*Juara 2 event Pengkhianatan Cinta 1*
Kania Azzahra, terkejut saat mengetahui vidio hubungan intimnya dengan Adit beredar luas. Semua yang mengenal Kania pun bertanya-tanya tentang video itu, Mulai dari Rekan kerja dan juga teman semasa kuliahnya.
Tepat di saat Kania menuntut penjelasan kepada Adit. Mencari tahu alasan, mengapa video hubungan intim mereka itu bisa beredar luas, Kania mendapati Adit sedang bercinta dengan wanita lain. Adit bahkan memutuskan hubungan asmara mereka.
Hingga pada suatu hari Kania bertemu Athalla Akhmar Nizama. Seorang pria muda berparas tampan, juga seorang pengusaha muda yang datang dari keluarga taat beragama.
Apakah cinta akan bersemi kepada mereka? Apakah Kania sanggup berkata jujur tentang masa lalunya yang pahit kepada Athalla?
Novel ini murni hasil halu penulis, jika ada kesamaan kejadian, nama dan tempat itu hanya kebetulan semata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Dua Pilihan dari Papa
"Siapa pria yang telah menghamili kamu" teriak Papa.
Fani meremas tangannya menghilangkan kegugupan dan ketakutan. Dia belum siap jika berhadapan dengan Papa mengenai masalah ini.
"Pa, jangan emosi begitu. Fani pasti ketakutan melihat amarah Papa," ucap Mama.
Papa mengabaikan ucapan Mama. Mendekati Fani. Tanpa Mama atau Fani duga, Papa melayangkan tamparan ke pipi putrinya itu. Cukup keras tangan Papa menempel di pipi anaknya sehingga darah segar mengucur dari sudut bibirnya.
Mama yang melihat itu mendekati Fani dan memeluknya. Mama tidak mau Papa kembali melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Mama menghapus darah yang mengalir.
"Papa! Apa yang Papa lakukan? Kenapa menampar Fani?!" tanya Mama terisak. Mama dapat merasakan sakit yang dirasakan putrinya itu.
"Kenapa kamu bisa melakukan hal bodoh begini? Jika kamu sudah nggak tahan ingin melakukan hubungan, kamu tinggal ngomong minta dinikahkan! Bukan melakukan hal tolol seperti saat ini!" teriak Papa.
Stefani memandangi Papa-nya yang marah. Bukannya takut seperti tadi, kali ini Fani menatap dengan mata melotot ke arah orang tuanya itu.
"Apa yang Papa inginkan? Aku memang bodoh dan tolol. Aku juga tidak pernah menginginkan semua ini terjadi. Aku tau semua ini karena salahku. Tapi aku juga saat ini butuh dukungan kalian. Aku begini juga karena kalian!" ucap Fani. Tangisnya pecah.
"Kau membuat malu kami saja. Bagaimana nanti jika rekan bisnis Papa tahu jika kau hamil di luar nikah. Kau yang tidak bisa menjaga diri, mengapa salahkan kami? Dukungan apa yang kau mau! Membenarkan kelakuanmu ini?" tanya Papa.
"Kalian hanya sibuk dengan diri sendiri tanpa tahu dan bertanya aku ingin apa. Aku butuh apa. Andai aku dapat memilih! Mau menjadi siapa dan melakukan apa. Aku akan memilih tidak untuk dilahirkan. Aku tidak ingin menjalani hidup tanpa kejelasan dan tidak ingin menjadi beban bagi siapapun yang ku kenal. Terutama beban bagi kedua orang tuaku. Pernahkah Mama atau papa bertanya, kenapa aku tidak makan, kenapa aku tidak pulang, kenapa aku begini, kenapa aku menjadi seperti saat ini. Kalian orang tua egois. Hanya memikirkan kesenangan masing-maaing."
Papa tampak makin murka mendengar ucapan Fani. Berbeda dengan suaminya, Mama ikutan menangis mendengar ucapan putrinya itu. Mama merasa bersalah dengan apa yang menimpa anaknya saat ini. Semua karena salahnya juga yang tidak pernah memberikan perhatian lagi.
"Hebat sekali kau! Kesalahan yang kau lakukan, kau timpakan ada kami. Apa kau pernah berpikir jika semua yang orang tua lakukan juga demi anaknya! Mereka tidak ingin melihat anaknya hidup kekurangan hingga bekerja keras tak mengenal waktu hanya untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya!" ucap Papa dengan teriakan.
Adit yang telah sampai di rumah hanya berdiri mamatung mendengar pertengkaran adik dan papa-nya. Keduanya berpendirian jika mereka yang paling benar. Baik Papa atau Fani merasa diri yang benar dan menjadi korban.
"Sudahlah, Pa! Tidak ada gunanya kita saling membela diri dan saling menyalahkan. Semua ada salahnya dan ada benarnya. Sebaiknya kita mencari jalan keluar atas apa yang menimpa Fani," ucap Mama.
"Katakan siapa Bapak anakmu! Atau kau tak tahu siapa bapaknya?" tanya Papa.
"Pa, apa yang kamu ucapkan! Itu sama saja kamu menuduh anak kita tidur dengan banyak pria!" ucap Mama.
Adit yang mendengar itu, langsung masuk kamar. Dia juga ingin tahu kebenaran atas ucapan Alex. Apa benar Fani telah tidur dengan banyak pria sehingga dia tidak ingin bertanggung jawab sebelum dilakukan tes DNA.
Adit berdiri di samping Papa, menatap nanar ke arah Fani. Mencari kebenaran atas ucapan temannya itu. Adit ingin membuktikan jika itu hanya omong kosong dari Alex.
"Apa benar yang Alex katakan, jika kamu bukan hanya tidur dengannya saja?" tanya Adit.
Pertanyaan Adit membuat kedua orang tuanya menjadi kaget. Padahal Papa berkata seperti tadi hanya karena kekesalan. Tidak pernah terbesit di pikiran jika itu benar adanya.
Fani hanya diam. Sebenarnya apa yang dikatakan Adit itu tidak benar adanya. Dia hanya pernah tidur dengan Alex dan satu pria lain yang merebut kesuciannya dulu. Itu juga dalam keadaan mabuk.
Alex menuduhnya tidur dengan banyak pria karena saat bersamanya Fani sudah tidak perawan lagi. Alex menyimpulkan semua itu dengan menuduhnya tidur dengan pria lain.
Fani tahu dan yakin ini anaknya Alex. Namun, dia tidak bisa meminta tanggung jawab karena pria itu tidak percaya. Alex selama ini hanya menganggap dirinya partner ranjang saja tidak lebih. Jika pun terbukti dari hasil tes DNA ini darah dagingnya, Alex hanya mau menafkahi bukan menikahi dirinya.
"Katakan semua itu bohong, Nak! Kamu nggak seperti yang Papa dan abang katakan! Kamu tahu siapa ayah anakmu'kan?" tanya Mama dengan terisak.
Fani hanya diam tanpa menjawab apa pun. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jika dia katakan bukan, dan Alex mengirim bukti foto dia sedang bersama pria lain, bagaimana? Alex memiliki bukti foto Fani bersama kekasihnya dulu saat SMA. Pria pertama yang tidur dengannya.
"Katakan benar atau tidak apa yang Alex katakan!" teriak Adit.
Mendapat tekanan dari abang apa lagi Papa-nya membuat Fani makin pusing. Apa lagi mengingat jika Alex yang tidak mau bertanggung jawab. Percuma dia katakan jika itu anaknya Alex, pria itu tetap tidak akan menikahinya.
"Aku nggak tahu!" jawab Fani.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu dengan apa yang kau lakukan. Kau pasti tahu siapa saja pria yang pernah tidur denganmu!" ucap Adit.
Papa mendekati Fani dan menarik tangannya kuat hingga turun dari ranjang. Setelah itu Papa menghempaskan ke lantai. Mama yang melihat putrinya diperlakukan kasar, langsung teriak dan memeluk Fani.
"Sudahlah, Pa. Beri Fani berpikir. Jangan menekannya seperti ini. Dia butuh dukungan dari kita semua. Bukan menghakimi kesalahan yang telah dia lakukan!" ucap Mama.
"Kau boleh memilih. Membesarkan bayi itu dan menghilang dari kehidupan kami selamanya. Akan aku kirim kau keluar negeri di mana tidak ada seorangpun yang mengenalimu. Atau kau boleh tetap bersama kami dengan syarat kau gugurkan kandunganmu itu!" ucap Papa.
...****************...