Aku belum pernah bertemu atau pun berbicara dengan Komisaris di kantorku. Sampai kami bertemu di Pengadilan Agama, dengan posisi sedang mengurus perceraian masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman-Teman Mama
Diskusi kami tidak berhenti di sana,
Kini berlanjut masalah Mas Kawin.
“Mau Mas Kawin berapa?” tanyanya.
“Cincin pernikahan dan seperangkat alat sholat,”
“Penunjangnya?”
“Tak usah,” kataku tegas.
“Tak usah?” tanyaku.
“Tak usah.”
“Kenapa?”
Aku menarik nafas panjang.
Felix selalu bertanya kenapa, dan kalau alasannya menurutnya tak logis dia akan terus bertanya sampai mentok. Sampai ada yang mengalah.
“Kamu tahu dulu keluarga Tommy memberiku mas kawin emas 10 gram dan uang tunai 50 juta dalam bentuk deposito?”
“Lalu?”
“Itu dipermasalahkan kalau kami ribut, atau kalau aku memberinya gaji lebih sedikit, dan seringkali mantan mertua juga mengungkit-ungkit hal itu kalau aku tak patuh. Saat bercerai mereka minta semua itu dikembalikan. Untung saja pengacaraku bilang harusnya mereka yang mengembalikan selisihnya kalau dihitung dengan biaya yang sudah kukeluarkan untuk mengurusi mereka selama 2 tahun pernikahan,”
“Jadi kamu trauma dengan Mas Kawin juga?”
“Jumlahnya tak seberapa, Felix. Tapi aku jadi kesal saat mendengar kata Mas Kawin, Pernikahan, Gajian,”
Felix menunduk, lalu terkekeh.
Aku sebal. Bisa-bisanya dia menertawakan hal yang tak lucu begitu. Aku lumayan trauma loh ini.
“Padahal Mas Kawinku nilainya 100 miliar loh. Sudah termasuk rumah Hang Lekir dan 1 unit Gedung Perkantoran di Salemba,”
“Itu aset kredit semua mau dijadikan Mas Kawin? Buset... licik bener ente!”
“Ya memang dari kemarin kuperjuangkan kepemilikannya untuk dijadikan Mas Kawin,”
“Kamu berbuat begitu hanya untuk membuat Felicia kesal,” tuduhku, “Felicia lagi, Felicia lagi. Bosan aku dengarnya!” sahutku.
Kulihat dia mengernyit menatapku.
Aku jadi semakin sebal.
“Hidupmu semua penuh dengan Felicia. Segala tindakanmu semua berdasar padanya. Jangan-jangan kamu suka padaku karena aku wanita yang berbeda 180 derajat dengan Felicia?! Kamu masih memendam perasaan padanya atau bagaimana?” Kuperpanjang saja masalahnya. Aku ingin dia sekali-kali kalah padaku.
Pura-pura ngambek gara-gara Mas kawin.
Bayangkan... nilainya 100 miliar. Kalau kami berdua ribut, akan dipermasalahkan tidak? Lebih baik tidak pakai mas kawin penunjang deh, jadi aku benar-benar mengabdi padanya bukan atas dasar harta.
“Chint-“
“Mas Kawin emas 5 gram dan seperangkat alat sholat. Titik! Dan awas kau berikan aku barang-barang bekas Felicia! Kuadukan ke Mama!” seruku tegas.
“Kenapa jadi Mama sih?”
Tapi aku tak menanggapi kalimat terakhirnya karena aku keluar dari kamarnya, lalu masuk kamarku sendiri dan ku kunci dari dalam.
Aku mau berendam busa di kamar mandi, yang lama!
**
Agak malam Mama minta aku menemaninya ngopi-ngopi cantik di cafe langganannya, sekalian mengenalkanku ke teman-teman arisannya. Kuiyakan saja karena matanya berbinar penuh harap padaku.
Aku dan Felix sempat berpapasan di ruang keluarga. Tapi aku buang muka.
Sekali-kali ngambek.
Sempat kudengar papa di ujung sana berdehem sambil “Ciee cieee marahan nih yeee,” tapi aku diam saja mengikuti Mama keluar rumah.
Tapi ternyata kedatanganku ke cafe malah hal sial untukku.
Iya, tipikal pertemuan julidawati, aku disindir-sindir penuh niat oleh teman-teman arisan Mama.
Di depanku mereka baik, memujiku cantik, manis, kasihan dengan masa laluku, bilang kalau aku wanita tegar. Di belakang... hemmmm, jangan ditanya deh.
Untung aku sudah berendam bubble yang lama, jadi otakku agak dingin sekarang.
Ceritanya begini,
Saat kami tiba di Cafe langganan Mama, kami disambut teman-teman mama yang ramah. Mereka ramai kalau mengobrol. Membicarakan semuanya.
Tentu mereka bertanya mengenai diriku.
Ku jawab apa adanya dengan izin mama, kalau aku yatim piatu, dan mengenal Felix karena aku salah satu karyawannya di kantor.
Mereka bersimpati padaku. Mengelus bahuku, membesarkan hatiku, dan bilang kalau butuh apa pun, aku bisa menghubungi mereka.
Justru itu yang aneh.
Gelagat Mama yang aneh timbul saat dia tiba-tiba minta izin ke toilet karena sedikit pusing, mau cuci muka. Dia titip tas di bangku ke teman-temannya, dan dia menggeretku minta kutemani.
“Kenapa Mah? Mama puisng? Perlu ke dokter?!” Aku agak panik, memang. Karena Mama yang kukenal wanita kuat dan ceria, kalau dia tiba-tiba pusing jadi tak main-main sakitnya.
“nggaaaaak!” ia mengibaskan tangannya ke depan wajahku. “Mama selipin ipod di tas mama,”
“Ngapain Maaaah?!”
“Kok dari tadi Mama mencium ada hal aneh ya di teman-teman Mama. Mereka ketawanya nggak normal gitu loh! Mari kita dengarkan perbincangan mereka kalau mama dan kamu tak ada!”
“Mama cari penyakit ih!” keluhku.
Tapi aku juga ikut mendengarkan sih.
Sayup-sayup kudengar suara teman Mama.
“Si Jeng Mayleen ... ngapain sih mungut anak pemulung begitu? Pingin kelihatan malaikatnya ya?”
“Aku setuju Cih, Si Felix kayaknya otaknya lagi terganggu. Udah bener sama si Feli yang cantik dan kaya gitu. Kalau memang pernikahan tidak berhasil kan tak usah lah mencari calon yang 180 derajat banget sama Feli. Seperti sulit melupakan mantan gitu loh. Jadi pengalih perhatiannya sama gembel,”
“Lihat nggak berlian di tangannya, ih kecil banget. Itu sih cuma kerikil. Masa sih itu dari Felix? Kayaknya memang lagi gimmick sih,”
“Nah itu dia gimmick! Sok-sok’an sederhana untuk menunjukkan kalau kita bisa loh merakyat. Paling di belakang Felix ada main sama Felicia. Nggak mungkin lah mereka berpisah sampai begitu, untuk menutupi dan untuk keselamatan keluarga dari amukan massa, mereka berlindung di balik Pribumi,”
“Gayanya macam Puteri Indonesia, kulit coklat, dada gede, bibir seksi. Liat aja sebulan lagi, paling dia putihin tuh kulit menyesuaikan dengan mertuanya,”
“Pada dasarnya nggak mungkin ada pengusaha yang mau menantunya dari kalangan rakyat biasa, kali! Enak aja kita cari duit jungkir balik buat bisa hidup layak, eeeeh, kaum miskin datang nggak ngapa-ngapain berharap kita sedekah. Kerja dong Kerja! Hahahaha!!”
Dan mereka tertawa berbarengan di sana.
Tangan Mama gemetaran, menggenggam tanganku dengan erat dan kulitnya begitu dingin.
Ia menatap teman-temannya di ujung sana dari dalam mobil, dengan mata berkaca-kaca.
Lalu dia menunduk, dan bergumam, “Maafkan Mama... Chintya, maafkan mama,” desisnya bergetar.
Aku?
Yaaa, aku memang sakit hati. Tapi tidak sampai begitu juga.
Rasanya hatiku ini sudah terlatih dengan makian-makian absurd.
Lagi pula... yang di depan itu kumpulan ladang uang semua, rekan bisnis, konglomerat, kolam cuan. Harus kujaga hubungan ini supaya tampak erat walau pun dalamnya semrawut.
“Mama, tenang saja. Tak usah minta maaf. Kita berdua tahu bukan hal itu yang sebenarnya terjadi, kan?!” desisku sambil menunduk untuk menatap wajah Mama.
Mama mulai terisak.
Aku sebenarnya panik, Mama sudah tua, sudah 60 tahunan, kurus kecil mungil begini, aku takut dia jantungan.
Tapi genggamannya di tanganku mengingatkan, kalau di pergelangan tangannya pernah ada goresan tanda putus asanya yang terdalam, tapi lalu dia bisa berdiri tegap lagi.
Mama adalah setegar-tegarnya wanita.
Aku akan menunjukkan kalau aku juga wanita kuat, dia adalah inspirasiku menghadapi dunia baruku. Dunianya Felix.
Jadi aku pun keluar dari mobil, tanpa mama, berjalan ke arah mereka yang langsung mengubah topik saat aku datang.
Aku duduk di kursiku yang tadi.
“Mama sedang tak enak badan jadi dia tiduran sebentar di mobil,” kataku sambil tersenyum.
“Ooooh ya tak apa mungkin agak stres karena kalian sebentar lagi kan menikah, jadi persiapannya banyak,”
AKu mengibaskan tanganku di depan hidungku, “Kami hampir tak ada persiapan kok Tante, karena kan pernikahan kedua. Jadi di KUA saja. Kami juga tidak mengundang siapa-siapa kecuali pengacara dan Notaris kami sebagai saksi atas akta-akta perkawinan yang jumlahnya berlembar-lembar itu. Entah ada apa saja di sana,” desisku. Sengaja kutonjolkan kalau aku akan dapat sebagian harta Felix, walau pun enggan. Tapi mereka hanya bisa disumpal dengan harta duaniwi.
Semua hanya tertawa basi.
Tawa tak niat yang setengahnya mengejekku.
“Tante tahu tidak, berapa harga yang harus dibayar Felix untuk berpisah dari Sang Mantan?” tanyaku ala biang-biang gosip.
“Berapa Mbak?” mereka mencondongkan tubuhnya padaku.
“1.075 miliar,” jawabku
“Astagaaaaa! Kok banyak banget!!”
“Yaaa, pasti di antara kalian berpikir kalau begitu mending tak usah bercerai kan? Harga diri mah bisa kalah kalau jumlahnya segitu. Iya kaaaan?!’ tuduhku.
“Ya nggak gitu juga Mbak eeee, itu kan semua duit yang bisa aja dialokasikan ke hal lain yang lebih bermanfaat. Kami kan pengusaha, ya begitu-gituan kan pasti kan nggak datang sekejab mata,” tukas salah satunya. Ini beneran nih dia bicara begitu? Kok jadi berbalik dengan bisik-bisik tadi sih? Dasar lidah bercabang!
“Yaaa, tante-tante sekarang bisa bayangkan kan, betapa sakit hatinya Felix. Sampai ia rela kehilangan uang segitu banyak agar sang mantan raib dari hidupnya? Kira-kira apa yang dilakukan sang mantan, coba? Pasti sangat menyakitkan,” aku bicara ala kompor. Berapi-api seakan itu hal besar.
Semua diam.
“Sulit dibayangkan sih Tante, yang dari luar tampak seperti mahal, diprediksi bisa mendatangkan keuntungan bagi bisnis, sesama pengusaha pula, sesama pewaris, eeeh malah mendatangkan kerugian sedemikian besar. Berasa ditipu investasi bodong nggak siiih?! Tapi jangan lupa kalau semua itu warisan bapaknya, hahahaha! Gampang lah sekedar menjabat direktur ini direktur anu, tinggal : Pah, mau dong jabatan yang itu! Khihihihi,” aku terkikik. Tapi tak ada yang menanggapiku. Mungkin mereka tahu aku sedang menyindir kaum mereka.
Setelah ini aku pasti dianggap tak tahu diri.
“Coba kalau kaum miskin seperti saya, kita awam masalah bisnis Tante. Jangankan mau gugat 1 triliun, persidangan saja pakai tabungan sendiri, hehehehehe. Lebih hemat tooooh? Nggak lah saya nggak macam-macam hidupnya. Jaman sekarang gaya hedon tau-tau didatangi petugas pajak, hahahaha!”
Aku tertawa saja sendiri sepuasnya. Berlagak OKB. Biar saja aku dianggap kampungan.
Makan tuh sosialita!
Lebih baik aku silaturahmi sama ibu-ibu pengajian daripada bersosialisasi sama ibu-ibu pongah-arogan.
**
“Kenapa datang-datang mukanya cerah ceria begitu?” tanya papa yang menyambut kami di depan teras.
Kami memang datang sambil ketawa ketiwi karena kilas balik melihat teman-teman Mama yang melongo mendengarku berkoar-koar tadi di cafe.
Kami berdua ini pernah jadi kaum minoritas di tengah keluarga sendiri. Kami tidak akan jatuh diterjang badai pergaulan toxic. Sudah mati rasa soalnya.
Enak saja mau ngompor-ngompori kami.
Mama menghampiri Papa dan memeluknya.
“Eh? Eh? Ada apa ini?” tanya Papa kebingungan.
Aku hanya cengengesan sambil mencium tangan Papa dan berjalan ke arah kamarku.
Tak lupa mampir di Dapur membuat teh Chamomile agar tidur nyenyak.
Kulihat dari kejauhan, Papa dan Mama duduk berdampingan di depan TV sambil saling mengobrol. Papa mencium dahi Mama setelahnya.
Pernikahan mereka seperti dongeng. Kalau masa tuanya semesra itu, pasti ada kesan sangat mendalam di prosesnya dulu. Bisa jadi perjalanan mereka sangat berat sampai mereka enggan berpisah saat setua ini.
Aku pun dengan riang berjalan menelusuri koridor, lalu aku berhenti di depan kamar Felix.
Kupikir sebentar, mungkin aku tidak akan meneruskan acara ngambek-ku dan bercerita padanya sedikit mengenai hal-hal yang terjadi hari ini.
Jadi kubuka pintu kamarnya, tanpa mengetuk. Biasa, aku membalas kejahilannya.
Dan kudapati dia sedang...
Hm...
salah satu dari mininovel madam yg paling aku suka.. 😍
sesuka itu aq pada karyamu thor