Seorang gadis yang diam-diam suka dengan seorang tentara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hijab Art, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Huu..Satu Kampungku
"Haaa...tidak mungkin!"
Rahma menutup mulutnya dengan kedua tangannya,
"Aduhh!..."
Rahma terjatuh dari kasurnya yang empuk, membuat dirinya terbangun dari alam mimpinya,
"Hahh..huft!"
Ia mengatur nafasnya karena terkejut dan jatuh,
Ia bangun dari lantai dan menaiki kasurnya lagi,
"Astaghfirullah!, ternyata cuman mimpi"
***
Keesokan paginya Rahma ke sekolah seperti biasa, hari ini adalah hari jumat. Pagi-pagi sekolah akan mengadakan sholat dhuha dan ngaji bareng didepan TU setelah kerja bakti.
"Rahma!" Panggil seseorang yang terlihat menggunakan jilbab panjang.
"Eh, hapsah, ada apa?" Ternyata Rahma cukup kenal dengan orang itu.
Hapsah adalah seorang siswi yang biasanya memandu pengajian di hari jumat. Dia seorang yang pintar, cantik, sholihah, yang penting MasyaAllah banget deh!,
"Ini, nanti kan ada pengajian bareng. Bisa nggk kamu ikutan memimpin pengajian. Nanti kita bareng-bareng ngajinya."
Ajak Hapsah kepada Rahma,
"Yah mau ajah Hapsah, cuman aku nggk terlalu bisa mengaji dengan begitu baik kayak kamu."
Ucap Rahma,
"Kata bu Siti Fatimah, kamu bisa ngaji dengan menggunakan makhraj yang baik. Dan dia yang menyuruhku mengajakmu. Ayolah! Ikut yah Rahma!"
"Mmm..baiklah Hapsah, InsyaAllah aku akan ikut"
"Baiklah, dan selain kita, nanti juga ada teman-teman dari kelas lain. Kalau begitu, aku permisi yah Rahma!"
"Iya,"
Rahma menatap punggung Hapsah yang menggunakan jilbab panjang itu.
'Wah!, MasyaAllah! Ingin rasanya seperti dia yang sholihah banget, bisa pakai jilbab panjang' batin Rahma,
"Dor!"
"Eh, astaghfirullah!, Deby..."
"Hehe...lagian pagi-pagi ajah udah bengong"
"Aku nggk bengong, cuman lagi liatin yang MasyaAllah!"
"Siapa?"
"Kepo deh!"
"Ih!"
Mereka pun berjalan ke arah kelas mereka, sebelum waktunya untuk sholat dhuha dan ngaji bareng.
"Bi, kamu bawa mukena kan?"
"Nggk!"
"Kamu nggk sholat?"
"Sholatlah"
"Terus, kenapa nggk bawa mukena?"
"Aku nggk bawa karena mukenaku udah ada di kelas. Aku taruh di laci mejaku, sengaja supaya nggk repot selalu bawa-bawa setiap hari."
"Mmm..."
Rahma hanya mengangguk mengerti maksud Deby,
"Bi, itu kakakmu kan?"
"Yaps!"
"Lagi ngapain dia bawa-bawa kamera segala?"
Ucap Rahma yang tengah melihat kakaknya Deby berjalan masuk dari arah gerbang sekolah menuju kelasnya. Rahma tak sengaja melihat kakaknya Deby itu ada kamera yang tergantung di lehernya.
"Owh, biasa, mau buat video lagi bareng pak Glen. Mereka kan konten kreator, dan kakakku suka editing. Keren nggk?"
"Siapa?"
"Yah, kakakku lah. Udahlah ganteng, keren, dan punya banyak aktivitas lagi. Cewek-cewek pada banyak yang naksir loh!, kamu nggk Rahma?"
Ucap Deby membangga-banggakan kakaknya.
"Yaelah!, nggk!"
"Hhhhmmm...beneran?, owh atau mungkin karena ada Iyan?"
"Heeee....apaan sih bawa-bawa Iyan segala."
"Hahahahaaa...nggk becanda kok"
Tanpa terasa mereka sudah tiba didepan kelas mereka. Mereka masuk dan segera duduk dibangku mereka masing-masing. Tak ada orang selain mereka di sana.
"Pada kemana semua orang yah Bi?" Tanya Rahma melihat kelas kosong. Biasanya kan ramai.
Deby hanya mengedikkan bahunya tanda dia juga tidak tahu.
"Hey kalian!"
Panggil Nizam, salah satu teman sekelas mereka yang terkenal karena dari luar,
"Ada apa?" Jawab Deby,
"Pergi kerja bakti sana!, semua orang ada dibelakang kelas."
Suruhnya,
"Iya, iya" Jawab Deby,
"Pantesan kagak ada orang. Ternyata ada di belakang"
Sambung Deby,
"Ya udah, kebelakang yuk!"
"Mm..yok!"
Beberapa menit sampai dibelakang kelas, mereka pun langsung ikutan kerja bakti bersama dengan teman-temannya yang lain.
"Yang baru datang, buang sampah dulu sana!" Perintah Aldy, teman sekelas mereka yang paling songong, padahal bukan ketua kelas juga.
Rahma dan Deby pun saling menatap satu sama lain, seakan mereka bisa saling berkomunikasi tanpa berbicara,
"Ngapain pada bengong, sana buang sampah!"
"Eh! Songsong emangnya kenapa kalau kita baru datang. Main perintah-perintah segala lagi."
"Udahlah Bi, yok buang ajah!"
"Buang sana!, siapa suruh kalian baru datang."
"Iiihhh..." Greget Deby pada Aldy. Hampir saja Deby memukul Aldy kalau saja Rahma tidak menghalanginya.
"Bi, jangan mulai lagi, masih pagi bi!"
Ucap Rahma menenangkan Deby,
"Ih!"
Mereka berdua pun mengangkat tempat sampah yang penuh dengan sampah itu dan segera membawanya ketempat pembuangan sampah utama.
"Nyebelin banget sih, tu Aldy. Songong!"
"Huft!, udahlah bi. Lagian kan memang udah bagiannya kita karena kita yang baru datang dibandingkan mereka, mereka udah dari tadi loh kerja baktinya. ",
" Huft iya sih Rahma"
"Udah yuk!"
Ajak Rahma pada Deby setelah membuang sampah itu ketempat sampah utama.
"Mendingan kita langsung bersihin tangan ajah yuk!, sekalian wudhu. Kan sebentar lagi mau sholat dhuha dan ngaji."
"Ya udah yuk!"
***
Beberapa jam setelah sholat dhuha berjamaah di lapangan, semuanya tetap ditempat tak ada yang bergerak, karena akan dilanjutkan ngaji bareng.
"Sitti Hapsah!, Nur hikmah!, dan Rahmadany! Silahkan naik untuk memimpin pengajian hari ini!", pengumuman dari guru agama,
Kemudian Hapsah pun naik, diikuti oleh Nur hikmah, sedangkan Rahma sedikit gugup. Dia menenangkan diri terlebih dahulu hingga akhirnya berdiri dan melangkah maju mengikuti hapsah.
"Huuuu!...satu kampungku!"
Teriak seseorang yang Rahma kenal, Rahma sontak menatapnya tajam,
'Reyhan!, ngapain sih pake teriak gitu, kan malu'
Batin Rahma,
Rahma kemudian melanjutkan langkahnya lagi hingga sampai ke depan dan duduk. Selain perempuan ada juga siswa laki-laki yang memimpin pengajian.
"A'uzubillahi minasyaitonirrojim....
Bismillahirrahmanirrahim!", ucap siswa laki-laki memulai pengajiannya.
Semuanya nampak khusyu mendengarkan dan sambil mengikuti lantunan ayat suci yang dipimpin oleh perwakilan siswa yang ada di depan.
***
" Rahma!" Panggil seseorang setelah beberapa menit yang lalu selesai ngaji bareng, Rahma berbalik dan menemukan Iyan yang sedang berjalan menghampirinya.
Rahma memperlambat langkahnya menuju kelasnya.
Setelah berhasil menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Rahma, iyan kemudian memandang kedepan,
"Ekhem...tadi kamu ngajinya bagus!", puji Iyan pada Rahma,
" Hemm...nggk juga. Kalau aku dibandingin sama Hapsah, Hapsah jauh lebih baik.", ucap Rahma tidak ingin termakan pujian,
"Tapi, menurut ku itu sudah lumayan, MasyaAllah bisa naik keatas, itu berarti kamu lebih mampu dari yang lain.", Jelas Iyan.
" Hmm...iya, alhamdulillah "
"Lalu, Bagaimana?",
Tanya Iyan,
" Mengenai apa?", Rahma masih bingung apa maksud Iyan.
"Mengenai lomba"
"Owh, iya.", Rahma tiba-tiba menghentikan langkahnya, dan Iyan pun ikut berhenti.
" Aku udah putusin, kalau aku ingin ikut", jelas Rahma pada Iyan,
"Alhamdulillah!, akhirnya kamu mau juga"
Ucap Iyan seraya sedikit meninggikan suaranya,
Reyhan yang tak sengaja berpapasan dengan mereka ditengah lapangan pun melirik mereka, 'apa maksud mereka?', batin Reyhan.
Reyhan hanya menatap pada keduanya dengan dingin, padahal baru saja ia memberikan dukungan pada Rahma, walaupun itu membuat Rahma malu.
Rahma dan Iyan tersenyum, tak sengaja Rahma melihat Reyhan yang sedang menatap mereka, sontak Rahma memudarkan senyumannya dan
Sekilas mengingat mimpinya semalam yang membuatnya terjatuh,
'Apa mungkin aku suka sama Reyhan?', batin Rahma seraya membalas tatapan tajam Reyhan.
Reyhan tetap berjalan pada jalurnya dan pura-pura tidak melihat mereka.
"Oke kalau begitu Rahma, aku ke kelasku dulu yah!, makasih atas infonya. Dan owh iya, perlombaan akan dimulai dalam 3 hari lagi, jadi kamu persiapkan dirimu yah!"
"Okey, InsyaAllah!"
Iyan pun melangkah ke kelasnya dan Rahma pun juga, karena arah kelas mereka yang berbeda, mereka berpisah ditengah lapangan yang luas.
***next
Semoga secepatnya bisa update lagi.
Semangat 🌻
Gimana nih Thor?