Berlian yang ingin memberikan kado ulang tahun untuk suaminya malah gagal. Karna sebelum itu terjadi, Arhan sang suami menalaknya secara tiba-tiba tanpa ia ketahui alasan disebaliknya.
Lalu bagaimana jadinya ketika Arhan tahu bahwa ternyata kado itu adalah tespack kehamilan dari Berlian? Apakah dia akan menyesali perbuatannya? Atau sebaliknya, ia tak peduli.
Yuk simak selengkapnya dalam 'Cinta Yang Terbuang'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon da alfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Laki-laki
"Siapa yang nyuruh kamu ngaku-ngaku kalau aku pacar kamu?"
Pria itu tersenyum, "Kan aku udah bilang kalau aku butuh bantuan kamu." Jawab Charlie tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang sedang ia jelajahi malam ini untuk mengantar Nautiya.
Nautiya berdecak kesal, ingin rasanya mencubit pria itu habis-habisan.
"Tapi kan kamu gak bilang kalau bantuinnya begituan." Protes Nautiya sebal.
"Kalau aku bilang dari awal pasti kamu gak mau."
"Siapa juga yang mau." Sewot Nautiya.
"Padahal apa salahnya sih jadi pacar aku? Ganteng? Iya. Baik? Juga iya, kamu gak rugi deh." Celetuk Charlie.
Nautiya memutar bola mata malas menanggapi kenarsisan kawannya itu.
"Kamu kok gak pernah cerita sih kalau kamu anaknya owner Amar Group?" Tanya Nautiya penasaran.
"Kamu gak nanya."
"Tau-tau setelah inu aku dapat surat di-PHK lagi, gara-gara mareka mikir aku beneran pacarnya kamu."
"Pikiran kamu kejauhan tau gak?"
...****************...
Mobil Charlie berhenti tepat di depan pintu pagar Nautiya. Tanpa menunggu aba-aba, Nautiya langsung turun dari mobil Charlie.
Charlie ikut turun dan menghampiri Nautiya sebelum gadis itu masuk.
"Eh Ti, tunggu."
Nautiya berhenti dan memandang Charlie dengan pertanyaan 'apa lagi'.
"Makasih ya untuj malam ini." Kata Charlie tulus.
Nautiya mengangguk, "Iya, sama-sama, maksih juga sudah di anterin." Balas Nautiya.
"Kamu..., gak ngajakin, aku masuk?" Tanya Charlie, berharap perempuan itu peka dan menawarinya untuk mampir.
"Enggak-enggak." Geleng Nautiya kuat.
"Kan kita teman." Kata Charlie polos sembari menunjuk dirinya dan Nautiya.
"Udah-udah oulang sana." Nautiya mengusir Charlie dengan tangannya.
"Tapi kapan-kapan boleh ya?"
"Gak janji, buruan pulang."
"Iya deh iya, galak amat."
Tanpa memedulikan Charlie, Nautiya langsung memasuki pekarangan rumah. Suara deru mobil Charlie menghilang seiring ia masuk ke dalam rumah.
"Kok malam pulangnya Ti?" Tanya Bu Rahma tanpa melihat ke arah Nautiya sebab ia sedang fokus dengan buah apel yang dikupasnya.
"Iya, tadi ke rumah temen." Jawab Nautiya sembati menghempaskan diri ke sofa dengan lelah. Hari ini begitu melelahkan.
"Yang ngantar kamu tadi siapa?" Tanya Berlian yang baru datang dan ikut bergabung.
"Kakak liat?" Tanya Nautiya sedikit panik.
"Iya."
Nautiya mendesah kecewa, kesal juga iya.
"Pacar kamu ya?" Goda Berlian.
"Ih! Enggak! Temen!" Elak Nautiya.
"Lagian kalau pacar juga gak papa, kamu kan gak pernah pacaran Ti. Buka hati sekali-kali." Nasehat Berlian
"Aku cuma lagi mau fokus kerja aja."
Jujur saja, Nautiya memang belum tertarik dengan dunia percintaan. Semenjak lulus SMA ia tak pernah lagi dekat dengan laki-laki lebih dari sekadar teman, semuanya adalah teman biasa, tak ada yang special, termasuk Charlie.
"Kakak tahu, tapi setidaknya ayo dong berteman dengan lawan jenis kamu, siapa tahu cocok." Saran Berlian lagi.
"Enggak tahu ah kan, aku males banget deh kalau ngomongin pria." Kata Nautiya sembari bangkit dari sofa dan berlalu menunu kamarnya.
Selalu begini jika pembahasan tentang laki-laki, Nautiya akan menghindarinya.
...****************...
Setelah seminggu kemarin Arhan ditolak untuk bertemu dengan Berlian, suasana hati Arhan menjadi buruk, ia jatuh sakit.Sebenarnya tidak bisa dibilang sakit juga, lebih tepatnya energi dan semangatnya menghilang sudah. Ia sampai mogok makan layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya.
Melihat pemandangan itu membuat Bu Maharani menjadi sedih, ia merasa bertambah bersalah pada Arhan. Akhirnya Bu Maharani outuskan menemui Arhan.
Ketika bu Maharani memasuki kamar Arhan, ia melihat Arhan yang tengah serius menatap layar HP-nya. Pandangannya serius, bahkan kedatangan mamanya tak ia pedulikan.
Bu Maharani langsung duduk di tepi ranjang dan melirik apa yang sedang dilihat Arhan. Bayi. Foto seorang bayi laki-laki yang mencuri perhatiannya.
"Kenapa gak turun untuk makan malam?"
"Arhan gak laper Ma."
"Mau sampai kapan kamu begini terus?" Risau Bu Maharani.
"Aku ingin ketemu sama anakku Ma." Lirih Arhan dengan nada yang begitu sedih.
"Han..., belum tentu itu anak kamu. Bisa saja iti foto anak yang memang mirip kamu." Bu Maharani berusaha untuk membuat Arhan tak terlalu merasa bersalah, walau ia sendiri yakin bahwa itu benar cucunya.
Arhan menatap mamanya. "Ma, itu anak aku, minggu yang lalu aku ke sana, dan ada suara tangisan bayi. Anak siapa lagi kalau bukan anakku dengan Berlian?"
"Lalu?" Bu Maharani mengharapkan kelanjutan cerita Arhan.
Arhan mengambil posisi duduk dan menatap mamanya.
"Arhan gak dibolehin ketemu Ma, mungkin Berlian masih marah sama Arhan." Desah Arhan kecewa.
"Kalau begitu ayok? Mama akan bantu kamu, mama juga pengen lihat cucunya Mama." Ucao Bu Maharani semangat.
Yang sabar ya ka Author, semoga Alloh menggantikan dengan yang lebih baik lagi. 🤲🤲
Tetap semangat ya, ka . 💪💪💪
Karya nya bagus banget, aq tunggu karya mu kembali 🤗🤗