NovelToon NovelToon
Kenapa Menikahiku, Gus?

Kenapa Menikahiku, Gus?

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga & Kasih Sayang / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Konflik etika
Popularitas:176k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danie A

Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.

Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

"Aku tetep mau pulang!" Ternyata Arin masih teguh dengan keinginannya yang menuntut untuk pulang ke rumah orang tuanya.

"Nggak bisa! Kamu nggak boleh pergi ke mana-mana!" tegas Huda tak mau kalah. "Kamu nggak boleh pulang ke rumah Bapak! Kamu nggak boleh bawa semua baju kamu pulang. Kamu nggak boleh bawa hati kamu pulang!" seru Huda.

Huda tak ingin pernikahannya dengan Arin berakhir begitu saja. Susah payah pria itu mendapatkan hati Arin. Huda baru saja ingin membangun rumah tangga impian bersama Arin. Namun, pernikahannya sudah diuji di awal perjalanan mereka.

"Aku nggak mau di sini, Mas. Tolong izinin aku pulang."

"Tolong jangan begini, Rin. Mas akan lakuin apa pun asal kamu nggak pulang. Tolong jangan tinggalin Mas!" pinta Huda.

"Maafin, Mas. Tolong kasih Mas kesempatan lagi. Mas akan nyoba buat lebih pengertian lagi ke kamu. Mas akan nyoba buat lebih perhatian lagi ke kamu," bujuk Huda.

Apa pun yang dikatakan oleh Huda tetap tak bisa membuat hati Arin terketuk. Meskipun Huda sudah berkata akan melarang Novi berkunjung, tapi Arin masih tetap tidak berubah pikiran.

"Cukup, Mas. Tolong kabulin permintaan aku," cetus Arin.

Huda menggeleng. Pria itu mengecup tangan sang istri berulang kali. "Mas akan hubungin Ibu sama Bapak. Kamu boleh pulang, tapi kamu nggak boleh bawa semua barang kamu. Mas akan kasih tahu Bapak kalau kamu kangen. Mas akan jemput Bapak. Kamu nggak perlu pergi ke mana-mana."

"Cukup, Mas!"

"Rin, Mas harus ngapain lagi supaya kamu nggak pergi?" tanya Huda dengan wajah memelas. "Mas nggak mau rumah tangga kita jadi begini, Rin!"

Arin juga tak mau kehidupan rumah tangga berakhir begini. Tapi Arin juga tak bisa diluluhkan dengan mudah. Wanita itu sudah terlanjur sakit hati dan merasa tidak dibutuhkan.

"Mas nggak butuh aku di sini. Riski juga nggak butuh aku. Mas lebih seneng ngobrol sama Novi. Riski juga lebih suka main sama Novi. Buat apa lagi aku di sini, Mas?" seru Arin. "Mas mau ngelarang Novi ke sini? Kalau Riski masih nyariin Novi, Mas akan kasih izin Novi ke sini lagi, kan? Percuma aja Mas larang Novi buat datang ke sini."

"Arin, kenapa kamu masih mikir begitu? Novi itu orang luar di keluarga kita. Aku sama Riski lebih butuh kamu."

Di tengah-tengah perdebatan pasangan suami istri itu, Riski tiba-tiba muncul dan membuat Arin serta Huda terkejut. Keduanya pun langsung bungkam dan menoleh ke arah Riski dengan wajah penuh senyum.

"Riski? Sini masuk, Nak!" ucap Huda pada Riski.

Riski langsung berlari kecil menghampiri Huda. Pria itu menangkap Riski, kemudian mendudukkan bocah itu ke pangkuan Arin.

"Abi kok lama banget sih? Tadi katanya cuma pipis sebentar!" protes Riski pada Huda. "Kenapa Abi malah di kamar, sih?" omel Riski.

Huda mengusap lembut kepala bocah itu. "Maaf ya, Nak. Abi tadi lagi ngobrol sama Umi," ujar Huda.

Riski pun mendongak dan menatap ibu barunya itu. Arin melempar senyum pada Riski, meskipun itu hanya sebuah senyuman paksa.

"Riski, Umi boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Arin.

"Umi mau tanya apa?"

"Riski ... takut nggak sama Umi?" tanya Arin kemudian.

Riski menatap Arin dengan mata bulatnya yang bening, lalu menggelengkan kepalanya. "Riski cuma takut sama Allah dan air. Riski nggak takut sama Umi."

Arin tersenyum lega. Setidaknya bocah itu tidak membuang muka di depan Arin. Riski juga masih mau berbicara dengan Arin.

"Umi boleh nanya lagi nggak?" tanya Arin lagi. "Umi jahat nggak sama Riski?"

"Jahat apa?" tanya Riski dengan polosnya.

"Umi ... udah bikin Riski tenggelam sebelumnya," ungkap Arin dengan wajah muram.

Arin nampak gugup menunggu jawaban dari Riski. Huda sendiri juga tak sanggup mendengar ocehan bocah itu. Jika Riski sampai berbicara yang tidak-tidak, mungkin saja Arin akan benar-benar pulang ke rumah dan meninggalkan Huda.

"Riski suka main sama Umi!" ujar Riski menjawab pertanyaan Arin dengan jawaban tak terduga.

Untungnya Riski tidak berbicara aneh-aneh. Riski juga tidak menunjukkan kebencian di depan Arin, setelah insiden tenggelam tempo hari.

"Kalau Riski seneng main sama Umi, kenapa Riski nggak mau lepas dari Abi? Kenapa Rizki nggak mau main sama Umi? Kenapa Riski malah main sama Bu Novi? Riski nggak suka lagi ya sama Umi?" tanya Arin menanyakan hal konyol tersebut pada bocah kecil yang belum berusia lima tahun.

Huda sendiri juga tidak menyangka Arin akan menanyakan hal tersebut pada Riski. Pertanyaan Arin memang cukup kekanakan, tapi jawaban Riski yang akan menentukan apakah Arin ingin bertahan atau pulang ke rumah kedua orang tuanya.

Setelah mendengar pertanyaan Arin, Riski langsung memeluk Arin dengan erat. "Riski cuma punya Abi. Sekarang Rizki juga punya Umi," ucap Riski.

"Riski suka main sama Bu Guru, tapi Riski juga suka main sama Umi. Riski sayang sama Umi Arin!" sambung Riski.

Mendengar ungkapan sayang dari Riski membuat air mata Arin langsung terjun membasahi pipi. Wanita itu pun ikut memeluk Riski dengan erat dan meluapkan tangisannya di depan Riski.

Wanita itu menangis sesenggukan, hingga membuat Riski kebingungan. "Umi kenapa nangis? Riski janji, Riski bakal main lagi sama Umi! Riski sayang Umi! Umi jangan nangis!" ucap Riski justru ikut menangis karena melihat Arin.

Riski dan Arin menangis sembari berpelukan bersama. Tangisan keduanya pun terdengar semakin kencang hingga keluar kamar. "Maafin Umi ya, Riski! Umi udah bikin Riski tenggelam! Maafin umi, ya?" ucap Arin dengan derai air mata yang semakin deras.

"Riski masih mau main sama Umi! Riski cuma main bentar sama Bu gurunya. Habis ini Riski main sama Umi!" seru Riski membuat tangis Arin semakin menjadi.

Perkataan dari Riski akhirnya mampu melerai amarah yang sejak tadi menguasai diri Arin. Perkataan dari bocah kecil itu mampu membuat perdebatan antara Arin dan juga Huda dapat terselesaikan dengan jalur damai.

Huda tersenyum geli melihat istri dan juga anaknya yang berlomba menangis di depannya itu. Akhirnya permasalahan antara dirinya dan Arin pun dapat terselesaikan dengan cara yang tak terduga.

"Kok kayak ada suara orang nangis, ya?" gumam Nyai Rosyidah yang mendengar suara tangisan Riski dan juga Arin dari dalam kamar. "Masa sih, Umi? Tetangga sebelah mungkin!" sahut Ustadz Wahab.

"Masa Abi nggak denger, sih? Itu kaya suara tangisan Riski, deh!" ujar Nyai Rosyidah bergegas mencari rizki. "Tadi Riski bilangnya mau ke mana?" tanya Nyai Rosyidah mulai panik.

"Tadi kan bilang mau nyusul abinya. Coba lihat di kamar. Mungkin lagi barengan sama Huda di dalam," cetus Ustadz Wahab.

Nyai Rosyidah dan Ustadz Wahab pun bergegas menuju ke kamar Huda dan Arin. "Huda, Riski ada di dalam nggak?" tanya Nyai Rosyidah sembari mengetuk pintu kamar putranya.

Novi juga ikut mengekor di belakang Nyai Rosyidah dan juga Ustadz Wahab karena mencemaskan Riski. "Semoga nggak terjadi apa-apa sama Riski," seru Novi mencoba menenangkan Nyai Rosyidah yang agak panik karena suara tangisan Riski.

Tak lama kemudian, Huda pun membukakan pintu dan memperlihatkan Riski yang saat ini masih menangis bersama dengan Arin. "Kenapa, Umi?" tanya Huda pada sang ibu dengan wajah sumringah.

"Riski kenapa? Kenapa dia nangis kenceng banget?" tanya Nyai Rosyidah.

Novi pun mulai celingukan mencari sosok Riski di dalam kamar. Wanita itu pun melihat dengan jelas Riski yang saat ini tengah menangis di pangkuan Arin.

"Ini kenapa Arin juga nangis? Kalian ngapain aja sih di dalam?" omel Ustadz Wahab.

Huda tertawa kecil sembari menatap istri dan anaknya yang masih menangis sesenggukan. "Gak ada apa-apa kok. Arin sama Riski lagi main main bareng aja. Mereka rebutan mainan terus nangis," celetuk Huda.

"Rebutan mainan?" tanya Nyai Rosyidah dengan dahi berkerut.

"Mereka baik-baik aja kok, Umi. Biarin aja mereka nangis sampai puas," seru Huda.

Nyai Rosyidah dan Ustadz Wahab pun mulai bernapas lega. "Beneran nggak apa-apa, kan? Umi beneran kaget dengar suara tangisan kenceng banget dari luar," sahut Nyai Rosyidah.

Nyai Rosyidah dan Ustadz Wahab pun meninggalkan kamar Huda, namun Novi masih berdiri di ambang pintu dan menatap Riski yang saat ini tengah duduk di pangkuan Arin. Entah mengapa, Novi merasa tidak suka melihat pemandangan tersebut. Wanita itu merasa tidak nyaman dan merasa nyeri di hati.

"Maksud perempuan ini apa, sih? Mau cari perhatian pakai nangis kencang segala kaya bocah?" batin Novi menatap Karin dengan tatapan tak suka.

****

1
Sur Yanti
ayo thor knpa Lama sekali up nya? semangat lah thor nulis nya 💪💪
Sur Yanti
semangat up thore 💪💪
Lukman Suyanto
welcome back...
Sur Yanti
setelah 2thn akhir nya up lagi thore
semangat up nya thor 💪💪💪
Dek Raraaa
uplagi 2th kakkk ..
Danie a: bisa ae.
total 1 replies
JandaQueen
lha....kalo gini, ga bener ni si wirda. ada gejala mo nikung sptnya...
JandaQueen
lanjut baca, penasaran
JandaQueen
lha itu...
JandaQueen
lanjut baca
JandaQueen
simpan jejak dl
Ade Hadijah
semoga Arin selamat sampai tujuan. Nekad juga
Riza Umi Nurjannah
lama up nya thot
Danie a: hahahh, iya, othor nya lagi ngk jelas nih🤭
total 1 replies
Bayu Priyadi
arin baper
Raudatul zahra
heehhh??? kupikir sudah tamat, karna novel author yg lain yg kubaca episode nya pendek².. ini udah 60 bab belum tamat.. yaa nggak pp siih.. seneng² aja aku.. tp kok lama banget nggak update lg yaa thor????
Raudatul zahra
aku ikut sakit hati mikirin perasaan nya Arin😭😭😭
Raudatul zahra
Arin mendengar isakan novi
Raudatul zahra
menyingkirkan Novi thoorr
Raudatul zahra
maafin yaa mas Huda.. nama nya istri nya baru beranjak dewasa.. masih suka tantrum² gitu dehh.. masih cemburuan..
Raudatul zahra
lanjooootttt
Raudatul zahra
ada yang ngarepin suami orang doonnggg
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!