Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Baru 2
Aku mengeser kursi agak menjauh menoleh kesamping melihat si empunya suara, semoga tak benar. Seketika aku melonggo.
"Ka-kamu" dengan cepat aku bangun dari kursi dan menunjuk si pria.
"kenapa Yun?"tanya Sinta
"Hey. Yuna ini bos baru kita, pak Adrian!"kata Winda pelan disampingku
"Apa!"
Apa yang Winda bilang, menoleh sekilas pada si pria, dia tersenyum. Ini tidak mungkinkan?, kenapa tiba-tiba dia jadi Bos.
"Gak, ini gak mungkin, kalian pasti bohong"
"Kami gak bohong Yun, beneran."ucap Sinta meyakinkan. Aku keluar dari sana.
Tak kupedulikan lagi, kenapa musti Adrian yang jadi Bos baru, Ya keputusanku sudah bulat, aku akan resign dari sana.
" Yuna, kamu kenapa.."tak lagi ku dengar teriakan mereka.
Berjalan cepat menuju kantor mengemasi barangku, besok akan kuserahkan surat pengunduran diri pada Nita, karena dulu dia yang merekomendasikanku dan diterima dikantor ini. Tepat hampir didepan kantor ada yang mencekal tanganku.
"Yuna, kamu kenapa? " ujar Adrian. Aku menoleh menatapnya tajam
"Bukan urusanmu, lepaskan aku" menyentak kuat hingga tangannya terlepas
"Maafkan aku, Yuna"ucapnya menyesal, Aku membeku ditempat. Dia minta maafkan.
"Maafkan aku, sebenarnya selama ini aku hanya ingin menjelaskan segalanya padamu, aku tak berniat membuatmu takut padaku. Maafkan aku"lanjutnya lagi.
Benarkah dia memang tak seburuk itu saat ku kenal dulu, mungkin aku harus mempercayainya kali ini. Sewaktu kuliah pun dia tak pernah mengganggu perempuan lain.
"Maaf Yuna, aku terpaksa melakukan semua ini" ucapnya menunduk, sepertinya dia benar-benar menyesal.
"Aku tak ingin kau menganggapku meninggalkanmu"
"Baiklah, ku maafkan"
"Benarkah "
"Iya, dan jangan ulangi lagi "tegasku
"Iya. Terima kasih Yuna "
Aku berlalu meninggalkannya menuju kantor untuk kembali bekerja, mungkin keputusan resign pun tak akan terjadi, mungkin akan kupikirkan nanti.
••••••••••••••••••••••••••••••
Hari sudah beranjak sore, waktu pulang bagi sebagian karyawan karena ada juga yang lembur. Aku sudah menunggu bang Yusuf ditempat biasa, tepat didepan kantor.
Sebuah mobil berhenti tepat didepanku membunyikan klakson beberapa kali, disusul dengan kaca mobil terbuka.
"Hey Yuna, masuklah biar aku antar "teriak si empunya mobil
"Tak perlu. Terima kasih "tolakku
"Ayolah"9h
Aku tak peduli lagi dengan perkataannya, tetap duduk menunggu bang Yusuf. Lama tak mendapat jawaban dariku Adrian turun dari mobilnya.
Belum sempat dia mendekatiku mobil bang Yusuf pun datang, entah kenapa aku sangat senang karenanya. Kuhampiri cepat mobilnya dan masuk tanpa menoleh sedikit pun pada Adrian, sebenarnya ada sedikit rasa takut.
Meraih tangan bang Yusuf dan menyalaminya.
"Mau kemana lagi?"tanyanya mulai melajukan mobil.
"Gak ada, langsung pulang aja, capek"jawabku
"Gak mau makan gitu"tanyanya
"Makan apa coba, masakan Mama enak, jangan suka jajan"ucapku
"Iya deh"
Bang Yusuf melajukan mobil menuju rumah Mama, apa aku harus meminta pindah padanya. Aku tak mau lagi melihat Ibu dan Mama kerepotan.
Sudah masuk perkarangan rumah, saat mobil berhenti aku langsung menuju pintu masuk disusul Bang Yusuf.
"Assalamualaikum "
"Wa'alaikumussalam warahmatullah" Mama dan Bella menjawab dari dalam, aku pun menyalaminya dan pamit menuju kamar membersihkan diri.
Keputusanku sudah bulat, aku tak boleh terlalu dimanja begini, harus belajar jadi istri dan ibu yang sesungguhnya karena aku sudah menikah.
Prinsipku mempunyai anak dan pindah akan sedikit buruk karena aku belum terbiasa mengerjakan sendirian.
Tapi aku juga harus meminta persetujuan antara dua keluarga ini, bagaimanapun keluarga bang Yusuf dan keluargaku pasti merasa tak enak hati jika kami pindah.
"Dek jangan kebanyakan melamun, entar kerasukan loh"ujarnya
Aku yang duduk disofa tersentak mendengar suara bang Yusuf tiba-tiba
"Mana ada, aku kan lagi mikir bukan melamun"kilahku
"Mikirin apa sih?"Mendudukkan diri disampingku sambil melepas kaos kaki dan dasinya
"Ada deh."
Berlalu aku masuk kamar mandi, mungkin nanti akan kukatakan padanya, mungkin dia sangat lelah sekarang.
----
"Kamu udah minum obatnya dek?"tanyanya setelah pulang dari shalat isya dimesjid terdekat. Merebahkan diri diranjangnya.
"Udah tadi"jawabku
"Bagus"
"Sini duduk dulu"Menepuk pelan kasur disampingnya.
"Ngapain disitu, aku disini aja"tolakku
Penolakanku selalu tak berguna, sekarang dia yang menuju ke sofa tempatku duduk dari tadi. Rambut nya sedikit berantakan dengan baju koko yang kancing atasnya sudah terlepas, menggoda.
eh? ada apa denganku
"Dek, kamu mau sesuatu sampe air liurmu keluar tuh"ucapannya membuatku tersentak
Dengan cepat kuhapus ujung bibir kasar dengan tanganku, tapi tak ada apa-apa. Dia menipuku
"Iss. Gak ada apa-apa kok?,"kesalku
"Hahaha." Dia menertawakanku. Kenapa aku sampai begini sih. Malu kan.
"Kamu lucu banget dek tadi" lanjutnya lagi, aku hanya duduk tanpa menanggapi, mau ditaruh dimana mukaku. Huaa
Bang Yusuf duduk disebelahku dengan wajah konyolnya, aku memandangnya tajam, tapi seakan tak ada pengaruh.
"Ambil baju dek, dilemari"
Tanpa kata aku bangun mengambil bajunya di lemari, aku kesel tapi tak mungkinkan marah padanya.
Setelah menemukan satu kaus yang pas aku menyodorkan padanya tanpa kata pula.
"Sini duduk, bukain bentar"
Dia mengisyaratkanku membuka bajunya, dikira aku tergoda apa, memang sih, dikit tapi. Kupalingkan muka seolah merajuk
"Buka aja sendiri, kan bisa"ketusku
"Buka bentar napa dek?"rajuknya
"Iya-iya"
Satu persatu kancing bajunya ku buka, jarak yang begitu dekat membuat jantung berdetak tak normal, deru nafas bang Yusuf pun terdengar agak berat.
Aku bisa hilang akal jika terus begini berdekatan dengannya. Selesai dengan kancing bajunya aku memalingkan muka tak mau melihat itu.
"Dek, pakein" ucapnya manja
Ampun deh dari mana sih tingkah aneh bang Yusuf yang manja ini.
"Pake sendiri aja bang"
"Pakein" manjanya
Menghela nafas pelan, ada apa sih dengan bang Yusuf, padahal kemaren gak manja gini. Aku berdiri didepanya memakaikan baju kaus miliknya dari kepala, tangan kanan dan tangan kiri, benar-benar seperti bayi besar.
Entah sejak kapan tangan memeluk pinggangku hingga kepalanya tepat berada diperutku.
"Apaan sih bang, lepasin"
"Gak mau, mendingan kamu duduk disini "
Dia mendudukkanku tepat dipangkuannya, ini bahaya!!
"Gak mau, a-aku mau keluar ambil minum. Lepasin"Mencari alasan
"Kalau dilepas kamu kabur nanti"ujarnya lagi
"Tapi gak gini juga bang"Aku memberontak, selalu saja dia seenaknya.
"Diam!" Seketika aku pun terdiam.
Dia memeluk tubuhku, terasa hangat, dengan aroma tubuhnya yang menjadi kesukaanku terbuai dalam peluknya.
"Dek, kamu pakek sabun aroma mawar ya? Abang suka!"
"I-iya"
Kami terdiam cukup lama, hening. Kamar ini terasa sangat sunyi. Hanya suara hujan mulai terdengar diluar.
"Bang"
"Iya"
"Aku mau ngomong serius"
"Ya ngomong aja dek,"katanya pelan
"I-itu gimana kalau kita pindah kerumah baru" kurasa tubuhnya sedikit tersentak. Bagaimana jika dia tak setuju, aku hanya mengigit bibir.
------
Hola guys jangan lupa like, comen , follow and vote ya, dukungan kalian jadi semangat buat Author😉
love you all 😍😍😍
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati