Di dunia bernama Proelium ini tidak ada yang namanya uang, kedamaian, ataupun cinta. Yang terdapat disini hanyalah pertarungan, kematian, dan juga kesengsaraan. Orang orang di dunia ini hidup dengan cara membunuh orang yang lemah kemudian mencuri apa saja yang mereka punya. Tidak ada yang namanya penjara atau penjaga keamanan di dunia ini.
Di dunia ini, yang haus akan darah menjadi semakin kuat layaknya seorang dewa, sementara yang lemah hanya akan menjadi batu pijakan bagi mereka yang haus akan pertarungan.
Keres Sanguis adalah seorang petarung wanita yang telah mencapai puncak tertinggi dengan cara membunuh semua orang yang dia temui. Namun pada akhirnya, dia tidak memiliki tujuan apapun selain terus bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Apa yang diinginkannya sekarang adalah berubah menjadi orang yang lebih baik dengan cara meninggalkan dosa masa lalunya, sekaligus menjatuhkan kekuasaan yang telah menciptakan sistem keji di dunia ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lowdod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Follow the Dragon Trace
Jika diingat-ingat lagi, itu semua sudah berlalu sejak lama. Sebuah masa lalu yang telah hilang dari katalog memori otaknya.
Saat itu, Aerius masih berumur 8 tahun, ketika Ferre dan Elizabeth memperkenalkan Keres kepadanya. Keres terlihat seperti seorang gadis yang lemah dan pemalu, tidak dapat melakukan apa-apa sama seperti dirinya sendiri. Setidaknya, gadis itu masih bisa berdiri dan berjalan dengan normal, tidak seperti dirinya, yang untuk mengangkat tubuhnya dari atas kasur saja pun sudah tidak bisa sama sekali.
Hari pertama sejak Keres masuk dan bergabung dengan Scavenger, Aerius mengetahui bahwa Keres sebenarnya memiliki sebuah kekuatan tersembunyi di dalam dirinya. Sebuah kekuatan, yang mampu mengubahkan dunia ini menjadi jauh lebih baik untuk selamanya. Aerius terus mengamati gadis kecil berumur 4 tahun itu dari dalam kamarnya, bahkan saat gadis itu sudah sangat jauh dari pandangan netra nya. Berbeda dengan Keres dan yang lainnya yang dapat berjalan keluar menggunakan kedua kaki mereka, Aerius tidak bisa melakukan apa-apa, hanya terkurung di dalam kamarnya bagaikan seekor burung kecil yang hidup di balik sangkarnya.
Setiap harinya, Aerius hanya menghabiskan waktunya dengan batuk dan muntah darah, juga terkadang, ia membaca beberapa buku yang selalu saja sama, jika buku-buku itu diletakkan di dekat jangkauan tangannya. Hanya jendela dan buku-buku kuno itulah yang dapat menghubungkan dirinya dengan dunia luar. Jendela kamarnya bagaikan mata barunya, sementara bukunya bagaikan dua kaki barunya, yang menuntunnya selalu bahkan hingga ke ujung dunia.
Hari-hari terus berlalu, dan tak terasa bahwa dirinya sudah sangat jarang melihat Keres lagi memasuki kamarnya. Lebih dari lima belas hari lebih tepatnya. Ketika ia menanyakan Ferre dan Elizabeth kemana Keres pergi, keduanya hanya menjawab :
“Dia pergi bersama Vir. Sudah pacaran sejak dini kayaknya......”
Itu mungkin terdengar seperti sebuah lelucon yang dapat membuat mulut seseorang terbuka lebar sambil tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi satu ruangan, namun itu tidak berlaku pada Aerius, yang justru murung saat mendengarnya. Dengan sebuah kekuatan luar biasa yang muncul entah dari mana, Aerius secara mengejutkan dapat mengangkat tubuhnya untuk terduduk di atas kasurnya, sambil menarik tangan kiri Ferre seolah sedang memohon-mohon kepadanya.
“Dengarkan aku, Ferre !! Gadis itu........ Jaga dia baik-baik......... Aku punya perasaan, kalau dia punya kekuatan yang bisa mengubah dunia ini, selamanya !!”
“Hah ?? Apa-apaan tuh !? Jangan mimpi, bodoh !! Dia itu cuma orang biasa, sama kayak kita, tahu !! Tidur lagi sana ! Bisa-bisa, tulang punggung mu patah, lagi !!”
Itulah yang dikatakan oleh Ferre, yang hanya 1 tahun lebih muda darinya. Jangan mimpi ?? Apakah itu sebuah bentuk ekspresi kepedulian, atau justru sebuah hinaan malahan ?
Pada akhirnya, Aerius hanya kembali kepada aktivitasnya seperti biasa, berbaring di atas kasur sambil menunggu sampai seluruh siksaan yang di bawa oleh tubuhnya itu menghilang dari dalam tubuhnya. Mungkin memang benar, bahwa yang terkurung tidak pernah memiliki hak untuk bermimpi.
Apa salahnya untuk bermimpi ?? Apa salahnya........ Untuk mengharapkan sesuatu yang mungkin, terjadi ??
Suatu hari, Elizabeth datang ke kamarnya, membawakannya beberapa tumpuk buku yang dipilihnya secara acak. Mereka berdua sempat berbincang-bincang, namun itu hanya berlangsung secara singkat saja. Seolah Elizabeth tidak ingin berbicara lama-lama dengannya, yang selalu terkurung di dalam sangkar ini. Kamarnya sunyi, selalu sama seperti biasanya. Aerius, yang merasa bosan, pada akhirnya mengulurkan tangannya untuk meraih buku apa saja yang pertama kali tertangkap oleh genggaman tangannya. Dengan keterbatasannya yang luar biasa, Aerius telah menjatuhkan banyak buku berkali-kali, sampai akhirnya ia mendapatkan kendali penuh atas tangannya sendiri, yang membuat tangannya mengambil sebuah buku bergambar tentang pahlawan dan sang naga.
Di dalam buku itu, dikatakan bahwa sang pahlawan terbang di angkasa bebas menggunakan kuda suci kesayangannya, Pegasus, untuk mengalahkan sang penguasa kegelapan, sang naga yang bengis dan kejam. Walaupun buku itu sangat tipis dan penuh dengan kerusakan, namun Aerius tetap dapat membaca buku anak-anak itu berulang kali. Bukan karena umurnya yang masih 8 tahun, melainkan karena ia menaruh iri pada pahlawan yang dapat terbang bebas di udara itu. Ia, ingin menjadi seorang yang bebas, sekaligus dapat membawa perubahan bagi seluruh dunia ini.
Kira-kira, kapan aku bisa menjadi seorang pahlawan seperti di buku ini ??
Setahun ? Dua tahun ? Tiga tahun, empat tahun, lima tahun, atau bahkan, selamanya tidak akan pernah ?? Bagaimanapun juga, itu hanyalah sebuah angan-angan belaka bagi seseorang yang menggerakkan tangannya saja sangatlah kesulitan. Ia bagaikan berbaring di bawah tanah, berusaha untuk meraih sesuatu yang tergantung di atas langit sana.
3 hari telah berlalu sejak kedatangan Keres ke Scavenger, dan hari ini adalah kali keduanya Keres akhirnya menjenguk Aerius di dalam kamarnya. Keres malu-malu, masih sama seperti dirinya di hari pertama. Setelah mengintip lewat pintu kamar yang setengah terbuka selama beberapa saat, Keres pun akhirnya masuk ke dalam kamar Aerius. Keres sendirian, tidak ditemani oleh Ferre ataupun Elizabeth. Sepertinya, itu adalah keinginannya pribadi untuk mengunjungi Aerius kembali setelah 18 hari lamanya ia benar-benar tidak mempedulikan tentang keberadaan Aerius di antara para Scavenger.
“Kak....... Aerius ?? Selamat malam.........”
Aerius tidak menjawab. Sudah waktunya bagi dia untuk memuntahkan darah kentalnya dari dalam mulutnya sendiri. Batuk darah Aerius sangatlah keras, sampai-sampai Keres sempat berpikir bahwa seluruh organ dalam Aerius akan ikut keluar bersama dengan darah-darah nya itu. Keres segera berlari mendekati Aerius, namun ia dihentikan oleh Aerius seketika dengan tangan kanannya yang terulur. Aerius saat ini, benar-benar terlihat seperti mayat hidup dibandingkan manusia sungguhan. Keres mengamati Aerius yang masih terbatuk-batuk selama beberapa saat, sebelum akhirnya sebuah pertanyaan yang mengerikan terbesit di dalam benaknya.
“Maafkan aku soal ini, kak........ Tapi, apa yang membuat kak Aerius masih mau terus hidup, dengan keadaan seperti ini ??”
“Gadis umur 4 tahun sepertimu......... Sampai kepikiran tentang pertanyaan yang seperti itu ??”
Aerius menatap Keres dengan tajam, membuatnya merasa sangat bersalah seketika.
“Maaf....... Aku...... Aku benar-benar bersalah...... Aku minta maaf !!”
Entah sudah sampai berapa kali Keres membungkuk hanya untuk meminta maaf kepada Aerius. Keres masih saja terus membungkuk untuk meminta maaf, sampai tiba-tiba, ia dihentikan oleh belaian halus dari Aerius di kepalanya. Keres kemudian mengangkat kepalanya menghadap ke arah Aerius. Tidak ada satupun tanda yang mengatakan bahwa Aerius sedang marah kepadanya saat ini. Justru, Aerius tersenyum lebar kepadanya, tidak seperti yang selalu Keres lihat sebelum-sebelumnya.
“Tidak perlu minta maaf sampai sebegitunya, Keres. Memang, sepertinya aku tidak punya alasan yang jelas untuk tetap hidup di dunia ini, tapi........ Masih ada yang aku inginkan, sesuatu yang ingin aku lakukan di hidup ini. Mungkin, hanya karena mimpi lah yang membuatku masih tetap berusaha untuk tetap bertahan hidup sampai selama ini. Aku........ Mau jadi seorang pahlawan.”
“Itu........ Aku....... Aku juga !! Aku juga mau jadi seorang pahlawan sepertimu, kak Aerius !! Kita pasti bisa mewujudkan itu bersama-sama !!! Kita akan melindungi orang-orang yang lemah, mengalahkan warden yang jahat, dan kita akan mengubah tempat ini jadi jauh lebih baik lagi, bersama-sama !!” seru Keres dengan penuh semangat.
Ucapan Keres itu berhasil membuat Aerius melupakan semua rasa sakit yang dialaminya selama ini, yang menyerang tubuhnya secara perlahan dari dalam. Mungkin ia memang terlihat seperti orang yang sudah tidak punya harapan lagi, namun itu bukan berarti ia juga tidak bisa mempunyai sebuah mimpi. Hanya dengan mimpi itulah, yang membuatnya dapat bertahan hidup sampai selama ini. Dalam hidupnya, ia memang seperti seekor burung kecil yang terkurung di dalam sangkarnya. Namun di dalam fantasinya yang penuh dengan imajinasi liar, dirinya adalah seorang pahlawan yang terbang bebas bersama dengan kuda suci miliknya, Pegasus, untuk mengalahkan kekuatan kegelapan yang menguasai dunia.
Melihat senyuman dan wajah ceria Keres, membuat Aerius akhirnya berpegang teguh pada mimpinya itu sekali lagi. Melihat tubuh kecil Keres yang melompat-lompat kegirangan itu, membuat Aerius menjadi sangat yakin, bahwa Keres memang memiliki kekuatan terpendam di dalam hatinya. Keinginannya untuk menjadi seorang pahlawan yang membawa perubahan bagi dunia yang penuh dengan kekacauan ini. Aerius pun menoleh ke arah Keres kembali, melihat keceriaan Keres yang seolah akan berlangsung untuk selamanya.
Ia ingin terbang, maka ia terbang dengan bebas di atas awan.
Ia ingin menjadi pahlawan, maka ia menggunakan tongkatnya untuk melawan kejahatan.
Namun saat dirinya telah membusuk dari dalam, maka datanglah pahlawan baru yang lainnya.........
Yang akan mengikuti jejaknya di udara.
...****************...
“Sialan, apa-apaan ini !!?”
“Kak Keres, di belakangmu !!”
Pedang Nox menebas tubuh seekor kunang-kunang berwarna hitam kemerahan dengan sangat kuat, membelahnya hingga menjadi dua bagian seketika. Entah sudah berapa lama mereka berdua bertarung melawan para kunang-kunang yang mengerikan itu, namun yang yang pasti, ini semua terjadi tepat setelah Aerius kembali ke dalam wujud manusianya. Mereka berdua saat ini sedang berada di atas sebuah pegunungan tinggi yang bagian bawahnya sudah dipenuhi oleh lautan merah, dan makhluk-makhluk mengerikan yang lainnya terus bermunculan dari dalam sana seolah tidak akan pernah berhenti. Sudah terlalu lama mereka berdua bertarung melawan para makhluk dari laut merah tersebut, hanya untuk melindungi Aerius yang terkapar tak berdaya di belakang mereka, bersandar di dinding batu yang menjulang tinggi ke atas langit. Keres sudah tidak dapat mengayunkan Tonitrui sekuat seperti dulu karena seluruh luka yang ada di tubuhnya, dan Nox sekalipun, sudah kehabisan sihirnya untuk menyerang. Di bawah langit malam yang semakin lama semakin terang ini, keduanya bertarung sampai mati-matian, hanya untuk melindungi seseorang yang tidak lama lagi akan segera meninggal.
Bising yang diciptakan oleh pertarungan mereka berdua akhirnya membangunkan Aerius, yang secara perlahan mulai membuka kedua matanya.
Keres dan adiknya......... Nox ??
Begitu ia terbangun, yang ia lihat hanyalah Keres yang memaksa seluruh tubuhnya untuk bertarung bersama Nox, melawan makhluk-makhluk mengerikan yang muncul dari dalam laut merah itu. Seluruh rasa sakit yang pernah ia rasakan sejak kecil dulu, kini kembali untuk menyerangnya lagi. Meskipun begitu, Aerius tidak berteriak kesakitan sama sekali. Ia, sudah sangat terbiasa dengan rasa sakitnya ini.
Akhirnya, mereka datang juga........ Sudah saatnya mengalahkan kekuatan jahat si naga itu dengan pedang pahlawanku. Tidak, maksudku tongkat pahlawan milik ku.
Aerius mengambil tongkat panjangnya, kemudian menggunakannya sebagai penyangga untuk membantu dirinya bangkit berdiri. Sungguh sebuah 15 detik yang sangat menyakitkan untuk tubuhnya hanya karena ingin berdiri, namun setidaknya Aerius telah berhasil untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah bisa ia lakukan dulu. Aerius berjalan secara perlahan dengan bantuan tongkatnya, semakin lama semakin mendekati Keres dan Nox yang masih disibukkan dengan para makhluk laut merah tersebut. Pada akhirnya, Keres dan Nox harus menyerah dan jatuh ke tanah karena kelelahan dan luka mereka yang begitu banyak. Dan di saat itulah, Keres melihat Aerius yang berjalan melewatinya, berdiri di depannya sebagai seorang pahlawan.
“Aerius ??”
Aerius menoleh ke arah Keres sebentar, kemudian melepaskan senyumannya kepada Keres. Senyuman yang sama, saat Keres mendatangi kamar pribadinya saat ia masih berumur 4 tahun itu.
“Tenang saja, aku akan mengakhiri ini semua, dengan segera.” ucap Aerius dengan lirih, kemudian menghadap ke arah laut merah itu kembali.
Aerius kemudian mengangkat tongkatnya setinggi mungkin yang dia bisa, seketika mengeluarkan ledakan petir yang dahsyat secara terus-menerus dari ujung tongkat itu. Ledakan petir tersebut terasa sangat berat di kedua tangannya, namun ia tetap berusaha untuk menahan seluruh beban itu dengan keseluruhan dari tubuhnya. Keres yang melihat sambaran petir dari tongkat Aerius itu akhirnya sadar, bahwa selama ini, Aerius menciptakan ledakan petir tersebut, untuk menyelamatkan semua orang yang mengembara di padang gurun ini dari makhluk-makhluk misterius dan serangan laut merah tersebut. Sebuah panggilan dari sang pahlawan kepada lawannya, untuk menyerang dirinya sendiri supaya yang lain tidak akan terluka karena serangan mereka. Aerius, membiarkan ribuan panah itu menghujani dirinya, supaya hanya dirinya lah yang gugur di medan peperangan, sementara yang lainnya dapat hidup tenang. Aerius, tidak akan pernah tertidur, dan akan terus melawan, sampai kekuatan jahat sang naga itu benar-benar menghilang dari muka bumi ini. Dialah, sang ksatria dalam baju perang berkilauan yang sesungguhnya, seorang pahlawan sejati. Mimpinya, benar-benar telah terwujud saat ini. Untuk terbang bebas di udara, dan menjadi sang pahlawan penegak kebenaran.
“MENGHILANG LAH DARI SINI, WARDEN SIALAN !!!!” seru Aerius sambil memperkuat sambaran petirnya.
Vir membuat tongkat ini hanya karena dia mau membantu mewujudkan dengan mimpi mu itu. Berhenti menyusahkan orang lain, Aerius.
Perkataan itu adalah salah. Yang terkurung tidak memiliki hak untuk bermimpi, itu adalah salah. Hanya karena seseorang tidak memiliki kemampuan apa-apa, bukan berarti dia juga tidak boleh untuk memimpikan sesuatu yang bisa ia lakukan di dunia fantasinya. Setidaknya, satu mimpi yang tak tergapai itulah, yang akan membuat seseorang yang tidak mampu, memiliki sebuah fondasi untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Walaupun Ferre dan Elizabeth terlihat selalu membenci dirinya dan jijik kepadanya, pada kenyataannya mereka lah yang paling peduli kepadanya. Keduanya tidak ingin dirinya berpikir terlalu keras tentang yang mereka hadapi selama ini, dan terus beristirahat dari penyakitnya itu. Terkadang, untuk melindungi seseorang dari bahaya dunia luar, seseorang itu harus dikurung di dalam sebuah sangkar, agar mereka yang menyayanginya, dapat selalu melindunginya.
Terima kasih, semuanya.
Aerius mengingat semua yang pernah dia alami di dalam hidupnya. Seluruh ingatan itu bagaikan amukan ombak laut yang menderu tanpa henti, dan ini, adalah saatnya bagi dia untuk menghentikan amukan ombak tersebut. Aerius menghantamkan sambaran petir dahsyat dari tongkatnya itu ke laut merah yang ada di bawah bukit berbatu itu, dengan seketika menghancurkan seluruh makhluk kunang-kunang dan ikan terbang yang ada di permukaan laut merah tersebut. Ledakannya sangatlah kuat, bahkan hingga sampai membelah kegelapan dari langit malam. Cahaya matahari yang baru terpancar dari atas langit, menjadi tanda datangnya hari yang baru. Keres dan Nox sempat dibutakan oleh cahaya yang sangat terang tersebut selama beberapa saat, sebelum akhirnya mereka berdua dihadapkan oleh pemandangan yang familiar kembali.
Keres hanya dapat melihat sebuah padang pasir yang gersang, penuh dengan hamparan pasir yang luas. Beberapa sisa dari laut merah tersebut secara perlahan terserap ke dalam tanah, dan pada akhirnya menghilang sepenuhnya seakan tidak pernah ada sebelumnya. Tepat di depannya, adalah Aerius yang setengah membungkuk sambil bernafas terengah-engah karena kelelahan.
“Aerius, kamu tidak apa-apa !?” seru Keres dari belakang sana.
Aerius tidak menjawab, bahkan setelah beberapa saat telah berlalu. Keres dapat merasakan bahwa sesuatu yang buruk tengah terjadi kepadanya, membuatnya mengambil langkah perlahan ke arah Aerius yang masih berdiri membungkuk itu. Saat dirinya semakin dekat dengan Aerius, Keres akhirnya dapat mendengar beberapa suara batuk darah darinya, Aerius seperti biasa.
“Aerius, kamu tidak apa-apa ??”
Keres mengulang pertanyaan itu beberapa kali, sebelum akhirnya, Aerius hampir terjatuh bebas ke bawah dari bukit berbatu itu. Untungnya, Keres segera berlari ke arah Aerius, menahan tangan kanannya yang memegang tongkatnya untuk mencegah Aerius terjun bebas dari atas sana.
“....... Kamu....... Terluka parah, Keres.”
“Yah, kamu juga sama, Aerius.”
Aerius sempat terkekeh kecil, sebelum akhirnya Keres membantunya untuk berjalan menjauh dari tepian bukit tersebut, menuju ke arah sebuah batu kecil dengan Nox ada di samping kirinya.
“Keres, sepertinya hidupku tidak akan lama lagi.”
“Hah !?”
Keres langsung menoleh kaget ke arah Aerius setelah ia mengucapkan kalimat itu. Keres menatap wajah Aerius dengan tatapan yang terkejut, juga sebuah perasaan sedih yang muncul secara tiba-tiba.
“Tenang saja. Masih ada sedikit waktu sebelum tubuhku hancur karena racun ular raksasa itu.”
Keres mengangguk dengan pilu, mengingat bahwa saat inilah saat terakhirnya bisa berbincang bincang dengan Aerius, yang sudah menganggapnya seperti adik sendiri itu. Keres kemudian membantu Aerius duduk di atas batu kecil tersebut, setelah itu menatap ke arah adiknya, seolah berkata kepadanya untuk meninggalkan dirinya sendirian dengan Aerius selama beberapa saat. Dan dengan mudahnya, Nox langsung memahami bahasa isyarat itu seketika, berjalan menjauh dari Keres dan Aerius beberapa meter darinya. Keduanya hening selama beberapa saat, saling mendiamkan karena tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan setelah sekian lama tidak bertemu satu sama lain selama ini. Keres mendongak ke atas, mengamati sang matahari yang telah menggantikan cahaya remang bulan. Itu, adalah pemandangan yang sama saat dirinya akhirnya ditinggalkan oleh Ferrum, untuk selamanya.
“Selamat datang kembali di rumah lama kita, Keres.” ucap Aerius dengan suara serak.
“Hei, kira-kira, sudah berapa lama kamu ada di gurun ini ?? Dan....... Kenapa ??”
Aerius menghela nafasnya kasar, kemudian menoleh ke arah bayang-bayang Grandbeltz yang ada jauh di sana, di arah barat laut.
“Kamu lihat itu, Keres ? Bayang-bayang kota yang ada jauh di sana ?? Itu awalnya adalah sebuah surga satu-satunya yang ada di dunia ini. Dan itu, akhirnya roboh begitu saja setelah tiga tahun berdiri tegak di antara neraka dunia ini. Begitulah kira-kira kenapa aku ada di sini sampai sekarang.”
“Yah, sebenarnya...... Itu adalah tujuan awal ku berjalan di padang gurun sialan ini selama lebih dari lima belas hari, bersama-sama dengan beberapa dari temanku....... Yang sudah berpisah sekarang ini.”
Mendengar kata 'berpisah' dari Keres, membuat Aerius teringat kembali keadaan Revolucio setelah serangan para warden dan makhluk-makhluk aneh berbentuk hewan itu terhadap kota Grandbeltz. Mereka semua saling mendiamkan satu sama lain, tidak peduli sama sekali dengan apa yang teman mereka alami. Pertengkaran dan penuh dengan konflik, adalah keseharian mereka di dalam kota mati tersebut. Banyak perubahan yang terjadi di antara mereka, bahkan perubahan yang sekecil debu yang melayang-layang di udara itu.
Bagaimana cara dirinya menyatukan kembali Ferre dan Vir yang sudah bagaikan api dan air itu ?
“Berpisah, huh ? Kami Revolucio juga pernah mengalami hal itu. Aku sudah tidak tahu itu terjadi sejak kapan, tapi....... Itu semua datang dengan cara yang sangat tiba-tiba.”
“Itu juga menimpa ku secara tiba-tiba, Aerius. Apa itu sebenarnya hanyalah kebetulan, atau memang selalu seperti itu selama ini ??”
“Entahlah, dunia ini selalu saja penuh dengan misteri. Keres, kamu ingat dengan cerita si pahlawan dan sang naga itu ? Mereka berpisah, dan sang pahlawan, memutuskan untuk menyerang sang naga sendirian. Tapi bukan karena kekuatan pahlawan itu sendiri yang mengalahkan sang naga, melainkan berkat bantuan dari teman-temannya, dan Pegasus peliharaannya. Keres, kalau kamu memang mau mengubah dunia ini dari wujud neraka nya, maka kamu harus menghadapi sang naga itu bukan dengan kekuatan mu sendiri saja, tapi juga dengan teman-temanmu itu. Surga yang telah hancur di sana, bukan berarti kita tidak akan bisa mewujudkan sebuah surga di dunia ini, tapi itu adalah pertanda, bahwa kita semua bisa membangun sebuah surga yang jauh lebih besar lagi daripada yang awal itu. Kita...... Bisa melakukannya bersama-sama.”
“Ah, surga yang hancur...... Dan si naga penguasa kegelapan itu, huh ??”
Keres menoleh ke Aerius, yang tubuhnya kini mulai berubah menjadi debu secara perlahan. Ini adalah akhirnya, akhir bagi sang naga yang duduk di atas singgasana kegelapannya. Aerius kemudian membalas balik tatapan Keres itu, sebagai sebuah salam perpisahan karena waktunya sudah tidak akan lama lagi.
“Kamu hanya perlu mengikuti jejak burung tua yang sudah mati itu, dan kamu....... Tidak, kalian semua, akan sampai di tempat sama yang sudah dicapai oleh burung tua itu. Hanya saja, jauh lebih baik daripada yang awal.”
“Jadi begitu. Sepertinya aku sudah paham sekarang. Terima kasih, kamu adalah pahlawan yang hebat, Aerius.”
“(Sigh) Sepertinya........ Mimpi yang ada di atas langit itu....... Tidak pernah sejauh yang ku kira selama ini........”
Dan Aerius pun akhirnya menghilang menjadi debu, tepat di hadapan Keres yang sedang berlinang air mata itu. Nox hanya mendengarkan semua percakapan mereka di pojokan sampai semuanya selesai, dan kemudian berjalan menghampiri Keres yang masih terisak-isak.
“Aku bahkan tidak tahu kalau kamu masih bisa cengeng bahkan sampai sekarang, kak Keres.”
“(Sigh) Sialan, aku harusnya sudah terbiasa dengan yang namanya kehilangan, tahu. Entah kenapa ini terjadi begitu saja.”
“Jangan banyak alasan, kak. Omong-omong, aku juga akan meninggalkanmu di sini. Ada urusan di Tenebris.”
“Kamu juga ?? Apa ini akan berlangsung untuk selamanya pula ??”
Nox sudah berbalik saat Keres melontarkan pertanyaan itu, baru saja melangkahkan kaki kanannya ke depan sebelum akhirnya berhenti kembali. Entah siapa Aerius itu sebenarnya bagi dia, namun Nox merasa kalau yang dikatakan oleh Aerius itu memang benar adanya. Ia menghela nafas kasar, kemudian melambaikan tangannya sambil berjalan pergi, mulai menjauh dari pandangan Keres.
“Kamu harusnya mencari teman-temanmu yang berpisah itu saja, kak. Lagipula, kamu bisa menemukanku kalau kamu mengikuti jejak burung tua yang ada di udara itu.”
Keres terdiam sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk merelakan dan melepas pergi Nox dari hadapannya, dari sisinya.
“Hati-hati di sana, Nox.”
“Hmph, tentu saja.”
Virginis, Constantes, dan Poppy........ Aku jadi teringat kembali dengan mereka.
Dan Keres pun akhirnya sendirian lagi.
...****************...
Keres berjalan hanya seorang diri di tengah padang gurun berpasir itu, sedang menuju ke arah bayang-bayang kota yang semakin lama terlihat semakin dekat. Inilah yang selalu dicarinya sejak dulu, sebuah tempat tanpa ada kekerasan dan kematian yang tragis. Tidak ada pertumpahan darah dan kekacauan di setiap harinya. Namun sayang, surga yang selalu didambakannya itu ternyata telah hancur, tak berpenghuni lagi. Apa yang bisa dilakukannya untuk membangun kembali surga itu, jika ia hanya seorang diri saja di sini ?
Begitu ia menanyakan pertanyaan tersebut kepada dirinya sendiri, ia seketika teringat kembali dengan ketiga temannya. Virginis, Constantes, dan Poppy si cyborg ciptaannya. Hanya dengan harapan kosong bahwa ia akan menemukan dua teman dan cyborg ciptaannya itu di belakang sana, Keres pun menoleh ke arah kejauhan. Dunia memang selalu memiliki banyak kejutan yang tidak pernah terduga. Bayang-bayang orang yang terkesan familiar baginya terlihat di belakang sana, namun hanya ada satu saja yang sangat menarik perhatiannya. Sebuah bayangan dari seorang gadis kecil yang berjalan di tengah.
“Poppy....... Poppy !!”
Keres berlari dengan cepat sambil berteriak-teriak seperti orang gila. Seluruh luka bakar yang ada di tubuhnya sudah tidak terasa lagi, bahkan saat seluruh tubuhnya di sengat oleh panasnya matahari secara terus-menerus. Setelah terus berlari entah selama apa, Keres, akhirnya dapat melihat wajah Poppy dengan jelas kembali. Wajah Poppy telah rusak parah, dan bagian paling mencoloknya adalah kedua matanya yang terlihat seperti sudah tidak dapat berfungsi kembali. Di samping Poppy adalah Virginis, Constantes, Puella, dan satu wanita yang tidak dikenalnya sama sekali. Keres tidak terlalu memperdulikan siapa wanita misterius itu, namun yang pasti, kalau wanita itu ada bersama dengan mereka, pastinya dia adalah teman baru mereka. Dan tidak lama lagi akan menjadi teman barunya juga.
Tanpa menunggu waktu lama, Keres langsung melesat seperti seekor elang mendapatkan mangsanya, memeluk Poppy seketika. Tatapan mata Virginis dan Constantes yang terkejut itu tidak dihiraukan sama sekali olehnya. Yang paling penting di sini adalah ia dapat bertemu kembali dengan cyborg satu-satunya yang ia ciptakan dengan sepenuh hati, juga meminta maaf kepadanya.
“Nona Keres....... Ini adalah anda ??”
“Tentu saja, ini aku........ Maafkan aku, Poppy...... Aku tidak akan pernah melakukan yang seperti itu lagi........”
Keres seketika menangis dalam pelukannya sendiri, dan Poppy dapat mengetahui itu dengan jelas. Setelah mengetahui semua yang tuannya itu butuhkan selama ini, Poppy akhirnya menyesal, telah mengatakan hal yang buruk kepada tuannya sendiri. Poppy, akhirnya terbebas dari kurungan algoritma komputernya, membuatnya dapat merasakan sebuah 'perasaan' yang muncul entah dari mana.
“Nona Keres, tidak akan meninggalkan Poppy, bukan ??”
“Aku....... Tidak akan pernah meninggalkanmu, Poppy.”
Perkataan yang sama terucap kembali dari mulut tuannya. Rasa sayang kepada ciptaannya sendiri itu bukanlah sebuah omong kosong belaka, melainkan sebuah perasaan yang benar-benar nyata. Tidak peduli jika itu tidak dapat dipahami oleh orang lain, karena Keres memang tidak perlu menjelaskan perasaan ini kepada yang lainnya. Kehilangan adalah sesuatu yang sudah biasa untuk dirinya, jadi ia ingin bersama dengan seseorang yang akan bertahan untuk selamanya, tidak akan pernah menghilang dari pelukannya.
“Oi, omong-omong nih, napa kita ga lanjut ke kota itu aja sekarang !?”
Virginis menginterupsi, selalu begitu seperti biasanya. Keres menatap tajam ke arah Virginis setelah mengusap beberapa dari air matanya, seolah mengatakan bahwa ia akan membunuhnya setelah ini. Tidak ada yang berubah di antara mereka, nampaknya. Semua masalah yang memisahkan mereka berempat itu, hanyalah panggilan sang naga untuk membuat mereka menjadi lebih kuat lagi daripada yang sebelumnya. Kini lihatlah, karena mereka semua telah kembali lagi, begitu juga dengan seluruh keunikan mereka itu.
Keres akhirnya melepas pelukannya dari Poppy, kemudian menoleh kembali ke arah kota Grandbeltz yang ada di depan sana, tepat di hadapan mata mereka. Revolucio yang lama memang telah hilang di dalam kota itu, namun bukan berarti jejak mereka berakhir begitu saja di dunia ini. Burung muda itulah yang akan menggantikan mereka, dengan mengikuti jejak mereka yang ditinggalkan di atas udara. Kini, adalah giliran bagi sang burung muda untuk menggapai mimpinya yang tergantung di atas langit sana. Walaupun itu jauh, namun mereka akan mendapatkannya dengan mudah.
Karena jejak yang mereka ikuti, adalah jejak sang naga, sang pahlawan sejati yang sudah tua, yang telah mengalami segalanya.