NovelToon NovelToon
AZKA&ANNA

AZKA&ANNA

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Anak Kembar / Teen School/College / Persahabatan / Tamat
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: syahri musdalipah tarigan

💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫

.
.
Season 3 :

Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:

" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "

Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :

"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"

Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Dalam keadaan mobil masih terus melaju menuju rumah ruko Aulia di jalan galang. Azka menatap serius wajah Azzuri terlihat dari kaca spion tengah dalam mobil. Saking seriusnya memandang wajah Azzuri, dahinya sampai berkerut, dan sebelah alis Azka naik.

Anna penasaran menatap wajah Azzuri dan Azka, terlihat saling lirik secara bergantian. Penasaran dengan lirikan Azka dan Azzuri terlihat berbeda, Anna mulai bertanya, “Abang…dan Papi kenapa saling melilik (melirik) sepelti (seperti) itu?”

“Abang hanya ingin memastikan, apakah Papi beneran mau pergi bekerja, atau Papi mau bertemu dengan wanita yang memakai baju serba terbuka itu (Zalfa)!” tegas Azka menyudutkan Azzuri, tatapan tajam masih luruh memandang wajah Azzuri terlihat dari kaca spion tengah.

“Tapi tatapan abang ke Papi, sepelti (seperti) menuduh. I…itu tidak baik,” Anna melirik ke Aulia, “Benal (benar) ‘kan Mami. Kita tidak boleh menuduh olang (orang) lain ‘kan?” Anna bertanya pada Aulia.

“Benar sayang,” sahut Aulia sembari menoleh ke belakang, pandangannya menatap Azka, wajahnya terlihat cemberut, kedua tangan di lipat di depan dada, pandangan mengarah ke kaca jendela.

“Maaf Papi,” maaf Azka datar.

Sejenak terukir senyum manis di wajah tampan Azzuri, menit selanjutnya Azzuri melirik Azka dari kaca tengah dalam mobil dan berkata, “Tidak masalah.”

Tak lama mobil di naiki Aulia, Azzuri, Azka, dan Anna, memasuki halaman rumah ruko Aulia, dan sudah terparkir rapih di depan halaman rumah ruko Aulia. Azzuri, dan Aulia turun, membantu Azka dan Anna turun dari mobil.

Anna berdiri di hadapan Azzuri, pandangan menengadah ke atas, menatap Azzuri sedang menatap dirinya.

“Kenapa adek melihat Papi seperti itu?” tanya Azzuri heran melihat Anna terus menatapnya tanpa berkedip.

“Papi bobok baleng (bareng) di sini ‘kan?” tanya Anna manja, pengucapan kalimat belum sempurna.

“Kenapa?”

“Ndak apa-apa. Adek hanya ingin melihat Papi selalu ada setiap adek bangun tidul (tidur),” sahut Anna.

“Adek tenang aja, mulai sekarang Papi memang akan selalu tidur dan tinggal di rumah kita. Sudah malam, sekarang mari kita masuk, besok adek sama abang mau sekolah lagi, jadi jangan tidur malam-malam,” sambung Aulia menyudahi percakapan karena sudah malam.

Sedangkan Azka, wajahnya masih saja cemberut karena Aulia tidak membela dirinya. Azka pun berjalan cepat, menunggu di depan pintu rumah samping, masih terkunci. Aulia menyadari kekesalan Azka, segera mendekati Azka, membuka pintu samping.

“Makasih Mami,” ucap Azka dingin, melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam rumah.

“Abang kenapa?” tanya Aulia menghentikan langkah kaki Azka.

“Tidak ada. Abang mau cepat-cepat cuci kaki, wajah, lalu tidur, Mami,” sahut Azka dingin.

Azzuri dan Anna baru saja masuk heran melihat sikap Azka tiba-tiba berubah menjadi dingin. Azzuri dan Anna, melihat kepergian Azka menuju kamar, melewati ruang tv keluarga. Anna penasaran kenapa Azka tiba-tiba berubah dingin memutuskan untuk pamit tidur kepada Aulia dan Azzuri. Lalu bergegas mengikuti Azka sudah masuk ke dalam kamarnya.

“Azka kenapa mendadak dingin seperti itu kepada ku?” tanya Azzuri penasaran.

“Mungkin Azka masih berusia 5 tahun. Tapi pikiran, perasaan, dan instingnya sudah seperti seorang pria dewasa. Azka itu sangat posesif, aku rasa ia mendadak dingin karena Azka tak ingin melihat kamu pergi. Azka juga mungkin berpikir kalau kamu ingin menduakan Maminya,” jelas Aulia di kalimat terakhir menyelipkan kalimat sindirannya.

“Bilang saja itu pikiran kamu!” celetuk Azzuri gemas melihat wajah Aulia terlihat imut.

“Apaan sih, aku mau tidur!” ketus Aulia.

Aulia balik badan, melangkah menuju kamar Azka dan Anna, memastikan apakah putra-putrinya sudah tidur, atau memastikan sedang menunggunya untuk dibacakan dongeng penghantar tidur. Seperti kebiasaan Aulia sebelum Azka dan Anna tidur.

“Maafkan Papi, gara-gara wanita itu kamu menjadi sulit percaya dengan Papi,” gumam Azzuri merasa bersalah pada anak-anaknya, pandangannya menatap punggung Aulia sudah berjalan masuk ke ruang Tv keluarga terhubung dengan kamar Azka dan Anna.

Tok tok!

Aulia mengetuk pintu kamar Anna dan Azka. Tangannya mendorong handle pintu, terlihat Azka dan Anna duduk, tangan memegang buku dongeng penghantar tidur seperti biasa. Aulia pun masuk ke dalam kamar.

“Mau Mami bacakan?” tanya Aulia sembari berjalan mendekati ranjang, dan duduk di samping Azka.

“Hem,” angguk Anna.

“Tidak perlu!” tolak Azka dingin.

Aulia mengambil buku dongeng dari tangan Azka, meletakkan di atas meja lampu tidur, menatap Azka sedang memalingkan wajahnya ke sisi lain.

“Kalau Mami boleh tahu, kenapa sikap abang tiba-tiba berubah seperti ini. Apa Papi ada berbuat salah dengan abang?” tanya Aulia lembut.

“Tidak tahu!” ketus Azka.

“Abang..” panggil Aulia menekan nada suaranya dengan lembut.

“Abang ndak boleh sepelti (seperti) itu. Mami sedang beltanya (bertanya) sama abang. Bu gulu (guru) bilang kita tidak boleh kasal (kasar) sama olang (orang) tua!” omel Anna buru-buru dengan celat.

Hanya Anna, adik kesayangannya bisa meluluhkan keras hatinya Azka.

Azka pun perlahan menoleh ke Aulia.

“Abang tidak suka mendengar Papi sering meninggalkan Mami sendirian di sini. Seolah Papi beneran ada wanita lain selain Mami,” jelas Azka mengutarakan isi hatinya, dan pikirannya seperti orang dewasa.

“Papi beneran ada urusan penting yang harus segera di selesaikan sayang. Kalau abang sudah besar, pasti abang akan sibuk seperti Papi dan Mami, nantinya,” Aulia membelai puncak kepala Azka, “Sekarang yang terpenting abang harus sekolah dan belajar yang benar, agar bisa menjadi orang hebat seperti Kakek, Papi, dan Mami,” sambung Aulia membujuk Azka.

“Abang masih belum mengerti maksud dari ucapan Mami. Tapi, abang akan berusaha memahami jika Papi pergi beneran untuk menyelesaikan masalahnya,” sahut Azka datar.

“Sekarang mari tidur,” ajak Aulia, tangan mematikan lampu kamar, menggantinya dengan lampur tidur.

Azka dan Anna membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Aulia menarik selimut, menyelimuti tubuh Anna dan Azka, lalu mengecup kening Azka dan Anna. Menit selanjutnya Aulia pergi meninggalkan kamar Azka dan Anna, kembali ke kamarnya berada di lantai 2.

Sesampainya di lantai 2, Aulia melihat Azzuri berdiri di depan pintu kamarnya.

“Kamu kenapa berdiri di depan pintu kamar ku?” tanya Aulia menyelidik.

“Bagaimana dengan Azka?” Azzuri balik bertanya.

“Aku sudah menjelaskan padanya agar Azka tidak berpikir buruk tentang kepergian kamu besok siang. Jadi kamu tenang saja. Sekarang aku ingin bertanya dan kamu harus menjawab jujur. Siapa pria yang bernama Bachtiar, dan kenapa dia bisa mengenal aku?” tanya Aulia mulai menyelidik.

Sejenak Azzuri menarik nafas panjang, menit selanjutnya menatap wajah serius Aulia sedang menatapnya.

“Bachtiar Carl. Seorang Mafia tanah, berkarakter baik, dingin, dan terkenal kejam. Dia adalah musuh lama ku yang sudah kembali dari Negeri orang. Aku rasa kemunculannya tiba-tiba untuk membalaskan dendam kepadaku. Tapi…aku masih tidak bisa berpikir gimana bisa dia melakukan ke bohongan publik seperti ini. Dan bersekongkol dengan musuh kamu, Anggi!” Azzuri memandang Aulia dengan tatapan menyelidik, “Kenapa Anggi bersikeras ingin menyingkirkan kamu?” sambung Azzuri mulai menyelidik.

“Sebaliknya aku juga bertanya kenapa Bachtiar ingin membalaskan dendamnya kepada kamu? Apa yang sudah kamu lakukan kepadanya?” Aulia balik bertanya.

“Waktu aku masih berusia 18 tahun, aku pernah pergi ke desa terpencil yang memiliki hasil batu berlian yang bagus di sana. Sesampainya di sana aku melihat seorang wanita tua di perlakukan kasar oleh Bachtiar. Aku pun menolong wanit tua itu dari kejahatan Bachtiar yang ingin merampas tanah milik wanita tua itu dan mengusirnya secara paksa. Singkat cerita aku pun berhasil mempertahan hak wanita tua itu, dan sebagai imbalannya, wanita tua itu mewariskan hartanya kepadaku. Dan dari sana lah Bachtiar ingin terus melakukan hal buruk kepadaku,” sahut Azzuri menjelaskan.

"Kalau Anggi, ia sangat membenci ku, karena usah berlian milikku cukup terkenal daripada miliknya. Tapi ...kenapa dia harus tak suka kepadaku? aku 'kan menjalankan bisnis dengan produk baru berlian berkualitas bagus, tidak menipu dan abal-abal," sambung Aulia membicarakan kenapa Anggi bisa sangat membencinya.

" Inti dari kebencian dan balas dendam mereka hanya karena iri, " Azzuri menggeleng, "Ternyata sifat iri dan dengki itu sangat mengerikan!"

"Sudah jangan di pikirkan, sekarang mari tidur," ajak Aulia, tangannya membuka pintu kamar miliknya.

Azzuri melihat dan mendengar ajakan Aulia untuk tidur bareng terkejut.

"A..apa aku tidak salah dengar. Kamu mengajakku tidur bersama di..."

"Berhenti berpikir aneh. Aku melakukan hal ini karena aku tidak ingin Azka dan Anna, terus bertanya kenapa kamu tidak tidur bersama ku. Sudah cepat masuk!" ketus Aulia malu-malu.

"Aku tidak akan masuk kalau kamu tidak tulus memaafkan aku. Aulia, apa kamu masih marah?" tanya Azzuri tulus.

"Entahlah, jangan tanyakan itu lagi padaku. Biarkan waktu yang mengikis semua masalah sudah menjadi beban di hatiku selama 5 tahun ini. Dan biarkan kita menjalani kehidupan rumah tangga seperti ini, sampai kamu bisa kembali membuat aku percaya padamu!" jelas Aulia.

Cup!

Azzuri mengecup kening Aulia, detik selanjutnya dilepas.

"Terimakasih atas kesempatannya," ucap tulus Azzuri.

Azzuri pun melangkah masuk ke dalam kamar. Aulia sendiri, ia masih terbengong, tangannya memegang dahi mulus bekas kecupan Azzuri.

1
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
kebayang lucunya Anna kalau pas nyerocos kaya gitu.. 🤗🤗🤗
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂: iya 😊😊
total 2 replies
꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂
mungkinkah Aulia akan memberikan kesempatan buat seorang ayah untuk kedua anak kembarnya? 🤔
sari. trg: Mungkin kak.

Terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Rini Antika
Semangat terus dalam berkarya Kak 💪💪
Shandy
Dali... abang Azka ndak boyeh ya. 😂
sari. trg: ha ha ha....😅
total 3 replies
Denry Deny
gemes
Denry Deny
Semangat
Denry Deny
Om jeyek.
Shandy
masuk dia.... aku penasaran nanti kakak ini pereman
Shandy
Mami... mami cini
Shandy
benar...
Shandy
keren
Denry_Den Den
bocah zaman now
sari. trg: hehehe
total 1 replies
Denry_Den Den
mulut tetangga
Denry_Den Den
cemburu
Denry_Den Den
aku yakin besar nanti Azka pasti jadi pria dewasa yang sopan
Denry_Den Den
,keren
Denry_Den Den
Jangan menyerah
Denry_Den Den
orang Medan ya thor?
Denry_Den Den
Gemes
~~N..M~~~
khas logat medan ya.
sari. trg: Iya kak, main-main dulu ke Medan. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!