Takdir seakan mempermainkan kehidupan Lintang Arjuna, ia yang dulu harus merelakan Danuar Anggara, kekasihnya untuk menikahi Libra, sang kakak, kini ia harus terlibat hubungan kembali dengan pria di masa lalunya.
Awalnya Lintang pikir Danuar datang menawarkan sejuta harapan dan cinta terpendam. Namun, siapa sangka Danuar justru kembali dengan misi membalas dendam atas rasa sakit yang Lintang torehkan di masa lampau.
Hari-hari bersama Danuar begitu menyesakkan. Dia bukan sekadar istri di atas kertas, dia adalah pengasuh kedua anak kembar Danuar yang harus selalu menuruti perintahnya tanpa dihargai sedikitpun.
Hingga akhirnya Lintang begitu sakit hati dan tidak tahan oleh perbuatan Danuar yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan serta merasa seperti istri murahan, ia memutuskan untuk diam-diam pergi dari kehidupan Danuar, saat itulah Danuar menyadari kesalahannya terhadap sang istri.
Bagaimana Kehidupan mereka ke depannya? Apakah ada kata damai atau justru perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Syarat
"Wah cantik banget!" seru Dita melihatku berjalan ke arahnya.
"Apanya yang cantik, orangnya atau bajunya?" tanyaku kemudian terkekeh.
"Orangnya nggak usah dibilang lagi tapi busanamu kini ngalahin penampilan sekretaris Bu Renata," ucap Dita seraya menatapku dari atas ke bawah. Oh iya Bu Renata adalah nama Ceo di perusahaan tempat kami bekerja.
"Apa sih melihat begitu." Aku yang risih langsung menutup mata Dita dengan tangan kananku.
"Ih aku serius Lintang." Dita bicara seraya menyingkirkan tanganku.
"Cocok banget sama bentuk badanmu." Kemudian ia menyentuh pakaianku. "Ini baju mahal dan kekinian Lintang. Tumben kamu peduli dengan passion seperti sekarang."
"Cih bilang aja muji diri sendiri," ucapku. Aku masih yakin Dita lah yang mengirimkan pakaian ini.
"Muji sendiri gimana maksudmu?" Ia mengerutkan kedua alisnya sambil menggaruk kepala.
"Ini kamu yang ngasih aku, kan? Bikin jantungan aja tiba-tiba kirim paket dengan nama pengagum rahasia. Sok misterius kamu." Aku tertawa renyah dan Dita malah membeku di tempat untuk sesaat.
"What! Aku yang ngasih?" Dia memijit pelipisnya kemudian berkata, "Mending aku pakai sendiri kalau punya baju model baru cantik begitu, hahaha." Tawa Dita pecah membuatku bingung.
"Serius bukan kamu orangnya?" Kini aku yang membeku.
"Bukanlah, kalau aku mau ngasih ngapain pakai perantara kurir segala. Kita kan ketemu setiap hari? Lagipula itu model keluaran baru dan aku belum sempat beli," lanjutnya. Kalau bukan Dita lalu siapa yang mengirimkannya padaku?
"Sudah ah, itu kamu ditungguin Bu Ceo dari tadi."
"Ah iya, sampai lupa." Aku menepuk jidat kemudian berlalu dari hadapan Dita. "Kita ketemu jam istirahat di kantin, bye!" seruku tanpa memandang ke arah sahabatku itu.
"Siap!" seruan Dita masih dapat tertangkap telinga meskipun jarak kami semakin jauh.
Saat aku mengetuk pintu, Bu Renata langsung memintaku masuk. Di dalam ternyata sudah ada Pak Samuel juga.
"Kamu baru datang Lintang?" Dia memandangku tak berkedip membuatku merasa tidak nyaman. Aku mengangguk kecil.
"Duduk!" perintah Bu Renata. Setelah aku duduk kami langsung membahas tentang pekerjaan. Cukup lama aku berada di dalam ruangan Bu Renata hingga akhirnya bisa keluar dan bernapas lega.
"Bagus, tidak salah aku merekomendasikan dirimu pada Bu Renata. Aku melihat dia puas dengan kinerjamu." Pak Samuel menyusul dari belakang.
Aku berhenti dan mengucapkan terima kasih.
"Ngomong-ngomong busanamu bagus, apa kamu suka model begini?"
Aku mengangguk cepat, sempat terbersit di hati kalau mungkin saja Pak Samuel yang mengirimkannya. Namun, otakku langsung menepis, tidak mungkin sekali jika dia yang mengirimkannya.
Sepanjang hari aku begitu sibuk di kantor bahkan aku tidak sempat menelpon pengasuh si kembar. Semoga kedua putriku itu baik-baik saja. Ketika aku melihat jam ternyata sudah hampir petang. Pak Samuel datang ke ruanganku dan mengajakku pulang bersama.
"Aku sama Dita saja Pak," tolakku, tak ingin menambah masalah kalau sampai ketahuan Mas Danu. Mereka berdua sepertinya musuh berat dan aku tidak ingin menyiram bensin pada api.
"Dita pulang duluan tadi, katanya perut dia sakit dan memintaku mengajakmu pulang bersama."
Aku menggeleng dan berkata, "Maaf Pak kali ini saya masih ada urusan lain."
"Oke."
Aku melihat raut wajah Pak Samuel kecewa, meskipun demikian dia masih tersenyum lalu pamit.
"Hati-hati! Kalau ada apa-apa boleh telpon aku."
Aku hanya mengangguk menanggapi ucapannya. Setelah punggung Pak Samuel berlalu aku langsung beranjak pulang. Ketika baru menginjakkan kaki di pintu rumah terdengar tangisan bayi dari kamar si kembar.
"Ada apa dengan mereka?" Aku langsung berlari naik ke atas tanpa mempedulikan kakiku yang berapa kali terkilir.
"Ada apa dengan mereka Mbak?" tanyaku saat sampai di pintu. Si Mbak menoleh ke pintu dan memandangku. "Sepertinya mereka ...."
"Tidak usah memberitahunya Mbak! Sepertinya dia sudah tidak peduli dengan kedua bayi ini." Mas Danu yang sedang menimang salah satu bayi menatap tajam ke arahku.
"Apa maksudmu, Mas? Jadi kamu pikir aku berada di sini karena apa?" Beberapa hari mendiamkan Mas Danu akhirnya buka suara karena kata-katanya yang keterlaluan.
"Dia seorang manager yang sangat sibuk," sindirannya dengan senyuman sinis.
"Ayo Mbak, kita bawa mereka ke rumah sakit!" Mas Danu keluar masih menggendong salah satu putrinya. Aku mendekat ke arah si Mbak tetapi wanita itu mendapatkan tatapan tajam dari Mas Danu hingga akhirnya perempuan itu melewatiku.
"Mbak ...." Aku sangat khawatir dengan keadaan mereka hingga mau tidak mau menyusul keduanya. Namun, baru sampai di samping mobil, Mas Danu langsung mengemudi dan meninggalkanku yang berdiri gelisah tanpa memberi kesempatan untuk ikut.
"Ah, apalagi salahku?" Aku benar-benar tidak dapat memahami Mas Danu. Aku kembali ke dalam rumah dan memilih menunggu kabar dari si Mbak. Aku memijit pelipis sambil menyandarkan bahu pada sofa. Beberapa kali menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan dengan kasar seolah dengan cara itu dapat mengurangi rasa cemas.
"Astaga ponselku mati." Aku baru menyadari setelah mengeceknya. Buru-buru aku mengisi daya kemudian menghidupkan ponselku. Aku terhenyak mendapati banyak panggilan tak terjawab dari si Mbak maupun Mas Danu. Di akhir, dia mengirimkan chat yang membuat dadaku terasa sesak.
[ Lintang! Kamu sibuk bekerja atau sibuk pacaran? Anak-anak menangis terus dari tadi.]
Aku terhenyak, ternyata alasan ini yang membuat Mas Danu marah. Mungkin dia menganggapku sengaja mematikan ponsel padahal aku sendiri tidak sadar ponselku dalam keadaan kehabisan daya.
"Ya Tuhan!" Aku mengelus dada kemudian menelpon si Mbak dengan tidak sabaran. Sayangnya ponsel si Mbak mati setelah sempat tersambung. Tidak tahu harus menghubungi siapa lagi terpaksa aku menghubungi Mas Danu dan ternyata panggilanku ditolak juga.
"Apa mereka masih dalam ruang pemeriksaan?" Aku mencoba berpikir positif. Tidak mau semakin ketir. Cukup lama aku menunggu kedatangan mereka sampai tidak kepikiran untuk mandi.
Ketika terdengar suara mobil aku kembali turun ke bawah dengan langkah cepat. Bagaimana keadaan si kembar?
Pintu terbuka dan hanya Mas Danu yang kembali. Kemana si Mbak dan anak-anak? Apa mereka sekarang diopname? Kenapa mereka rentan sekali sakit?
"Mas Danu kemana mereka?" tanyaku dengan gelisah.
"Kamu tidak perlu tahu, karena kamu tidak peduli lagi dengan mereka maka aku putuskan kamu tidak akan bisa bertemu mereka kembali."
"Apa?" Mataku membulat sempurna mendengar keputusan Mas Danu. Gila, dia benar-benar gila.
"Mas, kamu nggak bisa begitu! Bukankah Mas Danu menikahiku agar bisa merawat mereka?"
"Itu dulu sebelum aku tahu kamu malah menjadi ibu yang tidak becus." Aku menganga mendengar ucapan Mas Danu.
"Kalau kamu masih ingin bertemu mereka kamu harus patuh pada perintahku." Tubuhku terasa diserang hawa dingin.
"Apa?"
"Berhenti dari pekerjaanmu dan fokus pada anak-anak!" perintahnya dengan arogan.