
“Aku setuju,” ucap Max imut.
“Baiklahhhh. Dia baik dan sopan bahkan pekerja keras. Dia membiayai kuliah beserta keluarganya juga Bu. Dia punya pribadi yang menyenangkan dan lembut. Dia mirip sekali dengan ayah.”
“Jika begitu ibu setuju jika kau bersamanya. Bagaimana Max?”
“Aku setujuuuu,” ucap Max dengan melonjak.
“Akhhh, kalian so sweet sekali. Aku akan perkenalkan dia nanti ke ibu dan Max. Ibu dan Max pasti akan menyukainya.”
“Bella, jika kau mencintai nya tolong jangan cintai dia melebihi kau mencintai aku,” ucap Max gemes.
Ribca dan Bella yang mendengarnya tertawa ngakak dengan kepolosan Max. Bagaimana bisa anak seusia dia sudah merasakan cemburu dengan keberadaan pria lain dihati kakaknya.
“Tak akan ada yang bisa menggantikan kamu Max dihatiku karena kau dan ibu adalah segalanya untukku.”
“Nanti jika aku sudah besar dan memiliki pacar, aku akan tetap menyayangi mu Bella. Kau adalah kakakku dan wanita tercantik.”
“Apa ibu tak cantik?”
“Ibu wanita terhebat dan tentu Bella cantik karena ibu juga sangat cantik.”
Mereka terhibur dengan kepolosan Max namun mengandung kebahagiaan dan tawa. Max terdidik dengan baik oleh Ribca dan Bella.
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
SALAM DAN MAMPIR YA
KE ⚘⚘MENIKAHI PRIA URAKAN⚘⚘
yuk saling soppour
saling dukung sukses bersama kk
feedback nya ya kk🙏
jgn lupa mampir di novelku juga berjudul:
"My Annoying Wife" 🍃🍃🍃
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowok polos 🍊🍊🍊
ku tunggu like and comment nya ya 🙏🙏☺️
like karya q ya
cinta rasa covid-19
the Thunder's love