Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Rahasia di Balik Surat
Laila terus memandangi Surya dengan tatapan penuh tanda tanya. Sejak membaca surat milik Arman, raut wajah pria itu berubah drastis. Tatapannya yang semula tenang kini dipenuhi kecemasan.
"Pak... sebenarnya surat itu berisi apa?" tanya Laila pelan.
Surya tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru memasukkan kembali surat itu ke dalam amplop.
"Bukan apa-apa."
Laila menggeleng.
"Tidak mungkin. Wajah Bapak berubah setelah membacanya."
Surya menghela napas panjang.
"Aku belum bisa menjelaskan sekarang."
"Kenapa?"
"Karena aku sendiri harus memastikan semuanya lebih dulu."
Jawaban itu membuat Laila semakin bingung.
Belum sempat ia bertanya lagi, Raka menangis pelan. Laila segera menggendong putranya sambil mengusap punggung kecilnya.
Surya memperhatikan pakaian bayi yang mulai kusam dan gendongan kain yang sudah robek di beberapa bagian.
Dadanya terasa sesak.
Sejak kecil Arman dikenal sebagai anak yang pekerja keras. Ia tak pernah menyangka sahabat kecil yang pernah digendongnya kini meninggalkan seorang istri dan bayi dalam keadaan terlantar.
"Kamu sudah makan?" tanya Surya tiba-tiba.
Laila tersenyum tipis.
"Saya tidak lapar."
Namun suara perutnya justru berbunyi pelan.
Surya tahu perempuan itu sedang berbohong.
"Jangan bohong. Sejak tadi wajahmu pucat."
Laila menunduk malu.
Uang yang dimilikinya bahkan tidak cukup untuk membeli makanan. Ia memilih mengutamakan kebutuhan Raka dibanding dirinya sendiri.
"Ayo ikut saya makan."
Laila kembali menggeleng.
"Saya tidak ingin merepotkan."
"Bukan merepotkan."
Surya berjalan menuju sebuah warung makan sederhana di seberang jalan.
"Aku yang mengundang."
Setelah ragu beberapa saat, Laila akhirnya mengikuti langkah pria itu.
Pemilik warung segera menyajikan semangkuk soto hangat dan segelas teh.
Laila hanya memandang makanan itu.
"Kenapa tidak dimakan?" tanya Surya.
"Kalau saya makan... uangnya nanti bertambah."
Surya tersenyum getir.
"Kamu tidak perlu membayar."
Air mata Laila hampir jatuh.
Sudah beberapa hari tidak ada orang yang memperlakukannya dengan baik.
Dengan tangan gemetar, ia mulai menyuapkan beberapa sendok makanan.
Sementara itu, Surya menggendong Raka yang kembali tertidur.
Tatapannya tak lepas dari wajah bayi itu.
"Sangat mirip..." gumamnya.
Laila mendongak.
"Mirip siapa?"
Surya tersenyum kecil.
"Arman saat masih bayi."
Laila ikut tersenyum untuk pertama kalinya sejak suaminya meninggal.
Namun senyum itu tidak bertahan lama.
Ponsel Surya berdering.
Ia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?"
Wajahnya kembali berubah serius.
"Apa? Kalian sudah menemukannya?"
Suara di seberang terdengar terburu-buru.
"Iya, Pak. Tapi ada yang aneh. Mobil Pak Arman ternyata sengaja dirusak sebelum kecelakaan."
Surya mengepalkan tangannya.
"Jangan lakukan apa pun sebelum aku datang."
Sambungan telepon terputus.
Laila yang mendengar sebagian pembicaraan itu langsung berdiri.
"Pak... maksudnya apa? Bukannya suami saya kecelakaan?"
Surya menatap Laila beberapa detik.
Ia sadar perempuan itu berhak mengetahui sebagian kebenaran.
"Aku mulai curiga..."
"Curiga apa?"
"Kematian Arman bukan kecelakaan biasa."
Deg!
Tubuh Laila langsung melemas.
Ia menggeleng berkali-kali.
"Tidak... tidak mungkin."
"Aku belum punya bukti yang cukup. Tapi kalau dugaan ini benar, berarti ada seseorang yang sengaja menghilangkan nyawa Arman."
Laila memeluk Raka erat hingga bayi itu terbangun dan menangis.
Air matanya mengalir tanpa bisa dihentikan.
Jika benar suaminya dibunuh...
Berarti orang yang sama bisa saja mengincar dirinya dan Raka.
Sementara itu, dari dalam sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari warung, seorang pria bertopi menatap mereka tajam.
Ia mengangkat ponselnya.
"Bos... perempuan itu sudah ditemukan."
Suara dingin terdengar dari seberang telepon.
"Jangan sampai bayi itu hidup terlalu lama."
Pria bertopi itu tersenyum tipis.
"Baik, Bos."
Tatapannya kembali mengarah pada Raka yang berada dalam pelukan ibunya.
Tanpa disadari Laila, bahaya kini mulai mengintai setiap langkahnya.
Bersambung...