Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
“Kau mau ke Jakarta?”
Sheryn memandang Na Minjie sambil tertawa kecil. “Kenapa terkejut begitu?”
Mereka berdua sedang mengobrol di kafe langganan ketika Sheryn memberitahu Minjie ia akan pulang ke Jakarta tiga hari lagi. Ternyata temannya kelihatan lebih terkejut daripada yang disangkanya. Minjie mengempaskan tubuh ke kursi dan mendesah.
“Kau sedang melarikan diri?” tuduhnya.
Sheryn menggeleng. “Tidak. Melarikan diri dari apa?”
“Dari Choi Daehyun,” jawab temannya langsung.
“Astaga, kenapa aku harus melarikan diri dari dia?”
“Lalu kenapa tiba-tiba ingin pulang ke Jakarta?”
Sheryn ikut bersandar di kursi. “Hanya ingin berganti suasana. Aku ingin menenangkan diri sebentar. Kau tahu sendiri di sini aku tidak akan bisa tenang. Tidak sebelum masalah itu beres. Lagi pula ibuku sudah marah-marah.”
Minjie menatap Sheryn dengan kening berkerut. “Kenapa marah?”
“Tentu saja marah kalau kedua anak perempuannya mendadak jadi bahan pembicaraan tidak enak di tabloid-tabloid, di saat yang sama pula,” jelas Sheryn.
“Tapi sebenarnya kau tidak menyalahkan Choi Daehyun atas kecelakaan kakakmu itu, kan?” tanya Minjie hati-hati.
“Tidak,” jawab Sheryn.
Ia menghela napas dan menegaskan sekali lagi, “Tidak.”
“Lalu kenapa kau tidak menemuinya?”
“Karena kami perlu waktu untuk berpikir. Walaupun aku tidak menyalahkannya, bagaimanapun pasti ada ganjalan di antara kami. Apalagi aku juga harus memikirkan ibuku.”
Mereka berdua terdiam sejenak, sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian Minjie bertanya, “Berapa lama kau akan tinggal di Jakarta?”
Sheryn mengangkat bahu. “Mungkin cuma satu minggu. Mungkin lebih. Entahlah. Yang pasti, aku akan kembali.”
“Kau sudah memberitahu Choi Daehyun soal ini?”
Sheryn menggeleng. “Apakah perlu?”
“Kurasa itu pertanyaan bodoh.”
Sheryn memiringkan kepala. “Aku tidak tahu bagaimana harus memberitahunya.”
“Jangan memintaku melakukannya,” kata Minjie begitu melihat tatapan Sheryn.
“Kau harus mengatakannya sendiri.”
Daehyun memeriksa penampilannya di depan cermin. Lima menit lagi ia harus tampil di depan kamera. Hari ini ia akan tampil dalam acara bincang-bincang yang cukup populer. Tentu saja gosip yang paling hangat tentang dirinya akan dikonfirmasi. Tidak apa-apa. Ia sudah siap.
Melalui cermin, ia melihat Park Hyun-Shik menghampiri dari belakang. Manajernya menunjuk jam tangan. Daehyun mengangguk mengerti. Tiba-tiba ponselnya berdering. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Begitu membaca tulisan yang muncul di layar ponsel, ia tersenyum.
Sudah seminggu terakhir ini ia tidak menghubungi gadis itu. Kenapa Sheryn tiba-tiba meneleponnya?
“Halo?” katanya begitu ponselnya ditempelkan di telinga.
“Ini aku.” Terdengar suara Sheryn di ujung sana.
Daehyun tersenyum. “Aku tahu.”
Sheryn hanya bergumam tidak jelas, lalu bertanya, “Sedang apa?”
“Sebentar lagi on air,” sahut Daehyun sambil melihat ke sekeliling.
“Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Hanya ingin mendengar suaramu.”
“Begitu?” kata Daehyun senang.
“Di mana kau sekarang?”
“Di bandara.”
Daehyun mengerutkan kening. Sepertinya ia salah dengar. “Di mana?”
“Di bandara.”
Ia tidak salah dengar. “Kenapa ada di bandara? Menjemput seseorang?”
“Aku akan pergi ke Jakarta. Aku meneleponmu untuk mengatakan itu.”
Tunggu... Jakarta? Jakarta, Indonesia?
Sepertinya Daehyun tanpa sadar telah menyuarakan pikirannya, karena Sheryn menjawab, “Ya, aku akan pergi ke Indonesia. Sudah cukup lama aku ingin bertemu orangtuaku.”
“Berapa lama kau akan di sana?” tanya Daehyun. Tangannya mendadak terasa lemas.
“Sekitar seminggu,” jawab Sheryn cepat.
“Hanya untuk liburan.”
“Begitu.”
“Oh, aku harus masuk sekarang. Jaga dirimu.”
Daehyun masih dalam keadaan setengah sadar. “Mm... Kau juga,” gumamnya.
Walaupun Sheryn sudah memutuskan hubungan, Daehyun masih memegangi ponsel di telinganya. Gadis itu akan pergi. Daehyun mendadak merasa tidak bertenaga.
Walaupun ia bisa memahami kenapa Sheryn ingin pergi ke Jakarta, kenapa Sheryn merasa perlu menjauhkan diri dari Korea untuk sementara, tetap saja ia tidak ingin gadis itu pergi.
Walaupun sangat ingin pergi ke bandara sekarang, ia tahu sudah tidak ada gunanya. Sheryn pasti sudah masuk ke pesawat. Itulah sebabnya kenapa gadis itu tidak memberitahunya lebih awal.
Sheryn tahu Daehyun pasti akan mencegahnya kalau memang bisa. Memikirkan gadis itu akan pergi membuat Daehyun cemas.
Bagaimana kalau Sheryn tidak kembali?
Tidak bertemu Sheryn beberapa waktu ini saja sudah membuat Daehyun agak panik, seperti orang yang kehilangan arah, apalagi sekarang.
“Daehyun, ayo, sudah saatnya.”
Daehyun menoleh ke manajernya. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memberi tanda. Lalu ia mematut dirinya sekali lagi di cermin. Choi Daehyun, fighting!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
“Hei, lagi dengerin lagu apa nih?”
Sheryn menoleh ke arah suara yang bernada ceria dan penuh semangat itu. Tara, saudara sepupunya yang sebaya dengannya, masuk ke kamarnya dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Sebelum Sheryn menjawab, Tara sudah meraih kotak CD yang sedang dipegang Sheryn.
“Cakep amat nih cowok,” komentarnya ketika melihat cover depan CD yang gambarnya foto Choi Daehyun itu.
“Lho, Sher, kok ada tanda tangan segala? Ini beneran tanda tangan penyanyi ini? Lo pernah ketemu?”
Sheryn tertawa dan merebut kotak CD itu kembali. “Ya. Waktu itu aku pergi ke acara jumpa penggemarnya.”
Ia melihat Tara hanya meringis dan mengangkat bahu. Ada kalanya ia ingin seperti sepupunya itu. Tara gadis yang periang, santai, dan berbakat dalam bahasa.
Lihat saja, walaupun menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Paris bersama ayahnya dan hanya sesekali mengunjungi ibunya di Jakarta bila sedang liburan seperti sekarang, bahasa Indonesia Tara tanpa cela.
Bahkan ia sama sekali tidak kesulitan mengikuti perkembangan bahasa gaul Indonesia. Tidak seperti Sheryn yang bahasa Indonesia-nya masih terdengar agak resmi.
“Ada rencana apa hari ini?” tanya Sheryn.
“Kok pagi-pagi sudah ke sini?”
“Gue bosan di rumah,” jawab sepupunya ringan. Ia duduk di tepi tempat tidur Sheryn dan merapikan ikal-ikal rambutnya.
“Ngomong-ngomong, lo kok tiba-tiba nongol di Jakarta. Bikin kaget aja. Lagi patah ati?”
“Apa?”
“Udah punya gebetan belon sih?” Tara mengganti pertanyaannya.
“Apa itu gebetan?”
Mata Tara melebar. “Yee... lo ini orang Indonesia apa bukan?” katanya sambil tertawa kecil.
“Maksud gue tuh, lo udah punya cowok yang ditaksir belom? Udah punya cowok belom? Gitu lho.”
Senyum Sheryn mengembang. “Sudah,” jawabnya sambil menunjuk gambar cover depan CD Choi Daehyun. “Ini dia.”
Tara meringis. “Iye, gue juga punya affair sama Brad Pitt,” katanya cepat.
“Gimana sih, ditanya baek-baek kok jawabnya gitu.”
Sheryn juga sudah memperkirakan Tara tidak akan percaya. Ia menatap wajah Choi Daehyun di cover CD itu.
Sudah satu minggu ia berada di Jakarta, dan selama satu minggu itu ia tidak bisa melihat foto-foto dan artikel Choi Daehyun di tabloid dan di televisi. Namun masih ada Minjie yang sering mengirimkan SMS untuk menceritakan kabar terbaru. Choi Daehyun juga kadang-kadang mengirim SMS untuk mengabarkan keadaannya.
“Tara, bisa pinjam handphone-mu sebentar?”
“Hah? Kenapa?” tanya Tara sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas tangannya.
“Pulsaku sudah habis. Aku mau kirim SMS ke temanku di Korea. Aku mau bilang lusa aku akan balik ke Korea,” Sheryn menjelaskan.
Tara menggeleng-geleng sambil mendesah. “Lo jangan ngomong pake bahasa yang seresmi itu dong. Gue jadi merinding nih. Pake aku-kamu segala. Emang kita pacaran?”
Sheryn hanya tertawa. Tara membantunya mengirim SMS kepada Minjie dalam bahasa Inggris karena ponsel Tara tidak memiliki fasilitas huruf hangeul dan karena Sheryn sendiri tidak begitu bisa bahasa Inggris. Menulis bahasa Korea tanpa hangeul terasa terlalu aneh.
“Nih, udah kekirim,” kata Tara, lalu ia bangkit dari tempat tidur Sheryn.
“Sekarang kita cabut yuk!”
“Apa? Kamu mau ke mana?”
Tara memandangi dirinya di cermin yang tergantung di dinding, berbalik ke kiri, berbalik ke kanan, lalu mendekatkan wajah ke cermin, seakan-akan ingin memeriksa apakah ada setitik debu di ujung hidungnya.
“Kita ke Bandung. Mau nggak?” usul Tara sambil menjauhkan wajahnya dari cermin.
“Gue lagi pengin jalan nih. Bukan cuma lo yang patah ati. Gue juga lagi bete. Hari ini kita have fun aja. Ayo dong! Lelet amat sih nih anak. Ganti baju sana!”