Erik Wira Pranata adalah seorang CEO berusia 27 tahun dengan satu anak. Anehnya ia memiliki anak dengan statusnya yang masih perjaka alias belum pernah menikah.
Kemudian, sang anak meminta sosok Ibu kepada Daddy nya. Erik pun bingung harus bagaimana, di satu sisi ia begitu trauma akan penghianatan di masa lalunya.
Bagaimanakah kelanjutannya ?
Mari baca kisahnya di sini.. :)
Jangan lupa follow IG : maeputrisarmi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengunduran Diri
Hari Senin telah tiba, di mana hari ini adalah hari orang-orang gupek sedunia. Ntahlah, rasanya berbeda dengan hari-hari kerja lainnya, mungkin karena sebelum datangnya hari Senin merupakan hari di mana orang-orang berhenti sejenak dari kesibukan nya hingga dapat melupakan semua kepenatan yang ada.
Hari ini seperti biasanya, Erik sudah tiba di gedung Pranata Group. Ia di sambut hangat oleh para staffnya, ada yang mengucapkan 'selamat pagi', tersenyum, dan lain sebagainya, sedangkan Erik hanya membalas dengan anggukan saja tanpa senyuman sama sekali. Ya, begitulah Erik, si kulkas empat pintu.
"Ya ampun.. Pak Erik tampan sekali ya.." ucap staff A.
"Hei.. baru nyadar Lo ? Beliau itu memang sudah tampan sejak lahir.." timpal staff B.
"Jika tiba-tiba Tuhan menghendaki Pak Erik jadi jodoh Gue, fix sih.. udah Gue terima duluan sebelum Beliau ngelamar.." ucap staff A sembari berangan-angan.
"Heh.. pagi hari udah Lo awalin dengan mimpi ! Sayangnya sikap Pak Erik terlalu dingin, sama saja dengan Pak Tian. Kenapa ya kalo orang ganteng itu kebanyakan irit bicara ?" Tanya staff B.
"Ntahlah, tapi memang begitu ada nya. Beruntung nya Bu Hana yang selalu bisa membersamai kedua pria tampan itu.." Ucap sekretaris A sambil menggeleng-gelengkan kepalanya membayangkan seberapa beruntungnya berada di posisi Hana.
"Sudah.. sudah.. mari kita lanjutkan pekerjaan kita !" Ucap staff B.
.
.
Sementara itu di ruangan Erik, Hana sedang duduk di kursi tepat bersebrangan dengan Erik, hanya di pisahkan oleh adanya meja kerja Erik.
"Jadi begini, Pak.. Saya sudah menerima surat pengunduran diri dari Bu Sinta-" tiba-tiba Erik menginterupsi kalimat Hana.
"What ?! Apa ada yang membuat nya tak nyaman bekerja disini ? Apa alasannya ?" Tanya Erik beruntut.
"Beliau mengatakan bahwa suaminya yang menyuruhnya untuk mengundurkan diri karena sebentar lagi anaknya akan memasuki dunia pendidikan. Anaknya akan mulai bersekolah di tahun ajaran baru yang sebentar lagi akan datang. Berkaitan dengan hal itu, anaknya sangatlah butuh akan peran dari sosok Ibu yang mengurus kebutuhannya." Jawab Hana dengan Gamblang.
Sangat menohok di hati Erik. Erik terdiam sejenak, ia tampak termenung memikirkan ucapan Hana.
"Apakah Cio juga akan seperti itu ? Akankah dia membutuhkan sosok Ibu ? Tapi kan ada Mama, Mama masih mampu membantuku untuk mengurus kebutuhan Cio." Batin Erik bergejolak memikirkan anaknya.
"Pak ?" Seketika lamunan Erik dibuyarkan oleh suara teguran dari Hana.
"Eh.. iya.." Erik menjeda perkataan nya. Ia menaril nafasnya secara perlahan, kemudian menghembuskan melalui mulutnya, punggungnya langsung ia sandarkan di kursi kerjanya.
Erik menegakkan kembali duduk nya, ia menautkan jemari kedua tangannya yang ia letakkan di atas meja dan menatap Hana dengan serius.
"Han, Gue mau ngomong sebagai sahabat ke Lo !" Pinta Erik tiba-tiba.
Hana mengernyitkan dahinya.
"Apa ?" Tanya Hana penasaran.
"Anak Gue juga bakalan masuk sekolah di tahun ajaran baru ini, apakah dengan begitu anak Gue butuh sosok Ibu juga ? Menurut Lo gimana ?" Tanya Erik pada Hana dengan tatapan sendu.
"Gue emang belum punya anak, Gue belum tahu gimana kekhawatiran Lo terhadap anak Lo. Tapi yang jelas Gue pernah punya masa kecil, Lo juga pernah punya masa kecil, kita semua pernah melalui masa-masa itu. Coba, gimana waktu Lo masih balita ? Awal Lo sekolah TK. Lo inget ga gimana Gue, Lo, sama Tian minta di tunggu in sama nyokap kita masing-masing kala itu ? Satu minggu di awal sekolah kita selalu minta di tunggu in. Setiap malem sebelum tidur, orang tua Gue selalu bilang 'Buat apa kamu takut ? Kamu, Erik, dan Tian itu kan kawan, jadi kalo ada yang ganggu in ya dilawan aja bareng-bareng ! ', disitu Gue mulai berani. Akan ada lah masa-masa di mana seorang anak itu bertumbuh dengan memerlukan dukungan dari orang tua yang lengkap." Jelas Hana panjang lebar.
Jawaban Hana cukup mantap di benak Erik.
"Lantas bagaimana dengan Cio ?" Batin Erik cemas.
"Semoga Mama bisa membantu" Batin Erik penuh harap.
"Ok, memuaskan. Kembali lagi ke mode formal !" Perintah Erik.
"Lalu apakah sudah ada orang pengganti untuk di posisi sekretaris ?" Tanya Erik menaikkan sebelah alisnya.
"Sudah !" Jawab Hana dengan semangat, ia tampak sumringah.
"Kenapa dia begitu bersemangat ? Apakah pengganti nya adalah seorang lelaki yang begitu tampan menurut nya, begitu ?" Gumam Erik.
"Siapa dia ?" Tanya Erik santai.
"Adik ipar dari Bu Sinta sendiri, Pak.." Jawab Hana yang masih di hiasi dengan senyuman.
Erik segera menghubungi Sinta via telepon yang sudah disiapkan di atas mejanya yang khusus digunakan hanya untuk kepentingan kantor saja.
'Tok.. tok.. tok..'
"Masuk !" Perintah Erik.
Sinta pun memasuki ruangan Erik, ia duduk tepat di samping Hana.
"Ada apa, Pak ?" Tanya Sinta.
"Saya sudah dengar tentang surat pengunduran diri Anda. Yang mau saya tanyakan, apakah benar adik ipar Anda yang akan menggantikan posisi Anda ?" Tanya Erik to the point.
"Adik saya sudah memberikan surat lamaran kerja beserta syarat-syarat nya kepada Bu Hana, Pak. Jika di perkenankan, maka adik saya akan menggantikan posisi saya, Pak." Jawab Sinta dengan sopan.
Erik melirik Hana yang duduk di sebelah Sinta.
Hana menganggukan kepalanya pertanda bahwa apa yang di katakan Sinta adalah benar.
"Baik, saya serahkan kepada pihak HRD. Jika memang sesuai kualifikasi, maka tidak ada alasan untuk perusahaan ini menolak, bukan ?" Ucap Erik.
Kemudian keduanya meninggalkan ruangan Erik.
.
.
Di luar ruangan Erik..
"Alhamdulillah.. akhirnya kita berhasil, Mba.. Tisha bisa kerja disini" ucap Hana girang.
"Iya, Han.. aku seneng banget" ungkap Hana.
Lalu keduanya kembali ke pekerjaan nya masing-masing.
Bersambung...
Terimakasih untuk para readers setia nya author 🙏
Terimakasih atas dukungan kalian yang sangat mendorong author untuk kembali' melanjutkan cerita ini, satu komentar dari kalian sangat berarti bagi author 🙏❤️
katanya bahagia dg suami y??
nanti sakit sendiri.
menghapus kontak seseorang di hp suami percuma saja klo akhirnya terus berhubungan.
blokir aja sekalian kontak gak penting tuh
klo lg penat krn problem,obatnya adalah yang enak2 wkwk...
dasar bucin akut
jebol euy,gara2 cemburu wkwk
tisha ngasih no hp suaminya???