NovelToon NovelToon
Bacot System

Bacot System

Status: tamat
Genre:Kebangkitan pecundang / Menantu Pria/matrilokal / Sistem / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:43.4k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

#Karya ini merupakan Karya Kreatif Modern

Setelah di-PHK dari pekerjaannya sebagai buruh, kehidupan Bara berputar 180 derajat. Kehidupan tak lagi berpihak kepadanya dan terpaksa harus menjadi pemulung yang selalu dihina oleh mertua.

Bara adalah laki-laki yang tak banyak bicara. Segala hinaan yang diberikan pun tak pernah ia balas. Hingga sebuah peristiwa mengubah segalanya. Bara diberi tugas untuk mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Dia dibayar mahal untuk itu semua.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti series berlanjut dari Bacot System, ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Bacot Sistem eps 32

Nike menoleh, dan ada Bara, mengenakan hoodie hitam, wajahnya penuh debu dan kelelahan. Ia memandangnya dengan tatapan yang penuh makna, seakan waktu yang mereka lewati kini telah terpisah terlalu jauh.

“Nike... Rangga... kalian baik-baik saja kan?” Bara bertanya, napasnya terengah-engah.

Nike hanya bisa mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Kau... kau akhirnya kembali,” ucapnya dengan suara serak, tak kuasa menahan emosi yang selama ini terkumpul. Ia langsung bangkit dan memeluk Bara erat. "Aku takut, Bara. Mereka hampir menemui kita."

Bara memeluknya balik, meletakkan tangan di kepala Nike dan mengelusnya lembut. “Aku minta maaf, Nike. Aku... tidak bisa kembali lebih cepat.”

Rangga, yang dari tadi hanya diam, akhirnya bersuara. “Ayah... kenapa pergi lama banget? Rangga nggak mau ayah pergi lagi…”

Bara menatap Rangga dengan tatapan penuh kasih sayang. “Ayah janji, Nak. Ayah nggak akan pergi lagi. Ayah akan selalu ada.”

Nike mengusap air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Aku nggak tahu lagi harus bagaimana. Mereka mulai mencarimu, Bara.”

Bara memandang ke luar jendela, matanya tajam menatap cakrawala. “Kita tidak punya banyak waktu. Mereka akan terus mengejar, tapi kita harus terus melawan.”

Ia merangkul Nike dan Rangga, merasakan ketegangan yang masih menggelayut. “Kita akan selamat. Aku janji.”

Namun, di luar sana, pengejaran masih terus berlanjut. Kejaran terhadap mereka semakin dekat, dan mereka tahu bahwa dunia yang mereka hadapi kini sudah jauh lebih berbahaya. Tapi Bara tahu satu hal: selama mereka bersama, mereka bisa bertahan.

Bara memandang ke luar jendela, matanya yang tajam menilai situasi dengan cermat. Hatinya berdebar kencang, tapi ia berusaha tetap tenang. Setiap detik terasa berharga. Mereka tidak bisa tinggal terlalu lama di sini, tidak dalam kondisi seperti ini. Matahari yang hampir tenggelam memberi kesan bahwa waktu semakin terbatas. Bara tahu bahwa mereka harus bergerak cepat, atau mereka akan terjebak.

"Nike, Rangga," kata Bara, suaranya lebih tegas kini, "kita harus pergi dari sini. Mereka akan menemukan kita jika kita bertahan di tempat ini."

Nike menatapnya dengan mata penuh kecemasan. "Tapi ke mana, Mas? Kita tidak punya tempat lagi."

Bara menghela napas panjang, menenangkan dirinya. "Ada tempat aman. Aku tahu jalan keluar. Kita bisa sembunyi dulu, sampai semuanya reda."

Rangga memegang tangan Bara dengan erat. “Ayah… kita pergi sama-sama, kan? Jangan tinggalkan Rangga lagi, ya?” Mata bocah itu berkaca-kaca menatap sang ayah.

Bara terdiam sesaat, merasa hatinya dipenuhi kebingungan dan kekhawatiran. Rangga begitu bergantung padanya. Ia tidak bisa membiarkan anak itu merasa kehilangan lagi.

Bara menyentuh kepala Rangga, mengangguk, dan memberikan senyum yang sangat jarang muncul di wajahnya. "Tentu, Nak. Kita akan pergi bersama. Ayah janji kita tak akan berpisah lagi."

Nike menatap Bara, melihat keputusasaannya yang berbaur dengan harapan. "Mas Bara... aku takut. Apakah semua yang kita lakukan benar-benar aman? Mereka bisa mengikuti kita kapan aja."

Bara menganggukan kepala dengan penuh keyakinan. "Tidak ada yang bisa menghentikan kita. Mereka mungkin mengejar, tapi kita akan terus berlari. Kita harus bertahan."

Keheningan sejenak melanda, sebelum Bara menambahkan, "Kita sudah melewati banyak hal, dan kita akan terus melewati lebih banyak lagi. Tapi selama kita bersama, kita bisa menghadapi apapun."

Nike hanya bisa mengangguk, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Tidak ada kata untuk menyerah. Tidak sekarang. Mereka harus bertahan.

Dengan satu gerakan mantap, Bara mengambil tas kecil di samping pintu, menggandeng tangan Nike, dan membawa Rangga ke luar dari apartemen. Mereka bergerak cepat, menyelinap melalui lorong-lorong sempit, melewati pintu belakang yang sepi. Pintu yang seringkali diabaikan orang, kini menjadi jalan terakhir mereka.

Rangga memandang Bara dengan rasa aman yang kembali menyelimuti dirinya. Meski kelelahan, meski masih cemas, ia merasa ada kekuatan besar yang menggerakkan mereka.

Saat mereka melangkah keluar ke jalanan yang semakin sepi, Bara berhenti sejenak. Ia melihat sekeliling, menilai setiap sudut dengan perhatian yang tajam. “Kita akan ke tempat yang aman, di tempat yang tidak ada yang bisa menemukan kita,” kata Bara dengan suara rendah dan tegas.

Nike mengikuti Bara tanpa bertanya lebih banyak. Mereka berlari cepat, bersembunyi di balik gedung-gedung kosong dan jalanan sempit. Hanya itu yang bisa dilakukan tanpa bisa memilih jalan lain.

Namun, semakin lama mereka berjalan, semakin jelas bahaya yang mengintai mereka. Sesekali, mereka mendengar suara kendaraan mendekat, dan Bara dengan sigap menarik mereka ke tempat tersembunyi, bersembunyi di balik bayang-bayang malam.

Akhirnya, setelah beberapa jam berjalan, Bara membawa mereka ke sebuah tempat yang tersembunyi di tengah kota. Sebuah gudang kosong yang dulu pernah ia gunakan sebagai tempat menyimpan rongsokan kala bekerja sebagai pemulung.

Gudang itu hampi ambruk, namun tak ada pilihan. Bara menatap Nike dan Rangga. “Kita akan bertahan di sini untuk sementara. Aku akan mencari jalan keluar untuk kita. Jangan khawatir.”

Nike, yang baru bisa menghela napas lega, memeluk Rangga erat. “Aku percaya padamu, Mas. Tapi tolong… jaga kami.”

Bara hanya mengangguk, matanya menyiratkan janji yang lebih dalam. “Aku janji. Selama aku bisa, aku akan melindungi kalian.”

Malam itu terasa semakin pekat, dan udara dingin menggigit kulit mereka. Bara memeriksa keadaan sekitar, memastikan pintu dan jendela terkunci rapat. Rangga, yang sudah lelah, tertidur di pangkuan Nike. Wanita itu hanya bisa mengelus kepala anak itu, matanya penuh kecemasan. Sementara Bara berdiri, matanya tetap terjaga, siap menghadapi apapun yang datang.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar, menggetarkan keheningan malam. Bara segera melangkah ke jendela dengan cepat, mengintip dari balik tirai. Mobil-mobil hitam bergerak di jalanan sepi, tampak seperti mobil yang sudah sangat familiar baginya. Mereka datang. Mereka tahu persis di mana lokasi mereka.

Bara menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Waktu mereka sudah sangat terbatas. Tak ada jalan mundur.

"Nike," suara Bara serak, "Kita tak punya banyak waktu. Mereka sudah datang. Kita harus meninggalkan tempat ini, sekarang."

Nike terkejut, matanya terbelalak saat melihat ekspresi Bara yang sangat serius. Ia memeluk Rangga lebih erat. "Tapi ke mana, Mas? Kita nggak bisa lagi terus lari."

Bara menggenggam bahu Nike, meyakinkannya. “Ini satu-satunya cara. Aku sudah punya rencana untuk membawa kalian keluar dari sini. Tapi kita harus cepat.”

Bara kemudian membuka pintu belakang dan melangkah keluar, memeriksa apakah aman. Mereka harus segera meninggalkan rumah ini sebelum para pengejar mereka sampai.

Namun, saat mereka berjalan menuju pintu belakang, suara kendaraan yang semakin dekat membuat jantung mereka berdegup kencang. Bara memberi isyarat agar Nike dan Rangga tetap diam, bersembunyi di balik sebuah tumpukan barang yang ada di sudut gudang. Dengan hati-hati, Bara berjalan kembali ke luar dan memeriksa keadaan. Mobil-mobil hitam itu kini berhenti tepat di depan gudang. Sepertinya, mereka tahu persis mereka berada di sana.

Bara tahu bahwa jika mereka tetap di sini lebih lama, pengejaran itu akan menjadi bencana. Namun, apa yang harus dilakukan? Mereka dikelilingi, tak ada tempat untuk lari lagi.

Bara mengeluarkan sebuah perangkat kecil dari sakunya. Alat ini adalah hasil kerja kerasnya. Ia sudah mempersiapkan rencana cadangan jika kondisi ini terjadi. Alat itu dapat mematikan sistem pengawasan di sekitar area ini, memberi mereka beberapa menit untuk kabur.

Dengan tangan gemetar, Bara menekan tombol di alat itu. Tiba-tiba, layar-layar di sekitar markas besar mati. Semua kamera pengawas yang sebelumnya bisa melihat setiap gerakan mereka, sekarang menjadi buta.

Nike menatap Bara dengan mata penuh harapan, meskipun masih ada rasa takut yang menggantung di udara. “Mas… Apa kita bisa keluar?”

Bara menatap Nike dengan rasa yakin. “Kita bisa. Tapi harus cepat. Kita tak memiliki banyak waktu.”

Dengan cepat, Bara mengarahkan mereka menuju lubang pada dinding papan yang berada di belakang gudang. Namun, sebelum mereka sempat keluar, terdengar suara langkah kaki dari luar. Sepertinya pengejar mereka sudah mulai mengepung rumah itu. Bara menarik Nike dan Rangga ke belakang, berlindung di balik dinding besar yang ada di samping gudang.

Bara mengintip lewat celah kecil, melihat sosok-sosok berpakaian hitam bergerak cepat menuju pintu belakang. Mereka semakin dekat.

“Nike,” kata Bara dengan suara rendah, "Aku akan menghadapi mereka. Kau dan Rangga lari, sekarang!”

Nike menatap Bara dengan keteguhan yang sama. “Aku nggak akan meninggalkanmu, Mas.”

Bara memandang Nike dengan tatapan tajam, penuh kekhawatiran. “Nike, ini pertempuran yang sangat berbahaya. Aku akan mengalihkan perhatian mereka agar kalian bisa kabur. Ini hanya kesempatan kalian untuk selamat.”

Bara tahu risiko ini, tapi ia tidak punya pilihan lain. Pengejaran ini sudah mencapai puncaknya, dan ia tidak akan membiarkan Nike dan Rangga menjadi korban.

Dengan satu keputusan cepat, Bara menyelinap keluar dari balik dinding, mengarah ke kelompok pengejar yang semakin dekat. Dalam langkah yang sangat hati-hati, ia bergerak cepat ke arah mereka, bersiap untuk melakukan apapun yang diperlukan.

Tapi sebelum Bara sempat melangkah lebih jauh, salah satu dari pengejar itu melihat gerakannya. Mereka sudah tahu keberadaannya. Bara menghela napas, tubuhnya seketika siap untuk bertarung. Dengan gesit, ia menghindar dari serangan pertama, bergerak cepat dan mengejutkan mereka dengan gerakan yang terlatih.

[ Sistem pertahanan diaktifkan. Ini akan membuat semua sendi di tubuhmu akan sekuat baja. Namun, saldo kekayaanmu akan dikurangi sebesar satu miliar. Fase ini hanya bisa bertahan hingga sepuluh menit. Jadi kau harus bisa menyelesaikan semua ini dengan secepat mungkin. ]

Notifilasi Sistem menggema membuat Bara dengan semangat melakukan ini kembali, sama di saat ia mendapat notifikasi Rangga dan Nike akan ditangkap.

Sementara itu, di dalam rumah, Nike menggenggam tangan Rangga erat. "Kita harus lari, Rangga. Bersiaplah," bisiknya dengan suara gemetar. Namun, sebelum mereka sempat bergerak, suara pukulan, dentuman, dan gebrakan yang dahsyat.

1
MomyWa
hmmm
Apud Tahu
MC oon di pilih tor.
pembaca gabut
mantep cocok tu mertua kek enak nya di ledek wkwkwkw
Safira Aurora
semangat berkarya ya author
Safira Aurora
dah beres ya thooorr..tp kenapa sistem ga dibawa smp mati aja
Rainbow Scorpion Venom
tapi ini nggak yang tiba-tiba ketembak sama polisi meninggal terus pindah ke isekai kan?
SoVay: bukan bang, ini bukan cerita per isekaian.
total 1 replies
Rainbow Scorpion Venom
oh ayolah ceritanya bagus jangan lama lama update-nya
SoVay: jadi agak sulit mikir idenya bang, heehhe..sabar y bang..ini lg mikir episod berikutnya kayak apa ya.
total 3 replies
Safira Aurora
update lagi thor... setelah 1 thn
Juhairiah
kapan ya kelanjutannya?
SoVay: sudah update kakak, yuk lanjut
total 1 replies
CahTheLoel
kok yang kedinginan Bara bukan Tejo🤔🤔
CahTheLoel
"Pak, kamu jahat ya? Aku sudah bangun tapi ditinggal. Lebih baik aku ninggalin kamu remuk bersama bangunan yang hancur" kira" begitu kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia 🤔😄
CahTheLoel
karma dibayar tunai
Nadja 🎀
maksudku selamat juara kreatif..
Andri Suwanto
hehehehe
Alghifarrie
kelanjutannya
hasbullah 123
cerita ini sepertix ngga jelass atau authorx goblokk ..masa misi sekesaikan masalah org smntra masalah sendiri aja blm beres jg seharusx pertama penampilan mc hrsx OK dulu baru yg lain..
aku jg mw🤤: kakak mending bikin cerita transmigrasi kak
total 2 replies
Inyoman Raka
bacotan hah
saa
bisa tak jgn pake bhs yg tak gua ngerti 🗿🗿
SoVay: sistem mendeteksi indikasi bacotan, selamat.. anda mendapatkan ....
total 1 replies
Fabrigio
cepat update jangan kayak yang lain masa cuman sampai episode 5 terus nggak update update lagi kan nggak seru
SoVay: sabar y abangku 😆 ramadan ini susah buat nulis gara2 banyak kgiatan dan susah mikir 😆
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
akhirnya up juga thor... kira2 berhasil kabur apa tertangkap yaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!