NovelToon NovelToon
Annoying Ex-Boyfirend

Annoying Ex-Boyfirend

Status: tamat
Genre:Wanita Karir / Cinta Murni / Teman lama bertemu kembali / Pihak Ketiga / Tamat
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: Vin Shine

Zevanna merasa gila. Setelah orang tuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi dengan wanita yang usianya hanya terpaut lima tahun lebih tua darinya. Sekarang di depan mata kepalanya sendiri dia harus melihat Jayden, mantan kekasihnya, memasuki sebuah kamar hotel bersama Melisa, wanita yang tidak lain adalah ibu kandungnya.

Tidak cukup sampai di situ, Zevanna pun semakin dibuat terkejut saat mengetahui fakta kalau ternyata Jayden juga bekerja pada ibunya. Namun, di antara semua itu, hal yang paling mengejutkan bagi Zevanna adalah ketika mendengar Jayden menyetujui permintaan Melisa agar laki-laki itu tinggal bersama dia dan sang ibu.


Bagaimanakah kehidupan Zevanna saat tinggal bersama mantan kekasih serta ibunya? Apakah ia bisa berpaling pada sosok pria dari masa lalunya yang kembali datang ketika bayang-bayang Jayden terus mengikutinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vin Shine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Move On?

"Gue kayaknya nggak kaget kalau nanti tahu-tahu ada undangan mendarat di apart gue."

Adalah balasan Astrid pada instastory yang di-repost Zevanna dari akun milik mama Marvel. Zevanna baru membacanya setelah tubuhnya berhasil terbaring di ranjang kamarnya. Senyum kecut tercipta di bibir. Bagaimana ia mesti menjawabnya?

Pada akhirnya, Zevanna yang memilih untuk menyimpan semuanya sendiri mengetikkan balasan, "Iya. Jangan lupa siapin amplop yang tebel."

"Hahahaha! Iya, nanti gue bikin amplop dari kardus kulkas biar jadi yang paling tebel."

Zevanna membuang napas malas. "Lebay!"

"Biarin! Btw, Ze, double date seru kali, ya?"

Zevanna melongo dibuatnya. Sepanjang mengenal Astrid, ia tahu betul kalau temannya itu paling tidak suka diganggu jika ada kesempatan pergi berdua dengan pacarnya. Tetapi sekarang, Astrid tiba-tiba mengajaknya double date. "Lo kesambet apaan?"

"Sembarangan kalau ngomong. Gue cuma bingung aja mau ngapain sama Leon. Kayak semua udah dilakuin."

"Hmm ... nanti gue coba omongin dulu sama Kak Marvel deh."

"Yailah, udah pacaran manggilnya masih aja kakak. Ayang kek! Atau honey, baby, darling. Wkwkwkwk ...."

"Bacot!" Zevanna melempar ponselnya sembarangan. Meladeni Astrid tidak pernah ada ujungnya.

Gadis itu lantas merentangkan tangan. Mengembuskan napas lelah, matanya tertuju pada langit-langit kamar yang dipenuhi stiker bintang, bulan, dan benda-benda langit lainnya.

Ambilkan bulan, Bu

Ambilkan bulan, Bu

Yang slalu bersinar di langit

Di rooftop apartemen Zevanna, nyanyian diiringi petikan gitar itu dilantunkan oleh Jayden. Agaknya malam ini langit sedang bahagia sehingga mau menampakkan sinarnya.

Di langit bulan benderang

"Iiihhhh, apa sih kok lagunya kayak gitu. Emang aku anak kecil?" Gerutuan gadis yang sudah berkacak pinggang menghentikan lagu.

"Memang anak kecil." Jayden mendekat sambil memegang gitar di tangan kirinya. "Kalau udah besar nggak mungkin minta temenin karena nggak bisa tidur." Ia melontarkan cibiran dengan tampang sengaknya.

Jayden bahkan belum tiba di rumah ketika ponselnya berdering. Lantas, suara pacarnya yang sekitar setengah jam lalu masih bersamanya terdengar di ujung telepon. Meminta agar dirinya kembali supaya menemani.

"Kamu nggak ikhlas ya?" Wajah Zevanna tambah ditekuk.

"Kalau nggak ikhlas nggak mungkin putar balik, Ma Chérie." Angin malam bertiup kian kencang. Jayden menyelipkan rambut panjang Zevanna ke belakang telinga, kemudian mengikis celah yang tersisa.

Zevanna menengadahkan kepala. Memandangi wajah tampan yang menghiasi hari-harinya seraya menghidu dalam-dalam aroma oceanic dari perpotongan leher kekasihnya. "Ko, nginep di sini ya?"

Sedikit menunduk, Jayden mempertemukan matanya dengan mata Zevanna. Ini bukan pertama kali gadis yang wajahnya hanya berjarak sejengkal darinya memintanya agar bermalam. "Kamu nggak ada takut-takutnya. Aku cowok tulen, loh!"

"Terus kenapa? Koko mau apa-apain aku? Aku nggak takut!"

"Zevanna!" Jayden mendelikkan mata.

Perempuan itu tidak menghiraukan. "Aku percaya kamu, Ko. Lagian kalau bener kejadian, aku tinggal bilang Mama dan Papa," katanya sambil mengelus jakun Jayden yang bergerak naik-turun.

Jayden jelas terganggu dengan sentuhan fisik yang diterimanya. Karena itu, ia menurunkan tangan Zevanna yang seketika tertawa-tawa.

"Takut ya?"

"Aku belum pernah ketemu orang tuamu. Dan aku nggak mau kalau datang-datang malah bawa kabar buruk yang bikin malu keluarga. Ngerti, kan?" Jayden merengkuh tubuh Zevanna, melindunginya dari dinginnya malam. "Aku sayang kamu." Satu kecupan ia bubuhkan di puncak kepala kekasihnya.

"Aku juga sayang Koko."

"Minggu depan pulang ke rumah ya? Aku anterin sekalian ketemu orang tuamu." Jayden tidak ingin menjadi seorang pengecut yang memacari seorang gadis, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ini bukan gayanya. Namun, sepertinya hal itu belum bisa terwujud karena baru saja Zevanna menggelengkan kepala.

"Di rumah kayaknya masih 'panas'. Tadi siang aja Mama masih lampiasin emosinya ke aku lewat chat. Aku belum mau pulang, Ko. Please ...."

Disuguhi puppy eyes Zevanna, Jayden mana tega memaksa. Lelaki itu hanya bisa bersabar. "Masuk, yuk! Udaranya tambah dingin." Jayden mengurai pelukan untuk kemudian berganti merangkul bahu Zevanna.

Meringis pedih, air mata Zevanna tak henti-hentinya mengalir mengingat kenangan indahnya bersama Jayden. Sakit dan sesak. Kenapa Jayden tidak memberitahunya sejak awal? Kenapa ia tidak memiliki kesabaran lebih untuk menunggu penjelasan pria itu?

Bermaksud menghapus air matanya, Zevanna justru kembali terisak melihat cincin yang tersemat di jari manisnya. Ia tidak mengerti mengapa hidupnya jadi serumit ini. Mama dan Papa bercerai, kakak sepupunya yang mengkhianatinya, mantannya yang kembali muncul, dan kesediaannya untuk menjadi pacar Marvel. Semuanya tumpang tindih mengganggu pikirannya.

***

Seorang ayah dan anak duduk bersebelahan di bawah keremangan lampu dapur restoran. Pekerjaan mereka telah selesai untuk hari ini. Tetapi merasa ada yang perlu dibicarakan, keduanya secara naluriah menunda kepulangan.

"Kamu coba saja, siapa tahu lolos." Hendri menoleh, menatap anak lelakinya.

Kemarin Jayden memberitahu papanya bahwa dirinya mendapat undangan tes online dari salah satu perusahaan di Singapura. Jika lolos, ia akan di-interview secara langsung di perusahaan tersebut. "Tapi, restoran gimana? Yang bantuin Papa siapa?" Jayden mengutarakan apa yang menjadi kebingungannya.

"Masalah itu gampang. Papa tinggal hubungi karyawan lama kita atau kalau mereka sudah punya kesibukan sendiri, kita tinggal pasang lowongan pekerjaan."

"Tapi, nanti Papa sendirian di rumah."

Sontak saja Hendri tergelak. "Jay, Jay, memang kenapa kalau sendiri? Papa bukan anak kecil. Setiap weekend 'kan adikmu pulang."

Jayden tercenung. Papanya benar, dan mungkin dengan ini dia perlahan bisa benar-benar merelakan Zevanna.

"Papa minta maaf, Jay." Tangan Hendri terulur untuk mengusap punggung putranya. "Gara-gara Papa kamu jadi gagal untuk kembali bersama Zevanna."

Senyum masam terukir di bibir Jayden. "Aku udah nggak apa-apa. Papa nggak perlu merasa bersalah terus-terusan."

"Makanya Papa minta kamu buat nyoba tes itu. Kalau diterima 'kan kamu jadi punya suasana baru. Dua atau tiga tahun di sana mungkin cukup atau kalau betah, lanjut terus ya nggak masalah. Papa mendoakan yang terbaik untuk karier kamu. Syukur-syukur di sana kamu juga ketemu jodohmu." Hendri tersenyum di penghujung kalimatnya.

"Papa ini," Jayden merengut, "baru tadi ngomongin move on, sekarang udah bahas jodoh."

"Lho, ke depannya 'kan nggak ada yang tahu." Hendri tampak bersemangat. "Lagian, Papa pengin tahu rasanya punya cucu. Penasaran gimana rasanya lihat anak yang dulu sering Papa gendong, gendong anaknya sendiri." Ia tertawa-tawa dengan pandangan mengawang.

"Haduhhhh, pulang aja yuk, Pa. Kayaknya Papa capek banget hari ini jadi ngigau duluan sebelum tidur."

"Heh, kurang ajar!" Hendri menjewer telinga Jayden hingga pemiliknya mengaduh kesakitan.

1
Imas Karmasih
bagus cerita nya g muter 2
grey: nanti pusing kalo muter2 🤗🤗🤗
total 1 replies
Rita
akhirnya happy ending
Rita
kamu berhak dapat yg terbaik yg mencintaimu jg
Rita
ze marvell jg berjuang kuat ma perasaan nya saoa yg g kecewa dan cemburu
Rita
jodoh g kemana mending berhenti skrg drpd sm2 saling menyakiti
Rita
strong Jayden tenang Jay pasti indah pd waktunya
Rita
hmmmm sifat Ze mmng suka nethink duluan bnr g sich dengerin dulu Ze
grey: wkwkwkwk emang dia suka mikir yang sebenarnya nggak perlu 😆😆
total 1 replies
Rita
ada hikmahnya seenggaknya Ze meskipun itu menyakitkan
Rita
sampai sini seru ceritanya jg g terlalu panjang like it
Rita
emang enak dijadiin kmbg putih😂
Rita
penasaran
S A N I
tuhkan jadinya semua di jadiin satu bab 😍😍
grey: nulis panjang-panjang komennya malah gini hikss srotttt. aku sudah menepati janji kan ceritanya tamat di sini muehehehehe
total 1 replies
Hearty💕💕
Terima kasih K Vin... say akan kabarkan
grey: terima kasih 🥰🥰
total 1 replies
Hearty💕💕
Keren-keren 😍😍😍😍😍
Hearty💕💕
Gerah.....
Hearty💕💕
Daebak 💕❤💕❤💕❤💕❤💕❤
Hearty💕💕
Namanya keren...
Hearty 💕
Oh so sweet lain sultini
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Terima kasih k Vin, special pake banget dari ldr an, nikah, ngidam dan punya anak
Happy banget bacanya🙏🤗
Ditunggu karya2 nya, sukses terus 😊
grey: sama-sama 🥰🥰
total 1 replies
S A N I
baru mau request ini 🤣🤣🤣qt mah ga mau beratin.... sampe mereka nikah juga udah bahagia akumah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!