NovelToon NovelToon
Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang

Status: tamat
Genre:Suami Tak Berguna / Tamat
Popularitas:547.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Rasa kecewa yang berkali-kali kualami atas perlakuan suamiku, Bram, dan keluarganya yang tidak pernah mengahargai sebagai istri dan menantu, akhirnyanya terlampiaskan.

Setelah bertahun-tahun tertindas, aku akhirnya menunjukkan perlawanan.

Ternyata tanpa aku duga sebelumnya, orang tua yang mengasuhku selama ini, bukanlah orang tua kandungku.

simak kelanjutannya dan mohon dukungan dari pembaca, untuk karya baru ku ini.🙏🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

"Saat sebuah misteri tersingkap, apakah bisa menerima kenyataan. Sebuah mimpi yang menjadi nyata, butuh kekuatan menerimanya,"

Dinginnya malam ini tak mampu mengajakku untuk terlarut dialam mimpi meski hanya sekejap. Apa yang tadi diungkapkan oleh bapak dan mak, telah menjadi beban pikiranku malam ini.

Betapa tidak, antara bahagia dan gundah jaraknya hanya setipis kulit ari. Bahagia, karena asal usulku telah tersingkap. Otomatis, gundah bagaimana lanjutan dari kisah hidupku. Beribu pertanyaan memenuhi ruang hatiku.

Seperti apakah orang tua kandungku dan saudara-saudaraku. Apakah mereka nantinya bisa menerima diriku ditengah-tengah mereka. Mengingat kami yang hidup terpisah sekian tahu. Tentu, akan merasa asing satu sama lain.

Apakah mereka akan percaya, kalalu aku benar anak mereka? Tidakkah hal ini akan menguras banyak tenaga dalam penyelidikannya nanti. Bahkan bukan tidak mungkin kedua orangtuanya nanti bakal terjerat hukum, seandainya mereka tidak menerima dan malah menuntut balik keluarganya.

Sepertinya, dirinya juga tidak yakin apakah harus menghubungi nomor yang yang tertulis di koran itu, seperti saran bapak.

Aku membolak-balikkan tubuhku, resah. Lolongan anjing di tengah malam, membuat bulu kudukku meremang. Aku menarik selimut hingga menutup kepalaku. Mencoba untuk tidur. Perlahan mataku mulai meredup, tubuhku mulai rileks dan bereaksi untuk tidur. Mungkin efek kelelahan dalam perjalanan tadi. Akhirnya aku tertidur dan bermimpi.

Entah berada di mana, dan di rumah siapa. Tiba- tiba aku sudah berada ditengah- tengah sebuah keluarga yang duduk berkeliling di sebuah meja besar. Sepertinya tengah mengadakan musyawarah.

Anehnya tak satupun yang aku kenal diantara mereka. Mereka adalah orang asing, yang menatapku dengan pandangan dingin dan kurang bersahabat.

Aku merasa terintimidasi, merasa tak nyaman ditengah orang-orang asing ini. Lalu, sepasang suami istri muncul, keduanya menatapku takjub dan menghampiriku. Memeluk tubuhku penuh rindu, membawaku menjauh dari orang- orang asing itu.

Membawaku duduk kesebuah kursi yang terpisah. Sepertinya hendak melindungiku, tapi baru beberapa saat aku duduk tiba-tiba seseorang berusaha merebut kursi yang aku duduki . Aku berusaha mempertahankannya. Seseorang itu yang tidak jelas kulihat wajahnya apakah dia perempuan atau laki-laki, dengan marah pergi meninggalkan aku. Sepasang suami istri itu sangat sedih, aku merasa bersalah lalu terjaga dari tidurku.

"Ah, ternyata cuma mimpi,"kuusap wajahku lalu aku duduk. Kulihat jam di ponselku, menunjuk angka 5. Lapat-lapat aku dengar suara dari arah dapur. Sepertinya mak telah bangun dan sibuk di dapur.

Aku memutuskan untuk bangkit dari tempat tidur. Meskipun belum terbiasa dengan hawa dingin ini, akan lebih baik bangun saja dari pada bergelung dibawah selimut.

"Mak sudah masak, ya?" tanyaku begitu melihat Mak sibuk memetik sayuran.

" Eh, kamu sudah bangun. Balik sana tidur lagi, di sini sangat dingin," ucap mak mengusirku halus.

" Aku'kan besar dan tumbuh di daerah dingin ini, masak gak kuat melawan dingin," cebikku.

"Kamu sudah lama hidup di kota, jadi tidak terbiasa."

"Disini hangat, mak, karena perapian ini, juga mak." kupeluk wanita tua yang telah merawatku dari kecil. Kenyataan bahwa beliau bukan orang tua yang melahirkanku tak akan mengubah bahwa beliau adalah ibuku.

"Sudah emak-emak masih kolokan," ucap mak tersenyum.

"Aku sangat merindukan, Mak," pelukku makin erat. Akhirnya mak menghentikan kegiatannya memetik sayur, dan membalas pelukanku.

"Ada apa. Kamu mau cerita sama, Mak?" ucap mak lembut, posisi kami kini berhadapan.

"Maksud, Mak?"

"Mak tau, ini tak ada hubungannya dengan yang semalam. Mak, tau kamu banyak pikiran dan masalah soal rumah tanggamu," ucap mak lagi, melanjutkan memetik sayur.

Aku melongo mendengar ucapan mak. Begitu kuatnya ikatan batin seorang ibu, pada anaknya.

Apakah aku harus membuka cerita itu? Bagaimana nanti reaksi bapak dan mak bila tau masalahku.

"Tidak baik memendam sendiri masalahmu, Nak. Orang tua adalah tempat ternyaman bagi seorang anak, untuk mengadu. Ada apa?" usap mak pada jemariku. Pertahananku jebol juga, tak sanggup aku meyimpan cerita yang selama ini membebani hatiku.

"Setiap rumah tangga pasti dihampiri masalah. Tidak ada maslah yang tidak terselesaikan, asal kita sabar dan mencari solusinya. Yang terpenting suami istri itu harus saling menjaga, saling menghargai. Bila hal ini sudah tidak ada, rumah tangga ini akan susah bertahan. Mak menghargai apapun keputusanmu, tapi ingat lakukan dengan pikiran tenang. Jangan karena emosi sesaat keputusanmu itu kamu sesali seumur hidupmu." ucap mak setelah aku menceritakan semua masalahku selama iini.

"Apakah kamu sudah bicarakan hal ini dengan anak-anak? Bagaimana reaksi mereka. Jangan abaikan perasaan mereka karena merekalah yang paling rentan dengan keputusanmu."

"Iya, Mak. Aku memang mau membicarakan ini pada mereka. Hanya menunggu waktu yang tepat," ucapku gamang, karena aku juga ragu untuk memaparkan ini pada Devan dan Mitha. Aku takut, mereka tidak bisa menerima dan sikap mereka berubah. Aku sadar tak mungkin egois pada kedua anakku. Namun aku juga tak ingin kedua anakku mentalnya terganggu karena suasana dalam rumah tanggaku.

"Mak berdoa yang terbaik bagimu, semoga kamu kuat menghadapi semua percobaan hidup. Kamu harus yakin, Tuhan pasti selalu menolong hambanya yang lemah, dan berpengharapan padaNya."

"Maafkan Reny, Mak. Reny, telah gagal bertahan dan mencoreng nama baik keluarga kita nantinya."

"Yang terpenting adalah kebahagian kalian. Nasib semua orang itu sudah tertakar. Tidak seorang pun ingin gagal dalam hidupnya." Elus mak pada rambutku. Tatapannya yang lembut selalu meneduhkan hatiku.

"Sudah, sekarang kamu keluar dulu. Buka kandang ayam dan kasih makan," ucap Mak, membuatku tersenyum. Karena dulu adalah tugasku setiap hari memberi makan ayam-ayam peliharaan bapak.

Serasa mengulang masa kecil dulu, aku bergegas kebelakang rumah. Aku takjub sekali ternyata kandang ayam bapak sudah sangat banyak. Ayam-ayamnya sampai ratusan. Kalau dulu paling banyak hanya puluhan.

Aku melepas ayam-ayam itu dari kandang. Membersihkan kandangnya dari kotoran denvan kran air.

"Cukup melepas ayamnya saja, Nak. Biar adikmu Tono yang bersihkan nanti," tegur mak dari jendela karena melihatku membersihkan kandang ayam.

"Dak papa, Mak. Reny rindu semua ini," ucapku tanpa merasa sungkan dengan kotoran ayam itu.

Baru beberapa kandang ayam aku bersihkan, tiba-tiba adikku muncul dibelakangku.

"Aduh, Kak Ren, ngapain disini?" teriaknya .

"Kamu liat sendiri lagi ngapain?" balasku.

"Ya, ampun. Kakak kok repot segala ngebersihin, kandang ayam. Awas kak, itu tugas aku," protesnya. Seraya menarik tubuhku. Tubuhnya yang tinggi besar merasa enteng saja mengangkat tubuh kakaknya ini.

"Gak, boleh. Nanti kakakku yang cantik ini jadi bau tahi ayam, yang malu juga Tono," ucapnya gokil.

"Eeeh, siapa yang bau tahi, ayam. Nih, tubuh kakak wangi kok."

"Itu karena masih sebentar, kelamaan malah bau ayam, gih mandi dulu kak, baunya udah kemana- mana, nih," selorohnya sambil mendorong tubuhku masuk rumah.

"Mak, kenapa beri ijin kak Reny ke kandang ayam," semprot Tono sama, Mak.

"Biar kakakmu bau tahi ayam," seloroh Mak membuat adik bontot ku itu merengut.

"Alah, Mak, diajak ngomong serius malah berseloroh."

"Apa salah kakak bantu? Hitung-hitung saat pulang nanti, dikasih ayam," gurauku menimpali.

"Yaela, modusnya. Mau ambil berapa, Kak, ambil sepuasnya," gelak Tono menimpali gurauanku.

"Ton, belum kepikiran menikah, ya?" tanyaku tiba- tiba. Tono yang sedang minum langsung tersedak dan terbatuk.

"Aih, kak Ren, kalau mau ngomong kira-kira, dong. Masak pagi-pagi begini ngebahas jodoh," elaknya ngeloyor pergi. Tak lupa sebelumnya mengacaukan rambutku. Dasar jahil, umpatku dalam hati.

"Kenapa tuh, anak, Mak? Apa benar dak niat, mau nikah?" tanyaku.

"Jangan cuma asal tanya, kalau kamu pengen adikmu menikah, dibantu cari. Selama ini kakaknya kemana, gak ada perhatian," timpal bapak tiba-tiba muncul di dapur. *****

1
Evy
Pasti paman dan Bibi aslinya itu dalang penculikan Reny waktu bayi..
Evy
Pasti deh Dion yang itu..yang ada dimasa lalu dan kembali bertemu dimasa sekarang..
Evy
Lebih baik tidak usah dibantu masak.biar tau rasa...minta saja bantuan pada menantu kesayangan nya si Sarah..
Noerlina Akbar
Luar biasa
Hera sasuwe
👍👍👍
Shinta Dewiana
syukurlah arby masih hidup...
Shinta Dewiana
uuuuu.....seru...tegang ini..
Shinta Dewiana
udah cukup tu buktinyaa...ayooo garcep lah reny
Shinta Dewiana
rasain lu sarah...puntung kan...cacat
Shinta Dewiana
jadi vikki sm martin anaknya bram...bukan anak si rio
Shinta Dewiana
kapan giliran si sarah ini..
Shinta Dewiana
ayuuu...tunggu apalagi reny jemputlah kebahagiaanmu..
Shinta Dewiana
ooo..waduh bukannya kecelakaan mobil pas pulang ngajar
Shinta Dewiana
betul2 keluarga sampah..
Shinta Dewiana
mampus lu bram...
Shinta Dewiana
impas ya....hah....
Shinta Dewiana
bagus reny rekam semua sebagai bukti..
Shinta Dewiana
tu kan benerrrrr.....
Shinta Dewiana
jangan dalang sumuanya adalah bibi elis dan ARBY adalah anaknya
Shinta Dewiana
cerita aja ma...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!