Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mungkin
Enam bulan berlalu.
Menyetujui ide yang Felix berikan, Vicky terlebih dahulu menyelesaikan semua urusan keluarga Alexander terlebih dahulu sebelum berusaha meyakinkan Viviane untuk kembali ke pelukannya.
Kini, Johan dengan hatinya yang lembut telah menerima kenyataan jika dia bukanlah anak kandung Vicky, meski dia masih tinggal dengan keluarga itu.
Sesekali Johan menemui papa kandungnya, Robi, dipenjara. Sikap Robi banyak berubah semenjak Johan sering menemuinya dan bocah kecil itu berkata jika dia tidak pernah merasa malu pada kondisi papanya, bagaimanapun itu. Tapi, dia masih belum mau menemui Ruby.
Johan merasa lebih nyaman saat berdekatan dengan papanya.
Dan kini, dia sudah menginjak tahun pertama di tingkat Sekolah Dasar. Begitupun Lia yang kini sudah betah tinggal di rumah barunya. Dengan suasana baru, bahasa yang sedikit berbeda, teman baru dan jadwal kerja mamanya yang juga baru.
Ane lebih sering diluar rumah, dan seringkali dia hanya bertemu dengan Lia saat bocah itu sudah terlelap dalam tidurnya.
"Untung saja perusahaan nggak jadi collapse, bisa nganggur berjamaah kita kalau sampai nggak ada yang bersedia membeli saham di perusahaan kita ini" terdengar obrolan dari beberapa petinggi perusahaan saat jam makan siang setelah meeting tiap Senin pagi.
Terdapat Ane di gerombolan itu yang juga sedang menikmati makan siangnya.
"Dengar-dengar, bos kita yang baru itu orangnya galak ya" celetuk rekan kerja Ane, seorang Team Leader dari perusahaan kosmetik yang tentu terlihat cantik.
"Biasa orang kaya memang rada songong. Kita sebagai bawahannya yang harus pinter-pinter jaga sikap, iya kan mbak Ane?" tanya rekan Ane yang melihatnya hanya sibuk dengan ponselnya.
"Eh, iya. Terserah deh" tutur Ane sambil tersenyum.
"Sibuk sendiri sama hape, pasti lagi chatting sama Pak Bima ya? Mbak Ane beneran ada hubungan spesial ya sama pak Bima?" tanya rekannya yang lain.
"Nggak lah, Pak Bima cuma atasanku saja kok, nggak lebih. Sama kayak kalian" ucap Ane sambil memasukkan ponsel ke dalam tasnya.
"Tapi memang perlakuan Pak Bima ke Mbak Ane tuh beda banget loh mbak. Masak sih mbak Ane nggak sadar?" tanya Ayu, rekan sesama manager.
"Sudah deh, kok jadi bahas Pak Bima sih. Tadi bahas apa? Bos baru ya? Aku dengar bos baru kita itu mau memimpin di tempat kita ini loh. Ehm, kayaknya Senin depan beliau datang dari Jakarta" kata Ane mengalihkan pembicaraan.
Malas saja kalau urusan pribadinya jadi konsumsi publik.
"Eh, iya. Uwah, berarti dua hari lagi dong. Katanya bos kita ini ganteng loh, masih muda tapi sudah jadi duda. Pokoknya Senin nanti aku harus tampil cantik maksimal, siapa tahu pak bos terpikat akan kecantikanku" ujar Ayu menggebu, membuang rekannya yang lain terkekeh karena tingkahnya.
"Yang cantik aja diam, Yu. Malah kamu heboh sendiri" ujar Tomi, manager keuangan yang kepalanya sedikit botak dan berkacamata.
"Eh, biarin dong pak. Jodoh siapa yang tahu. Kalau sampai nanti bos barunya terpikat sama aku, pasti aku cuma mau jadi ibu rumah tangga yang baik supaya bisa ngasih servis terbaik buat suami aku" kaya Ayu yang membuat semua orang terkekeh lagi.
Ane sangat menikmati kedekatannya dengan rekan-rekannya. Meski di hari kerja dia tak punya waktu yang cukup banyak dengan Lia, tapi di akhir pekan Ane selalu menyempatkan diri untuk mengajak anaknya itu berlibur bersama.
Dan mereka berdua selalu bersyukur pada apa yang telah mereka dapatkan. Karena bukan hal yang mudah untuk bisa mencapai sampai di titik ini.
Apalagi bisa terbebas dari jeratan keluarga Alexander, Ane sudah merasa tenang. Meski hatinya belum siap untuk menerima kehadiran dari pria manapun, taj terkecuali Bima yang akhir-akhir ini sangat intens mendekatinya.
Seninpun datang.
Hari yang sudah ditunggu oleh semua karyawan, terutama para karyawan wanita yang mendengar selentingan kabar jika bos barunya adalah pria yang tampan. Membuat semuanya bersiap untuk menyambut semangat baru saat berada ditempat kerja.
"Huft, sudah capek-capek nyiapin upacara penyambutan bos baru yang katanya gantengnya melebihi Kim Taehyung, malah bosnya telat. Nggak menghargai niat tulus karyawannya banget deh" keluh Ayu yang make upnya sudah di touch up berkali-kali.
"Dasar orang kaya, untung saja bos, coba kalau karyawan kayak kita yang telat, pasti diomelin habis-habisan. Yang kalau omelannya di tulis dikertas nih, panjangnya melebihi panjang dari tembok besar Cina" ada lagi keluhan dari wanita yang lain.
"Kan sudah dikasih tahu kalau macet, Yu. Nggak mungkin bohong deh, soalnya Pak Bima juga terlambat, kan" kata Tomi yang berusaha menurunkan level kekesalan Ayu.
Semua orang sudah bersiap di aula kantor sejak tadi jam delapan karena katanya pak bos baru akan datang di jam tersebut.
Tapi nyatanya sampai jarum pendek mendekati angka sepuluh, atasannya itu belum juga nampak.
Memang benar mereka berada di ruangan yang besar, tapi suasana akan terasa semakin panas jika ada banyak orang dalam satu ruangan, bukan?
"Heh, diam semuanya, yang ditunggu sudah ada dilobi" kata seorang pegawai yang baru memasuki ruangan dan duduk tenang di kursinya.
Semuanya terdiam, menunggu dengan sabar untuk menyambut kedatangan petinggi baru yang memilih untuk berkantor di cabang Bandung, bukan di pusat Jakarta.
Suara tapak kaki dari sepatu fantofel terdengar sedikit nyaring di kondisi hening seperti ini.
Semua mata mengarah ke pintu masuk saat suara tapak kaki itu terdengar semakin jelas.
"Uwah, dia memang ganteng banget sih" celetuk Ayu saat melihat seseorang menyembul dari balik pintu.
"Nggak sia-sia kita nunggu kalau yang datang makhluk tuhan yang serupa malaikat kayak gini" kata yang lainnya.
"Gila sih, betah deh di kantor kalau bosnya kayak gini. Nginep juga aku rela" kata yang lain.
"Lihat dong An, tuh pak bos ganteng banget" kata Ayu sambil mengguncang lengan Ane yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Iya bentar, aku kesana dulu ya. Pak Bima nyuruh aku ngasih minumannya ke pak bos baru nih" kata Ane yang tak menghiraukan ucapan Ayu.
Karena tugasnya untuk menyiapkan minuman mengharuskannya untuk mengambil ke sisi ruangan untuk mengambil nampan dan beberapa minuman yang akan disuguhkan pada para petinggi perusahaan yang berjumlah sekitar empat orang yang datang bersamaan.
Letak meja yang disusun seperti acara rapat membuat Ane belum bisa melihat ke arah bos barunya itu.
Setelah menata minuman diatas nampan, Ane berjalan pelan menuju meja para atasan untuk menyajikan.
Satu persatu Ane menurunkan minuman ke hadapan atasannya.
"Silahkan, pak" ucap Ane dengan ramah dan senyum menawan saat menghidangkan minuman pertama pada pria berjas formal yang di depannya tertera nama Dewan komisaris.
Di meja kedua Ane hanya mengangguk dengan senyum manis dan sedikit memanyunkan bibirnya manja karena itu adalah meja Bima. Ane membalas kerlingan nakal yang Bima berikan padanya hingga membuat pria itu terkekeh pelan dengan ekor mata yang tak luput dari wanita pujaannya.
Langkahnya terhenti saat berada di hadapan bos barunya. Karena tatapan mematikan yang pria itu berikan padanya membuat Ane sangat terkejut hingga membuatnya sedikit tremor.
Senyumnya yang sejak tadi terlihat secantik mentari pagi sekejap hilang saat berada di hadapan pria itu.
Apalagi saat pandangan mematikan yang pria itu berikan seolah sedang mengulitinya hidup-hidup.
Ane merasa seperti seorang kekasih yang kedapatan sedang berselingkuh di hadapan kekasihnya sendiri.
Tangannya gemetaran saat menyajikan minuman ke hadapan bos barunya itu.
Hingga dia lupa untuk tersenyum saat menaruh gelas di meja ke empat yang diisi oleh asisten si bos baru.
Dengan cepat Ane beranjak meletakkan nampan kosong dan duduk gelisah di kursinya yang berada di deretan kedua dari depan.
Saat semua wanita terlihat kagum dan seolah memuja ketampanan si bos, Ane malah merasa gelisah dan kursinya seperti terasa panas karena bosnya itu tak melepaskan pandangannya dari Ane yang tertunduk.
Ya, bos baru yang sedang dipuja oleh para wanita itu adalah Vicky Darius Alexander. Pria yang mulai hari ini menjabat sebagai atasan baru di perusahaan tempat Ane bekerja.
Sementara duduk di sebelahnya, Felix yang sejak tadi juga terkekeh pelan melihat kelakuan dua orang yang seperti ABG labil itu.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?