#ENEMYTOLOVERS
Xander Thompsom menderita mysophobia, ketakutan berlebih dan tidak masuk akal terhadap sesuatu yang tampak kotor, kontaminasi kuman, atau virus. Tapi, apa jadinya jika dia di jodohkan dengan seorang wanita bar-bar, dan jorok?
"Menjauh dariku, Kuman!" usir Xander seraya mengibaskan tangannya, lalu menyemprot sekelilingnya dengan cairan desinfektan yang selalu dia bawa di kantong jasnya.
"Cih!! Sok bersih! Makan nih upil!" balas Jeje sangat kesal seraya mengorek hidungnya dengan ujung jari telunjuk dan mengusapkan jarinya itu ke jas pria tersebut.
Bagaikan air dan minyak seperti itulah rumah tangga mereka, tidak pernah akur dan tidak pernah bisa menyatu.
Seperti apa keseruan mereka? Simak terus kelanjutannya!
FOLLOW IG @thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Malam harinya.
Xander berdiri berkacak pinggang sembari menatap ke setiap sudut kamarnya mencari letak kamera tersembunyi, akan tetapi dia tidak menemukannya.
"Di mana Mama meletakkan kamera tersembunyi itu?" gumam Xander sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sementara itu Jeje sedang di ruang ganti. Wanita cantik itu kebingungan karena semua pakaiannya yang di bawa dari rumah hilang entah ke mana hanya tersisa kopernya saja.
"Aku harus pakai baju apa kalau begini?" Jeje bergumam dengan segala keresahannya, sambil menutup kopernya yang kosong, kebetulan saat itu dia baru selesai mandi setelah membantu pelayan masak di dapur. Tubuhnya hanya di balut dengan jubah mandi putih yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Jeje beranjak, membuka pintu ruang ganti, menyembulkan kepala, menatap Xander yang sedang berdiri di dekat jendela sambil menatap ke sudut atas.
"Pak Xander," panggil Jeje pada suaminya.
Xander menoleh ketika istrinya memanggilnya. Kebetulan ruang ganti itu menyatu dengan kamar mandi, hanya berbataskan dinding pemisah dan pintu penghubung.
"Ada apa?" Xander menatap kepala istrinya yang menyembul keluar dari pintu.
"Sini," bujuk Jeje sambil melambaikan tangannya.
"Mau apa?" Xander masih diam di tempat. Salah satu alisnya terangkat, menatap waspada ke istrinya.
"Makanya sini biar tahu!" ucap Jeje lagi mulai jengkel karena suaminya sama sekali tidak beranjak.
"Ck!" Xander mendecakkan lidah, tapi kedua kakinya mulai melangkah mendekati Jeje.
"Apa?!" ucap Xander ketika sudah berada di dekat istrinya, tentunya dengan jarak yang aman.
"Baju-bajuku semuanya hilang," ucap Jeje sambil mengerucutkan bibir.
"Kok bisa?"
"Ya nggak tahu!" jawab Jeje kesal. "Kalau nggak percaya cek aja sendiri!" Jeje membuka pintu lebar, mempersilahkan Xander masuk ke ruang ganti.
GLEK!
Xander menelan ludahnya dengan kasar ketika melihat visual Jeje yang hanya mengenakan jubah mandi putih yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Dia menjadi teringat kejadian di hotel kemarin, di mana dia tidak sengaja melihat bo-kong istrinya yang sangat mulus dan putih.
Shitt!
Xander mengumpat di dalam hati ketika sisi liarnya mulai memberontak. Bagaimana pun dia adalah pria normal, jika di suguhkan pemandangan segar seperti ini tentu membuat jangkunnya naik turun tidak karuan. Tapi sebisa mungkin Xander menenangkan sisi liarnya agar tidak terus memberontak.
Xander segera masuk ke dalam ruang ganti, memeriksa koper Jeje.
"Buka kopernya!" titah Xander pada istrinya.
"Iya!" Jeje mendekat lalu membuka kopernya dengan lebar. "Tuh, pakaianku nggak ada semua, gimana coba?!" Jeje menunjuk kopernya yang kosong melompong.
"Pasti ini ulah Mama," gumam Xander sangat yakin. Kemudian memeriksa setiap lemari pakaian yang ada di dalam ruang ganti itu.
Ruang ganti itu sangat luas, terdapat lima lemari besar, dan etalase-etalase dengan berbagai ukuran untuk menyimpan dasi, sepatu, dan jam tangan milik Xander. Ruang ganti itu sudah seperti butik yang pindah.
Jeje saja saat pertama kali memasuki ruangan tersebut sampai terbengong dan berdecak kagum karena ruang ganti itu sangat mewah dan berkelas.
Xander membuka lemari terakhir yang terletak di ujung ruangan tersebut. "Ck, sial!" Xander memaki ketika melihat isinya.
"Ada apa?" Jeje mendekati Xander, ikut menatap ke arah isi lemari itu. "Oh ya ampun!" Jeje memekik sambil membungkam bibirnya dengan kedua tangan ketika melihat deretan lingerie dengan berbagai model dan merk.
"Aku harap kamu nggak pakai baju ini!" Xander menatap tajam Jeje.
Jeje menurunkan kedua tangannya, kemudian melipat bibirnya ke dalam, menatap Xander tak kalah tajam. "Aku juga nggak mau pakai baju haram kayak gini!" jawab Jeje.
"Good!"
"Eh, tapi aku harus pakai apa dong? Masa ini isinya baju haram semua." Jeje maju satu langkah memeriksa isi lemari itu yang ternyata hanya ada lingerie saja. "Ya ampun!" keluh Jeje karena sama sekali tidak ada baju yang pantas untuk dia gunakan.
"Tapi, ini ada pakaian perawat, aku pakai nggak apa-apa 'kan?" Mata Jeje tertuju pada kostume perawat yang tergantung di tengah-tengah puluhan lingerie. Karena menurutnya kostum perawat itu bahannya lebih tebal dan tidak nerawang.
"Pakai saja! Aku nggak peduli!" ketus Xander lalu keluar dari ruangan tersebut.
mumpung lagi priode gak puasa. 🤭✌🙏