NovelToon NovelToon
Miss Truth

Miss Truth

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Perjodohan / Tamat
Popularitas:42.8k
Nilai: 5
Nama Author: HANA NH. asuna

UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.

Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.

Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.

Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?

Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. LARI

Di hamparan tanah lapang berumput hijau yang luas. Sampai tidak terlihat ujung ke ujung dari tanah lapang itu. Masih dengan Agiangle dengan ayah dan abi disana.

Agiangle masih dengan senyumannya yang tah apa artinya itu. Matanya yang menyalak itu berusaha untuk merisak abi yang masih tersenyum tulus menyapa Agiangle atau mama.

“Halo, Agi. Apa kabar?” abi maju dua angkah mendekati Agiangle.

Agi semakin tersenyum, “Pastinya kakak ingin aku tidak baik-baik saja. Tapi sayangnya, aku baik-baik saja.”

“Agi! Apakah begini sikap kamu pada orang yang lebih tua?” ayah mendekati Agiangle dan menjewer telinga Agi.

“Ternyata kak Andre masih hobi menjewer, ya? Apakah kalian sama sekali tidak berubah? Apakah kalian masih tetap polos seperti dulu?” Agi terlihat berkaca-kaca pada maniknya yang berwarna hazel.

“Agi-“

“Kak Amri! Ternyata walau sudah 30 tahun lamanya, aku masih berdebar ketika melihat kakak. Apa kakak tidak mau menerima aku sebagai istri kedua?” Agi menghentikan abi berbicara.

“Agi!”

“Tenang kak Andre. Aku hanya bercanda. Setelah ia membunuh papa dan mama, semua rasa cinta ini telah sirna. Yang ada hanya rasa marah. Nah, disini aku ingin bertanya sekali lagi. Apakah kak Andre tetap membela pembunuh ini atau membantu aku membalas dendam?”

“Dengar Agi. Kakak tidak akan pernah ikut campur tentang masalah ini. Oke?” ayah membalikkan badannya dan juga mengajak abi untuk kembali.

“Haha, dasar kakak pengecut!” dengus Agiangle.

Saat ayah membalikkan badan untuk menatapnya, ia malah berbaik arah dan berjalan ke arah orang-orangnya.

“Ayo kembali. Apa yang kita ingin sudah didapat.” Katanya pada orang-orang bergaun hitam serta bertudung hitam itu.

Agi hanya berjalan menjauh bersama sekumpulan orang berpakaian serba hitam layaknya gagak.

...***...

“Umi… masih hidup.”

“Apa?” ketidak masuk akalan apa ini? permainan apa lagi yang kalian mainkan untuk Ziva kecil itu?

“Iya, Ziva. Umi, belum meninggal.” Ulang Najwa.

Ziva tak ada pilihan lain selain terkulai lemas dan terjatuh dari kasur itu dengan merebah di lantai. Ia bukan sedang berakting, tetapi dunia yang dirasanya bermain peran. Kenapa? Kenapa hidupnya tidak sedamai air di lautan?

“Ziva! Kamu gak apa, kan?” Najwa mencoba mengangkat tangan Ziva yang merebah di lantai dingin yang bergambar seperti kayu itu.

Tetapi, Ziva masih lengket dengan lantai itu. Lantai saja tidak membohonginya dan berkata bahwa aku hangat, mari peluk aku dan selau membuat orang kedinginan ketika menyentuhnya.

“Najwa,” mata Ziva menatap pada kaki tempat tidur. Tempat tidur itu indah sekali.

“Hm,” saut Najwa.

“Boleh bangunkan Ziva satu jam 1 lagi? Kalau ini mimpi, setidaknya Ziva akan bahagia walau hanya satu jam.” Ia mulai berhayal dan menutup matanya. Menghayalkan bahwa ia memeluk uminya.

Air matanya menetes dalam pejamannya. Bagaimana kalau ini tidak asli? Itu yang ditakutkannya. Jadi, ia tidak akan bertanya apa ini bohong? pada Najwa. Ia takut bahwa ia akan mendengar bahwa itu adalah kebohongan.

Ternyata Ziva penakut, ya? Ia tidak berani menghadapi apa yang ada di hadapannya. Dan selalu lari dan lari.

“Baiklah, Ziva. Tidurlah.”

Ziva tak menjawab persetujuan Najwa. Tetap fokus pada bayangannya yang indah.

“Ziva! Ziva! Vava!!!”

Suara apa itu? Suara itu sangat berisik. Membuat Ziva sakit kepala. Suara itu mengganggu saja. Ia tadi sedang traveling bersama umi dan Sulthan. Mimpi yang sangat indah. Ia bermain salju di sana. Bermain hujan pohon maple di musim semi.

Tiba-tiba, mimpinya hancur karena suara seseorang yang memanggil namanya dengan keras. Suaranya seperti kaleng terjatuh. Nyaring sekai.

Ziva lekas membuka matanya yang terkantuk. Ia paksakan agar tidak mendengar suara nyaring itu lagi memanggil namanya.

Setelah matanya terbuka, ia menemukan dirinya berada di atas kasur nyaman itu lagi. Dengan selimut bulu-bulu yang lembut membungkus setengah tubuhnya.

Ia melihat ada seseorang di sampingnya. Pandangannya masih kabur. Orang-orang itu terlihat gemuk dan gendut jadinya. Apa ia perlu kacamata sekarang? Sudah setua itukah dirinya?

“Sudah bangun?” suara itu? Ia kenal suara itu. Suara perempuan menyebalkan yang sudah menamparnya 1 kali. Mengingat itu membuatnya makin kesal.

“Anda?” jawab gadis itu dengan sarkasnya. Bagaimana ia bisa lembut dengan perempuan yang telah membunuh ibunya dan menuduh ayahnya pembunuh?

“Bibi. Panggil saya bibi. Saya ini bibi kamu.”

“Mau apa Anda kemari?” Ziva menyorot tajam Agi dengan ujung matanya.

Mama tertawa, “Hoho… ini rumah saya, Nak.”

Ya Allah, Ziva lupa. Malu sekali rasanya. Ingin rasanya ia menghilang dari sana dengan ajaib.

“Oh, hmm, hmm. Maksud saya-“

“Ziva. Jangan formal gitu, ah.” Najwa yang berada di belakang bibi Agiangle yang duduk di samping Ziva.

Najwa memegang kedua teapak tangan Ziva.

“Najwa. Jaga dia!” mama hanya mendelik menatap Ziva. Ia membalikkan tubuhnya dan memberi tatapan sinis pada Ziva.

Ziva juga sama, ia melotot pada mama. Mama hanya mendegus pelan melihat tingkah anehnya.

Mama atau bibi Agiangle itu keluar dari kamar itu dan membanting keras pintu itu.

“Kenapa bibi itu? Kelihatannya dia senang?” Najwa tersenyum melihat tingkah bibinya.

Tunggu! Senang? Orang macam apa yang senang malah mendelik seperti itu? Apakah… mata Najwa mulai katarak?

Ziva memasamkan wajahnya. Bertanya-tanya apa maksud dari kesenangan yang dimaksud Najwa.

“Iya, Ziva. Bi Agi lagi senang. Dia bisa senyum. Biasanya muka bi Agi setiap hari itu hanya datar. Atau pun, dia gak pernah mendelik kayak gitu. Berarti ia sedang senang.”

Ziva semakin heran, apakah orang mendelik itu menandakan ia senang? Wah, atmosfir di rumah ini sangat berbeda dengan di rumah Sulthan. Sangat angker.

“Ziva. Ikut aku, yuk!” ajak Najwa.

...***...

“Pak, bisa lebih cepat lagi, gak pak?” gusar Bram. Dia duduk di samping kursi supirnya.

Pak Aryo hanya bisa mangut-mangut. Ia tahu bahwa tuan mudanya sedang dalam suasana yang cukup buruk untuk bisa berbicara lembut. Jadi ia tidak akan memasukkan kegusaran Bram ke dalam hati.

“Den, mereka gak bisa terlacak. Mereka masuk ke hutan yang gak ada sinyalnya…,” pak Aryo mengkerutkan keningnya. Ia harus memikirkan apa reaksi dari tuan mudanya.

“…Sepertinya, kita belum bisa melanjutkan pengejaran ini.”

“Apa?!!!”

Pak Aryo menutup matanya sejenak. Ia terkejut mendengar Bram yang tidak percaya dan berteriak.

“Bapak gimana, sih? Bapak kan mantan intel Negara, masa nyari hal beginian aja gak bisa!” Bram tidak tahu bahwa perkataannya barusan sudah sangat melukai hati pak Aryo.

Pak Aryo menatap jajaran pepohonan itu dengan sayu. Ia tahu, bahwa Bram sedang merasa ditinggalkan sekarang. Ia sudah ditinggal tiga kali oleh orang yang disayangnya. Dan ini yang ke-empat kalinya.

Ia ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh mamanya saat ia berumur 5 tahun. Kemudian papanya meninggalkannya untuk pindah ke rumah yang lebih luas, dan meninggalkannya bersama pengasuh dan kakaknya. Dan kemudian, kakaknya pergi ke Jakarta dan meninggalkannya di rumah itu.

Reaksinya saat ketiga orang itu pergi memang tidak berlebihan, tapi semua itu menumpuk di hatinya dan membuatnya mati rasa pada perasaan orang lain. Tapi, kali ini perasaannya sudah kembali terbuka. Pak Aryo ikut senang dengan itu. Tetapi, hatinya yang terluka juga tidak bisa terelakkan.

“Saya minta maaf, Pak.” Pak Aryo mendengar sedikit suara tangisan dari Bram. Selama ini, ia tidak pernah menangis dan selalu menahannya sendiri.

“Saya, minta maaf.”

“Aden nangis?” pak Aryo memelankan laju mobilnya.

Bram menggeleng di dalam silangan tangannya yang ditumpukannya di atas laci mobilnya.

Pak Aryo tersenyum dan mengelus rambutnya yang sedikit gondrong dan ikal. Ia menepuk punggung Bram beberapa kali dan menyeru, “Siapa bilang kalau nangis itu menyedihkan, Den? Terkadang, lelaki itu juga bisa menangis. Kita bukan patung yang gak punya hati. Kita bisa merasakan kesedihan.”

Pak Aryo kembali fokus ke jalan karena ada jalanan yang menukik tajam di depan sana.

“Den. Bapak akan berusaha keras untuk menemukan Non Ziva. Bapak gak senang kalau Aden sedih gini. Aden udah bapak urus sama bik Cinta sejak aden masih bayi. Aden udah bapak anggap kaya anak bapak sendiri.” Jeda pak Aryo yang ikut terharu.

“Jangan sedih, Den. Aden gak sendirian. Bapak dan Bik Cinta selalu ada buat aden. Aden bisa anggap kami bapak dan ibuk aden sendiri. Maaf kalau bapak lancang.”

Bram mengangkat kepalanya. Matanya merah dan lengannya basah terkena air matanya.

“Bapak. Bram, gak keberatan. Tapi, apa bapak gak apa?”

“Tentang apa, Den?”

“Bapak, dan Bik Cinta, waktunya sudah terbuang sia-sia karena Bram. Kalian bahkan belum menikah karena Bram.”

“Siapa bilang.” Pak Aryo tersenyum di kursi itu.

“Maksud bapak?” Bram tercengang. Apa maksud pak Aryo?

Tetapi, pak Aryo hanya tersenyum.

Apakah… pak Aryo dengan Bik Cinta… wah, sungguh tidak bisa dipercaya. Ia bahagia tetapi ia masih tidak percaya dan tertawa sendiri di kursinya.

Benar. Dunia ini tidak pernah bisa ditebak. Semuanya sudah ada penulisnya di atas sana. Ia hanya bisa mengikuti alur dari cerita yang diciptakan.

Maka, ia harus sabar. Agar ia, bisa melihat pelangi setelah hujannya. Agar ia, tidak terus melihat gemuruh hidupnya.

...***...

1
HANA.NH
up lagi setelah sekian lamanya
Yoanita_Situmorang
ditunggu kelanjutannya thor🔥
HANA.NH: iya, kak. makasih, sudah terus menunggu.
total 1 replies
Bang Regar
👍
R.F
2 like hadir. cemungut. like balik yw
MayaTika Channel
Terima Kasih Thor sudah menghibur . Adem bacanya kalo suami istri sama" saling ngerti gtu 🥺
HANA.NH: Ulu-ulu, maacih banyak komennya, kak. Seger bener kek abis minum extra jos👍👍
total 1 replies
Komah Xyamat
semoga ziva sama sultan bisa dipersatukan kembali dan bahagia. 😁😀 lanjut kaka aku tungguin nih jangan lama2 kaka semangaka (semangat kaka)
HANA.NH: aamin kk
total 1 replies
Ipah Cakep
penyelidikan di mulai
HANA.NH: eheee....😁
total 1 replies
Ipah Cakep
wajan siapa sih Thor? pa pernah suka ama ziva?
Ipah Cakep: kok bisa baek bgt?
total 3 replies
R.F
semangat kaka.like. like balik ya
HANA.NH: makasih kkk, Hana comeback ya
total 1 replies
Heni Lestari
hai salam kenal aku Heni lestari mapir juga ya kak ke novel ku kisah cintaku dengan adik kelas ku aku juga dah like kak sampai 6 back y author 😂
Ipah Cakep
auto mewek 🤧😢😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Ipah Cakep
wajan?
Ipah Cakep
astaghfirulloh.. kaget
Ipah Cakep
Kaya itu hati yg tulus
Navizaa
lanjutt kak
HANA.NH: iya kk, makasih❤❤❤
total 1 replies
Susi Ana
like, mampir ya
HANA.NH: iya kk, Hana mampir ya
total 1 replies
R.F
semangat up.like like balik ya
HANA.NH: iya kkk, Hana mampir Ya... makasih karena udah mampir
total 1 replies
Ipah Cakep
Alhamdulillah
Ipah Cakep
Sahabat selamanya 🥰🥰🥰
Ipah Cakep
Astaghfirulloh al azhiim 🥵🥶🤧🤒🤕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!