Kecelakaan mengerikan membuat Pelangi Jingga Cakrawala lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup dan harapan akan mimpinya menjadi seorang balerina terkenal. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Lentera Bentang Nirbatas yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi bocah itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Pelangi yang penuh amarah, perlahan-lahan Lentera mampu membuat Pelangi mau membuka diri.
Hal itu membuat Rimba Fajar Cakrawala jatuh hati pada Lentera. Akankah Rimba mampu meyakinkan jika cinta yang ia tawarkan bukanlah atas balas budi karena telah membuat anaknya bisa berjalan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Sejak subuh, Lentera sudah sibuk di dapur membantu Bik Sore menyiapkan makanan untuk pesta ulang tahun Pelangi yang di adakan secara sederhana di halaman kediaman Rimba.
Lentera tak sendiri, ia di bantu oleh Rembulan, Senja, dan Lintang yang mendekor taman. Sementara Rimba sendiri menahan putrinya untuk tidak turun sebelum semuanya selesai.
"Lentera, apa yang kau buat?" Rembulan berjalan ke dapur karena mencium aroma masakan yang menggugah seleranya. " Bolehkah aku mencicipinya?" air liurnya hampir menetes melihat ayam bakar buatan Lentera.
"Tentu saja, nanti aku siapkan untukmu."
"Asiik," ucapnya girang, ia berlari kecil menuju mini bar dan duduk di sana sembari mengelus perutnya.
Tak lama kemudian Lentera menyusul dengan membawakan ayam bakar butannya dan segelas susu kedelai untuk dirinya. Baru saja ia menaruh susu kedelainya di meja bersamaan dengan ayam bakar, Rembulan terlihat mengerukan keninggnya sembari mebekap mulutnya dengan kedua tangannya.
"Perutku mual sekali mencium susu kedelaimu," ia beranjak dari tempat duduknya kemudian berlari ke kamar mandi.
"Rembulan kau kenapa?" Lentera yang panik bergegas menyusul Rembulan ke kamar mandi. "Apa kau sakit?" dengan telaten ia memijat tekkuk hingga pundak Rembulan.
Tak lama berselang Senja menghampiri mereka di kamar mandi dengan membawa minyak angin. "Apa kau hamil Rembulan?" tanyanya tanpa basa-basi.
Rembulan menyeka mulutnya dengan tisu kemudian ia menoleh ke arah Senja. "Kita bicara di dapur saja yuk," ajak Lentera, ia memapah Rembulan kembali menuju dapur, dan tentu saja Lentera menyingkirkan susu kedelainya agar Rembulan tak mual lagi.
"Rembulan, apa kau hamil?" ulang Senja setelah mereka duduk dengan tenang di mini bar.
Rembulan hanya tertunduk, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sembari menangis. "Ya, aku hamil," ucapnya di sela isakan tangisnya.
Lentera tersenyum mendengar berita itu, tapi ia juga bingung kenapa Rembulan menangis padahal Rembulan bukan mengandung di luar nikah. Begitu pula dengan Senja, wanita itu terlihat bingung tapi masih menujukan ketenangan. "Lalu apa yang membuatmu sedih? Bukan itu artinya misimu berhasil? Kau berhasil menghoda Jagat bukan?" satu tangannya terulur ke bahu Rembulan, mengelusnya dengan lembut.
"Aku tak 100% menggoda Mas Jagat, aku memasukan obat perangsang agar dia mau berhubungan denganku. Aku takut dia merasa tertipu dan tak menginginkan kehadiran anak ini... Huhu..." tangis Rembulan pecah.
Senja langsung menarik tubuh Rembulan dalam dekapannya. "Memangnya kamu sudah memberitahu soal kehamilanmu padanya?" ia mengelus punggung Rembulan dengan lembut.
Rembulan menggeleng. "Aku takut, Mom. Aku tak siap menghadapi penolakannya.. Hiks..."
"Mana mungkin aku menolak kehadiran sesosok makhluk kecil yang kehadirannya sudah lama aku nantikan," Jagat mendekat ke dapur. "Apa lagi dia bagian dari diriku."
Rembulan menoleh ke arah pintu, ia mengucek matanya seolah tak percaya Jagat sudah pulang. "Mas Jagat..." Rembulan turun dari tempat duduknya dan berlari ke pelukan suaminya.
Jagat menyambut Rembulan dengan merengangkan tangannya dan mendekapnya dengan erat. "Kau tak perlu merasa bersalah," bisiknya. "Sebenarnya aku tahu kau memasukan obat perangsang pada minumanku. Asal kau tahu, aku begitu menghargai segala upaya yang kau lakukan untuk mempertahankan rumah tangga kita, tapi aku hanya ingin melihat keseriusnmu, aku tak pernah benar-benar ingin melepaskanmu, aku masih sangat mencintaimu Rembulalan." Jagat menghujani Rembulan dengan banyak ciuman di kepalanya.
Bagi Lentera tak ada pemandangan yang paling indah, selain bersatunya pasangan suami istri yang telah mengalami badai rumah tangganya. Ia sampai menitikan air mata harunya melihat Jagat dan Rembulan berbaikan, Lentera turut merasakan kebahagian mereka berdua.
"Uncle...."
Teriakan riang Pelangi membuat semuanya beralih ke bocah itu, Pelangi nampak berbagga diri memperlihatkan dia sudah tidak lagi mengenakan tongkat.
"It's so amazing, honey."Jagat melepaskan istrinya, kemudian menghampiri Pelangi. Jagat mengangkat tubuh mungil Pelangi dan memutar-mutarkannya. "Kau sungguh luar biasa sayangku, aku bangga sekali memiliki keponakan sehabat kau."
"Ini semua berkat tangan ajaib Amma."
Jagat menurunkan Pelangi sembari menoleh ke arah Lentera. "Amma ternyata diam-diam memiliki tongkat sihir," lanjut Pelangi.
Semua yang berada di ruangan itu tertawa, termasuk Lentera. Ia teringat soal tongkat sihir yang pernah Pelangi katakan di perjumpaannya yang pertama.
"Kau tahu?" tanya Jagat. "Uncle sebentar lagi akan punya bayi," Jagat mengumumkannya, sepintas ia menatap Rimba. "Kau akan punya adik, bagaimana?"
"Itu sungguh luar biasa, mari kita rayakan."
Pesta ulang tahun Pelangi terasa sangat hangat dan penuh suka cita, karena bukan hanya merayakan hari lahirnya saja melainkan merayakan ada calon anggota baru yang bersayam di rahim Rembulan.
Pelangi meminta Lentera berdiri di sampingnya saat ia hendak meniup lilin, sebetulnya Lentera ragu namun Rembulan, Jagat, Rimba dan bahkan Lintang mendorongnya untuk berdiri di samping Pelangi bersama dengan Rimba.
Mereka bertiga bersama-sama meniup lilin dan mengecup pipi Pelangi, layaknya keluarga kecil sungguhan. Terlebih ketika Pelangi memotong kue ulang tahunnya, suapan pertama ia berikan kepada Lentera, baru kemudian Papanya.
Pelangi meraih tangan Rimba dan Lentera, kemudian menyatukannya. "Tak ada hadiah paling indah selain, Amma mau menikah dan menjadi ibuku selamanya," ia menatap Lentera dengan penuh harap.
Mata Senja melotot. "Pelangi!" teriaknya."Kamu tidak bisa..."
"Mom..." potong Rembulan, "Tidakkah Mommy melihat Pelangi sendiri yang meminta Lentera untuk menjadi ibunya?" mata Rembulan berkaca-kaca, ia tak sampai hati jika Senja harus menghalangi moment ini.
"Sejak kedatangan Amma ke rumah ini, Amma benar-benar merubah hidupku. Merubah pola makanku, kebiasaan burukku, merubah semuanya menjadi lebih baik. Aku merasa Amma adalah ibu yang Allah kirimkan untukku ketika Amma setiap malam memastikan aku bisa tidur dengan nyenyak dan... Dan mendoakanku di sepertiga malamnya." Pelangi menatap Senja dengan deraian air matanya. "Eyang, aku mohon izinkan Amma menjadi ibuku."
Senja pun tak dapat menahan air matanya. Lintang berusaha menenangkan istrinya, ia mnegelus bahu Senja dengan lembut. "Aku yakin kau merasakan kebahagiaan yang Rimba dan Pelangi rasakan selama enam bulan ini," bisiknya.
"Mom..." Rimba meminta izin pada pada ibundanya, untuk melamar Lentera.
Senja menghapus air matanya. "Terserah, kau saja," semua orang sudah menatapnya, ia tak bisa lagi tak memberikan restunya kepada putra semata wayangnya.
Rimba tersenyum, kemudian ia berlutut di hadapan Lenyera sembari menyodorkan cincin berlian yang sudah ia siapkan sebelumnya. "Lentera, mau kah kau menjadi istri dan ibu untuk anak-anakku?"
Lentera terdiam, meski ia tahu Rimba menyukainya tapi ia benar-benar tak mengira bahwa pria itu benar-benar akan melamarnya. Lentera menatap keluarga Rimba satu persatu-satu, mereka semua nampak berharap Lentera menerimanya, terlebih ketika Lentera menatap Pelangi, ia tak sanggup melukai hati bicah itu.
Tanpa bicara, perlahan Lentera menganggukan kepalanya. Tanpa membuang waktu, Rimba langsung mengenakan cicin di jari manis Lentera, kemudian Pelangi memeluk erat Lentera dan mencium pipinya. "Terima kasih, Amma. Kami menyayangimu."
Lentera tak pernah melihat bocah itu sebahagia ini, termasuk saat Pelangi untuk pertama kalinya berdiri dengan kakinya sendiri, kali ini Pelangi nampak lebih bahagia lagi. "Amma juga menyayangi," ia mengecup pipi Pelangi dengan gemas.
berakhir bahagia utk semuaa..lentera juga sudah berhasil mngatasi trauma atas sentuhan laki2...
terimakasih Kak Irmaa utk karyanya..
mohon maaf baru bs menyelesaikan bab ini hingga akhir..🙏
Kau harusnya bs bangkit melawan traumamu dan jangan berpikiran buruk terus. Jika Pelangi saja bs smbuh dan bangkit..kaupun harusnya jg bisa.
Apalagi jika pelaku adalah org terdekat..alhasil mereka tdk mau mengungkapkan dan melaporkan ke Polisi.
Peraayaan ulang tahun Pelangi
Hamilnya Rembulan
dan akhirnya Lentera mau menerima lamaran Rimba dengan restu Senja..🥰🥰🥰
semoga tak ada lagi halangan utk mererka smua
Tak mungkin kan Eyang merusak kebahagiaan Pelangi...😉