JANGAN DIBACA! KALAU TIDAK AMU SAKIT KEPALA. TULISAN MASIH ANCUR, BANYAK TYPO DAN NARASI YANG TIDAK SESUAI.
SEDANG DALAM TAHAP PERBAIKAN
Nayrela Louise dan Rory Ace Jordan. sepasang kekasih yang akhirnya bisa menikah. Mereka berpikir kehidupan bahagia mereka akan di mulai, namun siapa sangka mereka masih harus menghadapi hal lain di luar dugaan mereka.
Sosok baru yang hadir dan mencintai mereka seolah menguji cinta mereka. Akankah Nayrela berpaling dan mengkhianati pernikahan mereka? atau justru Rory yang akan berpaling?
Apakah cinta mereka akan tetap utuh dan tetap setia pada cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Pergi
Tubuh Nayla merosot begitu saja, bersimpuh di lantai sembari mendekap kuat jaket yang berada ditangnnya. Tanpa mengeluarkan suara namun air matanya tumpah tanpa bisa ia tahan lagi.
Nayla merasakan rasa sesak memenuhi hatinya, menolak untuk percaya dengan kabar yang ia dengar.
"Nay,,,"
Usapan lembut dibahunya membuat Nayla sedikit mengangkat wajahnya yang telah basah.
"Bohong,,,"
"Pasti bukan dia,,,,"
"Benarkan? Martin?" tanya Nayla dengan suara bergetar.
Martin bergeming, tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk ia ucapkan.
"Tidak,,, aku menolak untuk percaya,,,"
"Tapi,,, kenapa aku tidak bisa berhenti gemetar?"
Rancau Nayla dengan suara tertahan, ia mengigit pergelangan tangannya berharap hal itu bisa membuatnya berhenti gemetar seperti yang biasa ia lakukan ketika masih kecil.
"Hentikan,,!" hardik Martin menghentikan aksi Nayla dengan melepaskan tangan Nayla.
"Apa yang kau lakukan?" sergah Thomas ikut membantu menghentikan aksi Nayla.
Si kembar membelalakan mata mereka ketika melihat Nayla memilih mengigit pergelangan tangannya sendiri sampai mengeluarkan darah daripada mengeluarkan suaranya
"Katakan padaku!" rancau Nayla lagi dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Katakan padaku itu bohong, itu bukan_,,,"
Martin menarik Nayla kedalam pelukannya, berusaha menggunakan cara apapun untuk menenangkannya. Sementara Kevin masih dalam usahanya menenangkan ibunya bersama sang ayah.
"Bohong,,,,"
"Dia sudah janji,,,"
"...."
"Pembohong,,,"
Nayla menahan suara tangisnya di dada Martin dengan kedua tangannya mencengkram kuat pakaiannya. Bayangan mimpinya seolah terputar ulang didepan matanya. Saat dimana suaminya mengucapkan maaf berulang-ulang.
"Maaf,,"
"Maafkan aku,,,"
"Maaf,,, karena aku tidak bisa menepati janjiku,,,"
"Maafkan aku, Ma Chérie,,"
"Maaf,,,"
Lalu menghilang.
Nayla mengelengkan kuat kepalanya, menolak untuk percaya suaminya pergi meninggalkannya. Tangannya mendorong Martin menjauh.
"Kita harus melihatnya,"
"Pasti bukan dia,, itu tidak mungkin Roy," ucap Nayla segera berdiri.
"Antar aku kesana, Martin!" desak Nayla.
"Aku harus melihatnya sendiri,,,"
"Pasti bukan dia,"
Tarikan tangan Nayla membuat Martin tidak memiliki pilihan lain selain menemaninya untuk melihat jasad yang ditemukan dan tidak bisa diidentifikasi oleh petugas.
Gloria yang melihat bagaimana keadaan menantunya seolah mendapatkan dukungan dan berusaha untuk tetap bisa mengendalikan perasaannya sendiri dan mengikuti menantunya.
Mereka tiba di sebuah ruangan dimana banyak jasad yang telah ditemukan dari korban jatuhnya pesawat dan menunggu pihak keluarga menjemput jasad yang mereka kenali sebagai keluarganya. Sang petugas menunjukan salah satu jasad yang mereka temukan dengan mengenakan jaket serta dompet dan kartu identitas ditubuhnya.
Gloria tidak bisa menahannya lagi saat melihat tubuh yang tidak bisa dikenali lagi wajahnya, hanya postur tubuh yang sama dengan anaknya yang bisa ia lihat hingga membuat tubuh Gloria terkulai tak sadarkan diri.
"Ma,,," seru Kevin panik.
Vincen segera mengangkat tubuh istrinya dan membawanya keluar dari ruangan itu. Ketika Kevin akan mengikuti ayahnya, Vincen dengan cepat mencegahnya.
"Tetap disini!" titah Vincen.
"Nayla membutuhkanmu," imbuhnya.
"Tapi_,,,"
"Hanya kamu yang memiliki ikatan dengannya, karena dia adik iparmu," potong Vincen.
Kevin mengangguk dan berbalik menghampiri Nayla yang masih memandangi tubuh yang tidak dikenali lagi di depannya.
Nayla terus menatap tubuh seorang pria didepannya, matanya tertuju pada cincin yang melingkar dijari jasad pria itu. Hatinya terus menolak untuk mempercayai jasad didepannya adalah jasad suaminya.
Satu tangannya terulur menyentuh tangan yang terasa sangat dingin baginya. Jauh berbeda dengan tangan suaminya yang selalu bisa menghangatkannya. Hingga, ia merasakan sebuah tangan yang melingkari bahunya, dan ia tau tangan siapa itu.
"Kita keluar saja," bisik Kevin dengan suara lembut.
Satu tangan Kevin meraih tangan Nayla dan menariknya menjauh dari jasad yang ia lihat. Mereka membimbing Nayla keluar dari ruangan itu dan membawanya pulang.
Martin dan yang lain segera mengurus semua hal yang diperlukan untuk membawa jasad yang mereka percaya sebagai jasad Rory untuk dimakamkan. Mereka seolah tengah bermimpi buruk dengan apa yang terjadi.
Mereka yang baru saja tertawa bersama, melakukan perjalanan bersama, dan menjahili sosok yang kini terbaring tak bernyawa. Kini semua menjadi terasa kosong begitu saja.
...@@@@@@...
Berita tentang Rory menyebar luas dengan cepat, banyak dari pihak keluarga dan teman bahkan dari agensi serta para penggemar Rory turut menghadiri acara pemakaman.
Kevin dan timnya hanya mengawasi Nayla selama proses pemakaman berlangsung. Tak satupun dari mereka berhasil membuat Nayla kembali berbicara, Nayla hanya diam dan menatap kosong pada siapapun yang mengajaknya bicara tanpa memberikan reaksi ataupun jawaban.
Bahkan teman-teman dari kantor Nayla yang datang tidak ada yang bisa membuat perubahan. Nayla bagaikan boneka yang tidak akan menjawab sebanyak apa pun pertanyaan yang diberikan padanya. Hingga, ketika proses pemakaman selesai, Nayla pergi begitu saja ditengah semua orang menutup mata untuk membaca doa.
"Ayo kita pul_,,lang,,, Nay,,,?" Kevin terkejut saat menyadari Nayla tidak lagi berada di sampingnya.
"Kemana dia?" seru Kevin panik.
"Tadi disini," ucap Martin tak kalah panik.
Mereka mengedarkan pandangannya, berharap menemukan Nayla diantara banyaknya orang yang berada disana. Beberapa orang yang mendengar kepanikan mereka membantu dengan mencari Nayla disekitar mereka.
"Dia tidak mungkin pergi jauh," sela Ethan berusaha tenang.
"Aku terpikirkan satu tempat dan menjadi tempat satu-satunya yang akan dia datangi," timpal Nathan.
Si kembar saling pandang selama beberapa saat, menyadari mereka memiliki pikiran sama, dan entah bagaimana mereka bisa berpikir tenang dibandingkan sebelumnya.
"Makam, Nicholas," ucap Ethan dan Nathan serempak.
"Kita kesana sekarang," Kevin berkata cepat dan segera disambut anggukan setuju.
Gloria dan Vincen mengikuti kemana anaknya pergi, merasakan kekhawatiran yang sama terhadap Nayla. Beberapa orang yang penasaran diam-diam juga mengikuti mereka tanpa mereka sadari, ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Hingga mereka melihat Kevin dan teman-temannya menghentikan langkah dibelakang Nayla yang sedang berdiri didepan sebuah makam lain. Salah satu dari mereka yang merupakan penggemar Rory dan Nayla mendekat untuk melihat lebih jelas.
"Untuk pertama kalinya, aku merasa sangat ingin marah pada, kakak."
"Kami selalu menyempatkan waktu untuk bisa terus mengunjungi kakak disini,"
"Dia bahkan tidak pernah lupa dengan bunga kesukaan kakak,"
"Lalu kenapa? Kenapa kakak membawanya?"
Nayla berbicara seolah ada seseorang didepannya, menumpahkan isi hatinya dengan tatapan kosong dan intonasi datar pada suaranya seolah semua emosinya telah menguap meninggalkannya.
"Jika kakak datang menemuiku hanya untuk membawanya, kenapa kakak tidak membawaku juga? Kenapa harus dia?"
"Untuk kali ini, sebanyak apapun kak Nick meminta maaf padaku, aku tidak bisa memaafkan kakak,"
"Aku benc_,,,"
Ucapan Nayla terputus ketika sebuah tangan menarik tangannya dan membawa Nayla kedalam pelukannya.
"Jangan diteruskan!" ucap Kevin mendekap erat tubuh Nayla.
"Jangan pernah katakan kalimat itu!" harapnya.
"Tidak akan ada seorang kakak yang tidak menyanyangi adiknya,"
"Kamu hanya sedang salah paham padanya, dan kamu akan melihat bahwa dia sangat menyanyangimu," tutur Kevin tanpa melepaskan pelukannya.
"Tapi, dia meninggalkanku, dia pergi dariku disaat aku sangat membutuhkannya, dia pergi dariku disaat aku masih sangat ingin bermain dengannya,"
"Dia pergi disaat aku masih ingin ke taman hiburan bersamanya, dan dia sekarang membawanya pergi dariku," rancau Nayla.
"Sshh,,,dia tidak pernah pergi darimu, dan bukan dia yang membawanya pergi. Dia tidak mungkin membuatmu bersedih, karena dia akan selalu menyanyangimu, dan kamu akan selalu menjadi adik kecilnya," tutur Kevin.
Selesai mengatakan itu, Nayla memejamkan matanya seraya menghembuskan nafas pelan. Berbisik pada Kevin yang masih memeluknya sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri dipelukan kakak iparnya.
"NAYY,,,!" Kevin berseru panik.
"Tidak, kumohon jangan sekarang," harap Kevin.
"Nay,,, bangun,,," harap Kevin menepuk lembut pipi Nayla.
Kevin segera mengangkat tubuh Nayla, membawanya ke rumah sakit dimana ia biasanya dirawat dikuti teman-temannya serta kedua orang tuanya.
...@@@@@@@@...
.......
To be Continued.....
terimakasih kak Zira 🙏🙏🙏
semoga selalu sehat dan bahagia 🤲🤗
terima kasih kaka..
ikut bantu koreksi Thor🙏
tahu ngga Noel , penelitian tentang literasi anak2 di Indonesia khususnya minat membaca buku itu cuma 0,01 % . dan mungkin kamu salah satu dari 0,01% itu. 👍👍👍