Menikah bersama pria yang kita cintai merupakan impian bagi banyak orang. Namun apa jadinya jika pernikahan tersebut tidak seperti yang kita impikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelamatkan Bayinya
Kala tak kunjung berhenti menangis. Tubuh nya sangat lemas. Kehilangan seseorang yang begitu cintai teramat menyakitkan dan ia sangat terpukul dengan kepergian Dinar. Ketakutan terbesarnya selama ini terjadi.
Nyonya Rose terus mengusapi punggung putranya. Jujur, beliau pun sangat terkejut begitu di beri kabar jika Dinar sudah tidak ada. Beruntung Kala dengan cepat membawa jasad istrinya ke rumah sakit, untuk menyelamatkan bayi dalam kandungan Dinar. Ia terus berdo'a dan berharap jika bayinya bisa di selamatkan.
Kala, nyonya Rose, dan tuan Azof duduk menunggu di deretan kursi besi rumah sakit guna menunggu kabar dari Dokter, apakah bayinya masih bisa di selamatkan atau tidak. Kata Dokter, Kala tepat waktu membawa Dinar ke rumah sakit. Sebab jika sedikit lagi saja terlambat, maka bayinya tidak bisa di selamatkan. Dan itu artinya, masih ada harapan bayinya selamat. Dokter dan pihak rumah sakit segera mengeluarkan bayi nya dari dalam perut Dinar.
"Ma, Dinar, ma," ucap Kala di antara isak tangisnya.
Nyonya Rose memberi bahunya untuk sandaran sang putra. Dan membiarkan Kala menangis dalam pelukannya.
"Mama tahu ini sangat berat, tapi kita harus ikhlas dan sabar. Mama juga masih tidak menyangka kalau Dinar sudah pergi meninggalkan kita."
Air mata nyonya Rose pun tak berhenti mengalir, hanya saja ia berusaha untuk menguatkan putranya.
Setelah satu jam lamanya, mereka mendengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan. Kala mengangkat kepalanya dari bahu sang mama dan mengusap air mata di pipinya.
"Ma, itu suara bayi. Artinya anak aku .." Kala menggantung kalimatnya lantaran tidak sanggup untuk mengatakannya.
Nyonya Rose mengangguk. Air mata Kala kembali mengalir, tangis duka dan bahagia kini bercampur menjadi satu. Nyonya Rose dan tuan Azof yang berdiri di dekat pintu ruangan mengucapkan rasa syukur lantaran cucu mereka selamat. Di satu sisi mereka bahagia, namun di sisi lain mereka harus menerima kenyataan jika Dinar meninggal.
Kala menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut, suster sudah berusaha menahan dirinya untuk tidak masuk terlebih dahulu. Tapi kedua suster itu kena marah Kala, dan akhirnya mereka pun mengizinkan masuk.
Kala melihat bayinya di gendong oleh Dokter sudah dalam keadaan di bersihkan. Dokter itu meminta dirinya untuk mendekat.
"Selamat ya, pak. Anaknya selamat, jenis kelamin nya perempuan. Cantik," puji Dokter.
Dokter pun memberikan bayi tersebut pada Kala, dengan tangan gemetar Kala mengambil alih bayi tersebut. Tangisnya kembali pecah begitu melihat wajah bayi yang selama ini mereka nantikan. Kala peluk bayi itu dengan uraian air mata. Bayi yang seharusnya menjadi anak yang lahir dengan bahagia, justru malah terlahir dan akan tumbuh tanpa sosok ibunya.
"Hati-hati, pak," ujar Dokter mengingatkan.
Kala mencoba menghentikan tangisnya, akan tetapi sulit. Seolah air mata itu tak mau berhenti mengalir. Suasana duka yang masih mengental membuat dirinya sulit mengendalikan diri sendiri.
Kala tatap tubuh yang terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit dengan selimut putih yang menutupi sekujur tubuhnya. Kedua suster itu akan segera membawa jasad Dinar untuk di bersihkan. Akan tetapi Kala meminta waktu sebentar pada mereka. Dan mereka memberi waktu sepuluh menit saja.
Kala berdiri di samping jasad Dinar. Ia berusaha untuk kuat dan tegar. Tangan yang gemetar membuka selimut yang menutupi wajah cantik istrinya. Dan tangisnya kembali pecah melihat wajah istrinya yang putih pucat karena sudah jadi mayat.
"Sayang .." ucap Kala lirih dengan suara yang bergetar hebat menahan tangis.
"Sayang, ini anak kita, sayang .." ucap pria itu lagi seraya berusaha mengontrol napasnya yang sedikit tersengal akibat isak tangis.
"Anak kita sudah lahir, sayang .."
"Lihat! Anak kita perempuan. Cantik. Sama seperti kamu ibunya."
Kala mengatur napasnya lagi.
"Kamu sudah berjanji kan, bahwa kita akan sama-sama apapun yang terjadi. Tapi kenapa kamu pergi sebelum melihat wajah anak kita, sayang .."
"Aku mau kita terus bersama-sama. Aku belum bisa menerima semua ini. Aku masih belum siap kehilanganmu."
Kala menahan dirinya untuk tidak menangis. Ia mengambil tangan Dinar, lalu meletakkan tangan bayinya ke atas telapak tangan istrinya.
"Sayang .. Ini anak kita."
"Nak, ini ibumu, sayang .."
Begitu tangan bayinya di letakan di atas telapak tangan ibunya, Kala melihat bayinya tersenyum seperti bahagia. Ia pun tak kuasa menahan tangisnya. Bayinya pasti begitu membutuhkan Dinar sebagai ibunya.
_Bersambung_