Liburan yang harus nya bahagia, harus berakhir duka saat Renata Di jebak oleh sahabat dan calon suami nya. Renata tidak menyangka jika hari itu ia harus menikah dengan seorang pengangguran. Dengan mahar Seribu rupiah yang di miliki oleh pria asing itu, mereka pun akhirnya sah di mata para masyarakat.
Renata tidak pernah semalu itu. Ia di anggap berzina dan akhirnya di paksa menikahi pria asing.
Orang tua nya tidak tahu. Ia sendirian di sana. Mereka semua telah meninggal kan nya di desa terpencil itu.
Akan kah Renata bisa bangkit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu mertua
Renata sudah mandi dan sekarang sedang duduk menikmati sarapan singkong rebus. Hanya itu yang ada di halaman belakang rumah Fuad.
Mandi pun, ia harus di tolong oleh suami nya dengan cara menimba air di sumur. Saat ini, mereka bertiga duduk di atas tikar usang. Di depan Ibu nya Fuad, ada sebuah kotak berukuran sedang.
"Nak Rena. Ibu sudah tahu apa yang terjadi dengan kalian. Maafkan anak ibu yang hanya bisa memberi mahar seribu rupiah. Anak ini manja sejak dulu. Sejak di tinggal bapak nya, ia malah kesusahan."
Setelah ibu mertua Renata berbicara, beliau pun membuka kotak itu. Di dalam nya ada cincin, gelang dan juga kalung yang lumayan banyak.
"Bu, bukan nya ibu bilang harta kita sudah habis? Lalu ini apa? Tahu gini kan aku bisa jual untuk biaya pengobatan ibu."
Puk
Bahu Fuad di tepuk oleh ibu nya. Wanita itu geram sekali melihat tingkah laku anak laki-laki nya yang manja.
"Ini semua memang ibu siapkan untuk menantu ibu. Semua perhiasan ini memang turun temurun di wariskan untuk menantu. Karena Rena sudah jadi menantu ibu, jadi semua perhiasan ini akan jadi milik nya."
Renata begitu terharu saat mendengar nya. Ia tidak menyangka jika mertua nya masih memiliki sedikit harta warisan untuk di berikan pada diri nya.
"Terima kasih, bu. Tapi, saya tidak enak menerima nya. Mending kita jual untuk biaya pengobatan ibu." Ucap Renata.
"Di jual juga boleh. Tapi, jangan semua. Ibu tahu kalian pasti kesulitan memulai hidup baru. Jadi, sebagian di jual, dan sebagian lagi simpan untuk menantu kalian nanti."
"Buuuu,,, kami baru saja menikah paksa. Boro-boro punya menantu. Ibu ini aneh-aneh aja deh."
"Pokoknya ibu mau punya cucu. Biar cepat punya mantu. Bo-doh amat sama anak manja seperti kamu."
Melihat pertengkaran suami dan ibu mertua nya, Renata hanya bisa tersenyum. Sungguh baru kali ini ia bertemu dengan keluarga yang lucu.
"Oh ya, Bu. Apa kalian punya ponsel? Saya rencana nya ingin menghubungi orang tua saya yang ada di kota. Pasti mereka sangat khawatir dengan keadaan saya."
"Renata, kami tidak punya. Semua uang dan harta benda kami sudah dijual. Seandainya aku tahu ibu punya perhiasan, pasti lah aku jual sejak dulu."
"Hus! Kamu ini. Kan sudah ibu bilang kalau perhiasan ini tidak boleh dijual."
"Tapi tadi, ibu memperbolehkan Rena untuk menjual nya. Ibu ini gimana sih."
"Ya itu Rena. Bukan kamu. Kamu itu orang lain."
"Ibuuuu."
"Ah sudah. Jangan merengek terus. Udah siang ini, Fuad. Apa kamu tidak ada rencana memikirkan masa depan kalian?"
Renata terdiam. Ia bingung bagaimana untuk menghubungi orang tua nya. Jika pun ia menjual perhiasan itu, sama saja ia tidak tahu jalan pulang.
Berharap pada Fuad dan ibu nya, itu mustahil. Di mata Renata, keluarga Fuad pasti lh belum pernah pergi ke kota. Jika saja saat itu Rena tidak tidur sepanjang jalan, pasti ia bisa tahu apa saja yang ia lewatkan saat menuju ke desa itu.
"Oh ya, Bu. Untuk menuju ke kota besar, kira-kira akan menghabiskan waktu berapa jam?" Renata memberanikan diri untuk bertanya.
"Hmmm,, kami tidak tahu. Memang nya ketika kamu ke sini, kamu tidak lihat?"
"Tidak, Fuad. Aku tertidur sepanjang jalan. Aku bahkan tidak bisa menikmati perjalanan saat ke sini. Entah lah. Aku begitu mengantuk sampai tidak sadarkan diri."
Fuad hanya mengangguk dan berpikir. Jika seperti itu, Renata pasti akan sulit untuk pulang ke kota. kecuali, mereka memiliki ponsel yang bisa di pakai untuk menghubungi kedua orang tua nya.
Namun, saat ini orang-orang desa tidak akan mungkin mau membantu mereka setelah kejadian malam tadi.
Renata pun trauma bertemu warga desa saat ini. Apa yang terjadi semalam, masih membuat nya merinding. Untung saja ia tidak di ra-jam hingga ma-ti. Biar lah untuk saat ini ia berada di rumah mertua nya. Renata akan mencari cara untuk hidup di sana agar tidak merepotkan Fuad dan Ibu nya.
******
Keesokan hari nya, dengan sepeda motor butut yang sudah lama berada di halaman belakang, Renata dan Fuad pergi ke pasar untuk membeli bibit tanaman.
Dari rumah ke pasar, terpaksa mereka mendorong sepeda motor itu karena tidak ada nya bensin. Renata sudah seperti baru saja berolahraga.
Untung desa dan pasar tidak terlalu jauh. Apalagi udara di sana masih lah dingin di pagi hari. Suasana yang sejuk membuat emosi Renata sedikit tertahan.
"Akhirnya kita sampai juga. Kita jual dulu perhiasan nya. Nanti baru ada uang untuk beli bibit tanaman dan juga bensin." Ucap Renata.
"Terserah kamu saja. Itu kan perhiasan mu." Fuad masih kesal terkait perhiasan itu. Ia masih tidak terima jika tidak bisa memiliki semua perhiasan yang di berikan pada Renata.
Renata pun mencari toko emas yang lebih besar dari beberapa toko emas lainnya. Setelah ia tiba di sana, ia pun langsung mengeluarkan salah satu emas tersebut.
"Wah. Ini emas tua. Seperti nya umur nya sudah beberapa puluh tahun. Darimana adik ini mendapat kan emas tua ini? Sekarang, jarang sekali ada." Ucap pria yang ada di hadapan Renata.
"Emas itu dari nenek buyut saya. Saya mau menjual nya karena sudah bosan. Di rumah pun masih banyak." Ucap Renata. Ia sengaja mengatakan hal itu supaya tidak di curigai.
Jika saja ia bilang dari mertua yang tinggal di gubuk, pasti orang-orang desa yang ada di sana akan langsung menginterogasi nya lagi. Ia tidak mau di arak karena di kira pencuri.
"Bagus. Bagus. Emas tua ini harga nya sangat mahal. Beruntung sekali kamu datang ke toko saya."
"Tentu saja. Aku tahu toko bapak yang paling bagus di antara toko lain. Jadi, berapa uang nya?"
Pria itu pun menghitung sebuah gelang emas yang ada di depan nya. Renata tidak terlalu suka model kuno itu. Lebih baik ia jual untuk modal hidup bersama suami dan mertua nya di desa. Dan lebih nya nanti, akan ia belikan ponsel.
"Total nya tujuh puluh lima juta rupiah."
"Pak, apa tidak bisa tambah? Ini mas tua."
"Baiklah. Kita genapkan saja. Delapan puluh juta."
"Oke!"
Saat mendengar nominal uang yang di sebutkan oleh pria tersebut, Fuad langsung terkejut. Ia tidak menyangka jika emas jadul milik buyut nya bisa semahal itu. Pikiran nya sudah kemana-mana.
Jika satu gelang kecil saja bisa semahal itu, bagaimana jika ditotal seluruh nya.
"Renata,, kita bisa kaya kalau semua perhiasan itu dijual. Ayo kita jual saja semua nya terus kota ke kota. Kita tinggal di sana dan tinggal kan desa yang kuno ini."
"Lalu, perkebunan ibu dan bapak mu, bagaimana?"
"Ituuuuuuu....."
kasih racun saja tuh 🤣🤣🤣🤣
aduh kan ya gmn masa iya krn uang bnyk trus bnyk istri kan ya kasihan istri sah pertamnya kan
tinggal ngu aja kapan itu datang
weeekkk
ahahaha soookorrrrr
ben kapok
perlu di tiadakan itu
jangan2 fuad anak jenius tp krn kecelakaan jd kek gtu
pasti trauma yg buat dya sprti anak kecil stop di memori di situ juga
ringan dan bisa belajar dari ketulusan berteman it seperti apa