Karya asli!!!
on-Going
Salah satu Sovereign tertinggi di Alam Semesta yang Tak Terbatas ini, ia segera menjalani Jalan menuju Dao tertinggi di alamnya, mereka mengetahui dari catatan kuno, jika seseorang bisa melewati batas Penguasa Tertinggi, ia bisa menjadi God King.
Namun siapa sangka, Wanita yang ia anggap mencintainya, dikhianati olehnya. Saat itu ia hendak menerobos melewati batas itu, namun saat menerobos ia sempat terdampak oleh Tribulasi Hukum. Saat itulah kesempatan wanita itu menusuknya dengan Kabut beracun yang asalnya tidak diketahui, bahkan melukai Primordialnya.
Jadi, sisa jiwanya ia bereinkarnasi menjadi pangeran muda dengan nama yang sama "Huang Di", namun jalan takdir yang ia jalankan sangat bertengtangan dengan sifat Ke Angkuhannya sebagai Absolute. Bagaimana perjalanannya menjalankan takdir ini?
Di kebaradaan Dimensional yang lebih tinggi bahkan God King itu hanya seperti Dewa biasa!
"Jika Takdir mempermainkanku! aku akan memandang rendah Semuanya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arceusssxara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 032. Sungai Tanpa ujung dan dunia realita
Gelap.
Namun bukan kegelapan biasa.
Ini adalah kekosongan sebelum cahaya diciptakan, tempat bahkan konsep warna belum sempat lahir.
Di sinilah Huang Di melangkah.
Bukan berjalan di atas tanah, bukan pula melayang di udara. Ia melangkah di atas jalur abstrak, sungai tak berbentuk yang disebut oleh makhluk kuno sebagai:
Sungai Asal – Origin Stream.
Ini bukan sungai waktu biasa. Ini adalah aliran murni dari semua kemungkinan. Sebuah arus tempat segala dunia, segala pilihan, segala takdir bercabang, menyatu, atau hancur—semuanya bermuara di sini. Setiap riaknya membawa miliaran kehidupan lahir dan mati.
“Ini… adalah jalur menuju sumber dari semua ‘takdir’,” gumam Huang Di, matanya menyipit tajam.
Ia kini bukan lagi makhluk yang terikat waktu. Tidak ada masa lalu. Tidak ada masa depan. Yang ada hanyalah sekarang, tapi sekarang di sini bisa saja merupakan dulu bagi satu dunia, dan esok bagi yang lainnya.
Di setiap langkah, ia dapat melihat cahaya fragmen dunia di pinggirannya:
— sebuah perang besar di galaksi jauh
— seorang anak kecil lahir di dunia tanpa spiritualitas
— seorang raja mati karena pengkhianatan
— dan bahkan... dirinya sendiri di berbagai bentuk yang berbeda.
“Aku akan melampaui takdir… tapi seberapa jauh kisahku ditulis” dengan desirnya yang mengingat ia adalah sebuah kisah yang ditulis.
Namun, semakin jauh ia melangkah, udara kekosongan itu bergetar.
Bukan karena kekuatan dirinya. Tapi karena sesuatu… atau seseorang… menetap disekitar.
Sebuah cahaya redup, seperti bara yang membara di tengah malam, muncul jauh di depan sana.
Cahayanya berdenyut perlahan, mengisi kehampaan itu dengan aura yang tidak bisa dideskripsikan oleh hukum apapun.
Dan saat Huang Di melangkah lebih dekat…
“Akhirnya, salah satu dari mereka mencoba menerobos Sungai Asal tanpa izin.”
“Tapi kenapa aku tidak bisa melihat batasan ranahmu.. bagaimana mungkin seharusnya yang akan berjalan dan melampaui setiap hukum langit dan melewati jalur ini berada di ranah primordial deity”
Suara itu tidak keluar dari mulut. Itu bergema langsung ke dalam jiwa.
Seketika itu pula, entitas itu mulai menunjukkan wujudnya. Sesosok wujud yang abstrak yang ukurannya tak terhitung.
Ia bukan makhluk berdaging, tetapi struktur geometris hidup—berbentuk berlapis hukum-hukum kuno, dengan mata yang berputar seperti roda bintang di dalamnya. Dari tubuhnya, mengalir huruf-huruf kuno yang bahkan Huang Di tak bisa mengartikan sepenuhnya.
“Siapa kau?” tanya Huang Di, suaranya tenang tapi penuh kesiagaan.
Sesosok abstrak ini menyapu kehampaan. Tidak ada rasa, tidak ada suara, namun kehadiran eksistensi ini bagaikan memadatkan multisemesta dalam satu titik.
Waktu mulai kehilangan makna. Bahkan hukum realitas milik Huang Di mulai bergetar di tepinya.
Namun… Huang Di hanya melangkah sekali ke depan.
“Aku datang bukan untuk tunduk. Aku datang untuk menjalankan takdir ku sendiri.” dengan nada yang bergema
“Dan aku akan terus berjalan… meski langit sendiri hendak melawan.”
Sesosok itu menatapnya dalam-dalam—atau lebih tepatnya, seluruh hukum yang membentuknya bergerak, berputar, membentuk ribuan mata yang semuanya memandang Huang Di.
“Berani sekali… mahluk fana berbaju keabadian.
Tapi kau harus tahu satu hal… semakin dekat kau ke asal kisahmu,
semakin tipis perbedaan antara ‘dirimu’ dan ‘tulisan.’
Apa kau siap kehilangan eksistensimu… demi mengetahui kebenaran?”
Diam.
Huang Di menatap balik. Pupil emasnya menyala lebih terang.
“Jika aku hanya kisah… maka biarkan aku akan merubah kisahku sendiri dari tangan sang pencipta itu.”
Sesosok itu menjawab:
“Aku… adalah Penjaga Sungai Asal.
Aku berdiri di sini… bahkan sebelum takdir… sebelum hukum sebab-akibat ditulis… sebelum ada yang berani mengucap nama ‘Pencipta.’
Aku menjaga jalur dari setiap makhluk yang telah mencapai primordial deity akan terikat oleh hukum pemahamannya.
Hening itu berubah menjadi dentuman.
DOOOOOM!!!
Primordial Deity mengangkat satu tangannya, atau lebih tepatnya, satu bidang geometris raksasa yang menyerap semua hukum di sekitar, lalu menembakkannya ke Huang Di. Apa yang ditembakkan bukan cahaya, bukan energi…
… tetapi ‘Narasi Kosong’.
Narasi Kosong adalah void cerita yang belum ditulis.
Siapa pun yang terkena akan menjadi sesuatu yang ‘tidak pernah ada’.
Tiba-tiba suara sistem muncul kembali
[Bahaya tuan… ini adalah sebuah realita yang bahkan ditakuti diseluruh alam semesta ini]
Namun tepat sebelum gelombang itu menyentuhnya—
“Sovereign Eye of Law – Infinite Rewrite.”
Mata Huang Di berputar.
Garis-garis emas menyala.
Dan saat aliran gelombang Narasi Kosong menimpanya… ia menulis ulang realitasnya sendiri.
“Aku ada.”
“Aku tetap ada.”
“Aku akan terus ada.”
Gelombang void itu menguap sebelum sempat menyentuh ujung pakaiannya.
Makhluk itu terdiam.
Lalu, untuk pertama kalinya, dari wujud geometris itu terdengar… tawa kecil.
“Hahaha… sudah sangat lama… sejak terakhir aku bertemu sosok seperti ini…”
“Baiklah. Aku takkan menghalangi langkahmu lebih jauh, Huang Di….
Tapi satu pesan untukmu…
Ketika kau bertemu para kultivator atau makhluk immortal lainnya…
Jangan berharap kau akan memahami segalanya. Bahkan aku tak memahami keseluruhan-Nya.”
“Karena ‘mereka’… juga sedang memahami tingkatan tersebut…
…tapi karena tingkatan mu aku saja tidak bisa mengetahui jadi anggap saja kamu sedang memahami ranah primordial deity ini...”
Dan dengan satu gerakan jari, eksistensi itu membuka satu jalur rahasia di tengah Sungai Asal.
Di sana, terlihat cahaya yang bahkan mata Sovereign Eye of Law pun tak bisa menebak isinya.
“Langkahkan kakimu… ke tempat semua pertanyaanmu akan mulai terjawab.”
Huang Di mengangguk pelan.
Lalu melangkah.
Saat langkahnya memasuki itu
Hening.
Tak ada suara, tak ada angin, bahkan denyutan waktu terasa membeku.
Huang Di berdiri di tengah kehampaan hitam, membentang sejauh persepsi, tak ada ujung, tak ada arah. Bahkan Sovereign Eye of Law miliknya, yang bisa melihat lapisan di balik lapisan realitas, tidak menemukan batas apapun di sini.
“Tempat apa ini…dimana aku?”
Baru saja ia hendak melangkah, sebuah lingkaran cahaya berputar di hadapannya, perlahan membentuk sebuah portal yang memancarkan percikan percikan berputar dengan cepat.
Seolah-olah isi dalam itu seperti aliran air yang melaju didalam pipa.
Tanpa ragu, Huang Di melangkah.
Dan seketika…
Cahaya membanjiri pandangannya.
Bumi
Suara desiran angin dari celah-celah kaca gedung tinggi terdengar samar.
Di depannya, terbentang hamparan kota modern, penuh cahaya lampu, mobil berlalu lalang, dan gedung-gedung bertingkat menjulang.
Suaranya…
Terlalu asing.
Tak ada spiritual qi. Tak ada aura kekuatan. Tak ada getaran hukum.
Ini bukan dunia yang ia kenal. Ini bukan Shenzhou. Bukan Dunia Asal. Ini… Bumi.
“Dunia fana? Tapi… tidak mungkin. Mengapa aku bisa di sini?”
Saat ia memandang keluar dari lantai tiga puluh gedung bertingkat, perasaan aneh merambati jiwanya. Ada sesuatu yang salah.
Ia menyusuri ruangan itu. Sebuah kamar sederhana dengan meja kayu, lemari buku, dan yang paling mencolok: sebuah benda tipis berwarna hitam dengan lambang buah setengah tergigit.
Sebuah laptop.
Dan layar laptop itu menyala.
Kisah yang Tertulis
Di layar laptop itu, ia membaca sebuah kalimat yang membuat seluruh tubuhnya membeku:
Chapter###: Pembalasan Dendam Huang Di
Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena ketidakpahaman mendalam.
Kalimat demi kalimat tertera jelas:
“Li Mei meraung, mengerahkan semua kekuatannya, melampaui hukum-hukum yang ia pahami. Namun, dengan satu langkah, Huang Di melangkahi waktu dan ruang, memadamkan segalanya, seperti melepaskan realitas dari hukum itu”
Itu… itu kejadian yang beberapa waktu ia alami.
Detilnya sempurna. Bahkan deskripsi tatapan matanya, ekspresi lawannya, dan kata-kata terakhir Li Mei, semuanya tertulis persis seperti yang ia alami.
“Jadi… sebuah gambaran yang aku dapatkan di dunia asal itu adalah hal nyata” Huang Di terkejut, karena gambaran sebelumnya jiwanya yang berada di ruang putih yang tak berujung dan laptop berada di hadapannya.
Tapi sekarang dunia ini nyata baginya bukan jiwanya tapi sekaligus adalah diri dia langsung melihat ini.
Tiba-tiba, Suara Pintu
Klik….
Ceklek…
Suara kunci pintu berputar.
Langkah kaki menyusul. Suara gemerisik kunci bertabrakan dengan gantungan.
Spontan Huang Di menutup laptop itu, mencoba mengendalikan napasnya. Namun justru pada detik itu juga… penglihatannya mulai gelap.
Bukan karena kekuatan dari luar, bukan karena teknik apapun—tetapi seolah ‘seseorang’ sedang menghapus scene ini dari realitas.
Dan saat penglihatannya mengarah ke arah yang datang pada pintu yang terbuka perlahan…
Dunia yang ia alami sekarang hanya Gelap seperti visualisasi kotak-kotak tak berujung
Sosok Penulis itu muncul
Saat gelap itu menguasai segalanya, sebuah siluet samar mulai membentuk.
Bukan sosok ilahi. Bukan makhluk dengan kekuatan luar biasa.
Melainkan… seorang manusia biasa.
Huang Di tidak bisa melihat bentuk dan warna aslinya tapi Ia mengenakan kaus hitam sederhana, rambut acak-acakan, dan mata panda tatapannya kosong, namun ada bayangan kelelahan mendalam di matanya.
Di tangan sosok itu tergenggam benda kecil berwarna putih—remote AC atau mungkin pulpen, tak jelas.
Namun di belakang sosok itu, berjajar tumpukan buku dan catatan.
Dan lebih mengejutkan, di salah satu lembaran catatan itu tertulis:
Plot Utama: Jalan Dendam Huang Di
Arc Dunia Asal → Selesai
Arc Pembalasan Li Mei → Selesai
Arc Perjalanan Takdir Huang Di → On Going
Akhir: ??? (Belum Ditentukan)
Itu adalah catatan yang berisi perjalanan Huang Di dalam pembentukan sebuah cerita.
Huang Di membeku.
“Kau… menuliskan semuanya?”
Sosok itu terkejut tiba-tiba ada suara.
Namun ia perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan kosongnya menembus ke arah Huang Di yang baginya itu bayangan hitam yang berbentuk diri dari Huang Di ia terkejut… bagaimana mungkin karakter yang ia buat dapat menembus dunia nyata.
Dengan nada berat ia menjawab
“Aku menuliskan cerita… tapi aku tidak tahu dari mana cerita itu datang.”
“Aku tidak mengendalikannya, aku hanya… menuliskannya.”
Kebenaran yang Menakutkan
Perlahan, realitas mulai bergetar. Seolah batas antara dunia cerita dan dunia penulis mulai pecah.
“Aku… bukan karakter.”
“Aku… nyata.”
Tapi saat itu, sosok ‘penulis’ itu tersenyum tipis.
“Benarkah?”
Dan tiba-tiba… laptop yang sudah ditutup itu… terbuka sendiri. Huang Di yang tidak bisa melihat realita atau sekitar hanya gelap tapi siluet sosok itu ada dan cahaya layar yang ia bisa lihat dan baca, satu paragraf baru muncul dengan sendirinya, tak diketik, tetapi dituliskan oleh dari sang “pencipta” cahaya yang bisa ia lihat dan teks yang bermunculan kata demi kata.
“Huang Di, sang absolute Sovereign, akhirnya menyadari bahwa ia… bukan hanya karakter dalam kisah seseorang. Ia adalah karakter dalam kisah seseorang… yang menulis kisah seseorang… yang menulis kisah seseorang lainnya… tak berujung.”
Seperti cermin tak terhingga, seperti lukisan di dalam lukisan di dalam lukisan.
(Nts: kenapa itu pengucapan berulang karena itu menetapkan dunia nya sangat tak terbayangkan.. Kalian saja yang berteori 😊)
Huang Di ingin bicara, namun kata-katanya menguap, seperti tinta yang belum sempat dicetak.
Realitas semakin goyah, dan suara dari entah berantah berbisik pelan di telinganya:
“Jika kau terus mencari asal-usul kisahmu, pada akhirnya, kau hanya akan menemukan… kosong di dalam kosong… cerita di dalam cerita… sampai tak ada lagi ‘dirimu’ yang tersisa.”
“Atau… kau bisa kembali. Menjadi ‘Huang Di’, bukan sekadar karakter, tapi simbol kebebasan dari segala naskah yang mengekangmu.”
Pilihan itu… menggantung.
Di depan Huang Di… terbuka dua jalan:
-Terus menyelami lapisan demi lapisan pencipta, hingga semua hancur dan kehilangan makna.
-Atau kembali… menulis kisahnya sendiri. Bukan sebagai karakter, bukan sebagai tulisan, tapi sebagai kehendak yang tak bisa dicatat oleh penulis siapapun.
Gelap itu semakin menelan segalanya…
Dan Bab berikutnya belum tertulis.
gaassss....