HANCURLAH BERSAMA "SUAMI PARASIT DAN ADIK BENALU"
Selama dua tahun pernikahan, Violet hidup sebagai istri yang selalu mengalah. Ia tidak pernah menyangka suami yang dicintainya ternyata diam-diam berselingkuh dengan Eliana, adik tirinya sendiri.
Lebih kejam lagi, mereka hanya memanfaatkannya demi merebut perusahaan keluarga yang menjadi haknya. Saat kebenaran terungkap, Violet kehilangan segalanya—ayahnya koma karena sebuah kecelakaan yang ternyata direncanakan, hartanya dirampas, dan nyawanya dihabisi oleh orang-orang yang paling dipercayainya.
Dalam detik terakhir sebelum kematian, Violet mengutuk mereka dan memohon kesempatan untuk mengulang hidupnya.
Ketika membuka mata, ia kembali ke dua tahun lalu.
Ke hari saat Arga datang melamar.
Kali ini Violet tidak akan memilih pria yang menghancurkan hidupnya.
Sebagai gantinya, ia memilih Sherkan—paman Arga yang terkenal dingin, kejam, dan menjadi penguasa dunia bisnis.
Keputusan itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nila KingShop Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
PAGI INI KITA
Pagi itu terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Untuk pertama kalinya aku melangkah keluar sebagai istri dari Sherkan Satria. Status baru ini masih terasa asing, belum sepenuhnya melekat dalam pikiran dan perasaanku. Setiap kali teringat pada buku nikah yang tersimpan rapi di dalam laci kamar tidur, segalanya terasa begitu tidak nyata, seolah ini hanyalah mimpi yang akan segera berakhir saat aku membuka mata.
Perjalanan menuju kawasan pusat bisnis berlangsung dalam suasana yang tenang. Sherkan bukanlah tipe pria yang banyak bicara, dan aku pun tidak tahu harus memulai percakapan apa yang pantas diucapkan. Akhirnya, kami memilih untuk lebih banyak menikmati keheningan yang menyelimuti dalam mobil itu. Anehnya, keheningan itu tidak terasa kaku atau canggung sama sekali. Justru sebaliknya, ia membawa ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sejak meninggalkan halaman rumah, Sherkan memusatkan seluruh perhatiannya pada jalan raya di depan. Kedua tangannya tergenggam mantap di atas kemudi, pandangannya lurus ke depan tanpa menyimpang ke mana pun. Seperti biasa, ekspresi wajahnya terasa datar dan sulit dibaca, seolah tidak ada satu pun emosi yang bisa terlihat di balik tatapan matanya yang tajam. Beberapa kali aku tergoda untuk mengucapkan sesuatu, namun selalu mengurungkan niat itu di detik terakhir. Entah mengapa, aku merasa seolah sedang diawasi dengan saksama, meskipun setiap kali melirik diam-diam ke arahnya, Sherkan tetap terlihat fokus pada tugasnya mengemudi. Mungkin itu hanya perasaanku semata.
“Apakah ada yang ingin kau sampaikan?”
Suara berat dan tenang Sherkan tiba-tiba memecah keheningan di dalam mobil. Aku sedikit terkejut, hingga menoleh dengan ekspresi yang tertegun.
“Hah? Tidak… maksudku, tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan,” jawabku dengan nada sedikit gugup.
“Hm.”
Itu saja balasannya, singkat dan tidak berlebihan. Aku menggigit bibir bawahku pelan, merasa sedikit bersalah karena terlalu banyak diam.
“Maafkan aku jika terlihat terlalu pendiam.”
“Kau tidak perlu memaksakan diri untuk berbicara jika memang tidak ingin,” jawabnya segera. Nada bicaranya tetap tenang, tidak terdengar dingin, namun juga tidak menunjukkan banyak perasaan.
Aku mengangguk kecil, baru kemudian sadar bahwa ia sedang memandang jalan dan tidak melihat gerak-gerikku. “Sebenarnya aku hanya belum terbiasa dengan segala hal ini.”
“Kita baru saja melangsungkan pernikahan kemarin sore,” sahutnya, kali ini ia menoleh sekilas ke arahku sebelum kembali memusatkan pandangan ke depan. “Jadi sangat wajar jika kau belum merasa terbiasa.”
Jawaban yang sederhana itu, entah mengapa, membuat dadaku terasa lebih lega dan rileks. Aku tersenyum tipis tanpa sadar.
“Kalau dipikir-pikir, semuanya memang berjalan terlalu cepat. Rasanya baru kemarin kita baru bertemu, dan sekarang sudah menjadi suami istri,” ucapku lirih.
“Memang terasa terlalu cepat,” balasnya singkat.
Aku menunggu kelanjutan kalimatnya, namun Sherkan kembali membungkam mulutnya. Hal itu hampir membuatku tertawa kecil dalam hati. Benar-benar khas dirinya, tidak suka berbicara lebih dari yang diperlukan.
Beberapa menit berikutnya, kami kembali duduk dalam keheningan yang nyaman. Rasanya aneh, namun aku benar-benar tidak merasa tertekan atau perlu mencari topik pembicaraan hanya untuk mengisi kekosongan. Ada rasa damai yang perlahan tumbuh di dalam dadaku.
Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan pusat bisnis kota. Gedung-gedung pencakar langit berdiri menjulang tinggi di kedua sisi jalan, menampakkan kemegahan dan kekuasaan pemiliknya. Di antara deretan bangunan itu, dua gedung tampak paling mencolok dan menguasai pandangan siapa pun yang lewat. Gedung milik Grup Wibisono, tempat aku bekerja dan tempat keluargaku membangun namanya selama puluhan tahun, dan di sebelahnya berdiri megah gedung Grup Satria, kekuasaan yang dipimpin oleh keluarga Sherkan. Keduanya berdiri berdampingan seolah saling mengawasi, hanya dipisahkan oleh jalan raya utama. Tidak heran jika selama ini kedua perusahaan itu selalu disebut sebagai dua kekuatan terbesar dan paling berpengaruh di kota ini.
Mobil akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan lobi utama gedung Grup Wibisono. Sherkan mematikan mesin kendaraannya, lalu menoleh ke arahku dengan tatapan yang tenang.
“Hari ini mungkin akan sangat sibuk untukmu,” ucapnya.
Aku tersenyum kecil sambil membuka sabuk pengaman. “Sejak kapan pekerjaanku di sini tidak pernah terasa sibuk?”
Untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan pagi ini, sudut bibir Sherkan tampak sedikit terangkat membentuk senyum. Sangat tipis, nyaris tidak terlihat oleh mata biasa, namun aku cukup yakin bahwa itu adalah senyumnya.
“Kalau begitu, semoga harimu berjalan lancar. Sampai jumpa nanti malam,” katanya.
Kalimat sederhana itu membuat detak jantungku berdebar dengan cara yang aneh. Sampai jumpa nanti malam. Sebuah ucapan yang terdengar sangat biasa dan sering didengar, namun hari ini memiliki makna yang berbeda sepenuhnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ada seseorang yang menungguku pulang ke rumah, ada seseorang yang menjadi tujuan akhir dari perjalanan kerja setiap harinya.
Aku turun dari mobil, dan seorang petugas keamanan segera membungkukkan badan memberi salam. “Selamat pagi, Nona Violet.”
Aku mengangguk sebagai balasan, namun sebelum sempat melangkah masuk ke dalam gedung, suara mesin mobil kembali menyala. Sherkan melajukan kendaraannya menuju gedung di sebelah sana, tempat dia memimpin perusahaannya sendiri. Aku sempat menoleh mengikuti arah mobil itu hingga menghilang di tikungan, lalu berbalik kembali menghadap pintu utama gedung.
Namun tepat saat itu, langkahku mendadak terhenti seketika.
Seseorang berdiri tidak jauh dari sana, tepat di ujung area lobi luar. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu yang sangat kukenal baik, potongannya rapi namun terlihat sedikit kusut, seolah dipakai dalam keadaan tergesa-gesa.
Itu Arga.
Jantungku berdebar bukan karena rasa cinta atau rindu yang dulu pernah ada, bukan pula karena rasa gugup yang biasa muncul saat bertemu dengannya. Melainkan karena rasa muak dan tidak nyaman yang langsung menyeruak memenuhi rongga dadaku begitu melihat wajahnya.
Pria itu berdiri diam di tempat, tatapannya lurus tertuju padaku seolah sudah menunggu sejak tadi pagi. Seolah ia sengaja datang lebih awal hanya untuk memastikan bisa bertemu denganku sebelum aku masuk ke dalam gedung dan tidak bisa dijangkau lagi.
Untuk beberapa saat, kami hanya saling menatap dalam keheningan. Arga terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada lagi senyum percaya diri yang selalu ia tampilkan, tidak ada lagi tatapan bangga yang dulu membuatku merasa terpesona. Ada sesuatu yang terlihat jelas di balik sorot matanya—kebingungan yang mendalam, rasa marah yang tertahan, dan mungkin juga rasa cemas yang mencoba ia sembunyikan.
Sejak aku menolak lamarannya secara tegas beberapa hari yang lalu, rencana hidupnya pasti tidak berjalan sesuai apa yang ia susun. Jalan yang ia harapkan untuk mendapatkan posisi yang lebih tinggi dan akses ke kekayaan keluarga kami telah tertutup rapat. Dan sekarang, ia berdiri di sini, mencariku, berusaha mendapatkan jawaban yang belum berhasil ia peroleh sejak hari penolakan itu.
Aku melihat rahangnya mengeras, kedua tangannya terkepal erat di samping tubuhnya, menahan gejolak emosi yang meluap. Namun ia tetap melangkah mendekat ke arahku. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, hingga akhirnya ia berhenti hanya beberapa meter di hadapanku.
“Violet…” panggilnya dengan suara yang terdengar rendah dan serak.
Aku tidak menjawab, tidak seperti dulu saat aku akan segera menyambutnya dengan senyum lebar dan antusiasme. Aku hanya menatapnya dengan pandangan datar, kosong, tanpa sedikit pun perasaan yang dulu selalu terlihat jelas di mataku setiap kali melihat sosoknya.
Dan perubahan sikapku ini tampaknya membuat Arga semakin merasa tidak nyaman dan bingung. Karena untuk pertama kalinya, aku bukan lagi perempuan yang selalu mengejarnya, bukan lagi perempuan yang menunggu perhatiannya. Melainkan perempuan yang telah memutuskan untuk berjalan menjauh dan meninggalkannya jauh di belakang.
suatu hari nnti kamu akan punyak anak bagaimana kl anak gadis mu dinikahi pria tanpa seizinmu🤣