"Kau yang sangat paham bagaimana sakitnya hatiku... Lalu kenapa kau tidak bisa membuat diriku tenang? Kenapa kau malah hancurkan aku ha? Apa kau terusik jika melihat-ku bahagia dengan orang lain? " Arina terus memberontak dengan mata yang memandang John
Mendapati Arina yang terus memberontak dan menangis, John membiarkan Arina menumpahkan segala emosi yang telah memenuhi diri-nya.
"Maafkan aku Arina... Ini yang terbaik untukmu" Ucap John ditelinga Arina tanpa memperdulikan Arina memberontak.
"Kau menikahkan-ku dengan siapa ha? Kau kira dia menerima-ku setelah mengetahui siapa aku ha? " Ucap Arina masih memberontak dari pelukan John.
"Bahkan ibu dan ayah mertuamu menerima jati dirimu itu" Ucap John melepaskan pelukan dan berlalu meninggalkan ruangan.
"Husein?! " Mata Arina terbelalak tak percaya melihat lelaki agamis yang dia jumpai diOsaka dalam situasi pembunuhan bersenjata kala itu.
Husein bahkan melihat sendiri perlakuan kasar dan bengis Arina.
Lalu kenapa dia menikahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahrian Ar-tago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bergabung dengan partai
"Silahkan nona Arina... Dilihat kembali" Ujarnya kembali kala sudsh siap melahap hidangan di depan-nya.
"Ku pikir kau sedikit tuli karna umur-mu yang sekarang tuan... Sudah saya katakan saya tidak setuju sama sekali" Arina menatap tajam ke arah pria paruh baya di depannya.
"Saya sarankan jangan bertele-tele... Saya bukan orang yang penyabar tuan" Ujar Arina merasa ada yang akan dia sampaikan. Tentunya ini adalah sebuah hal yang akan mengejutkan diri-nya.
Pria paruh baya itu tertawa pelan dengan apa yang dikatakan Arina
"Sudah kuduga... Kau memang sangat pintar Arina" Ujarnya dengan tangan yang kembali memberikan kode pada pelayan.
"Kau lihatlah secara perlahan" Ujar nya dengan meneguk wine di gelas cantik yang kini dia genggam.
"Apa maksud-nya ini semua?! " Arina terkejut melihat photo-photo yang ada didalam map tersebut.
"Apa yang perlu dijelaskan Arina... Bukankah ini semua sudah sangat jelas?! " Ujarnya meletakkan gelas itu dan mulai membalas tatapan Arina
"Jangan coba-coba bermain dengan diriku" Tutur Arina
"Aku tak akan berani bermain-main dengan dirimu Arina... Kau tau persis kenapa orang menakuti wanita seperti dirimu" Ujarnya
"Hanya saja... Kau tau publik dan tanggapan para masyarakat tak pernah takut pada dirimu" Ujarnya tertawa
"Aku sudah membayangkan betapa nikmatnya kala aku melihat dirimu dalam situasi yang tak bisa membeli hukum. Sebab, para masyarakat akan terus mengadakan demo dan unjuk rasa agar kau tak bisa lepas dari hukum dan dirimu akan terus menjadi topik hangat di mana-mana.... Oh iya, mengingat hartamu yang melimpah, barang pasti perusahaan-mu juga akan kena akuisisi sebab saham yang turun drastis" ujarnya kembali sembari membayangkan itu semua terjadi dengan wajah yang terus menerus tersenyum tanpa henti.
"Kau mengancam-ku?! " Arina kini berdiri dengan mata yang membelalak.
"Tentu saja tidak nona...aku mana berani, kau bisa saja menggorok leher-ku dan menutupi kasus ini dengan kekuatan mu... Tapi, " Ujarnya
Arina menatap pria paruh baya di depan-nya ini dengan wajah yang tampak jelas ingin mendengarkan apa yang ingin pria ini sampaikan pada-nya.
"Kau pasti tau ini bukanlah satu-satunya yang kami simpan, ada kamera pengawas juga di sini... Untuk mendapat informasi ini tentu bukan hanya aku dalang dari semua ini... Ada begitu banyak orang terlibat, jika membunuh-ku kau tak akan tau siapa saja yang mengetahui informasi ini dan menghancurkan-mu secara perlahan " Jelasnya dengan wajah yang puas melihat ekpresi dari Arina.
"Katakan... Apa yang kau inginkan" Ujar Arina setelah menutup matanya dan berusaha berpikir jernih.
Seketika saja pria itu tertawa tak menyangka Arina akan takluk begitu saja, kala melihat Photo-photo yang dia berikan.
"Baiklah... Kamu duduk dulu" Ujarnya
Arina mendengus kesal tapi dia harus menurut untuk sementara waktu agar tak menimbulkan keributan dan kekacauan yang lebih besar.
"Tak banyak yang kuminta.... Aku hanya ingin kau bergabung dengan kami dan menyatakan diri didepan awak media bahwa kau mendukung penuh dan akan terus mensukseskan pemilihan umum presiden kali ini" Jelas-nya.
"Hanya itu? " Arina memastikan kembali.
"Selain itu kau juga akan turut bergabung dengan berbagai acara yang akan kami susun" Jelas-nya
Arina mengangguk pelan tanda paham dan kembali menatap kontrak yang ada di depan-nya.
"Tentu saja karna kau dari awal tidak setuju dengan kontrak itu. Maka, aku mempersiapkan kontrak yang lain" Ujar-nya kembali dengan wajah licik
"Sudah kuduga... Kau memang sangat licik" Tutur Arina dengan mata tajam menatap pria paruh baya di depan-nya ini.
"Tentu" Ujarnya dengan bangga
"Aku akan menyetujui kontrak ini... Tapi, untuk menjaga privasi dan keselamatan-ku. Tentu, aku juga harus mengajukan beberapa syarat bukan? " Ujar Arina kembali kala melihat kontrak di depan-nya. Tampak angka 2 Milyar tertera disana, Dia memang sudah menyangka akan otak pria licik ini, dia bahkan menurunkan kompensasi yang sangat drastis dari yang semula.
"Tentu sebutkan saja" Ujarnya
"Berikan segala bukti-bukti itu semua pada-ku. Termasuk email dan kata sandi-nya. Tulis nama semua orang yang terlibat dalam proses menjebak-ku termasuk para pelayan dan kaki tangan yang membantu-mu tanpa terkecuali. Ku peringatkan padamu agar tak membodohi-ku sedikit pun dan jangan sampai berani membuat salinan lain" Jelas Arina
"Kesepakatan kita putus jika kau mengirimkan orang untuk membuntuti-ku kembali" Tambah Arina
"Baiklah... " Ujar -nya setuju dengan apa yang dikatakan Arina.
"Aku akan tanda tangani setelah bukti yang kuminta sudah kau serahkan..." Arina berdiri melangkah mendekat pria paruh baya itu
"Ingat!!! Jika kau berani macam-macam, aku tak akan segan-segan membinasakan seluruh anggota partai kalian tanpa sisa" Tambah Arina dengan tangan yang memegang dagu pria itu dan mendorong-nya kasar.
Segera Arina bergegas meninggalkan ruangan itu dan pergi kembali ke hotel milik-nya.
Sebelum Arina kembali ke hotel, Arina sudah berpesan agar Alex tidak pergi kembali ke hotel ini. Lebih baik Alex menginap di salah satu vila milik-nya disudut kota agar tak memberi-kan kecurigaan. Sebab, Vila ini sangat privasi dan menggunakan nama samaran atas kepemilikannya. Bahkan, John tidak mengetahui adanya vila ini.
Sesampainya didalam kamar sudah ada John disana sedang duduk menghadap jendela kamar.
"Kenapa kau tidak pulang tadi malam? " Tanya John kala melihat Arina masuk
Segera saja satu tamparan keras melayang ke wajah John.
"Apa ini semua ha? Apa kau yang memberitahu semua ini pada mereka?" Arina melempar photo-photo itu ke wajah John.
"Apa yang kau katakan? " John merasa kaget dengan tutur kata dan tamparan yang Arina berikan pada-nya.
"Lihat saja sendiri" Arina gerah dan langsung membuka kemeja yang ia kenakan tak perduli dengan keberadaan John.
Segera John memungut photo-photo itu semua dan kaget kala melihat photo di tangan-nya.
Ada adegan kala Arina tanpa ampun merobek dan mengeluarkan anggota tubuh seseorang disana. Bahkan, ada sebuah photo dimana Arina yang sedang berhubungan intim dengan Alex.
"Kenapa? Kau merasa kaget juga. Bukankan kau yang memberitahu lokasi dan apa yang aku lakukan pada mereka ha?! " Arina kembali tersulut emosi.
Sontak John yang merasa tertuduh langsung menatap Arina "Kau tak bisa langsung menuduh-ku seperti ini Arina... Kau tau benar aku berada di sisimu untuk melindungi-mu. Tak mungkin aku berani mencelakai-mu" Ujar-nya mencoba meyakinkan Arina
"Melindungi-ku?" Arina tertawa kecil.
"Kau bahkan tak mampu" Jawab Arina dengan mata tajam-nya
Arina?