NovelToon NovelToon
Danyang Wilangan

Danyang Wilangan

Status: tamat
Genre:Thriller / Roh Supernatural / Mata Batin / Balas Dendam / Horor / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: neul

RONDHO KANTHIL SEASON 2

4 tahun setelah tragedi yang menjadikan Desa Wilangan tak berpenghuni. Hanum masuk usia puber dan kemampuan spesialnya bangkit. Ia mampu melihat kejadian nyata melalui mimpi. Hingga mengarah pada pembalasan dendam terhadap beberapa mantan warga desa yang kini menikmati hidup di kota.
Hanum nyaris bunuh diri karena setiap kengerian membuatnya frustrasi. Namun seseorang datang dan meyakinkannya,
“Jangan takut, Hanum. Kamu tidak sendirian.”

CERITA FIKTIF INI SEPENUHNYA HASIL IMAJINASI SAYA TANPA MENJIPLAK KARYA ORANG LAIN.
Selamat membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Berkutik

“Kak Tika?”

Kartika tersentak mendengar suara Eka memanggilnya. Pemuda itu sampai geleng kepala karena melihat Kartika tertidur dengan mata setengah terbuka di depan laptopnya. Jajaran tab yang memuat berita di browser laptop Kartika terbuka sampai puluhan.

“Ngopi sana, Kak. Sisanya udah diurus Ayahku.”

Kartika mengangguk pelan lalu menggeleng cepat. “Nggak bisa!” tolaknya sambil mengucek mata di balik kaca minusnya. “Aku udah bangun sekarang.” Kartika berjingkat ke kamar mandi setelah mengambil sebuah pouch dan handuk kecil dari tas ranselnya.

Eka mendengus panjang sambil geleng kepala. Kemudian ia beranjak mendekat ke ranjang Dwi. Gadis itu masih tidur setelah sempat siuman beberapa jam yang lalu. Diusapnya kening pucat berhiaskan lebam itu dengan penuh kelembutan.

“Kamu terlalu nekat, Dek. Coba kalo kamu bilang sama aku dari awal, pasti aku ikutin kalian biar kamu nggak terlalu kesakitan.”

“Berisik!” desis Dwi. Kelopak matanya terbuka perlahan. Sorot mata sayunya menatap lurus pada kakak kembarnya. “Bisa gawat kalo kamu terlibat kasus, Ka.”

“Kamu udah bangun?” Eka lalu membantu Dwi bangun dengan posisi duduk. Ia juga sigap menuangkan air mineral ke sebuah mug setelah Dwi memberinya kode dengan kedikan dagu. “Gimana keadaan kamu sekarang? Masih sakit banget? Kepalamu gimana? Dada? Leher? Lainnya?”

Dwi tersedak air minumnya. Lalu memicingkan mata. “Jangan anggep aku lemah,” sinisnya. Ia paling tak suka diremehkan meski tahu Eka tak bermaksud menganggapnya seperti itu. “Aku udah mendingan, kok. Semua aman.”

“Bener, ya? Jangan bohong!”

Dwi mengangguk mantap. Sejak kecil dua orang itu memang tahan banting dan sudah terbiasa berlatih fisik dengan almarhum bapak yang berprofesi sebagai petugas damkar.

“Kamu nggak diajak ya sama Pak Ray?” tanya Kartika begitu keluar dari kamar mandi.

Eka dan Dwi menoleh ke arah Kartika. Eka yang paham pertanyaan itu ditujukan padanya pun segera mengangguk sebagai jawaban. “Ayah nggak izinin aku terlibat lagi. Dia ngajak pengacara-pengacara pribadinya.”

Kartika mendengus tawa. “Bagus deh kalo gitu. Bantuan Pak Ray sama orang-orang kepercayaannya pasti bisa bawa kemenangan dan mudahin jalannya para penjahat itu menuju kehancuran.”

Kartika kembali gencar menyebarkan informasi, bukti, dan teori-teori yang khusus menyudutkan kapolres kota sebelah selaku ayah dari Yohan—ketua geng laknat yang telah membunuh seorang gadis di gudang terbengkalai. Dibantu oleh sahabat-sahabat terpercayanya yang bekerja di kepolisian dan forensik, sekaligus dukungan Raihan dan para bawahannya, akhirnya benang kusut beberapa kasus mulai terurai. Dan polres kota mereka secara tegas menyebut ayah Yohan sebagai pelaku kejahatan yang sebenarnya.

Berkat Raihan yang mengajukan gugatan atas penganiayaan Dwi, para pelaku diinterogasi. Mereka tak lagi bisa dibungkam seperti peneror panti asuhan yang tewas mendadak di tahanan. Karena kini pelaku santet yaitu Nyi Dasih yang membungkam mereka sudah tak ada.

Tiga pria pengeroyok Dwi menjawab semua pertanyaan dengan jujur dan gamblang. Mulai dari kronologi hingga motif yang mana mengarah pada pemberi perintah mereka yaitu ayah Yohan yang notabene menjabat sebagai kapolres kota sebelah.

Kontan media sosial makin gonjang-ganjing. Karena akhirnya kasus kematian gadis tergantung dalam sebuah gudang yang penuh kejanggalan kini terkuak. Bukan lagi sebagai akibat dari upaya bunuh diri melainkan karena dibunuh secara keji.

Media memberitakan kronologi penganiayaan Yohan terhadap gadis itu secara dramatis. Terlebih, setelah terungkap motif penganiayaan berujung kematian itu tak lain karena si korban berjuang menguak kebusukan geng Yohan.

Geng pecandu obat-obatan terlarang yang sering merundung orang-orang berkebutuhan khusus. Lebih parahnya lagi, mereka kerap merudapaksa anak-anak sekolah yang sebelumnya mereka goda.

Gadis gemuk yang kini telah tiada dengan tanpa keadilan menyertainya itu mencoba masuk ke dalam geng sebagai anggota termuda. Ia rela dijadikan kacung demi bisa memata-matai setiap gerak-gerik Yohan dan bawahan. Namun nahas, ia ketahuan. Lalu dihajar habis-habisan.

Kartika menutup laptopnya dengan kasar. Tangan mengepal erat. Amarahnya memuncak. Bukan hanya karena terbongkarnya kejahatan Yohan, geng, dan ayahnya, tapi juga karena para pelaku kriminal itu tak menyebutkan kepala sekolah Kinar sebagai rekan dalam melakukan kejahatan dan ajaran ilmu hitam.

“Buat apa mereka bungkam?!” gerutu Kartika. Padahal ia terlanjur berekspektasi tinggi bahwa dengan tertangkapnya kapolres itu maka kepala sekolah Kinar akan ditangkap juga. Sosok yang mengizinkan keponakannya merundung Kinar di sekolah, sekaligus kepala panti asuhan Kinar sendiri yang bersekongkol dengan dukun mesum yang tempo hari tewas terbakar di sebuah gudang. Yang pastinya pria itu yang memerintahkan si dukun mesum menumbalkan Kinar untuk pesugihan.

“Apa jangan-jangan... Ayah Yohan sama Pak Muki nggak ada hubungan?”

Kartika mondar-mandir selama beberapa lama. Sambil memukul-mukul pelan keningnya. Tampak berpikir sangat keras, begitu yang dianggap Dwi dan Eka.

Tiba-tiba Kartika mengacak rambutnya. Frustrasi. Lalu bergegas mengontak nomor Febri.

“Halo, Feb!”

“Selamat ya, penjahat laknatnya udah ketangkep. Berkat siapa? Lagi-lagi berkat Raihan.”

Otot wajah Kartika menegang. Ia menghubungi pemuda itu untuk membahas masalah yang masih kusut, tapi malah dilempar sarkasme sejak awal. “Yaudah, thanks!” sengak Kartika.

“Sorry, sorry, Kak Tika, jangan keburu emosi,” pinta Febri.

“Lanjut nggak, nih?”

“Iya, monggo, mau ngomongin apa?”

Kartika mendengus ketus. “Soal Pak Muki yang nggak disebutin sebagai sekongkolan mereka. Apa jangan-jangan kita yang salah ngira kalo mereka rekan? Gimana kalo ternyata bukan?”

“Hemm... kali aja mereka sengaja bungkam?”

“Bulshit! Nyi Dasih udah mati. Jadi nggak mungkin mereka tewas tiba-tiba di tahanan kena santet nenek peyot itu habis ini.”

Hening beberapa saat. Seolah Kartika dan Febri menyadari kengerian yang sama.

“Bahaya, Kak! Kita ke plan-B sekarang juga!”

***

Sandi yang berjalan terburu-buru di koridor setelah membaca chat Febri di grup tak sengaja menabrak Siska yang baru keluar dari kelasnya. Buku-buku yang Siska dekap langsung jatuh berserakan.

“Aduh! Sorry, sorry!” pekik Sandi.

Siska meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengan bekas tertabrak. “Nggak apa-apa, Kak.” Ia berjongkok untuk membereskan buku-bukunya. Sandi pun segera membantu gadis itu.

Gerak tangan Sandi terhenti saat tak sengaja membaca tulisan di sampul sebuah buku tulis. Ia mengernyit. “Catatan untuk Hanum?” bacanya.

Siska membeku. “Em... itu... aku bikinin salinan catatanku buat Hanum biar dia nggak ketinggalan pelajaran.”

Sandi tersenyum. “Padahal dia benci sama kamu tapi kamu masih baik aja ke dia.”

Siska terdiam sambil menerima sodoran buku-buku dari Sandi. “Gimana kalo kamu titipin ini ke aku aja? Aku mau ketemu dia soalnya. Sekalian aku kasihin ntar. Dia pasti terharu sama kebaikan kamu.”

Tangan kanan Siska mengepal di belakang badan. Tanpa sepatah kata, tanpa senyum, maupun ekspresi ceria, Siska hanya menganggukkan kepala.

“San!” panggil Nayla dari koridor seberang.

Sandi langsung berlari menghampiri Nayla. “Kita berangkat sekarang?” tanyanya.

Nayla melirik Siska yang masih berdiri diam di tempatnya sambil menundukkan kepala. “Em... ya kita siap-siap dulu, lah! Mumpung besok Minggu, kita bawa apa aja yang kita butuhin buat nginep di sana.”

“Oke!” sahut Sandi secepatnya.

Kemudian dua remaja itu berjalan cepat hingga tak terlihat lagi oleh Siska. Saat itulah Siska melepaskan napasnya yang berat tertahan dengan lega. Lalu badan lemasnya limbung hingga merosot di dekat dinding.

“Nggak. Aku nggak boleh takut,” gumam Siska.

***

Sandi membonceng Nayla dengan motor matic. Menuju ke tempat Febri setelah guru muda itu memberi instruksi. Sayangnya, dua remaja itu sampai di gapura selamat datang menjelang magrib yang mana situasi desa terbengkalai itu terasa mencekam.

“Sorry ya, Nay. Gara-gara aku nungguin ortuku pulang kerja buat minta izin make motor ini, kita jadi kemaleman nih sekarang.”

Nayla yang semula bersungut-sungut karena menunggu Sandi terlalu lama, kini hanya bisa mendengus lelah. “Iya, udah, nggak apa-apa. Capek aku dari tadi dengerin kamu minta maaf mulu.”

Motor Sandi melaju pelan di jalanan aspal yang berlubang-lubang. Beberapa kali Nayla berdecak karena tubuhnya berguncang jika ban motor melewati lubang atau melindas kerikil-kerikil yang berserakan di jalan. “Apa aku aja yang bonceng kamu, San?”

Sandi tergelak. “Sorry, kalo aku bawa motornya nggak ahli. Karena inilah aku perlu izin dulu sebelum bawa ke sini.”

Langit jingga yang masih sedikit terlihat dari Desa Wilangan mulai menggelap. Suara azan dari desa-desa sebelah terdengar samar. Dan suasana sunyi di sekeliling mereka berdua terasa kian mencekam. Keduanya memang tak melihat penampakan. Tapi dada dipenuhi perasaan mengganjal.

“San! San!” Nayla menepuk-nepuk pundak Sandi.

“Ada apaan?”

Telunjuk tangan kanan Nayla terulur ke depan Sandi. “Itu sekolahku dulu! Kok lampu depan nyala nggak kayak rumah-rumah warga?”

“Apa jangan-jangan di sana ada orang?”

“Kali aja Pak Febri nungguin kita di sana,” tebak Nayla.

Sandi mengangguk mantap lalu melajukan motornya ke halaman SD. Dua lampu beranda yang menyala. Seketika mereka bernapas lega. Sandi mematikan mesin, Nayla turun segera.

“Pak Febri!” panggil Nayla. Tak mendapat sahutan, Nayla mengernyit pada Sandi. Sandi menimpalinya dengan kedikan bahu. “Kita berpencar hati-hati,” ujar Nayla sambil menepuk bahu Sandi.

Keduanya berjalan perlahan mengitari bangunan sekolah yang menyeramkan itu. Nayla ke bagian kanan tempat kantor guru, ruang kelas 4, 5, 6, perpustakaan, dan parkiran. Sedangkan Sandi menuju bagian kiri tempat ruang kelas 1, 2, 3, toilet, dan musala kecil berada.

SRAK!

SRAK!

SRAK!

Nayla membatu di tempat setelah mendengar langkah kaki yang santai namun mantap dari arah belakangnya. Tangan mengepal, rahang mengerat. Perlahan ia menoleh ke belakang sambil mengayunkan tangkisan yang berhasil mengenai tinju lawan dengan tepat.

“SANDIII!!”

1
estycatwoman
very nice 💯👍👏
Maz Andy'ne Yulixah
Alhamdulilah Happy ending ya Kak,walau ada sedihnya Ozza bersama yang lain meninggal😌😌

Sampun tamat ya Kak😊
Maz Andy'ne Yulixah: Sama2 Kak,sudah ada cerita baru belum Kak😊
total 2 replies
Maz Andy'ne Yulixah
Sungguh tragis kisah Sasmita Kak🤧🤧
Maz Andy'ne Yulixah
Asul usul si Sasmita ternyata😊😊
Maz Andy'ne Yulixah
Ngoten ceritanya to Kak😊
Maz Andy'ne Yulixah
Sukurin di emplok sama Danyang kan pak Muki🤣🤣
Maz Andy'ne Yulixah
Ngerii😬😬
Maz Andy'ne Yulixah
Alhamdulilah Siska masih bernafas semoga bisa tertolong😌😌
Maz Andy'ne Yulixah
Kasihan Siska jadi Korbaan juga😭😭😭
Maz Andy'ne Yulixah
Mereka yang punya Misi Q yang deg2'kan,,semoga Hanum dan Nayla selamat gak kenapa2😁
Maz Andy'ne Yulixah
Kasihan juga si Sandi disiksa bapaknya,,Ibuknya juga malah yang sayang sopirnya😌😌

Duh pak Taufan kenapa pasti dijebak🙄🙄
Maz Andy'ne Yulixah
Pernh seudzon sama Siska yang mencurigakan tapi ternyata malah Sandi yang Jahat,,owalah bapak Edan anak dijadikan Umpan terus Emaknya di Ikat😠😠
Maz Andy'ne Yulixah
Emang enak San,,mau nipu tapi kena tipu Balik😏😏😏

Apakah Siska tapi entahlah🤔😁
Maz Andy'ne Yulixah
Gak nyangka ternyata Sandi anaknya Pak Muki nyeremin emanga Psikopat Sandi😠😠
Maz Andy'ne Yulixah
Siska kenapa ya,kok kayaknya takut🤔🤔
Maz Andy'ne Yulixah
Kartika dalam bahaya,,semoga Om Raihan bakal bantu mereka😌😌
Maz Andy'ne Yulixah
Ternyata mba Miran masih hidup,,ikut mewek Kak😭😭🤧🤧
Maz Andy'ne Yulixah
Mba Mir😭😭😭
Maz Andy'ne Yulixah
Kangen mba Miran😭😭
Maz Andy'ne Yulixah
Hati2 Kak Kartika😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!