NovelToon NovelToon
Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Hartamu Menghancurkan Keluargaku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: L'fere

Biru Nawangsari Putri, gadis ceria dan lembut berubah drastis setelah calon suaminya berselingkuh dengan Raya dan memukulinya hingga ia keguguran. Beberapa tahun kemudian, Biru kembali ke Indonesia. Sayangnya rumah keluarga telah dijual Pamannya pada Sora Kinomoto, duda beranak satu berdarah campuran Jepang Indonesia. Biru meminta bertemu untuk menawar kembali rumah keluarganya. Saat itulah anak Sora, Ichigo, langsung menyukai Biru dan menginginkan Biru menjadi Mamanya. Karena sangat menyayangi Ichigo, Sora menawarkan kontrak pernikahan palsu selama satu tahun. Biru menyetujui kontrak setelah tahu kalau Raya adalah adik Sora. Namun sebuah peristiwa mengubah pernikahan palsu itu menjadi pernikahan yang sesungguhnya.
Apakah cinta akan tumbuh di hati mereka berdua? Sedangkan Sora sudah memiliki kekasih.
Bagaimana Biru akan menjalani kehidupannya setelah tahu kematian kedua orang tuanya berhubungan dengan perebutan harta di tengah keluarga Kinomoto?

Ikuti terus ceritanya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L'fere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 32

Biru melepas Arya dengan berat hati. Ia masih ingin berlama-lama dengan Sang Kakak. Namun ia sadar, kepergian Arya kali ini untuk mendalami pengakuan Ramdan. Ia memasang senyum manisnya sampai pintu lift tertutup. Tidak ada yang mengantar Arya dan Jimmy ke bandara. Demi keselamatan mereka semua, Arya melarang untuk ikut ke bandara.

"Ayo, kita juga harus pulang. Nenek mencari." Ajak Sora pada Natsuki dan Biru.

Biru mengangguk dan menatap Farah. "Farah, apakah kita bisa pulang sekarang?"

Farah terkejut karena Sang majikan meminta pendapatnya. "Bi ... bisa Nyonya."

"Bagaimana kondisimu?" Tanya Natsuki pada Farah.

"Saya sudah baik-baik saja, Nona. Maaf sudah merepotkan." Jawab Farah dengan menunduk.

"Harusnya kami yang meminta maaf karena sudah membuatmu ketakutan. Dan terima kasih sudah menjaga Ichigo." Sora berujar.

Farah tersenyum simpul. "Sudah tugas saya, Tuan."

Sejatinya, saat mengetahui akan menjaga putri seorang konglomerat, Farah sudah bisa memprediksi akan ada kejadian mengerikan seperti kemarin. Resiko dari keluarga kaya, seperti di film-film yang sering Farah tonton. Namun saat benar-benar mengalami, Farah tidak siap. Suasana tegang dan bayang-bayang kematian telah menghempaskan nyali Farah hingga ke dasar.

Setibanya di kediaman Ichigo, Paman Bem segera melapor kalau Indira hanya mengambil baju dan kemudian pergi lagi. Sora hanya mengucapkan terima kasih, kemudian menyusul Biru ke kamar.

"Mau menemui Nenek?" Tanya Sora ketika melihat Biru menyisir rambut.

"Iya Bang." Jawab Biru sambil menatap Sora melalui kaca.

"Masalah kemarin ... " Sora tampak ragu mengatakannya.

Biru tersenyum manis. "Abang tenang saja, aku tidak akan menceritakannya pada Nenek."

"Terima kasih." Ujar Sora kemudian menunduk dan mengecup pipi Biru.

Pipi Biru merona, hatinya berbunga-bunga dengan perlakuan Sora.

"Makin cantik saja kalau tersipu begitu." Puji Sora terang-terangan.

Kedua alis Biru bertaut. "Salah makan apa Bang?" Tanya Biru, menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.

"Tskkk. Kamu ini, dipuji bukannya senang malah tanya seperti itu." Sambil berkata demikian Sora menarik hidung Biru.

"Ih Abang." Biru memukul tangan Sora dengan pelan.

"Abang ke kantor dulu. Sore baru Abang menyusul ke paviliun."

"Iya Bang."

***

"Biru, ada yang mau Nenek tanyakan. Selama ini lupa terus." Kata Keyko sambil melihat Ichigo dan Farah yang bermain dengan kelinci.

"Ada apa Nek?"

"Nenek tidak sempat membaca berkas keluargamu. Hanya tahu nama Ayahmu adalah Arman. Siapa nama lengkapnya?"

Biru sedikit terkejut, namun tidak ada salahnya Nenek bertanya. Toh, ia dan Sora sudah benar-benar menikah.

"Nama Alm. ayah Arman Putra, kalau Almh. ibu Nawangsari."

Keyko menegakkan punggungnya dan menatap Biru dalam-dalam. "Dan kau memiliki seorang kakak."

"Iya Nek." Biru mengangguk. "Namanya Arya Lesmana Putra."

Keyko terdiam beberapa saat sambil memijat pelipisnya. Ia tampak sedang mengingat-ingat sesuatu. Kemudian Nenek Keyko memutuskan untuk memanggil pelayan kepercayaannya.

"Lun."

"Saya, Nyonya." Jawab Bibi Lun sambil mendekat.

"Tolong ambil kotak berisi surat yang ada di dalam koper coklat kecil milik Jun. Surat dari sahabat pena Jun."

"Baik Nyonya." Bibi Lun segera masuk ke kamar Keyko untuk mengambil barang yang diminta.

"Arman dari Malang." Gumam Keyko lagi.

Biru menatap Keyko dengan rasa ingin tahu. "Ada apa Nek?"

Nenek Keyko menyesap teh miliknya terlebih dulu. "Seingat ku, dulu Jun memiliki sahabat pena yang tinggal di Malang. Pria itu bernama Arman. Mereka sudah menjadi sahabat pena sejak masih duduk di sekolah menengah pertama."

"Benarkah Nek? Karena setahu kami, ayah memang memiliki sahabat pena." Ujar Biru.

Mata Keyko membola. "Kalau begitu, biar kita lihat. Lun sedang mengambil surat-surat mereka."

Tak lama kemudian, Bibi Lun datang sambil membawa sebuah kotak. Di dalamnya terlihat banyak sekali amplop yang warnanya mulai menguning karena termakan usia.

Keyko dan Lun mulai mengeluarkan isi kotak tersebut.

"Nah, ini dia." Keyko menemukan apa yang ia cari. Sebuah foto lama. "Ini Arman, sahabat pena Jun." Ujarnya sambil menyerahkan foto itu pada Biru.

Begitu melihat foto yang diberikan Keyko, Biru terkesiap. "Ini ... ini 'kan ayah." Biru menatap Keyko sejenak kemudian kembali melihat foto di tangannya. "Ini foto ayah waktu masih muda."

Nenek Keyko tersenyum bahagia hingga matanya berkaca-kaca. "Benarkah? Jadi kau adalah putri Arman."

Nenek Keyko segera berdiri dengan cepat, air matanya mulai tumpah. Kemudian Keyko meminta Biru berdiri dan memeluk Biru dengan erat dan hangat.

"Jun ... Jun ... lihatlah, putri Arman menjadi menantumu." Lirih Nenek Keyko disela-sela tangisnya.

Bibi Lun yang melihat itu ikut menangis haru. Ia pernah mendengar dengan telinganya sendiri bagaimana Jun muda begitu antusias menceritakan tentang sahabat penanya kepada Keyko.

Tangis Keyko mulai reda, Biru menuntunnya untuk kembali duduk. Bahkan Biru menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan Nenek.

"Pantas saja, saat mendengar namamu sepertinya tidak asing. Ternyata dari cerita Jun." Nenek Keyko mengusap tangan Biru.

Keyko mulai menceritakan tentang persahabatan Jun dan Arman. Bagaimana mereka begitu sering berkirim surat. Hingga Jun yang benar-benar percaya pada Arman.

"Jun bahkan mengirimkan sertifikat tanah kami yang ada di kaki gunung Arjuno pada Arman."

Kening Biru berkerut. "Kenapa dikirim ke ayah?"

Keyko tersenyum kecut. "Saat itu, Jun merasa ada pengkhianat di dalam keluarga kami dan juga di perusahaan. Oleh sebab itu Jun menyimpan sertifikat di luar rumah."

"Siapa orang itu?"

Keyko menggeleng lemah. "Saat itu, kami belum tahu dengan pasti. Dan Jun meninggal."

Biru terhenyak, ia tidak menyangka akan mengorek luka lama Nenek Keyko.

"Maaf Nek. Biru tidak bermaksud membuat Nenek kembali ingat."

Nenek Keyko menepuk tangan Biru dengan pelan dan tersenyum.

"Tidak apa-apa sayang."

"Kalau begitu, seharusnya sertifikat itu masih ada pada kami." Ucap Biru kemudian.

"Hilang juga tidak apa-apa."

Respon Keyko begitu mengejutkan.

"Kenapa begitu Nek?"

"Tanah itu begitu diincar oleh banyak orang. Karena ada sumber mata air yang diolah menjadi air mineral kemasan. Keuntungan besar yang didapat membuat banyak orang yang mengincar tanah itu." Jelas Nenek Keyko. "Kerjasama jangka panjang dengan perusahaan memberi keuntungan menggiurkan. Dan jika jatuh ke tangan yang salah, maka banyak orang akan terdampak."

"Terdampak bagaimana Nek?"

"Kami memberi bantuan sosial ke masyarakat sekitar dari sebagian keuntungan. Dan juga melestarikan alam dengan berbagai kegiatan penghijauan dan menjaga alam."

Hhhhhhhhh

Terdengar Nenek Keyko menghela nafas kasar saat menjeda penjelasannya. "Ada beberapa rekan kami yang tidak setuju dengan kegiatan itu. Menurut mereka, akan mengurangi keuntungan. Tapi Jun tidak mau mendengarkan. Aku juga mendukung keputusan Jun."

Biru mengamati raut wajah Keyko dengan seksama. Terlihat jelas wajah tuanya menahan sakit saat mengenang mendiang sang putra.

Biru beralih ke belakang Keyko dan memeluk wanita itu dari belakang dengan penuh rasa sayang.

...****************...

1
Erna Ridwan
kapan update lagi min.... ceritanya bagus banget
Nadja 🎀
biru buta bgt pdhl bukan salah Sora.. kakaknya tahu itu. biru gk percaya bgt 🙄
Garden Rose
Kakak author tau candu, kan? Ya ituuu kayak ceritanya author hua! Semangat menulis thor!!
coastbycoast
Crazy up dong thor kali-kali! boleh ya! boloh dong!! yah kalau gak boleh jangan marah thor~ *ampun bang jago wkwkw
SecretFruity
Bang! Hayati gak bisa tidur nih gegara othor gantungin ceritanya :(
MouthofMexico
Semangat menulis untuk karyanya yang luar biasa kak, sukses selalu😊💪🙏
Hustle Flyswat
walau badai menghadang, aku tetap setia menunggu cerita-ceritamu thor
SizzlingTeapot
Lanjut dong Thor! Aku mah nangis kalau cerita ini gak lanjut :(
SweetWhimsy
Meskipun alurnya simple, tapi aku suka banget dan bisa bikin penasaran
Hustle Flyswat
Thor, aku nungguin crazy up karena ceritamu sudah drive me crazy~
TwilightQueenbee
ditiunggu kelanjutannya thor
DavidTheDancer
akhirnya up juga sekian lama perjuangan ku menunggu .hehehe lanjut ! cemangat
Hustle Flyswat
semangat thor buat up an selanjutnya😇
SugaryHeaven
Bang! Hayati gak bisa tidur nih gegara othor gantungin ceritanya :(
sunshinegyspy
thor, kita putus kalau lanjutannya lama
HippySunshine
Yo ayo thor! aku selalu mendukungmu dalam doa hehehe
Eli Usada
lanjut up trus thorr
Badai Putih
thor up lgi dan kurangin typo yaaa
AdindaRa
Kalo aku ngeliat begini, langsung ambil ember penuh air terus guyurin ke mereka 😪
Mata Diam
Next thor💕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!