Masa lalu yang kelam membuat Helena harus hidup dengan dua identitas. Pertama, sebagai dirinya sendiri. Kedua sebagai Candy, wanita malam yang mendapatkan uang setelah memuaskan hasrat para pria hidung belang.
Semua pria itu sama sekali tidak tahu mengenai Helena. Mereka hanya tahu tentang Candy. Sampai kemudian terjadi sesuatu yang tak terduga, ada seorang pria yang menyadari jika Helena dan Candy adalah wanita yang sama. Ya, Adam tahu kalau Helena memang sengaja menyamar menjadi Candy. Hal itu membuatnya ingin tahu lebih jauh tentang kehidupan wanita itu.
Tentu saja seharusnya Adam adalah pria yang Helena jauhi. Namun kenyataannya, Helena malah selalu berakhir di ranjang pria itu. Apa yang harus Helena lakukan? Bagaimana jika seluruh dunia tahu identitas aslinya? Jika itu terjadi, sanggupkah ia menghadapi masa lalu yang kembali terkuak?
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riri Lidya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Saturday is Venus's day. Venus sedang berada si salah satu boxing room Gym.
Hanya Helena yang memakai sarung tinju dan yang lainnya hanya berdiri di sekitar Helena dan sesuatu yang bergantung dengan jubah abu-abu menutup benda tersebut tepat di depan Helena. Helena menatap bingung dengan benda di depannya.
“Saat aku lepas jubah ini aku mohon jangan tegang,” ucap Hera saat Helena hanya menatap benda di depannya.
Helena mengangguk santai seakan itu bukan apa-apa. Karena ia sudah memikirkan hal tersebut. Ruang tinju, sarung tinju, dan ring. Apalagi kalau bukan itu punching bag, sesuai dengan bentuknya yang menggantung berbentuk seperti guling. Tapi yang membuatnya bingung kenapa harus ditutup.
“Raymond dan Aaron juga tahu kalau itu punching bag...” kekeh Helena.
Hera melepaskan tudungnya, dengan segera Helena tegang. Memang benar itu punching bag. Tetapi di situ terdapat foto close up berwajah Matthew Parker.
“Aku bilang jangan tegang, Sexy... Ini hanya foto,” ujar Hera.
Helena memeluk dirinya sendiri menahan badannya bergetar. Baru saja dirinya membalikkan badan hendak pergi dari sana, dengan cepat pula Inanna menahannya.
“Sexy... Kau harus bisa melawannya. Dia tahu kau masih hidup. Dia dengan mudah menemuimu bila ia ingin,” tambah Inanna.
"My Baby Helena... Lawan penyakitmu. Kita akan mulai dari awal. Kami akan membantumu. Kau harus kuat sebelum ia menemukanmu,” lanjut Diana seakan dapat mendukung Helena.
Helena berjalan mundur dan menggelengkan kepala. “Dia tak akan menemukanku. Bu-buktinya sudah 2 minggu aku muncul ia tidak menemuiku.”
Hera mendekati Helena memegang kedua bahu Helena. “Kita tidak akan tahu dengan isi kepala seorang psikopat, darling. Aku tahu kau wanita kuat. Jangan biarkan ia melihat kelemahanmu ini. Tunjukkan jika kau tidak takut dengannya sebelum ia menemukanmu. Dan sekarang tunjukkan pada kami dengan cara memukul wajah ******** itu,” tutur Hera lembut layaknya seorang Ibu.
Helena menggelengkan kepalanya. “Aku ingin pulang.”
Inanna menahannya. “Hanya satu pukulan setelah itu kita pulang.”
Helena menelan salivanya. Dengan perlahan ia maju beberapa langkah menuju punching bag yang berbahan canvas nylon. Hanya melihat fotonya saja dapat menimbulkan kesakitan, ketakutan, kemarahan yang bercampur aduk menjadi satu. Helena memejamkan matanya mencoba untuk menenangkan tubuhnya yang mulai gemetar tak terkendali hingga pundaknya diusap lembut Venus.
“Ini caramu untuk berjuang, Sexy.” Hera kembali berbisik.
Helena memejamkan matanya, menarik nafas lalu menghembuskan setelah itu ia membuka matanya dengan pasti. Entah kenapa cukup melihat fotonya saja dapat membuat Helena seakan berdiri di tempat yang sangat curam. Dan detik berikutnya bunyi 'Bhuk' yang lumayan keras membuat Venus berteriak senang.
Hampir 2 jam Venus berada di boxing room kemudian mandi. Setelah itu mereka menuju kedai kopi favorit mereka. Seperti biasa mereka bersenda gurau.
“Ahaha... Oh aku hampir melupakan sesuatu.” Diana mengeluarkan sebuah majalah dan diserahkan ke Helena yang menatapnya bingung. “Saat latihan tadi sepertinya kau 'hampir' bisa menatap foto itu. Jadi untuk sekedar latihan ringan di rumah, kau bisa menatap foto-foto Matthew di sini. Bila kau ingin meluapkan kekesalanmu kau dapat memukul, mencabik-cabik, atau menyayat majalah ini.”
Diana dengan semangat membolak-balikkan halaman demi halaman yang berisikan foto-foto Matthew tepat di depan Helena.
Awalnya Helena tegang, namun dengan cepat ia santai.
“Benar juga. Tambahan, bila kau sudah mulai terbiasa, kau juga dapat melihatnya di google atau televisi,” sambung Inanna.
“Err okay. Thanks,” bisik Helena memasukkannya ke dalam Kelly bag merahnya.
Hari sudah sore. Hera, Inanna, dan Diana ingin berpamitan pulang.
Selang beberapa menit, ia melihat mobil Adam memasuki kawasan kafe lewat kaca dinding. Baru saja ia berjalan satu langkah, tubuhnya sudah di tabrak seseorang dengan minumannya tumpah di pakaian Helena.
“Oh I'm sorry, really...”
Helena menatap pria yang sedang bermain mata dengannya lalu tersenyum. “It's okay. I'm fine.”
Helena mengambil tisu di dalam tasnya lalu mengelap baju atasannya yang terasa dingin dan basah.
“Perlu aku bantu membersihkannya?”
Helena menggeleng masih tersenyum sopan.
“Ada apa ini?” tanya seseorang di belakang Helena yang ia sangat kenal suaranya.
Adam menatap baju Helena yang basah dengan geram. Karena bagian yang basah itu tepat di antara payudara wanita itu. Lalu menatap tajam pria di depan Helena. “Apa kau sengaja melakukannya?”
Helena berdeham. “Ayo kita pulang. Aku harus ganti baju, Adam.”
Adam tidak mengindahkan Helena. Ia masih menatap pria di depannya dengan dingin. “Aku bertanya, apa kau sengaja melakukannya?!”
“Adam.” Helena melirik seisi kafe yang tengah memperhatikan mereka lalu mencoba menarik Adam keluar. Dan tentu saja tubuh Adam masih bertumpu pada tempatnya.
“Maaf, bung. Aku tidak tahu dia memiliki kekasih.”
“Dan kau sudah mengetahuinya. Jangan menemuinya lagi atau kau akan menderita.”
Pria itu mengangguk kaku. Dan Adam langsung membawa Helena pergi dari sana setelah meletakkan beberapa lembar dollar di meja Helena.
“Adam!” teriaknya membuat Adam berhenti di depan mobil. “Kau berlebihan.”
Adam mengangguk. Membenarkan hal itu. “Maafkan aku. Aku hanya...”
Helena tersenyum. “Dia tidak sengaja.”
Kembali Adam memasang wajah cemberut. “Dia sengaja, Helena. Kau tahu itu. Semua pria di sana ingin sekali berada di balik celana dalammu.”
Helena terkikik. Ia mengamit jemari mereka dan Adam langsung membawanya pada bibirnya untuk dicium satu persatu.
“Aku menyukai semua baju apa yang kau pakai, tapi aku benci saat pria lain menatapmu seakan menelanjangi tubuhmu. Mungkin mulai besok kau bisa memakai pakaian longgar.”
“Adam!” Mata Helena membesar lalu tertawa geli.
Adam membuka pintu mobil untuk Helena. Helena yang hendak masuk terhenti sebentar. Ia menatap Adam lalu berjinjit untuk mencium Adam. Adam langsung menundukkan kepalanya sedikit dan menerima ciuman Helena. Ciuman yang manis, lembut, tidak penuh nafsu, dengan pintu mobil di antara mereka.
“Aku minta maaf. Aku tidak tahu jika pakaianku sangat mengundang.” Helena berbisik selesai berciuman. Ia mengelus rahang kasar Adam dengan jemarinya.
“Tidak, aku yang salah. Kau benar, aku terlalu berlebihan tadi. Aku minta maaf, Baby.”
Helena tersenyum. Memberikan kecupan singkat di bibir Adam. Kecupan kedua hingga ketiga sebelum masuk ke mobil.
“Lusa aku akan pergi ke Paris.” Adam membuka pembicaraan saat mobil melaju di jalan bebas hambatan. “Pekerjaku membutuhkanku di sana untuk beberapa hari.”
Helena menoleh dengan perasaan tertarik.
“Kau akan ikut.” Adam mengumumkannya membuat mata Helena berbinar.
“Benarkah?”
Adam melirik Helena sekilas lalu mengangguk. Helena hampir saja menjerit saat tahu mereka tidak berada di area menuju rumahnya. Helena tahu jalan ini ia sering ke sini hanya untuk bertemu Ibunya dan Nana. Mobil berhenti membuat Helena menoleh menatap Adam.
“Aku pria kaya, Helena. Aku bisa mencari tempat pemakaman Ibumu dengan mudah.” Dan diakhiri kedipan mata membuat Helena mendenguskan tawa.
“Well, tidak ada bunga.” Helena bergumam saat mereka keluar dari mobil.
Adam terkekeh. Ia memetik 2 bunga liar di sebelahnya lalu memberikan pada Helena.
Helena tersenyum. “Ayo temui Mommy dan Nana. Aku akan memperkenalkanmu.”
Mereka berjalan bersisihan menuju tempat peristirahatan keluarga Alexandras.
Moga aja ada lnjutan cerita khidupan mereka stelah menikah..
tapi bagus ceritanya
saya pernah baca di WP tapi ndak selesai jadi penasaran sampai sekarang endingnya gimana 😭😭😭