Valendro sebagai ilmuwan yang mencanangkan ide mencari time glitcher agar kembali ke dimensinya atau diatur di tempat yang tepat, memiliki kesempatan kedua untuk mengatur sekelompok pasukan yang siap berpetualang di berbagai galaksi dan berbagai alur waktu. Namun untuk merekrut pasukan yang hebat saja, dia harus banyak berputar otak.
Untungnya beberapa prajurit yang telah berdedikasi, telah menyetujui dan mengabdi untuk Kaunsel Sejarah, dengan imbalan mereka diperbolehkan beberapa waktu sekali pulang atau pergi menemui orang yang mereka kasihi, baik itu keluarga ataupun sekedar pacar.
Tak hanya masalah pasukan, Valendro juga harus secara rutin memperbaiki Kapten pesawat yang dikendalikan oleh robot AI! Lancarkah petualangan mereka? Atau lebih banyak kegembiraan daripada yang sudah-sudah?
Hint: Novel ini adalah Saga dari Novel lama Author. Silakan DM author untuk info mengenai novel lama yang dimaksud
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArmandArt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hellen si Hacker Handal
< X-Vyon GaukherBot Center, Pangkalan Militer Drantura >
"Tidak, tidak, sudah kubilang jangan ditambahkan kalibrasinya, Flyon! Kau tak mendengarkanku? Apa?" seru seorang Cyborg wanita. Penampilannya yang setengah robot setengah manusia membuatnya tampak agak menyeramkan walau fisik yang dimilikinya tergolong seksi. Dia memakai baju khas ilmuwan dengan jaket panjang putih, namun dalaman blazer serta rok span setengah paha. Rambutnya kini agak berantakan, menghadapi robot yang memenjarakannya di Ruang Disiplin.
"Sentinel X-7 tak setuju pendapatmu. Kurangnya kalibrasi membuat robot yang kau program kurang aktif merawat dirinya sendiri!" ucap sebuah Robot Pria berwarna biru tua. Dialah Flyon, robot yang merasa Cyborg Wanita itu butuh penenangan diri.
"Kau bodoh, kalau kalibrasi itu ditambah dan parameter menjadi diluar kendali, jangan cari aku!" ucap si Cyborg wanita. Namun Flyon mendengus dan tersenyum miring.
"Sudah ada tim khusus yang akan mengeksekusi jika robot ciptaanmu itu berontak, Hellen...." ucapnya sambil bergerak meninggalkan Cyborg wanita yang bernama Hellen tersebut.
*Bhang!*
"Sialan!" umpatnya sambil memukul pintu besi berongga tersebut. Dia berjalan keliling di ruangan tersebut selama dua putaran, sebelum akhirnya duduk di salah satu ujung ruangan. Untunglah dia telah menyematkan laptop holograf yang tak dapat dideteksi para robot diluar. Karena dia telah memasang semacam Firewall berlapis. Sehingga para robot menyangka dia mulai gila karena berkutat sendiri. Padahal dia memonitor keamanan di gedung tersebut.
Selama lima menit dia memeriksa segala sisi gedung, harap-harap ada penjagaan yang longgar, sehingga dia bisa kabur, namun....
"Hmm? Apa itu....?" celetuknya seperti berbisik. Dia melihat sepasang robot yang bertindak di luar protokol sambil bersembunyi di gang sebelah gedung tersebut.
Hellen mencoba menjalankan penyintaian data wajah kedua robot itu. Namun tak berapa lama, dia kebingungan dengan hasilnya. Kedua robot itu terkesan berada di dua lokasi di saat yang sama. Untungnya lokasi ke 2 berada jauh diluar negeri.
"Tunggu...mungkinkah...?!" kembali Hellen mengutak atik laptop holografnya.
"Aha!" sahutnya kecil setelah melihat secara mendalam data sebenarnya dari kedua robot tersebut. Hellen tersenyum licik, sambil memastikan pintu ruangannya agar tak ada yg mengawasinya.
****
< Sisi Luar Pangkalan Militer >
"Gimana nih, gimana nih...?!" seru Hayate panik. Dia dan Audreena saat ini memutuskan bersembunyi untuk mengatur strategi. Namun pemuda itu malah tampak konyol dengan kostum robotnya, membuat Audreena memutarkan matanya.
"Sabar! Kita cari celah dulu lah. Lagipula ini Misi..." ucap Audreena, namun dipotong oleh Hayate.
"Misi! Ya betul, itu Misi bilang kan kesulitan menengah?! Kenapa nyatanya sesulit ini?! Gimana nih, Kak Rena?!"
*bugh!!* sebuah pukulan dari Audreena ke perut pemuda itu membuat Hayate mengaduh kesakitan.
"Sabar dan tenang dulu, sialan! Biar aku pikir dulu gimana masuknya...!" seru Audreena kesal.
"Okay...okay!! Aduh, Kak. Masa pukul sampe berdarah nih..." ucap Hayate sambil menunjukkan sedikit darah diujung mulutnya. Audreena mendecih lalu tak mempedulikannya dan berjalan lebih tersembunyi sambil berusaha menghubungi Serenium.
"Halo, Kapten? Halo? Aduh...." keluh Audreena kesal karena tampaknya terdapat gangguan sinyal. Dia menduga karena mereka berada di area militer. Namun tiba-tiba....
".....zzztt....ha...lo, kalian disana....halo? Bisa dengar...?!" ucap seorang wanita di alat komunikasi Audreena, segera dia berbalik memandang Hayate sambil menaruh satu jari telunjuknya ke bibirnya, menyuruh pemuda itu diam. Hayate segera mengangguk paham.
"....kalo bisa dengar, kasi respon ya...supaya komunikasi kita le....bih jelas...." ucap suara itu lagi. Audreena berpikir sejenak, menutup matanya sejenak, lalu berdehem cukup jelas agar suara di seberang dapat mendengarnya.
"....Oke! Sekarang, apakah kalian utusan dari Kaunsel Waktu...?" tanya suara itu setelah Audreena memberi respon. Kini suara itu terdengar jelas tanpa gangguan.
"B-betul, apakah anda yang menghubungi kami...?" tanya Audreena cepat.
"Oh syukurlah, betul. Saya Harbringer Extra Layout Levitator Extrapolymer Nanobot. Tapi kalian bisa memanggilku Hellen untuk singkatnya. Kalian akan saya arahkan ke penjara dimana saya ditahan di dalam gedung yang kalian awasi daritadi. Jangan khawatir, saya pastikan kalian tidak terdeteksi..." ucap suara itu. Seketika Audreena paham mengapa tingkat kesulitan Misi itu 'menengah', ternyata mereka hanya menjemput dengan dibantu si target, yang menurut tebakan gadis itu, Hellen adalah seseorang yang sangat paham konstruksi bangunan tempat dia ditahan.
".....hmm, baiklah. Kami akan ikuti arahan anda, harap bertahan di dalam sana!" jawab Audreena. Hayate tampak panik karena gadis itu setuju-setuju aja, namun dengan cepat Audreena menjitaknya.
Maka tak lama kemudian, mereka berdua mulai menjalankan rencana Hellen. Audreena sebelum mulai masuk area militer sudah memberitahu pemuda itu untuk segera menggendong dirinya dan target apabila rencana menjadi terbongkar dan ketahuan pihak robot sentient.
(15 menit kemudian.....)
"Hai, kalian. Terima kasih sudah menjemputku. Cepat, sambungkan ini ke sirkuit di sebelah kunci bagian luar!" ucap Hellen sambil menyerahkan kabel hitam, yang menurut Audreena tampaknya terbuat dari Baja. Karena walaupun kecil, beratnya sepertinya sekitar dua kilogram.
"Kamu, awasi ujung-ujung koridor!" pinta Hellen ke Hayate sambil dia berusaha meretas kombinasi kunci ruang disiplinnya.
"Hellen...? Kenapa kamu ga mencoba kabur sendiri?" tanya Hayate bingung sembari matanya mengawasi koridor dan juga betapa piawainya Cyborg wanita itu berkutat dengan laptop holografnya.
"Pertama, kunci depan ini, tanganku tak sampai ke sirkuit itu. Kedua, aku butuh fisik orang agar bisa menyelinap keluar..." ucap Hellen, membuat Hayate bingung.
"Hah? Apa maksudnya...?!"
"Mck....sudah, kau fokus ngawasin aja jangan ganggu ah!" cebik Audreena, meskipun dia juga agak bingung dengan maksud Hellen.
"Dan....beres!" *cgklek...dufffh...* (bunyi pintu ruangannya terbuka), Hellen segera keluar. Lalu dia meminta kedua orang itu mundur semeter. Dia kembali berkutat sedikit dengan laptop holografnya, lalu tiruan Hellen muncul di bagian dalam ruangannya tadi! Hayate dan Audreena terkesima dengan kemampuan Cyborg wanita itu.
"Nah sekarang! Siapa diantara kalian yang bergerak cukup gesit?!" tanya Hellen sembari matanya mengawasi kedua orang itu. Audreena segera menunjuk Hayate. Tak disangka-sangka mereka berdua, tiba-tiba saja Hellen merubah dirinya dengan cepat menjadi sebuah ransel futuristik.
"Pakailah ini, bawa di punggungmu. Lalu gendong kawanmu ini. Ikuti petunjukku dan lari! Keamanan gedung akan tiba dalam 5 menit!" ucap Hellen santai dan tegas.
"AAPAH!" seru Hayate nyaring, namun Audreena cepat menyuruhnya diam dan segera lakukan yang dipinta Hellen.
Maka dengan langkah cepat setara kecepatan angin Hayate segera menggendong tas Hellen dan tubuh Audreena. Hellen sedikit terkejut bahwa pria itu dapat berlari secepat ini, sehingga dia hanya menyerukan kanan-kiri-atas-bawah untuk mempersingkat petunjuknya.
****
< 500 meter batas luar kota Drantura >
"Stooopp. Nah, disini kita baru aman!" ucap Hellen santai. Audreena agak pucat namun dia baik-baik saja. Lain dengan Hayate yang ngos-ngosan.
"Lain kali, bilang dulu rencana larinya yah, Hellen. Aku...sangat panik tadi...." seru Hayate kesal sambil membuang ludahnya, dia merasa dia terlalu fokus berlari, tanpa sadar menghirup terlalu banyak angin, membuatnya agak sesak nafas sejenak.
*cupp* "Thanks ya, ganteng..." ucap Hellen setelah dia kembali ke wujud Cyborgnya sambil mengecup dahi Hayate tiba-tiba, membuat Audreena menahan tawanya.