Mayra memilih meredam sendiri perasaan cintanya pada seorang pemuda tampan yang merupakan teman satu sekolahnya, sekaligus putra bungsu dari sebuah keluarga baik hati yang sudah begitu banyak membantunya.
Mayra sadar, perasaannya tidak mungkin berhasil, terlebih pemuda tersebut telah memiliki seorang gadis sebagai tambatan hatinya.
Lalu, apakah cinta Mayra benar-benar tidak akan mungkin terwujud?
Yuk, ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Mayra memilih untuk meminta izin pulang lebih awal. Kepalanya yang terasa berat dan perut mual yang sudah tidak bisa di kompromi membuatnya merasa tidak bisa melanjutkan mengikuti pelajaran selanjutnya. Meskipun begitu, ia tetap bersyukur bisa mengikuti ulangan tadi dengan cukup baik. Tidak mengalami banyak kesulitan dalam menjawab semua soal yang diberikan. Buku khusus yang Ridho berikan, benar-benar sangat membantunya dalam menyerap pelajaran.
Mayra yang baru saja sampai ke Rumah, bergegas menuju dapur kotor, mencari Budhe Darmi untuk meminta bantuan perempuan paruh baya itu. Biasanya ketika sedang tidak enak badan, Budhe Darmi yang akan membantu Mayra mengerik punggungnya agar bisa segera membaik. Namun sayangnya Budhe Darmi sedang tidak berada di sana, hingga Mayra pun memutuskan langsung menuju ke Kamar untuk beristirahat.
Mayra berjalan lesu menyusuri lorong menuju kamar, tanpa gadis itu sadari, seseorang mengikutinya dari belakang. Begitu ia masuk ke dalam kamar dan hendak menutup pintu, Mayra dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di depan pintu mencoba menahan pintu yang hendak Mayra tutup.
"A-Agam, apa yang kamu lakukan di sini?" Mayra terkejut melihat Agam yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Tidak menyangka, jika pemuda itu sudah kembali dari perjalanan menyenangkannya.
Agam tidak menjawab, ia malah menerobos masuk ke dalam kamar, lantas menutup dan mengunci kamar itu. Mayra sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, karena gerakan Agam begitu cepat.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Ayah Vino bisa marah!" tegur Mayra panik.
Agam tetap tidak menjawab. Pemuda itu malah berjalan mendekati Mayra hingga Mayra yang dalam keadaan panik, bergerak mundur hingga tubuh belakangnya membentur dinding. Karena tidak lagi bisa bergerak mundur, Agam memiliki kesempatan untuk mengukung tubuh Mayra dengan tubuh besarnya, membuat tubuh Mayra menempel di dinding.
"Kamu begitu Khawatir Ayah Vino akan marah. Tapi kamu sama sekali tidak khawatir tentang kemarahanku!" hardik Agam. Pemuda itu meninju tembok di samping kepala Mayra untuk meluapkan seluruh emosinya yang sempat tertahan beberapa hari belakangan. Saking emosinya, Agam bahkan tidak merasa sakit saat darah mulai merembes dari sela-sela jari.
Mayra menelan keras Saliva. Jantungnya berdebar kencang, bahkan kepala Mayra terasa semakin berat. Namun ia harus tetap bertahan, tidak ingin lagi terlihat lemah di depan Agam.
"Aku tidak memiliki kesalahan apapun! Kamu tidak punya alasan untuk marah padaku!" Dengan kepala mendongak, Mayra berkata dengan intonasi tidak kalah tinggi dari Agam. Rasa sakit hati karena merasa sudah dipermainkan oleh pemuda di hadapannya, membuat Mayra memiliki keberanian untuk menjawab Agam.
Rahang Agam semakin mengeras. Baru ditinggal beberapa hari saja, Mayra sudah berani menjawabnya. "Ini semua pasti karena Ridho! dia pasti sudah menghasut Mayra untuk berani menjawab ku!" geram Agam dalam hati. Pemuda itu semakin naik pitam.
"Kamu sudah berani membangkang dengan pergi bersama Ridho!" tuduh Agam sambil menatap tajam Mayra, intonasi Agam pun semakin meninggi, bahkan tangan Agam tidak segan mencengkram rahang Mayra dengan kasar, bermaksud mengintimidasi gadis itu, agar kembali patuh padanya.
Wajah Mayra memerah, gadis itu menahan rasa panas dan nyeri pada rahang dan pipinya. Melihat Mayra yang terlihat menahan kesakitan, Agam segera melepas cengkraman tangannya di rahang Mayra.
Begitu Agam melepas cengkraman, Mayra berusaha mengatur nafas dan degup jantungnya yang semakin tidak beraturan. Mayra semakin kecewa, karena Agam bahkan tega berbuat kasar padanya.
Mayra kembali mendongak. "Pergi dengan siapapun, itu adalah urusanku, hak ku. Kamu tidak berhak melarang ku!" Mayra berkata tegas sambil menatap tajam wajah Agam. Ia tidak ingin Agam berhasil kembali mengintimidasinya.
Agam menyeringai. Reaksi Mayra terhadapnya, sudah jelas membuktikan keterlibatan Ridho. "Ridho sudah berhasil mencuci otak Mayra," pikir Agam.
Tanpa ingin berdebat lagi, Agam menarik tengkuk Mayra. Wajah mereka yang saling berdekatan, tentu saja membuat Mayra merespon dengan berusaha mendorong tubuh Agam. Namun tenaga Agam yang jauh lebih besar membuat pemuda itu dengan mudah semakin mengikis jarak dan berhasil mencapai sesuatu yang begitu dirindukannya. Agam melumat kasar bibir Mayra, ia bahkan memaksa Mayra membuka mulut dengan mengigit bibir bawah gadisnya. Mayra sendiri tidak tinggal diam. Sebisa mungkin ia menolak lumatan Agam dengan terus mendorong hingga memukul dada Agam.
Lidah Agam berhasil menerobos pertahanan bibir Mayra, namun pemuda itu buru-buru kembali melepasnya saat merasakan rongga mulut dan tengkuk Mayra yang semakin terasa panas. "Mayra, kamu...."
Plak...
Belum selesai Agam berkata, Mayra lebih dulu melayangkan telapak tangannya pada wajah Agam.
*****
anggp aja itu harga dibagi dua 😜
,, aku berasa mengalami lompat waktu, menilik masa lalu si cassanova arogan 😌
pelan2 mayra udah bisa nerima ridho. tapi ya gitu sih. kalo dipikir2 hidup mayra udah enak sebetulnya
serbuk apa tuh yg ditaburin ridho ke mayra? obat nganu kah?
mungkin ridho kayak gitu karna ridho berpikir mayra masih blm bisa berpaling dari agam
arsene di beberapa part ini dapet porsi yg cukup banyak
gimana ya agam kalo tau mayra udah nikah?
nana hyun jadi inget kekoreaan
agam juga tipe yg setia sih walau begitu anaknya
saya kalo di posisinya ridho kalo ngelakuin itu udah dibentak2 habis, mungkin bisa aja dicoret dari kartu keluarga. beruntung banget jadi ridho. mayra juga beruntung, tapi biasanya yg kayak ini ujungnya bikin galau terus
felicya sepertinya perempuan ga bener sampe jadiin kevin temen ranjangnya.
agam ini dia betul2 cinta sama mayra. sejauh yg saya baca (walau lupa2 inget karna udah lama banget ga baca lagi) agam cuma bersikeras sama mayra. cewe lain ga diperlakuin sespesial itu sama agam, kayaknya agam ini ga buaya2 banget deh, perlakuan dia ke cewe lain sama ke mayra rasanya cukup berbeda