Ganteng tapi galak. Euh, punya manager gitu bikin nggak betah di kantor nggak sih?
Kerja di luar negeri memang enak. Punya banyak teman dari negara lain plus memiliki kesempatan untuk dapat calon laki yang H.O.T banget
Tapi apa daya jadi budak corporat startup, sebagai copywriter, Dania Daneswara cuma bisa duduk di balik komputer sambil di marahin sama manager super duper galak yang bikin hari tambah runyam di negeri asing.
"Ganteng mah bebas ya," pikirnya setiap kali si manager berkoar-koar di balik mejanya.
Keagan O'Malley, pria berdarah campuran Indonesia-Jerman. Sebagai manager, ia kerap dianggap galak dan tidak berperasaan.
Tapi ketika bertemu Dania, pelan-pelan pribadinya berubah. Lebih usil dan tengil.
IG : @althamirafrishka
Saran dan kritik sangat diterima. Terimakasih sudah membaca 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althamira Frishka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Martial Arts Copywriting
Hari ini Dania lebih banyak berkutat di depan layar komputer. Begitu juga Roki. Setelah memilih masing-masing tugas yang akan dikerjakan, Dania kebagian membuat fasilitas dojo. Menyeleksi satu per satu foto yang akan di tampilkan di laman website. Dia memisahkan foto yang akan ditampilkan pada laman user interface dan memberi label pada masing-masing fotonya.
Sekitar 35 foto sudah selesai Dania sortir. Lalu dia meminta pertimbangan Mai. Setelah di setujui, Dania memasukan foto-foto pada satu folder dan mengunggahnya lewat gdrive agar bisa diakses bagian desain.
Dania mengirim pesan singkat kepada koleganya di divisi desain. Memberitahu bahwa foto yang telah dia pilih untuk dimasukkan dalam website, sudah diunggah ke unggahan bersama.
Dania : Gambar yang akan masuk website sudah saya kirim ke gdrive. Mohon segera dikerjakan ya. Karena weekend ini saya ada outdoor gathering. Kemungkinan akan jarang pegang smartphone. Terima kasih atas kerjasamanya.
Pesan Dania dibalas singkat. “Baik Bu Dania.”
Dania meregangkan tubuhnya, dia tinggal membuat content untuk per laman website bagian fasilitas. Dania mencoret-coret buku catatannya. Merancang outline untuk tampilan fasilitas nanti.
Bagian tata letak foto, di warnai dengan spidol bewarna merah jambu. Sementara isi content, baru diisi dengan outline kasar bewarna biru. Dania menyisipkan bagian inti dari tiap fasilitas.
Dania menyetel playlist lagunya. Memakai headset dan bersiap menyentuh isi website dengan kemampuan copywriter-nya. Dia menaruh tulisannya secara offline. Agar ketika selesai, dia tinggal mengirim surel ke Mai dan Keagan.
Jemarinya berdansa lihai di atas keyboard. Menari, meliuk tanpa henti. Tidak membiarkan jemarinya bernafas sejenak.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Dania. Dia mencabut headset-nya dari telinga. Melihat siapa yang memanggilnya.
“Roki? What's going on?”
“Bagaimana pekerjaanmu? Lancar?”
“Ya. Sejauh ini baik-baik saja.” Ucap Dania membereskan letak headset agar tidak menyangkut dengan kakinya.
“Coffee break?” tanya Roki.
“Yeah. Sure. Let's go.”
🍁🍁
Dania membuat kopi favoritnya. Menambahkan dua paket creamer dan satu sendok gula. Menyesapnya perlahan sambil di temani empat keping biskuit.
Roki duduk di seberangnya. “Bagaimana persiapan gathering? Perlu bantuan?”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri. Tinggal ke toko minta bantuan pramuniaga untuk mengangkat galon ke mobil.” Jelas Dania.
Dia menolak dengan cepat. Tidak ingin merepotkan Roki lebih jauh lagi. Apalagi rumah mereka jauh. Tidak mungkin baginya untuk membiarkan Roki mengemban tugasnya. Tugas Roki sendiri lebih banyak dari Dania. Dia harus membawa matras untuk mereka semua.
“Baiklah kalau begitu. Kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk minta padaku.” Roki tersenyum pada Dania. Kalau bukan karena hati Dania yang sudah tertarik pada orang lain, mungkin dia juga akan meleleh mendapati senyuman dari Roki.
Mereka berdua kembali ke kubikelnya masing-masing. Melanjutkan sisa pekerjaan hari ini. Project Karate Training Center sudah harus selesai hari ini. Dania memakai headset-nya kembali. Pertanda tidak ingin mendapat gangguan dari lainnya. Dia memutar playlist lagu yang telah disiapkannya tadi. Tenggelam dalam imajinasinya. Membiarkan dirinya untuk mengerahkan seluruh krearifitasnya untuk menjadi copywriter handal.
Waktunya makan siang. Namun, Dania melewatkan makan siang bersama koleganya yang lain. Tawaran Lee Nan di tolaknya. Begitu juga Rio yang sudah jauh-jauh menjemputnya untuk makan siang di rooftop.
Dia hanya menggantinya dengan dua mangkuk sereal dengan susu coklat. Melahapnya dengan rakus.
“Makanlah pelan-pelan. Aku tidak ingin membayar biaya rumah sakit atau kompensasi apapun karena kecelakaan dalam waktu kerja. Kamu mau mati tersedak?” tegur Keagan sarkasme di depan pintu pantry. Tangannya memegang pinggiran pintu. Sementara tangan satunya dijejalkan ke dalam saku celana.
Tapi, justru teguran Keagan yang tiba-tiba itulah membuat Dania tersedak. Terbatuk keras dengan sisa sereal berhamburan di atas meja makan. Live dari mulutnya dan di saksikan Keagan.
Dania dengan gerakan cepat menambil segelas air minum yang telah dipersiapkannya sejak tadi disebelahnya. Menenggaknya sedikit demi. Keagan langsung mendekati Dania dengan cepat. Membantunya menepuk punggungnya pelan.
“I’m sorry. Apa tadi karena saya?” tanya Keagan di sela tepukan pelan di punggungnya. Memberi sensasi gelenyar di perut Dania.
Secara tidak langsung, Dania menikmati tangan Keagan yang menyentuhnya di punggung. Walau tepukan pelan tadi, kini berubah menjadi usapan. Namun justru membuat Dania ketagihan.
“Bapak kira karena siapa?!” balas Dania sambil menepiskan tangan Keagan dengan kasar. Keagan menggenggam tangannya erat. Menaruhnya di sisi tubuhnya lagi.
Keagan membersihkan sisa hamburan sereal yang berserak di atas meja dengan kain lap basah. Membuangnya ke tempat sampah tanpa merasa jijik.
“Saya kan sudah minta maaf.” Balas Keagan tidak peduli. Dia beralih ke meja pantry yang mengeliling tiga per empat ruangan. Mengambil sereal dan susu coklat yang sama dengan Dania. Bergabung dengan Dania dan makan di hadapannya.
“Bapak tidak makan siang?” tanya Dania basa-basi karena keheningan ini kini membuat dia risi. Seperti takut debaran jantungnya terdengar oleh telinga Keagan.
“Kamu kerjanya lamban. Jadi pekerjaan yang perlu saya koreksi overload. Tidak ada waktu makan siang di luar.” Jawab Keagan sekenanya. Seperti memancing pertikaian dengan Dania.
Dasar Keagan Pat Kai. Tahu gitu aku nggak perlu basa-basi.
“Kamu tidak perlu basa-basi dengan saya. Habiskan saja makananmu pelan-pelan dan segera kirim pekerjaanmu.”
Dania mendongak. Menatap Keagan yang tengah memandangi mangkuk serealnya. Terkejut karena mengira Keagan bisa membaca pikirannya.
“Sudah selesai! Tinggal koreksi ulang!" Jawab Dania sewot.
Dania selesai menghabiskan serealnya duluan. Sementara Keagan baru saja menambah sereal pada mangkuk keduanya. Dania kembali ke kubikelnya dan mengoreksi pekerjaannya dengan teliti. Meminimalisir adanya salah dalam mengeja kata.
Tidak lama kemudian, Keagan sudah hadir di belakang kursi Dania.
“Apa sudah selesai?”
Dania menoleh ke belakang dan hendak beranjak dari kursinya. Memberikan Keagan tempat untuk mengoreksi pekerjaannya.
“Duduk saja di sana.”
Akhirnya Dania tidak jadi beranjak dari kursi. Dia hanya bergeser sedikit. Memberi ruang Keagan untuk mendekat pada layar komputernya. Kini Keagan begitu dekat dari jangkauannya. Aroma colonge-nya tercium oleh Dania. Membuat dia bertanya-tanya colonge merek apa yang di gunakan Keagan.
Keagan sedikit membungkuk. Tubuhnya kini bertumpu pada meja kubikel. Dia meletakkan tangan kanannya di bibir meja dan tangan kirinya di sandaran kursi Dania. Membaca dengan seksama tiap kata yang ditulis Dania. Dania hanya bisa memandang siluet Keagan dari samping. Kesempurnaan yang tiada bisa tertandingi.
Garis wajah yang terlihat dari samping begitu proposional untuk seorang pria. Rambutnya, hidungnya yang mancung, bibirnya yang oh tidak usah dibayangkan, dan dagunya yang tidak tumpul dan tidak pula terlalu lancip.
“Great job, Dania.” Ucap Keagan setelah membaca keseluruhan paragraf dan kembali lagi ke paragraf awal.
Keagan menepuk pelan puncak kepala Dania. Ketika hendak melepaskan sentuhannya, tepukan itu berubah menjadi usapan dan Keagan melepaskan tangannya.
“Saya suka paragraf awal kamu.” Ucap Keagan. Dia pun kembali ke mejanya yang kokoh.
Dania membaca paragraf awal hasil imajinasinya yang dia tuangkan dalam bentuk copywriting.
"If you learn martial arts right now, you don't need to be afraid anymore. When you are on the way back home at late night."
Dania tersenyum. Memperlihatkan lesung pipinya yang manis.
🍁🍁
Dania bukan selera kamu keagan 😁
mangats Dania..keagan layak diperjuangkan 😀
aku suka..aku suka 😀