Mencintai adalah hal yang harus dilakukan oleh semua insan di muka bumi ini. Namun tak semua orang boleh dicintai, tapi boleh disayangi. Salah satu contoh kisah seorang pemuda dan pemudi yang dipisahkan jauh oleh takdir karena sebuah kecelakaan yang tidak diinginkan. Namun ketika mereka sudah dewasa, takdir mempertemukan mereka kembali. Pertemuan ini adalah pertemuan yang tidak diinginkan oleh orang mana pun. Namun bukan Aqila namanya jika ia tidak hidup bersama kakaknya yang sudah ia rindu selama hidupnya. Ia pun memilih untuk menyusul sang kakak demi kebahagiaan hidupnya yang sudah pudar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Nurhalizah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Thirtytwoth
Semua orang menangis menatap kain putih menutup seluruh badan milik orang yang mereka sayangi.
Angga yang mencaci maki alm dengan alasan agar terbangun. Kevin yang menenangkan Angga agar berhenti melakukan hal bodoh. Noval yang terus menangis melihat perbuatan konyol Angga. Alfid diam menangis meratapi nya.
Nayla da Gisell saling memeluk. Fara, ya Fara. Adik tiri dari Vaisal pun ikut menangis. Keluarga nya? Hah bukan. Mereka keluarga tiri yang mengharap anak laki-laki. Hampir 99% keluarga tiri Vaisal adalah wanita, dan 1%nya lelaki yaitu Vaisal sendiri. Ayah menikah lagi dengan seorang wanita dari keturunan ter rich. Sampai ayahnya meninggal di umurnya yang masih muda, semua keluarga nya masih tetap menyayangi Vaisal.
Mereka memberi tau Vaisal yang sebenarnya saat umur 10 tahun dan dari situ dia mulai mencari dimana adik dan ibu aslinya. Setelah 7 tahun akhirnya dia menemukan adiknya, dia mencoba mencocokkan dna Aqila dengan dna nya yang ternyata cocok! Vaisal merasa senang namun tetap menahan semua nya untuk kepastian yang lebih detail.
"Dokter bilang 99% Vaisal hidup kan!" teriak Angga membuyarkan lamunan semua orang.
"1%nya enggak lo itung? Bego lo anak ips!" ejek Noval.
Aqila? Duduk di sofa menatap lurus dengan kosong yang di awasi oleh Zahra.
Dia masih membayangkan bagaimana sang kakak 'kandung' yang dia cari selama ini meninggal dengan begitu mudahnya dihadapan Aqila setelah meresmikan bahwa mereka adik kakak. Semua orang belum tau ini. Semua orang hanya tau Vaisal tiba-tiba mati tanpa penjelasan lebih lanjut dari dokter. Dokter hanya bilang bahwa Vaisal negatif hidup karena kanker di kepalanya yang sudah stadium 4. Mereka pun tak tau itu, sama sekali.
Zahra menyentuh pundak Aqila dan perlahan memeluknya dengan hangat, seperti pelukan seorang ibu. Aqila yang mulai merasakan kehangatan barulah menjatuhkan air mata nya sangat deras dengan suara yang sangat kencang.
"Vaisal kakak gue Zah! Gue udah Enggak punya keluarga lagi di dunia ini!" teriak Aqila.
Zahra tak peduli. Dia tetap memeluk sahabatnya dengan erat sebagai pemberi kekuatan kepada Aqila.
"Vaisal kakak gue Zah!" ringis Aqila.
Alfid yang mendengarnya menatap Aqila tak percaya.
"Ini surat dari kak Vaisal kak," Fara memberikan sepercik kertas titipan Vaisal dahulu jauh sebelum dia berlibur ke Bali.
Aqila membuka kertas itu dengan isakan tangis.
"Halo Aqila! Adik kandung gue yang gue cari selama 7 tahun! Gue seneng banget bisa ketemu sama lo saat gue merasa udah di ujung tanduk. Gue senang pas liat hasil dna kita positif! Gue benar-benar bahagia banget bisa ketemu dan kenal deket sama lo Qil! Gue enggak tau harus nulis apa lagi di surat ini tapi gue titipin surat ini ke Fara setelah gue tiada. Ya, dokter udah bilang kalau gue punya kanker otak sampai stadium 4, jadi gue pasrah aja sama yang di atas pas kapan gue meninggalnya. Tapi Qil! Gue senang nya minta ampun gue bisa ketemu lo sebelum gue meninggal! Gue juga berharap bisa ketemu mamah sebelum gue meninggal, ya karena kan mama lo yang bawa. Ohiya, gue udah nitipin lo sama Alfid kok tenang. Gue udah ngomong sama dia kalau dia ketemu adek gue dia harus pacarin dia dan jaga dia sama kek dia jaga adeknya. Oh Aqila ku sayang, makasih sudah menemani hari-hari terakhir ku, kwkwkw. Makasih Qil lo juga udah ngirim darah lo.nEh? Kok gue tau? Ya iyalah, seseorang yang punya kanker otak perlu lah dikit-dikit darah nya, dan darah kita adalah darah langka dan darah kita sama! Oke, oke gue enggak bakal nulis panjang panjang yang jelas
'I LOVE U SO MUCH DEk,WE CAN MEET TOO INSURGA, HAHAHA'
*Love, Vaisal:**
Aqila makin mengeraskan tangisannya di pelukan Zahra yang juga tak bisa menahan tangis.
Semua yang ada di ruangan menangis dan tak kuasa melihat Aqila yang mulai memeluk kakak nya yang sudah tidak bernyawa.
Zahra terus mengusap punggung Aqila, memberi tenaga agar dia tetap yakin semua cobaan ini akan membuahkan hasil.
Nayla memeluk Alfid seperti pertanda bahwa dia tak mau di tinggalkan kakak satu satunya itu.
Semua menatap Vaisal yang mulai di keluarkan dari ruang rawat dan memindah kan nya ke mobil jenazah untuk di antarkan ke rumah nya.
Semua mengikuti mobil ambulan menggunakan mobil masing-masing.
Aqila bersama dengan Zahra, Angga, dan Kevin berjalan lebih dulu untuk menuntun ambulance.
Sesampainya di rumah duka, jenazah di bawa ke dalam dan berniat untuk langsung di bersihkan.
Teman-teman terdekatnya lah yang membersihkan tubuh Vaisal.
Mereka dengan menahan tangis melihat Vaisal tak bernyawa akan segera hilang tak pernah di pandang.
Setelah membersihkannya, mereka menyelimuti nya dengan kain kafan.
'Sungguh sebagus apapun kamu memakai baju mu sekarang, ketika mati nanti kamu akan kembali kepada kain putih polos, kafan.'
btw mampir yuk ke novelku yang berjudul Athariz, kalau suka vote ya, btuh kritik dan saran juga,makasih hehe:)