Eka Larasati, dara manis yang berprestasi sebagai atlit rock climbing. Cantik dan berprestasi, tapi sayang tak punya pacar, alias jomblo. Kejombloannya ini yang menjadi bahan gunjingan tetangga. Eka selalu dibanding bandingkan dengan Ayu, adiknya yang sering berganti ganti pacar. Suatu hari salah satu mantan pacar Ayu bernama Zever Romano, pria berdarah Italia berkunjung ke rumah dalam keadaan mabuk. Laki laki bule ini sakit hati karena ditinggal Ayu menikah dengan lelaki lain.
Saat itu hanya ada Eka di rumah. Eka berniat menolong Zever yang tersungkur jatuh akibat mabuk. Karena tidak kuat membopong Zever, membuat Eka dan Zever roboh dengan posisi Eka berada di bawah tubuh Zever dan bibir Zever menempel pada bibir Eka. Bertepatan ibu, bapak dan pak RT masuk ke dalam rumah.
Zever Romano ditutuntut untuk bertanggung jawab. Keduanya dipaksa menikah. Akan kah pernikahan mereka bertahan? Tak ada cinta di antara keduanya, apalagi Zever adalah mantan kekasih Ayu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fia Mulyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Eka dihukum
Suara dering handphone membangunkan Eka dari tidur lelapnya. Eka mengejap kan matanya yang terasa buram karena belum sepenuhnya sadar. Eka berusaha mengumpulkan nyawa. Sambil menahan kuap di mulutnya tangan perempuan itu meraba raba permukaan nakas mencari handphone miliknya.
Tangannya belum sempat menjangkau handphone, nada dering panggilannya mati. Tangan Eka berhenti meraba raba, menunggu dering panggilan berbunyi lagi. Tidak ada .. handphonenya tetap diam dan sunyi. Eka kembali merebahkan tubuhnya, berganti posisi berbaring miring ke arah kanan.
Matanya masih terasa lengket enggan terbuka. Eka bergelung lagi di dalam selimutnya. Semalam ia tidak bisa tidur, otaknya berpikir keras bagaimana caranya bisa lepas dari Zever, semakin ke sini Eka merasa makin mati rasa pada zever.
Tunas cinta yang baru tumbuh sudah tercabut, karena ulah Zever pergi tanpa kabar, lalu dibumbui dengan berita pertunangan. Jika dipikir pikir itu bukan cinta. Hanya perasaan terbuai sesaat akan pesona Zever yang romantis.
Lagipula setelah menikah intensitas pertemuannya dengan Zever bisa dihitung dengan jari, Eka yakin itu bukan cinta. Saat kepergian Zever yang tanpa kabar, Eka berencana bila zever tetap tidak ada kabar dalam waktu satu bulan ia akan mengajukan pembatalan nikah.
Ngomong ngomong tentang pembatalan nikah, apa kabar nya ya? Pihak kantor Urusan pernikahan berjanji akan segera memproses secepatnya. Pihak KUA bahkan telah menerima semua bukti foto foto pertunangan Zever dan Regina.
Dari tenggat waktu pernikahan yang hanya sebulan, dan juga kondisi Eka masih dalam keadaan virgin, pihak KUA setuju untuk memproses pembatalan nikah.
Semoga saja ancaman yang dilontarkan Zever tidak akan mempengaruhi kinerja pegawai KUA. Eka sangat berharap pembatalan nikah ini dikabulkan. Dengan begitu ia bisa terbebas dari belenggu lelaki posesif ini.
Semalam berlalu dengan damai. Zever menepati janji untuk tidak meminta haknya. Semalam Zever hanya memeluknya. Meski begitu Eka tetap was was. Semalam memang damai, tapi entah dengan malam malam berikutnya.
Handphone Eka berbunyi. Eka berbalik, ia segera meraih handphone di atas nakas. Ada notifikasi pesan dari salah satu pegawai KUA yang menangani proses pembatalan pernikahannya.
Hati Eka berdebar debar. Berharap pembatalan nikahnya selesai, dan ia tinggal mengambil berkas. Eka segera membuka pesan dari pegawai KUA. Hatinya langsung mencelos. Pembatalan nikahnya ditolak.
Ada banyak alasan disampaikan oleh petugas KUA, kenapa pembatalan pernikahan ditolak. Eka malas membacanya. Ia yakin pembatalan nikah ini pasti karena power kekuasaan yang dimiliki Zever. Baru kemarin ia memerintahkan asisten nya mengurusi laporan batal nikah yang Eka ajukan, hanya dalam waktu semalam, pengaduannya ditolak. Eka geram.
Eka tidak putus asa. Pembatalan nikah boleh ditolak. Tapi masih ada jalan lain. Secepatnya Eka akan mengajukan cerai pada pengadilan agama. Semoga saja pengajuan cerai ini berlangsung lancar.
Eka kembali berbaring. Ia malas untuk melakukan apa pun. Apalagi saat ini ia sedang kedatangan tamu bulanan. Sudah tidak banyak sih, karena sudah hari kelima.
Pintu kamar terbuka. Eka tidak bergeming. Ia tetap dalam posisi berbaring membelakangi pintu. Zever masuk, lelaki ini sedang berbicara entah dengan siapa lewat telepon.
"Eka masih tidur bu .. tuh lihat, orangnya masih berbaring di atas ranjang."
Eka tersentak. Sepertinya ibu yang menelpon. Kemungkinan panggilan dari hape miliknya tadi dari ibu. Karena tidak ia angkat, ibu beralih menelpon Zever. Selalu seperti itu. Sejak kepergian Eka ke Surabaya, ibu selalu menelpon menanyakan keberadaan Zever.
Dan selama itu pula, Eka berhasil mengakali sang ibu. Zever masih mandi lah .. Zever masih lembur kerja .. Zever dinas luar kota .. dan hari ini ibunya berhasil menelpon Zever.
"Astaga tuh anak bikin malu saja! kamu sibuk di dapur, dia malah masih enak enakan tidur!" ibu mulai mengomel.
"Tak apa ibu, Eka masih ngantuk, tidak setiap hari saya masak .. saya hanya sekali sekali masuk dapur." Zever membela Eka.
"Tidak boleh ... seorang istri harus menjalankan tugasnya memasak untuk suami, Eka bangun!" Jiwa patriarki ibu berontak.
Eka tak bergeming meski mendengar teriakan ibu. Moodnya masih buruk karena aduan pembatalan nikahnya ditolak.
"Eka bangun! ibu perlu bicara!" Ibu berteriak, Zever sampai kaget.
"Ibu nanti saja telponnya oke .. Eka benar benar masih tidur! Assalamu'alaikum." Zever mematikan panggilan, tidak menyangka ibu mertuanya se bar bar itu.
"Kenapa tidak mau menjawab telepon dari ibu?" Zever duduk di tepi ranjang.
Eka tak bergeming. Masih berpura pura tidur.
"Aku tahu kamu sudah bangun Amore! kenapa tidak mau menjawab telpon ibu?" Zever bertanya lagi.
"Males." Eka menjawab singkat.
"Suka banget membuat ibu marah." Zever menghela nafas kasar.
Eka tidak menjawab. Ia memilih memejamkan mata. Menata hatinya yang kecewa karena penolakan pembatalan nikahnya. Tiba tiba perutnya berbunyi, menandakan kalau perutnya minta diisi.
"Bangunlah Amore, mandi terus sarapan, sepertinya kamu kelaparan! sarapan sudah aku siapkan!" Zever menatap tubuh Eka yang tertutup selimut.
Eka tidak membantah. Ia segera bangkit dan turun dari ranjang. Sedikit pun tidak menoleh pada Zever. Kakinya melangkah masuk ke dalam walk in closed untuk mengambil pakaian.
Tidak sampai semenit, Eka telah keluar dari walk in closed dengan membawa pakaian dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Zever tahu, Eka masih belum menerima dirinya. Zever juga tahu, Eka paling tidak suka diatur, dikekang dan dilarang. Zever juga tahu sikapnya sangat posesif. Tapi mau bagaimana lagi, begitulah dirinya. Mau atau tidak, Eka harus menerimanya. Zever beranjak keluar kamar.
Sekitar tiga puluh menit, Eka keluar dari kamar menuju ruang makan. Di meja makan telah tertata berbagai macam masakan. Eka mencibir, tidak mungkin Zever memasak semua masakan ini. dia pasti pesan dari resto. Herannya sang ibu malah menuduhnya istri yang tak berbakti.
"Sarapan sekarang?" Zever bertanya.
"Enggak .. tahun depan." Eka menjawab ketus.
"Woww galaknya." Zever tergelak, ia menyiapkan piring untuk Eka.
"Aku bisa mengambil sendiri." Eka menolak saat Zever mengambil nasi untuknya.
"Jangan menolak! biarkan aku melayanimu." Zever Bersikeras.
"Aku suapin ya!" Pinta Zever, piring makanan untuk Eka telah siap.
"Tidak perlu aku makan sendiri." Eka segera menarik piring berisi makanan.
"Selamat makan." Zever tak sakit hati meski nada suara Eka masih ketus.
Keduanya makan dalam diam. Meski begitu netra Zever masih terus memindai wajah Eka.
"Kepergianku tanpa pamit membuatmu kesulitan ya amore?" Zever memecah kesunyian, tadi di telepon ibu menegurnya kenapa ia tidak bisa dihubungi.
Eka yang sedang menunduk menatap piringnya seketika mendongakkan kepalanya menatap Zever.
"Tidak juga, kesulitannya cuma satu .. aku repot mencari alasan saat ibu ingin berbicara denganmu, karena ibu mengira kamu sudah balik ke indonesia dan kita sudah tinggal bersama" Eka menjawab santai.
"Maafkan aku amore, saat itu aku benar benar panik melihat kondisi kakek, buatku kakek adalah segalanya, guruku, panutanku, aku tumbuh dan dewasa bersama kakekku. Dibanding dengan orangtuaku aku lebih dekat dengan kakek." Zever sendu.
"Kata maafmu basi, tak perlu kau ulangi berkali kali ... lagipula dengan kepergianmu aku bisa mengambil hikmah dibaliknya ... aku mendapatkan pengalaman baru, tempat kerja baru, rekan team panjat tebing yang baik, humble, apalagi team cowoknya selain baik hati mereka keren." Eka memuji, tak sadar wajah Zever berubah kelam.
"Termasuk lelaki yang menawarkan nganter kamu pulang dan memanggilmu sweety honey, memberimu tanda love dan kamu membalasnya?" Suara zever berubah menjadi dingin dan datar.
"Si Arul? ya iyalah dia keren dan humoris." Eka belum menyadari perubahan wajah dan nada suara Zever.
"Kamu menyukainya?" Tangan Zever mengepal erat.
"Ya iyalah ... kan dia cowok baik, sangat perhatian padaku, terus Arul itu humoris gak garing kalau ngobrol bersamanya, dia itu .." Kata kata terpotong.
"STOP! Berhenti memuji lelaki lain di depanku atau saat aku tidak ada, ini peringatan pertama dan terakhir dariku! kalau kau masih melakukannya, nasib lelaki yang kau kagumi akan berakhir mengenaskan." Wajah Zever menggelap.
Eka tak berani membantah. Jujur di dalam hati ia merasa takut. Takut kalau sampai Arul dibuat celaka oleh Zever. Temannya ini tak bersalah apa apa.
"Karena kamu membuat kesalahan, kamu harus dihukum .. hukumannya, kamu tidak diperbolehkan keluar dari apartemen, boleh keluar asal bersamaku!" Zever bangkit dari kursi, tak berselera makan, hatinya sakit mendengar Eka memuji lelaki lain.
"Kamu gila ya? jam sepuluh siang aku harus mengajar." Eka emosi.
"I don't care." Zever berlalu.
Eka menghentakkan sendok dengan marah. Moodnya makin buruk. Ia bergegas meninggalkan dapur. Tadi ia sudah menemukan tas ransel miliknya. Semua pakaian kotor dan hape sudah ia masukkan ke dalam ransel. Hari ini ia berencana melarikan diri.
Eka mengambil tas ranselnya. Mumpung Zever masih di dalam kamar, ia berniat pergi. Eka berlari ke ruang tamu. Mencoba membuka pintu apartemen.
Segala macam password ia coba. Mulai dari tanggal kelahiran Zever, tanggal pernikahan, hingga berbagai kode ia pencet, pintu ini belum bisa terbuka.
"Mau kemana? Melarikan diri lagi?" Zever muncul dengan setelan pakaian kerja dan tas di tangan, terlihat tampan dan gagah.
"Iya." Eka menantang.
"Kamu makin bandel Amore! baik lah aku beri tawaran padamu, ikut aku ke kantor, kalau memang kamu tak mau tinggal di apartemen." tawar Zever.
"Aku tidak mau ikut denganmu, aku mau kerja!" Eka membentak.
"Kalau begitu kamu tetap di apartemen." Zever mendekat, meraih pinggang sang istri lalu mendudukkannya di atas sofa.
"Jadilah istri yang patuh! duduk manis dan santai di rumah menungguku pulang, Renungi kesalahan mu! aku berangkat kerja dulu my amore!" Zever menyambar bibir Eka, melumatnya dengan rakus.
Eka tak kuasa melawan keberingasan Zever. Nafasnya sampai megap megap saat Zever melepaskan bibirnya.
"Bye amore." Zever bangkit dari sofa, berjalan mendekati pintu.
Secara otomatis pintu apartemen terbuka. Zever keluar. Sebelum Eka sempat berlari ikut keluar, pintu kembali tertutup rapat. Eka terjebak di dalam apartemen Zever bagai seorang tawanan.