"Apakah aku akan tetap seperti ini? Jika saja dulu aku tidak mengajaknya masuk kedalam rumah ini, mungkin ini tidak akan terjadi. Menyesal pun aku sudah tidak bisa" (Nara 25th)
"Maafkan aku mencintaimu dan juga dia. Jangan memintaku untuk memilih. Karena kalian adalah pilihanku" (Kendra 26th)
"Aku tau aku salah. Maafkan aku. Tapi, cinta ini telah tumbuh. Aku ingin pergi jauh dari kehidupan kalian. Apakah aku bisa?" ( Yuna 25th)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhifa Syafana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemasan Keanu
Besok akan ada acara di sekolah Keanu. Sejak kemarin bocah tampan itu tidak hentinya mengingatkan ayah dan calon bundanya untuk datang. Hari ini Julian tidak bisa menjemput pangeran kecilnya disekolah. Nara yang menggantikan tugas calon suaminya itu. Sejak berita pernikahan pengusaha ternama itu diumumkan, sangat berpengaruh dengan kehidupan Nara. Banyak yang ingin mengenalnya saat menjemput Keanu, namun semua tidak ada yang tulus. Pernikahan Nara akan dilaksanakan Minggu depan. Lebih cepat dari yang direncanakan.
Julian mengajukan pernikahan mereka, karena dia haru mengurus bisnisnya di luar negeri. Nara harus ikut serta menemani dirinya. Kepergiannya ke luar negeri kali ini cukup lama, itu yang membuat Julian mengajukan pernikahannya. Bisa saja Nara ikut tanpa mereka harus menikah terlebih dahulu, tapi Julian sangat menjaga kehormatan Nara.
"Ingat ya Bun. Besok bajunya harus sama dengan ayah. Kean ingin kalian kompak." Bocah itu terus mengoceh sambil mengekori Nara yang sibuk di dapur.
"Sayang, bunda sangat ingat nak. Setiap menit anak tampan ini mengingatkan bunda," Nara membungkuk dan mencubit pelan hidung mancung Keanu.
"Sekarang kamu duduk saja disana. Bunda akan memasak, jika kamu terus mengikuti bunda bisa saja bunda menabrak mu nak," Kean menghela nafasnya dan berjalan menuju meja di pantry.
"Kean cuma takut ayah dan bunda lupa. Apalagi ini pertama kali buat bunda. Karena waktu itu bunda sakit jadi tidak ikut," Nara tersenyum sambil memotong sayuran. Bocah tampan di depannya itu sangat menggemaskan.
"Iya nak, bunda ingat sekali pesan mu. Jadi, tidak usah takut," Kean kembali cemberut. Itu membuat Nara terbahak. Hingga mereka tidak menyadari kedatangan seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Bunda kenapa tertawa?" Kean semakin kesal. Nara mencoba untuk berhenti tertawa agar putra kesayangannya itu tidak marah. Perhatian mereka teralih karena suara Julian yang datang menghampiri
"Seru sekali, ayah boleh gabung?" Kean diam tidak bereaksi apapun. Wajahnya masih saja cemberut.
"Wah ayah sudah pulang," Nara mencoba menyambut dengan riang kedatangan Julian. Tapi tetap saja tidak direspon Keanu. Julian mendekati Nara dan mengecup pelipisnya.
"Kenapa dia Bun. Wajahnya jelek amat," meskipun berbisik namun suara Julian jelas terdengar Keanu yang duduk didepannya.
"Ayah menyebalkan," Keanu berdiri meninggalkan dapur dan berpindah ke ruang tengah.
"Kenapa sih Bun?" Julian heran dengan sikap putranya yang tidak seperti biasa.
"Bunda bujuk dulu, tolong ayah tunggu ini bentar lagi matang," Julian mengangguk. Nara berjalan dan duduk disamping Keanu.
"Anak bunda kenapa? Apa bunda buat Kean marah?" Keanu masih diam dan melipat kedua tangannya didepan dada.
"Maafkan bunda sayang. Jangan diamkan bunda, nanti bunda nangis nih," wajah Nara berubah sendu. Keanu segera menangkup kedua pipi Nara setelah berbalik badannya.
"Kean tidak mau bunda menangis," Nara tersenyum dan menggenggam kedua tangan putra sambungnya.
"Mau cerita sama bunda?" Julian sudah mematikan kompor setelah masakan matang, dan menyusul kedua kesayangannya itu.
"Kean takut bunda tidak datang lagi," Nara mengerutkan keningnya mendengar jawaban Keanu.
"Kenapa Kean berfikir seperti itu nak?" Dia mengusap lembut telapak tangan Kean.
"Kean takut tiba-tiba bunda sakit lagi. Nanti teman-teman akan mengejek Kean berbohong," Nara menarik tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
"Apa teman Kean mengejek Kean saat bunda tidak datang waktu itu?" Kean mengangguk dalam pelukannya.
"Maafkan bunda nak. Karena bunda sakit, kamu jadi diolok. Bunda pasti akan datang besok sayang," Keanu melepaskan pelukannya dan menatap mata Nara.
"Bunda tidak bohong kan?" Nara menggeleng dan mengulurkan jari kelingkingnya.
"Bunda janji sayang. Ayah pun akan datang, iya kan ayah?" Julian mendekati mereka dan ikut mengulurkan jari kelingkingnya.
"Pasti. Ayah sudah ambil cuti untuk besok sayang. Jangan sedih lagi ya," Kean mengangguk dan mereka saling berpelukan.
"Kita makan dulu yuk, keburu dingin masakannya nanti." Mereka berjalan menuju meja makan. Foto keluarga bahagia bagi orang lain yang melihat mereka saat ini. Nara menyiapkan makan untuk Julian dan Keanu. Bocah itu tidak mau disuapi, tetapi tidak untuk ayahnya yang lebih manja.
"Bun, tangan ayah sakit ya?" Kedua orang dewasa itu menatap Keanu.
"Tidak sayang. Ayah baik-baik saja," Nara tetap sambil menyuapkan makanan kedalam mulut Julian.
"Kenapa minta disuapi? Ayah bukan lagi anak kecil," Julian dan Nara menahan tawa mereka.
"Biar saja. Itu karena bunda lebih sayang ke ayah," Julian menjulurkan lidahnya mengolok Keanu.
"Tidak. Bunda lebih menyayangi Keanu daripada ayah. Iyakan bunda?" Nara tersenyum, namun tangannya tetap bekerja.
"Iya dong. Keanu kan anak pintar. Bisa makan sendiri," Nara sengaja menyindir Julian.
"Gapapa gak di sayang. Yang penting bunda tetap menyuapi ayah," Nara tertawa melihat ekspresi Julian yang merajuk.
"Dasar bayi sudah tua," kembali Keanu mengolok ayahnya.
"Iri kan kamu, kasian deh gak di suapi." Mereka saling olok, membuat Nara sedikit kesal.
"Sudah berhenti, kalian mau ribut terus?" Kompak keduanya menggelengkan kepalanya.
"Ayah makan sendiri, Keanu cepat habiskan makanannya. Sayur haru habis." Nara menekan kata sayur karena bocah itu tidak begitu menyukai beberapa jenis sayur.
"Baik bunda," keduanya menjawab kompak dan kembali menghabiskan makanan mereka. Nara pun beranjak meninggalkan meja makan untuk mengambil puding. Di meja makan, kedua pria berbeda usia itu kembali berdebat pelan agar tidak didengar sang ratu rumah.
"Kalian jika masih ingin berdebat terus, silahkan ke lapangan bawah sana." Suara Nara dari dapur, cukup membuat mereka mengentikan perdebatan kedua.
Nara kembali ke meja makan dengan membawa sepiring puding dengan taburan buah segar.
"Keanu, itu kenapa daun bawangnya di pinggirkan sayang?" Nara tahu jika putranya itu tidak menyukai daun bawang.
"Tidak suka bunda, baunya menyengat." Nara hanya menghela nafas saja. Nara melihat Julian malas dalam menyuap makanan di piringnya.
"Ayah sakit?" Telapak tangan Nara sudah ada di kening Julian memeriksa keadaannya.
"Tidak, ayah baik kok bun," Nara juga tidak merasakan panas di jidat itu.
"Kenapa makanannya buat mainan ayah? Apa tidak enak?" Julian kembali menggelengkan kepalanya.
"Suapi," dengan wajah memelas dia meminta Nara kembali menyuapinya.
"Makan sendiri ayah," Nara duduk mengambil makanan untuknya sendiri. Bocah tampan dihadapannya sedang mengolok sang ayah.
Usai makan malam dramatis, mereka duduk melihat acara televisi malam hari sambil sesekali bertukar cerita. Keanu duduk di karpet bulu dibawah kedua orang dewasa yang kini duduk berpelukan di sofa belakang tubuh bocah tampan itu. Matanya fokus menonton film kartun kesukaannya. Nara teringat ingin menanyakan kembali perihal Keanu diolok di sekolah.
"Sayang, boleh bunda bertanya?" Keanu menoleh kearah Nara. Dengan mata bulat indahnya, membuat Nara gemas.
"Boleh bunda," Julian diam mendengarkan keduanya.
"Keanu tadi bilang ke bunda, kalau masih ada yang mengolok kamu di sekolah. Apa saja yang mereka katakan sayang?" Keanu termasuk anak yang suka memendam semua sendirian. Itulah sebabnya Nara membiasakan bertanya apapun yang dia rasakan selama disekolah.
"Mereka mengatakan Kean berbohong tentang bunda. Kata mereka, bunda hanya orang bayaran untuk menjadi bunda Keanu. Meskipun bunda sering mengantar dan menjemput Keanu, bagi mereka tetap saja itu hanya bohong saja. Mereka baru akan percaya kalau bunda datang di acara besok pagi," mata Keanu Keanu kembali berkaca-kaca saat bercerita.
"Sst, jangan menangis. Bunda pasti datang besok pagi," Keanu kembali menghambur ke pelukan Nara.
"Janji ya bunda," Nara mengangguk dalam pelukan putranya itu.
"Tapi Kean juga harus janji akan menceritakan apapun yang kamu alami selama tidak ada bunda ataupun ayah di dekat kamu. Apa kamu bisa?" Keanu mengangguk dengan cepat.
"Mau bunda. Kean akan menceritakan apapun kepada bunda dan ayah. Asal bunda juga tidak pergi meninggalkan Keanu lagi," Nara mengangguk. Julian bergabung dalam pelukan itu.
"Terima kasih sayang," bisiknya di telinga Nara.
LN ada loe, gue..Hadeuhhh bnyak ngawur ini othor
ada keselnya ada meweknya ada bapernya.
upnya jgn lama2 ya soale penasaran sm kelanjutan ceritanya...🙏💪👍🫶