[Selamat tuan, anda berhasil menyelesaikan tugas]
[Anda menerima 100 poin dan uang tunai yang langsung masuk ke rekening anda]
[Sebagai bonus anda menerima uang 500.000 karena telah menyelesaikan misi kurang dari waktu yang ditentukan]
"Haah.. Apa ini?" Julian terkejut, apakah ia baru saja menyelesaikan tugas dari aplikasi aneh yang ada di ponselnya itu.
Julian yang penasaran segera memeriksa mobile banking yang ada di ponselnya dan benar saja ternyata nominal uang di rekeningnya telah bertambah. Julian sedikit bingung, bagaimana aplikasi ini bisa tau nomor rekeningnya.
Privilege App System, Aplikasi aneh yang tiba-tiba muncul di ponselnya membuat Julian yang penasaran dan semakin tertarik untuk mencoba.
Akankah aplikasi ini dapat mengubah kehidupannya yang malang….
Simak terus kisahnya hanya di sini !
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zarans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan
Sejak dini hari Julian telah berkutat dengan berbagai jenis resep yang telah ia kumpulkan sebelumnya. Ada tiga waffle yang sejak tadi ia modifikasi mulai dari resep hingga tampilannya.
Elena yang masih setengah sadar telah ditarik ke apartemen Julian agar dapat mencicipi menu kreasi buatannya.
Elena dengan sigap memotret setiap piring yang ada, dengan berbagai sudut pengambilan, agar terlihat cantik tentunya.
Setelah mencicipinya, Elena memberikan jempolnya untuk dua waffle yang rasanya cukup enak.
"Sepertinya jika ditambah topping ice cream akan lebih enak!" usul Elena.
"Oke!" Jawab Julian singkat dan langsung mempersilahkan Elena untuk kembali pulang ke rumahnya.
Elena pulang dengan sepiring waffle di tangannya, walaupun wajahnya sedikit masam, untungnya waffle itu dapat diterima dengan baik.
Julian kembali menghubungi Lucas terkait apa-apa saja yang dibutuhkan sejauh ini, Lucas ternyata telah mengirimkan data yang diminta Julian semalam melalui email.
Julian segera memeriksa semuanya tanpa terlewat satu pun, Lucas juga telah memberikan beberapa rekomendasi tempat membeli keperluan yang nanti dibutuhkan.
Senyum terlukis di wajah Julian, ia merasa tidak salah memilih Lucas sebagai rekannya.
Julian sebelumnya menyempatkan untuk menggunakan salah satu skill supranatural untuk memeriksa kepribadian Lucas, karena itulah ia bisa dengan sangat yakin pada pria itu.
Hubungan Julian dan Elena pun sudah semakin baik, setidaknya sekarang sudah tidak ada lagi lirikan kesal Julian, saat melihat Elena.
🍀🍀🍀
Julian mendapat undangan untuk makan malam dari keluarga Celine, awalnya Julian merasa sedikit ragu. Namun, ia akhirnya memberanikan diri untuk datang.
Rasa penasaran membuat Julian dengan sengaja ingin melihat reaksi wanita yang telah melahirkannya itu saat nanti bertemu lagi dengannya.
Julian memilih memakai kemeja yang dulu sering ia pakai bekerja agar terlihat sedikit formal. Kemeja harga 250 ribu yang ia beli dengan keringatnya sendiri itu kini sudah tampak sedikit kusam.
Sedikit ragu, Julian memandangi pantulan dirinya di cermin. Ia teringat sebuah nasehat yang mengatakan jika kita ingin balas dendam, maka lakukanlah dengan menunjukkan bahwa kita bisa lebih berhasil darinya.
Julian mengganti setelannya dengan pakaian yang lebih baik kali ini, tak lupa mobil yang baru ia beli turut mengantar Julian malam ini.
Mereka mengundang Julian untuk makan malam di kediamannya, Julian menyempatkan diri untuk membeli sebuah cake sebagai buah tangan.
Awalnya Julian ingin membeli buah, tetapi setelah dipikirkan lagi pasti buah-buahan sudah tersedia disana.
Julian tiba dan langsung disambut oleh Celine dan Giselle di depan rumah. Rumahnya sangat besar, sesekali mata Julian menelusuri tiap sisi rumah.
"Hidup dengan mewah begini wajar saja wanita itu melupakan anaknya," batin Julian.
" Ayo dicicipi.. Ini semua tante yang masak sendiri loh, sengaja buat menyambut kamu," ujar Efrin dengan bangga.
"baik Om, terima kasih," jawab Julian sambil tersenyum getir.
Veronica tampak canggung, beberapa kali ia terlihat sedang menatap Julian. Namun, saat Julian menatapnya, wanita itu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Julian tentu saja sangat menikmati makan malam kali ini, selain karena ia memang telah lama rindu masakan rumah, ini merupakan pertama kalinya Julian makan masakan dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Pak Efrin sempat menawarkan pada Julian untuk bergabung di perusahaannya setelah mendengar cerita dari Celine jika saat ini Julian sedang menganggur.
Namun, Julian menolaknya secara halus karena Julian tidak ingin berhubungan dengan keluarga itu lebih dalam lagi.
Waktu berlalu dengan cepat, Julian berpamitan untuk pulang karena memang hari sudah cukup malam.
"Kata mama, ini buat kamu nanti di rumah," ucap Celline sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Julian.
"Terima kasih," bisik Julian dengan senyum manisnya.
Julian yang tiba-tiba mendekat untuk berbisik padanya membuat Celline sedikit terkejut, wajahnya tampak sedikit memerah karena malu.
Setelah berpamitan, Julian segera menghidupkan mobilnya dan meninggalkan rumah mewah yang baru saja ia datangi itu.
Julian melirik kotak makan yang tadi diberikan Celine, ia mengerutkan dahinya membayangkan bahwa itu adalah makanan dari wanita itu.
Pukul 10.40 malam Julian tiba di apartemennya, ia merebahkan tubuhnya di sofa pijat yang menjadi spot favoritnya sekarang.
Ponsel Julian berdering dari arah kamar, ia baru teringat bahwa sedari tadi ia meninggalkan ponselnya yang baru di rumah.
"Ada apa?" tanya Julian pada si penelpon.
"Aku baru sampai, kemarilah!" lanjutnya.
Julian segera bangkit dan berjalan ke arah pintu, tak lama muncullah sesosok pria dengan wajah masamnya datang dari rumah Elena.
"Aku dari tadi menelponmu, untung ada peri cantik yang bersedia menampung ku," protes Alex saat tiba di apartemen Julian.
"Aku sibuk, harusnya kamu membuat janji terlebih dahulu," ujar Julian mengejek.
"Ayo pergi, kita main sampe pagi!" Alex langsung menarik Julian keluar dari apartemennya untuk ikut bersamanya.
Julian dengan segera membalikan badannya, ia tidak ingin pergi kemanapun karena ia mengantuk.
"Aku akan mengajarimu cara memikat gadis malam ini, ayolah," bisik Alex sambil melingkarkan lengannya di leher Julian.
Kali ini Julian tidak bisa menolak lagi, ia akhirnya setuju untuk pergi menghabiskan malam dengan sahabatnya yang satu ini.
Bersambung..
"Menyala Abangkuhh"
"yang bener aje, Rugi dong? "