NovelToon NovelToon
Fell To You My Bodyguard

Fell To You My Bodyguard

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Pengawal / Cintamanis / Tamat
Popularitas:59.6k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Eng

Agnia merupakan anak keluarga kaya raya. Ia akan berencana akan menikah dengan kekasihnya namun tepat di hari pertunangannya, ia malah melihat kekasihnya bermain api dengan sahabatnya sendiri.

Ia pikir status dan derajat yang sama bakal membuat semuanya bahagia. Tapi, ternyata ia jatuh pada seseorang yang bahkan tidak pernah dia pikirkan sebelumnya....

"Kehormatan mu akan terganggu jika bersama pria seperti ku!"

"Apa pentingnya kehormatan jika tak mendatangkan kebahagiaan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?

Di sebuah rumah besar yang terletak di daerah perbukitan, nampak seorang laki-laki muda yang berdiri tengah menunggu pria paruh baya mengabiskan segelas minuman.

"Jadi kau yang bernama Bumi Rekta?" tanya pria paruh baya.

Laki-laki itu mengangguk. Sorot matanya terlihat sangat tegas.

"Kau tahu kan aku mencari berlian ungu itu?" bertanya sambil menggoyang isi gelas.

Lagi, yang di tanyai hanya mengangguk tanpa menjawab dengan suara.

Lalu pria paruh baya itu pun tersenyum puas. "Kau bisa memberikan efek kejut pada mereka selama kita menunggu pesta tahun baru. Terserah caranya. Kalau sampai malam tahun baru bajingan itu tidak menepati janjinya, baru kau bergerak!"

Laki-laki dengan tato di lengan itu mengangguk lalu pergi. Terlihat sangat dingin dengan aura bengis yang terlihat jelas.

Di tempat lain, Airlangga kini lebih bisa tenang manakala meninggalkan Agnia di rumah. Mungkin karena Jovan sedang sibuk-sibuknya memenuhi panggilan polisi mengenai kasusnya. Airlangga pergi untuk datang menemui Zidan di kantornya.

"Bagiamana perkembangan kantor kita?" tanya Airlangga saat Zidan sudah masuk.

"Lebih baik dari beberapa bulan lalu Kak!"

"Bagus!"

Percakapan pun hening sejenak. Tapi Zidan tiba-tiba membahas hal lain.

"Oh ya, kakak jadi memungkasi penjagaan nona Agnia?" tanya Zidan ragu-ragu.

Airlangga terdiam sejenak sebelum memandang Zidan yang sangat sabar dalam menunggu jawaban.

"Tugasku sudah selesai. Apa lagi?" sahutnya cuek.

"Tian bilang, kemarin nona Agnia terlihat kepo dengan kak Mely!"

Dan Zidan harus lebih menyabarkan diri karena Airlangga bahkan tak meneruskan membahas pertanyaan itu.

"Hades memberiku waktu sampai pesta tahun baru. Aku sungguh bingung sekarang Dan. Kemana aku harus mencari benda itu." kata Airlangga yang lebih tertarik membahas masalah tersebut.

Zidan langsung merasa kasihan saat Airlangga lagi-lagi menunjukkan wajah murung kala mengucapkan hal itu.

"Sebenarnya bisa saja aku tutup mata dan membiarkan dia di bawa. Tapi hatiku..." Airlangga tercekat.

Zidan menepuk pundak Airlangga memberi kekuatan. Ia tahu kegalauan yang tengah melanda kakak angkatnya itu.

"Bagaimanapun dia tetap Ibu kakak. Masih bersyukur bisa melihat orang yang melahirkan kita. Sedangkan aku..."

Airlangga menatap sedih wajah Zidan yang kini menyuguhkan senyuman. Senyuman ironi yang selalu membuat dadanya nyeri.

"Aku dan anak-anak siap membantu kakak."

Keesokan harinya, Airlangga terlihat masih menemani Agnia bekerja karena di dalam perjanjian ia masih memiliki waktu. Mereka berada di sebuah pusat perbelanjaan yang baru saja di resmikan. Agnia datang karena perusahaannya lah yang menjadi penyedia layanan pengembangan pembangunan proyek besar itu.

Acara itu di hadiri oleh banyak orang penting yang telah bekerjasama. Agnia terlihat berkali-kali melirik Airlangga yang bahkan sedari tadi terus sibuk mengawasi keadaan sekeliling. Agnia sangat senang karena pria tampan itu sungguh sangat melindunginya dengan bersungguh-sungguh.

Acara pun selesai, Agnia berniat mengajak Airlangga untuk makan. Ya, supaya dia bisa berlama-lama dengan Airlangga tentunya. Sebab kalau pulang, pria itu pasti bakal langsung hilang dari pandangannya.

"Masih jam segini, aku ingin makan sesuatu di sana!" ucap Agnia dari jok belakang.

"Hemmm!"

Agnia mengajak ke sebuah restoran yang berada tak jauh dari mall itu. Ia lalu memesan makanan untuk dua orang. Agnia tertunduk sembari gelisah menautkan jemari. Bingung mau mencari topik pembicaraan.

"Kau sudah memutuskan akan melanjutkan kontrak?"

Tapi si datar belum juga mau merubah raut wajahnya. "Tidak!"

Agnia memanyunkan bibirnya. Kesal dan kecewa dengan jawaban yang di lontarkan. Apakah pria itu sungguh-sungguh akan membiarkannya sendiri?

"Aku akan menaikkan harga dua kali lipat!" ucapnya bernegosiasi.

"Aku sedang tidak butuh uang!"

Lagi, Agnia benar-benar kesal dengan mulut Airlangga.

Di saat bersamaan, saat tengah mereka sibuk ngobrol, sesuatu di depan sana tiba-tiba terjadi.

PRUYYAANG!

Kesemua pengunjung restoran serentak menoleh ke arah pintu masuk, tepat dimana seorang wanita terkena atap baja yang tiba-tiba jatuh. Semua orang seketika menjerit.

"Astaga, bagaimana bisa terjadi!"

"Siapapun, tolong panggilkan ambulance!"

Airlangga dan beberapa orang langsung melesat demi melihat korban. Dan begitu Airlangga tiba,

"Mely!"

Airlangga dengan sorot mata panik sekaligus cemas langsung mendekat ke arah perempuan yang kini pingsan itu. Tanpa meminta persetujuan, Airlangga langsung mengangkat tubuh Mely yang tak berdaya dan berlari ke luar. Meninggalkan Agnia yang kini mematung demi melihat kejadian di depannya.

***

Rumah sakit

Airlangga bangkit dari duduknya begitu pintu ruang tindakan terbuka. Ia berjalan sedikit cepat menyongsong dokter yang kini melepas maskernya.

"Anda keluarganya?" tanya sang dokter.

Airlangga terdiam bingung menjawab. Namun sejurus kemudian, "Saya temannya!"

Dokter pun mengangguk, "Pasien harus menerima jahitan di kepala karena sobekannya terlalu dalam. Masih belum sadar karena efek bius. Setelah sadar akan merasa sedikit pusing! Anda bisa masuk sekarang ke ruang perawatan."

Airlangga mengucap terimakasih. Dokter itu pun pamit setelahnya. Namun saat Airlangga akan melangkahkan kaki, dari arah berlawanan terlihat orang tua Mely berjalan dengan terburu-buru, membuatnya langsung memalingkan wajahnya.

Teringat masa lalu yang sungguh tidak ingin ia kenang.

Airlangga kemudian berjalan mundur lalu membalikkan badannya dan berlari. Saat hendak menuju mobil, ia mengumpat sebab baru ingat jika ia telah meninggalkan Agnia di restoran.

Ia buru-buru kembali ke restoran dan mencari Agnia namun yang di cari tak berada di sana. Ia menelpon nomor ponsel Agnia namun tidak di jawab. Airlangga panik dan mencoba mencari tahu dengan bertanya pada pelayan di sana.

"Oh yang pakai baju biru tadi? Sudah naik taksi Pak!"

Airlangga akhirnya pulang ke rumah. Namun ia juga tak mendapati Agnia. Sampai petang tiba, perempuan itu tak jua menampakkan diri. Membuatnya memilih menelpon Tian.

"Bisa kau bantu lacak nomor Agnia?"

Beberapa saat kemudian, Airlangga terlihat menyambar jaket guna menutup tubuh liatnya yang terbalut kaos putih. Ia memacu mobilnya ke sebuah bar tempat dimana Tian menginformasikan.

Bagiamana bisa perempuan itu malah datang ke tempat seperti ini seorang diri? Ia mendecak sendiri. Setibanya di sana, tak sulit bagi Airlangga untuk menemukan Agnia. Ia melihat perempuan itu tengah duduk di bar dengan tangan yang membawa gelas.

Dilihatnya ada dua orang pria yang sedang menggoda Agnia, namun keduanya segera pergi saat ia datang dengan tatapan sengit.

"Kenapa telepon ku tidak kau angkat?" tanya Airlangga terlihat sedikit kesal.

Tapi yang di tanyai malah menyuguhkan muka aneh. Lebih tepatnya, Agnia mabuk.

"Siapa kau?" tanyanya dengan gaya orang mabuk. Membuat Airlangga mengernyit.

"Beri aku satu gelas lagi!"

Tapi Airlangga langsung meminta bartender untuk tidak melakukan yang Agnia minta. Airlangga langsung berusaha menarik tangan Agnia sebab suara di sana sungguh memekakkan telinga.

"Sudah, kita pulang!" kata Airlangga sembari menjauhkan botol dan gelas dari hadapan Agnia.

"Hey, jangan tarik aku. Ayo kita menari sebentar. Ayolah!" ucapnya mulai ngawur.

Airlangga mencoba menahan bobot Agnia yang kini berjalan saja tidak mampu. Perempuan itu sempoyongan dan sudah tak kuat untuk sekedar membuka matanya.

"Kenapa semua laki-laki tidak ada yang serius denganku hah? Astaga!" ia meracau.

Airlangga yang tak sabar akhirnya menggendong Agnia yang sudah sangat mabuk lalu membawanya ke mobil.

Mereka akhirnya tiba di rumah nyaris tengah malam. Airlangga kembali menggendong Agnia yang meringkuk seperti anak kecil. Ketika baru saja meletakkan tubuh perempuan itu ke atas kasur, wanita itu tiba-tiba memutar posisinya dan membuat Airlangga ada di bawahnya.

DEG

Airlangga meneguk ludah karena wajahnya berada tepat di hadapan wajah Agnia. Bau alkohol itu menyengat memenuhi rongga hidung Airlangga.

"Kau bodyguard ku kan?" ucap Agnia menyusuri wajah tampan Airlangga tanpa sadar.

" Kau ini punya wajah setampan ini, tapi kenapa selalu saja datar dan dingin?"

"Dasar Air keras, Air batu! Air kulkas!" ia berkata sembari memejamkan matanya.

"Apakah kau tahu? Aku sangat sedih karena kau meninggalkanku demi mantan pacar mu itu. Kenapa, kau sangat mencemaskan dia? Kau bahkan tidak memakan makanan yang aku pesan untukmu! Kau jahat!"

Airlangga reflek menarik tubuhnya sedikit menjauh karena bibir Agnia nyaris menyentuh hidungnya. Perempuan ini kalau mabuk ternyata mengeluarkan semua hal yang tersimpan di benak.

"Aku..."

BRUK

Airlangga hanya bisa terdiam kaku saat Agnia ambruk tepat di atas tubuhnya. Ia dan perempuan itu saling tumpang tindih. Airlangga mendecak sebab wanita itu benar-benar teler.

Ia lalu berusaha membetulkan posisi perempuan itu dan menempatkannya pada posisi tidur yang nyaman. Ia memandangi wajah cantik Agnia yang kini mengeluarkan napas teratur. Dari perkataan Agnia barusan, ia jelas menduga kalau Agnia kesal kepadanya.

1
ione
/Good/
Dini Asma Amalia
bagus ceritanya, bikin penasaran, 👍👍👍
M akhwan Firjatullah
lah ilok mak otor juga ora tau ujung kehidupan airlangga...hadeuuhh
M akhwan Firjatullah
lah malah pada negooo
M akhwan Firjatullah
ealah sopo to cah bagus itu makkk...apakah jodoh agni nantinya
M akhwan Firjatullah
ya Allah itu kelakuan visya jadi si denok kang remes...
Teh Adhe
Bagus amat ungkapannya thor, ' kalau tidak kaya, maka sebaiknya kita harus serba bisa' ckckck kereeen /Good//Good//Good//Good/
Sunaryati
Kok udah tamat, ada boncap , Thoor
Septi Lahat
cinta,,menyatukan yg berbeda,, tpi di real tdk cukup dg cinta tuk melanjutkan hidup ini... selamat tuk Aghnia n Airlangga... trima kasih kk thor,, ceritanya bagus menyentuh hati,, smg sukses di cerita2 selanjutnya..
Mommy Eng: baca karyaku yang baru kak
total 1 replies
Reni Anjarwani
kenapa ngak nikah yaa tamatnya
Yumna
Congratz couple A 💜💙.. next👉 Couple R
Yumna
Ngga ada extra partnya mom?
Yumna
Maria & frans ngga d lanjut mom?🤭
Mommy Eng: sedang ingin bikin kisah Mafia. Sudah release kak. boleh di baca. Agak banyak cerita hotnya tapi nanti.🙏😀
total 3 replies
Sunaryati
Ditunggu lama kok, nongol cuma dikit amat, tambah up Thoor
Mommy Eng: Besok lagi ya kak. Hari ini sibuk banget🤗
total 1 replies
Reni Anjarwani
doubel up thor lama upnya , cuma sedikit
Mommy Eng: Besok lagi ya kak. Maaf ya😁
total 1 replies
Septi Lahat
balaslh cinta Agnia dg tulus Airlangga
Sunaryati
Ikut senang mereka akhirnya bertemu lagi, mudah- mudahan segera bersatulah dan safety hidup lagi, bahkan dapat penghargaan dan hadiah karena dapat membongkar mafia foster
Azwan Ramhan
terimakasih thor udh up
Mommy Eng
🤣🤣🤣 kaku
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!