Kakaknya bunuh diri setelah gagal menikah karena foto skandal dirinya dengan pria asing.
Naira yang tak terima dengan kematian kakaknya, lantas mencari pria asing itu untuk membalas dendam.
Namun, setelah menemukannya, dia malah terjebak dalam cinta yang tak perlu. Hingga sebuah kenyataan pun terbongkar dan mengubah semuanya.
Bagaimanakah kisahnya?
Jangan lupa follow Instagram @yenitawati24
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diterima
Naira langsung mengangguk dan tersenyum saat Arvin menyematkan cincin di jari manisnya. Anggara juga tersenyum melihat anak bungsunya sudah menemukan jodohnya.
Sarah menggandeng tangan suaminya dan memberi selamat pada mereka.
"Aku ingin ada pernikahan dalam beberapa bulan," ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Dan aku harap ada anak di tahun depan," balas Naira sambil tersenyum jahil. Membuat Sarah tersipu malu.
"Randy, jangan lupa minum obat yang aku berikan. Dijamin bikin bergadang," ujar Arvin hingga membuat Randy terkekeh geli.
"Aku tidak perlu, staminaku sudah cukup untuk mengajaknya bergadang semalaman. Kau adalah calon adik iparku, kau harus memanggilku kakak, seperti Naira." Randy menyikut lengan Arvin.
"Baiklah, Kakak ipar tersayang, puas?"
"Kok kedengarannya sangat menjijikkan, ya." Randy menatap jijik pada Arvin.
"Atau, kau mau aku panggil Mas?"
"Tidak, tidak, perlu. Panggil nama saja, aku ikhlas."
Ucapan Randy membuat mereka semua tertawa lebar. Membuat Anggara semakin bahagia. Meski dia sedang dalam masa pemulihan setelah operasi, tapi dia masih bisa ikut bergabung di acara besar ini.
Maka hari itu, acara pernikahan pun digelar dengan sangat mewah. Banyak sekali tamu undangan yang hadir untuk memberi restu. Randy dan Sarah tampil sangat serasi dengan balutan busana pengantin mewah.
"Lihat kakakmu, dia mirip sekali dengan ibumu," ucap Anggara sambil memperhatikan Sarah yang sedang duduk di singgasana pelaminan dengan wajah yang ceria. Tak pernah dia melihat Sarah sebahagia ini.
"Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Tanyakan saja, Nak. Kalau Ayah tahu, pasti akan Ayah jawab." Anggara mengusap kepala Naira dengan lembut.
"Apakah Ayah tahu kalau Tante Rany mencintai Ayah sejak dia menjadi sahabat Ibu?" tanyanya dengan gugup. Takut jika sang ayah sedih karena teringat bahwa penyebab ibunya meninggal adalah Rany sendiri.
"Ayah tahu, tapi Ayah pura-pura tidak tahu. Ayah sangat mencintai ibumu jauh sebelum mereka menjadi sahabat. Mereka bersahabat sejak ayah dekat dengan ibumu. Entahlah, Ayah tidak mau su'udzhon, tapi, Ayah rasa Rany menjadi sahabat ibumu karena dia menyukai Ayah." Anggara menghela nafas pasrah.
"Jadi semua direncanakan dan dia merasa menjadi orang yang paling tersakiti? Untung saja dia bukan ibu kandung Randy, ya, Yah." Naira menghela nafas panjang.
"Sudahlah, jangan membicarakan orang yang sudah meninggal," ucap Anggara memberi pengertian pada sang putri.
"Kalau ibu masih hidup, pasti dia senang karena melihat Kak Sarah menikah. Terlebih lagi dia menikah dengan orang yang sangat mencintainya, sepeda ayah mencintai Ibu."
"Kau sebentar lagi akan menikah dan meninggalkan Ayah." Anggara menyeka sudut matanya yang basah. Toh, sebentar lagi anak-anaknya akan pergi meninggalkan dirinya sendiri.
"Ayah, jangan begitu. Aku akan tinggal bersama Ayah." Naira memeluk ayahnya dan menitihkan air matanya.
"Tidak, Sayang, kau harus ikut dengan suamimu."
"Ayah, mengapa Ayah tidak menikah lagi? Ayah masih tampan, kok."
"Tidak, Nak, Ayah tidak mau menghianati cinta ibu kalian."
"Ayah sudah setia selama puluhan tahun. Sudah saatnya Ayah mencari pendamping yang akan menemani Ayah di masa tua. Kalau begini, bagaimana caranya aku bisa bisa meninggalkan ayah dengan tenang."
"Baiklah, akan Ayah pikirkan. Sudah, jangan bersedih lagi." Anggara mengusap air mata Naira. Mereka pun pergi ke tengah pesta untuk menikmati makanan yang ada. Naira dengan setia mendorong kursi roda ayahnya. Mereka menikmati beragam macam makanan enak yang ada di sana dengan suka cita.