NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:926
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23

Jennie masih duduk di atas meja marmer, tak mampu menggerakkan tubuhnya. Rambutnya tampak kusut, dan gaunnya melorot hingga sebatas pinggang, membiarkan dadanya terekspos sambil terengah-engah hebat akibat kepuasan yang baru saja ia rasakan. Ia merasa hancur, terkoyak, sekaligus terpuaskan.

"Kenapa kamu melakukan ini?" suaranya berubah menjadi bisikan parau. "Lalu bagaimana dengan prinsip-prinsip agungmu itu, Kai? Katanya kamu tidak tidur dengan anak di bawah umur. Kamu sendiri yang bilang begitu."

Kai menegakkan tubuhnya, berdiri menjulang di hadapannya, sementara sorot matanya kembali berubah dingin dan tajam. Ia merapikan kaosnya seolah sama sekali tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

"Prinsip itu masih berlaku," jawabnya tegas, setiap kata terasa bagaikan tamparan. "Aku tidak tidur denganmu. Aku hanya menunjukkan tempatmu. Supaya kamu tidak lupa siapa yang menjadi bos di sini, dan siapa anak kecil yang sok berlagak memainkan permainan orang dewasa."

Kai melangkah menuju pintu, namun ia sempat berhenti sejenak dan menoleh lewat balik bahunya.

"Jika aku melihatmu dekat dengan James atau pria mana pun lagi..." suaranya berubah sedingin es. "Aku akan memastikan semua orang tahu seperti apa sebenarnya dirimu sebagai gadis nakal. Aku akan menceritakan bagaimana kamu mendesah di bawah sentuhan tanganku di toilet umum."

"Aku sangat membencimu, Kai..." cicit Jennie dengan suara serak, menancapkan kuku-kukunya ke permukaan marmer yang dingin.

"Aku juga, gadis kecil," balasnya dengan nada mengejek. "Rapikan dirimu. Kamu akan pulang bersamaku. Sekarang juga."

Pintu tertutup di belakangnya, meninggalkannya dalam keheningan yang berdenging. Jennie merosot turun dari meja, nyaris tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dengan tangan yang bergetar, ia mengenakan kembali gaun satin itu, berusaha menutupi jejak-jejak rasa hina. Segala sesuatu di dalam dirinya menciut oleh perasaan menyesakkan yang melekat. Ia merasa kotor, dimanfaatkan, dan dibuang begitu saja di tepi hidup pria itu. Namun hal yang paling mengerikan bukanlah apa yang telah ia perbuat, melainkan kesadaran bahwa Jennie sendiri menginginkan semua itu.

Akulah yang memancingnya di lantai dansa, akulah yang menyulut amarahnya dengan kata-kataku, dan akulah yang memohon agar ia menyentuhku demi meraih kepuasan itu.

Aku mendapatkan apa yang kuminta, dan kini kemenangan itu terasa jauh lebih pahit daripada racun apa pun.

POV KAI🌑:

Saat aku keluar dari kamar kecil, gema pintu yang terbanting masih berdengung di telingaku. Rasa kesal di dadaku berdenyut seirama dentuman musik klub. Sejak pertama kali melihat Jennie duduk di meja dengan gaun hitam yang memikat itu, aku tahu ia datang ke sini bukan sekadar untuk berdansa.

Namun saat yang kucoba anggap sebagai sahabatku, James, mulai tidak sekadar menunjukkan ketertarikan melainkan terang-terangan menatap adikku dengan penuh nafsu, batas kesabaranku langsung putus. Pertama, aku sangat ingin menghajar wajah tampan itu, dan kedua, aku sadar gadis kecilku telah memutuskan membalas dendam atas kejadian di kamarnya. Dan sialnya, ia akan menang jika aku hanya berdiam diri sebagai "Raja Kandang". Andai aku orang biasa, pasti sudah kugencet wajahnya dan kubawa Jennie pergi dari sini.

Tapi itulah yang ia tunggu kemarahanku, bukti bahwa aku peduli. Maka aku memilih cara lain.

Aku masih ingat jelas tatapan murkanya. Semua ucapannya soal "tidak peduli" itu omong kosong. Jika benar-benar tak peduli, ia tak akan luluh di bawah sentuhanku, berubah menjadi gairah yang murni. Ya, aku memang bertingkah laku kasar, tapi aku tak bisa membiarkan orang lain memandangnya begitu.

Aku dan James sudah berteman tiga tahun sejak kuliah tahun pertama. Kami sering pergi ke klub bersama, dan aku tahu betul sifatnya. Bedanya, aku dan Liam tak pernah memberi janji palsu hanya sekadar hubungan sesaat, titik. Sebaliknya, James selalu berlagak seolah ia pria paling sopan. Padahal tanpa usaha pun wanita pasti mendekat, tapi sandiwaranya sebagai pria terhormat itu...

Aku tak peduli, sampai ia mulai mendekati Jennie. Jangan salah paham, aku tak melarangnya bergaul dengan siapa saja, tapi ia masih terlalu muda. Jika ia termakan kata-kata manis James, ia pasti akan terluka. Bilang begitu padanya? Ia pasti mengira aku cemburu. Maka aku terpaksa bertindak menunjukkan tempatnya dan memberi peringatan tegas.

Aku kembali ke meja. Mia tampak bingung, James duduk dengan wajah puas, sementara Liam entah ke mana—mungkin sudah menemukan teman malamnya. Hailey dan Siena tampak cukup mabuk dan berbicara dengan suara keras.

Begitu aku duduk, Hailey langsung mendekat. Kami sudah lama saling kenal, ayah kami mitra bisnis. Orang tua berharap kami menikah demi status dan saham. Hailey tak keberatan, tapi aku sama sekali tak peduli padanya. Hubungan kami hanya sebatas fisik, dan itu saja yang kubutuhkan. Ia tahu aturannya, aku tak membohonginya, dan aku tak pernah menolak jika ia menawarkan diri.

"Sayang, dari mana saja kamu?" goda Hailey sambil merangkul leherku. "Meninggalkanku setelah berdansa begitu seru... Ini kejam sekali. Apa Raja Kandangku akan menghukumku nanti di rumah?"

Aku merasakan tangannya menyelinap ke balik kerah kaos, lalu langsung menepisnya. Di kepalaku masih terbayang jeritan dan aroma tubuh Jennie. Kehadiran Hailey justru makin memicu rasa kesal yang mendalam.

"Lain kali saja," potongku tanpa menoleh. "Aku lelah dan mau pulang."

Ia mengerucutkan bibirnya kesal. "Lalu bagaimana dengan aku?"

"Panggil sopirmu atau pulang sendiri. Bukan urusanku."

Aku duduk sambil terus mengawasi pintu toilet, menunggu ia keluar. Gadis kecil yang penuh duri itu hari ini benar-benar melanggar semua batas yang kubuat.

Sementara itu James menatapku tajam seolah ingin membakar tubuhku, sepertinya ingin bicara sesuatu. Aku menatap balik. Caranya menatap begitu intens justru terasa menghibur.

"Ada yang ingin kau katakan?" tanyaku malas sambil bersandar.

"Ya, ada," James mendekat dan merendahkan suaranya. "Apa kau ada masalah dengan Jennie?"

Aku tersenyum, meski di dalam dada ada dorongan kuat untuk menghantam wajahnya ke meja.

"Berbeda denganmu, aku tak tertarik pada anak di bawah umur. Dan sebaiknya kau menjauh darinya, James. Ini saran sebagai teman."

Hailey langsung diam, menatap bergantian ke arahku dan James. Suasana di meja menjadi tegang. James mengatupkan rahang kuat hingga otot wajahnya menonjol.

"Aku tak akan menyakitinya, Kai," desisnya. "Lagipula, kau bukan saudara kandungnya, dan kalian tak akur. Kenapa aku harus mendengarkanmu?"

"Karena..." aku mulai berdiri, siap melontarkan semua kekesalanku, tapi saat itu juga sosoknya muncul di ambang pintu.

Jennie berjalan mendekat, membuat detak jantungku sempat berhenti sejenak. Gaunnya agak kusut, matanya berbinar aneh, dan di lehernya ada syal yang entah dari mana didapat jelas sengaja menutupi jejak yang kubuat. Ia berjalan mendekat dan duduk... tepat di sebelah James.

Ia menatapku lurus, menantang, tanpa rasa takut atau menghindar.

"Maaf menunggu lama," suaranya terdengar datar. "Tadi aku sedikit pusing, tapi sekarang sudah baik-baik saja."

James segera menyentuh dahi Jennie dengan perhatian. "Kau yakin? Kau terlihat pucat."

Jennie tersenyum padanya hangat dan lembut. Aku yang duduk di seberang hampir tak tahan melihat kemunafikan itu. Baru saja ia mendesah di pelukanku, dan sekarang berlagak tak berdosa.

"Sepertinya aku dan Mia sebaiknya pulang sekarang ya, Mia?" tanyanya pada temannya yang langsung mengangguk lega.

"Aku antar kalian," tawar James sambil bersiap berdiri.

"Aku yang akan mengantar Jennie dan Mia," potongku tegas.

James menatapku dengan kebencian yang tak disembunyikan. "Kenapa harus begitu? Kalau Jennie mau pulang bersamaku, dia yang berhak memilih."

Aku tersenyum miring, lalu menatap Jennie. Dalam hati aku yakin ia tak berani melanggar peringatanku, walau sedikit ragu tetap ada.

"Kau sudah bertanya padanya?"

James menoleh pada Jennie berharap dukungan. Gadis itu tersenyum penuh permintaan maaf.

"Maaf, James, aku pulang bersama Kai saja," ucapnya lembut. "Searah kok, dan dia tak minum alkohol. Jangan tersinggung ya."

Aku tersenyum puas melihat wajah James yang berubah. Ia jelas kesal, tapi tetap memaksakan senyum sopan.

"Tentu saja tidak. Kabari aku kalau sudah sampai ya."

Aku langsung berdiri tanpa menunggu mereka selesai bicara. "Ayo. Aku tak punya waktu seharian."

Aku berjalan duluan ke pintu, merasakan tatapan tajam Jennie di belakangku. Jika tatapan bisa membunuh, aku pasti sudah mati seratus kali. Tapi sialnya, kebenciannya justru membuatku makin tertarik lebih menyegarkan daripada alkohol terbaik.

Aku masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Raungannya menenangkan, meski dadaku masih mendidih. Aku menunggu sambil memantau kaca spion.

Saat mereka keluar, aku hampir tak bisa menahan diri. Jennie dan Mia berjalan berdampingan dengan James sambil tertawa, seolah tak ada yang terjadi di toilet tadi, seolah ia tak pernah memanggil namaku dengan napas terengah-engah. Aku mencengkeram setir begitu kuat hingga buku jariku memutih.

James memeluk Mia untuk berpamitan, lalu mendekat ke Jennie. Ia berdiri begitu dekat, masuk ke ruang pribadi yang sudah kuanggap milikku. Tanganku langsung mencengkeram gagang pintu hanya butuh sedetik lagi aku akan turun dan menghajarnya jika ia berani menyentuh Jennie.

Tapi Jennie melakukannya duluan.

Ia menatap ke arah mobilku dengan senyum mengejek, lalu berjinjit. Tangannya menyentuh bahu James, dan ia mendaratkan ciuman lembut di sudut bibir pria itu. Bibir yang sama yang tadi kulum dengan penuh gairah, yang membengkak karena sentuhanku, yang memanggil namaku saat puncak kenikmatan.

Seketika napasku tercekat. Itu bukan sekadar ciuman itu tamparan keras bagiku. Balasan atas peringatanku. Ia tahu aku melihat. Ia tahu ini akan membuatku gila.

Tak lama kemudian Jennie dan Mia masuk ke kursi belakang. Lewat spion aku melihat Mia duduk menempel di pintu, jelas bisa merasakan ketegangan yang menyelimuti kabin.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!