Stella Vivian mendeklarasikan dirinya sebagai wanita yang bisa menaklukan seratus pria sekaligus. Wajah cantik dan bentuk tubuhnya memang tidak diragukan lagi, hingga ia dengan mudahnya mendapatkan pria mana pun yang ia inginkan.
Stella Vivian tidak menyia-nyiakan kecantikan yang ia miliki, Ia memanfaatkan kecantikannya itu untuk menggaet para pria kaya, mulai dari pria single hingga pria beristri sekali pun. dan kemudian ia akan hidup bermewah-mewahan dengan uang yang ia dapat dari pria-pria tersebut.
Namun, suatu hari kekacauan terjadi saat pria yang ia goda dan membuat hatinya luluh ternyata adalah suami kakak angkatnya sendiri.
Apakah Stella Vivian akan menyerah dan menjauhi pria tersebut demi saudarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LAWAN YANG TANGGUH
Kiara Pradita, seorang wanita cantik yang lebih banyak menghabiskan waktunya di luar negeri kini kembali ke Indonesia. Pekerjaannya sebagai seorang desainer yang selama beberapa tahun ini semakin sukses rela ia tinggalkan hanya karena sebuah pesan yang masuk ke dalam akun emailnya beberapa hari lalu.
Pesan itu sangat mengganggu Kiara, seandainya tidak, ia tidak akan buru-buru kembali pulang ke Indonesia setelah ia membuka pesan-pesan tersebut.
Bagaimana ia tidak merasa terganggu,jika pesan itu berisikan potret kebersamaan Tristan dengan seorang wanita yang tidak ia kenal. Dalam potret-potret yang masuk ke dalam akun emailnya terlihat Tristan yang merupakan tunangannya tengah berciuman dengan seorang wanita di koridor sebuah hotel.
Bukan hanya potret itu yang membuat hati Kiara terasa seperti dibakar, tetapi ada sebuah video juga yang memperlihatkan Tristan tengah masuk ke dalam kamar hotel. Apalagi coba yang dilakukan seorang wanita dan seorang pria di dalam sebuah kamar hotel jika tidak bercinta. Karena itulah ia langsung kembali ke Indonesia. Ia merasa perlu bertanya langsung pada Tristan dan tentu saja kedatangannya juga memiliki maksud lain, yaitu untuk memberi pelajaran pada wanita yang telah berani menggoda tunangannya.
"Antar aku ke alamat ini," ujar Kiara, pada seorang sopir taksi yang ia tumpangi.
Si sopir yang baru saja menerima secarik kertas bertuliskan alamat dari Kiara pun mengangguk, dan tanpa menunda-nunda lagi sopir itu menginjak pedal gas, membelah ramainya jalanan yang begitu padat menuju sebuah pemukiman elit tempat Tristan tinggal.
Perjalanan berlangsung tenang, tidak ada kemacetan walaupun jalanan begitu padat, dan tidak ada hambatan lain yang berarti. Seharusnya Kiara bisa tidur sejenak, karena perjalanan yang ia tempuh akan memakan waktu lebih-kurang 45 menit. Namun,Kiara tidak dapat tertidur. Otaknya sibuk memikirkan bagaimana cara membalas perbuatan wanita yang telah menggoda Tristan.
Ya, begitulah perangai dari seorang Kiara. Ia sangat pendendam, ia bukanlah wanita lemah yang hanya akan menangis jika diselingkuhi. Ia lawan yang tangguh. Lawan yang pasti akan dihindari oleh semua wanita yang hendak merebut Tristan darinya, andai saja si wanita perebut tahu.
"Kita sudah sampai, Nona, bukankah ini alamatnya?"
Suara si sopir menyentak Kiara, membuyarkan pikiran-pikiran Kiara yang sedang traveling.
Kiara menegakkan duduknya dan mengedarkan pandangan ke luar jendela untuk melihat apakah benar jika ia telah sampai di tempat tujuan, dan begitu ia yakin, ia pun membayar si sopir dengan nominal yang lebih banyak daripada yang seharusnya ia bayar, dan ia segera turun dari dalam taksi.
"Terima kasih banyak, Nona, semoga hari Anda menyenangkan," ucap si sopir yang kegirangan karena mendapat banyak bayaran. Tidak biasanya ada penumpang yang mau membayarnya lebih. Di zaman yang serba sulit ini banyak orang yang lebih berhati-hati dengan uang alias pelit.
Setelah mengatakan itu, si sopir pun pergi. Meninggalkan Kiara di tepi jalanan yang sepi.
"Ya, hariku pasti akan sangat menyenangkan. Kita lihat saja Tristan, apakah kamu masih bisa bertindak sesukamu begitu aku ada di sini," gumam Kiara, lalu segera melangkah menuju bangunan mewah yang ada di hadapannya, bangunan bergaya eropa itu adalah kediaman Tristan, tunangannya.
Kiara mendorong pagar tinggi yang menjadi pembatas antara rumah mewah itu dan jalanan umum agar ia bisa tiba di dalam rumah. Dan beruntung sekali pagar itu tidak terkunci.
"Dasar ceroboh," gumam Kiara, kemudian melanjutkan langkah hingga ia tiba di teras, dan lagi-lagi ia mendapati pintu utama terbuka lebar, tanpa adanya penjaga yang berjaga di pintu tersebut.
Kiara menarik napas dalam-dalam, dan segera masuk ke bagian dalam rumah. Ia sedikit merasa deg-degan, ia mulai bersiap barangkali ia akan mendapati pemandangan yang tidak ia harapkan, misalnya pemandangan Tristan yang sedang bercinta dengan si wanita gatal dan genit.
"Biasanya seseorang yang lupa mengunci pintu seperti ini hanya memiliki satu alasan, yaitu sedang sibuk melakukan adegan panas hingga lupa diri," gumam Kiara, sambil terus melangkah menuju ruang keluarga, di mana ia mendengar suara seseorang dari dalam ruangan itu.
"Ya, Sayang, aku akan menjemputmu sebentar lagi. Kita bertemu di salon langgananmu saja, bagaimana? Ya, ya, ya, aku tahu. Dan jika kamu tidak keberatan, bagaimana kalau sore ini kita menghabiskan waktu bersama. Aku merindukanmu--"
"Ya, aku tidak keberatan. Aku juga sangat merindukanmu!" seru Kiara, memotong ucapan Tristan pada seseorang di seberang panggilan.
Tristan terlonjak kaget saat kedua mata elangnya mendapati seorang wanita yang paling tidak mungkin ada di hadapannya saat ini.
"Ki."
***
Vivian menutup panggilan telepon yang sedang berlangsung dengan Tristan, lalu ia mengaktifkan mode pesawat untuk sementara waktu. Suara seorang wanita yang terdengar beberapa saat lalu membuat Vivian terkejut. Maka,Mia memutuskan lebih baik mencari aman daripada harus terlibat pertengkaran dengan seseorang yang ia duga pastilah kekasih Tristan.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah begitu?" tanya Anita, yang baru saja muncul dari dalam kamar.
"Apa kamu sudah mengirimi tunangan Tristan foto-foto yang kamu ambil di hotel?" Vivian balik menanyai Anita.
Anita menganguk. "Tentu sudah. Aku langsung mengirimkannya lewat email. Kenapa memangnya?"
"Oh, pantas saja," gumam Vivian.
"Apanya yang pantas saja?"
Vivian menatap Anita lekat-lekat, kemudian ia mengatakan apa yang baru ia dengar melalui ponselnya.
"Aku rasa wanita itu kembali ke Indonesia. Baru saja Tristan meneleponku dan mengajakku untuk bertemu, dan aku mendengar suara wanita itu juga."
Anita menggeleng. "Tidak mungkin dia kembali ke Indonesia. Tunangannya Tristan itu adalah seorang desainer sukses di Kanada. Untuk apa dia mengorbankan karirnya hanya untuk pria seperti Tristan. Tristan itu bukan pria yang setia, bisa saja suara wanita yang kamu dengar itu adalah suara selingkuhannya yang lain. Pria kaya seperti Tristan bisa mendapatkan seratus wanita sekaligus, ya, 'kan."
Vivian mengangguk. "Ya, mungkin juga," ucap Vivian, ragu.
"Nah, tidak usah terlalu dipikirkan. Sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan. Kebutuhan di dapur sudah menepis, kita harus berbelanja," ujar Anita.
Vivian sebenarnya ingin berbelanja bersama dengan Anita, tetapi ia teringat pada pesan Darius yang memintanya untuk beristirahat, dan ia tidak ingin tidak menuruti permintaan Darius.
"Kenapa? Kamu tidak ingin jalan-jalan? Apa kakimu masih sakit, Vi?" tanya Anita, saat Vivian tidak kunjung menanggapi ajakannya untuk berbelanja.
"Bukan begitu. Sebenarnya aku pun ingin pergi keluar, aku bosan terus-terusan di dalam rumah seperti ini, tapi Darius berpesan padaku agar aku istirahat saja, dan jangan melakukan aktivitas apa pun, itu berarti aku juga tidak boleh berkeliaran ke sana-kemari, 'kan?" Vivian mencoba untuk menjelaskan pada Anita.
Anita menatap Vivian dengan mata melotot dan mulut yang terbuka lebar. "Sejak kapan kamu jadi wanita penurut?"
Vivian mengibaskan tangan di hadapan Anita. Ia terlihat malu. "Sudahlah, jangan dibahasa. Pergi saja kalau mau pergi. Jangan lupa belikan aku buah-buhan, dan sekalian pengaman juga," ujarnya.
Mendengar kalimat terakhir Vivian, Anita segera bangkit berdiri dan melempar wajah sahabatnya itu dengan bantal sofa, sebelum akhirnya ia beranjak dari hadapan Vivian sambil mengomel panjang lebar.
"Ck, apa salahku, sih, aku kan hanya mengantisipasi jika terjadi hal-hal yang diinginkan." Vivian bergumam, lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
Bersambung.