NovelToon NovelToon
Terjebak Menikahi Cucu Presiden

Terjebak Menikahi Cucu Presiden

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Obsesi / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Tamat
Popularitas:48.3k
Nilai: 5
Nama Author: CACING ALASKA

"Aku sadar kalau aku tidak bisa hidup tanpamu, dan walaupun aku tidak penah mengatakannya tetapi selamanya, selamanya aku kan selalu mencintai dirimu."

Lily, gadis penyendiri yang pintar bertemu dengan seorang pria misterius yang membuatnya terjebak dalam sebuah pernikahan dan harus melupakan semuanya yang ada di hidupnya. Cita-cita, keluarga bahkan cintanya, harus rela dia lepaskan, setelah dirinya terhisap dalam belenggu rasa misterius yang dia rasakan setelah bertemu pria tersebut.

Semuanya berubah setelah dirinya menghabiskan malam bersama pria tersebut.

Pria yang mengidap penyakit psikologi Dissociative identity disorder (DID), membuat Lily tidak mampu menolak takdirnya untuk menikah dengan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACING ALASKA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

"Tenang saja ini aku, Lily." Senyum Petra membuatku lega. Dia memegang tanganku dan menggenggamnya. "Jangan khawatir."

Acara pernihakan usai. Aku dan Petra resmi menikah dan sekarang kami adalah pasangan suami istri. Para tamu undangan menikmati sajian yang tersedia di resepsi pernikahan kami. Mereka semua bercengkrama satu sama lain dengan tawa bahagia.

Ini benar-benar terlihat aneh. Aku sama sekali tidak bahagia dengan pernikahan ini. Sepertinya Petra juga. Kami berdua hanya duduk bersama di satu meja yang memang khusus di sediakan untuk kami tanpa berbicara apapun. Hanya diam dan menenggak minuman yang sudah tersedia.

"Lily." Mia menghampiriku. 'Petra aku pinjam Lily sebentar ya." Suara Mia terdengar renyah dan Petra tersenyum menjawabnya.

Aku dan Mia meninggalkan Petra untuk berbicara berdua.

"Gary masih belum pulang." Ucap Mia. "Aku tidak mengerti kenapa di hari penting seperti ini dia malah tidak ada. Lily kau tahu kemana dia?"

Aku menggeleng menjawabnya.

"Kesehatan nenek juga semakin parah, kenapa dia malah pergi?"

Aku tidak bisa mengatakan pada Mia kalau Gary pergi mendaki gunung karena tidak ingin melihat pernikahan ini. Mia benar-benar suka pada Gary, aku tidak tahu itu bagus atau buruk bagiku. Tapi setidaknya untuk beberapa hari ini Mia membantu karena mengurus nenek yang semakin hari kesehatannya semakin memburuk.

Aku berjalan kembali ke meja tempatku dan Petra, tetapi Petra tidak ada disana. Kemana dia? Aku mencari-cari sosoknya di antara tamu-tamu, dan menemukannya sedang bercengkrama bersama dengan beberapa tamu undangan dan presiden. Mereka tertawa seperti baru mendengar cerita lucu. Dia melihat ke arahku dan langsung berjalan menghampiriku.

"Bagaimana?" Tanyanya duduk di kursi sampingku. "Kakak tirimu, kenapa tidak datang?"

Aku terkejut menatapnya. Aku yakin sekali kalau saat ini kepribadian Peter yang ada di tubuh itu.

"Aku senang kita sudah menikah."

"Jangan sekarang Peter." Seruku lemas. Saat ini tenagaku habis dan tidak berdaya jika saja Peter membuat sesuatu hal buruk padaku. "Aku mohon jangan buat semuanya kacau sekarang."

"Maaf kami mengganggu." tiba-tiba Anita dan Devon datang menghampiri meja kami bersama seorang juru kamera yang sedang mengatur letak posisi kameranya. "Bisa wawancara sebentar?"

"Tidak masalah." Senyum ramah terpancar di wajah Peter. "Silahkan wawancara kami di hari bahagia kami."

"Sebelumnya kami mengucapkan selamat atas pernikahan kalian." Ujar Anita.

"Semoga bahagia dan bertahan sampai selama-lamanya." Sambung Devon.

"Tentu saja. Kami bahagia dan pastinya pernikahan ini akan bertahan sampai selama-lamanya." Jawab Peter. "Terima kasih ucapannya."

"Tapi maaf sebelumnya, kami hanya ingin konfirmasi mengenai kabar yang beredar yang mengatakan kalau pernikahan kalian hanya sebuah sandiwara karena ada ancaman. Bagaimana menurut kalian?" Anita tampak ragu ketika mengajukan pertanyaan ini.

Aku sedikit takut dengan jawaban Peter, tetapi aku tidak perlu meragukan kemampuan Peter mengatasi masalah-masalah ini walaupun setiap dia menyelesaikan satu masalah akan muncul masalah berikutnya untukku.

"Bagaimana menurut kalian apa kami terlihat bersandiwara?" Peter membalikan pertanyaannya dan membuat dua host itu kebingungan dan dengan senyum terpaksa mereka menggeleng. "Apa yang harus kami lakukan agar memberitahukan kalau kabar tersebut tidak benar?"

"Mungkin sesuatu hal yang membuat semua orang berpikir kalau kalian benar-benar pasangan yang saling mencintai." Sahut Devon dengan nada skeptis. "Contohnya... sebuah ciuman."

Aku terkejut mendengar permintaannya, sedangkan Peter tersenyum.

"Hmm... baiklah. Tapi pastikan kalian menyensornya saat ditayangkan."

Setelah berkata begitu Peter mendekatkan wajahnya kepadaku. Aku yakin sekali kalau dia tidak akan main-main untuk menciumku. Mungkin aku harus menurut agar semua akan baik-baik saja. Aku memejamkan mataku dan menyambut ciuman Peter.

Bibir Peter aku biarkan menyentuh bibirku. Aku sudah tidak ada kekuatan ataupun alasan untuk menolaknya. Aku teringat ciuman Gary. Dia menciumku ketika kami berada di belakang cafe Rama. Aku sangat menikmati ciuman itu. Sangat berbeda dengan Peter yang sekarang menciumku. Gary menciumku dengan lembut sedangkan Peter, ciumannya terasa dingin.

...****************...

Aku duduk di kursi yang menghadap jendela di kamar Petra ketika acara selesai. Kamar ini sudah menjadi kamar kami sekarang. Semua tamu sudah pulang sekitar jam enam sore tadi, dan sekarang tiga jam sudah berlalu. Aku sudah membersihkan riasanku dan berganti pakaian dengan pakaian normal yang biasa aku kenakan sehari-hari.

Aku hanya diam dan memandang keluar jendela ke taman bunga lily. Beberapa pelayan sedang sibuk membersihkan taman itu. Terlihat Dante memberi perintah dengan cekatan. Kakiku aku angkat ke atas dan memeluknya dengan kedua tanganku.

Aku berusahan membuang pikiran-pikiran yang selalu bisa membuat otakku sakit bila memikirkannya. Sejak tadi aku mencoba menghitung beberapa bunga lily di taman dan juga menghitung pelayan-pelayan yang sibuk dengan kerjaannya.

Sekarang sudah malam tetapi mereka masih harus bekerja. Aku yakin mereka semua sudah lelah dan butuh istirahat. Tetapi inilah hidup, untuk sebagian orang mungkin harus setengah mati berusaha bertahan hidup seperti mereka, dan sebagian orang lagi harus berusaha menjalani kehidupan mewah mereka dengan mengatasi perasaan hati yang terus berkecambuk karena apa yang dirasakan tidak sesuai dengan keinginan hatinya. Akulah salah satunya.

"Minumlah." Petra datang memberiku segelas susu hangat dan duduk di sampingku dalam satu kursi.

Aku meminum susu hangat yang di bawanya. Bahkan saat ini aku juga tidak peduli jika pria yang di sampingku adalah Peter, bukan Petra.

"Sedang lihat apa?" Tanyanya memandang wajahku yang hanya menatap keluar jendela sejak tadi. "Lily jangan khawatir, aku masih ingat perjanjian kita. Setelah lima tahun semuanya akan usai. Kau bisa bertahan kan?"

Aku mengangkat wajahku dan memandangnya.

"Petra..." panggilku.

Dia tersenyum seperti ciri khasnya.

"Aku senang ini kau."

"Maaf ya aku meninggalkanmu." ucap Petra.

"Tidak apa-apa." Jawabku sambil memegang lengannya.

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Aku beranjak mengambilnya, berada di atas meja samping ranjang. Aku benar-benar terkejut membaca nama yang muncul di layar handphone-ku. Dan dengan perlahan menekan tombol jawab.

"Lily..." Suara yang aku rindukan terdengar di ujung telepon.

Aku sempat terdiam karena senang sekaligus sedih karena telepon orang ini. Aku melihat ke arah Petra yang menoleh menatapku.

"Dimana kau?" Suaraku pecah karena lidahku kelu saat berucap.

"Aku di cafe. Aku ingin bertemu..."

Petra tidak melarangku ketika aku meminta ijinnya untuk bertemu Gary. Hanya satu kalimat yang dia ucapkan Sudah malam, hati-hatilah di jalan. Aku meninggalkannya di kamar dan meminta Barrie menemaniku. Jarak dari sini menuju cafe Rama yang berada di ibukota memakan waktu hampir tiga jam ketika siang hari. Mungkin saat ini hanya butuh waktu satu setengah sampai dua jam karena hari sudah malam dan jalanan lengang karena tidak macet.

Aku beruntung presiden sudah pergi. Setelah acara pernikahan selesai dia langsung meninggalkan negara ini untuk tugas kenegaraan ke eropa. Sedangkan Dante hanya memandang kepergianku dengan bingung ketika kami bertemu di depan kamar saat aku keluar. Aku bergegas bersama Barrie menuju tempat keberadaan Gary sekarang.

Dia sudah kembali dan ingin menemuiku. Aku juga sudah merindukannya. Kami akan segera bertemu. Itu membuat aku merasa senang.

1
𝒐𝒇𝒇
aakhirnya aku bisa tidur nyenyak😭🚶🚶
𝒐𝒇𝒇
ini yg ini yg aku tunggu
𝒐𝒇𝒇
karya luar biasa
𝒐𝒇𝒇
dah ah ga sanggup😭😭
𝒐𝒇𝒇
ya ampuuun😭😭😭
𝒐𝒇𝒇
ya ampooon
𝒐𝒇𝒇
seruuu😭😭
𝒐𝒇𝒇
aaaa😭😭😭
𝒐𝒇𝒇
lily ini persis kyk aku😌
sampe ga bisa ingat nama klub sepakbola pun sama... selain susah memang ngerasa ga penting ngapalin namanya🤣🤣
𝒐𝒇𝒇
aduh aduh aku bapeer😳
𝒐𝒇𝒇
aku justeu sebaliknya
pacar soobin
yok kak mampir gi HAPPENED LOVE bagus bangettt
p
luar biasa
🪱Dena
Akhirnya sampai di ending😁

Salah satu deretan novel berbobot bagiku. Penulisan, alur cerita, karakter semuanya luar biasa👏

Terimakasih sudah menyuguhkan cerita yg bagus ini. Tetap semangat Nell🤗💪
🪱Dena
Petra, akhirnya kau kembali.. huaaaaa
🪱Dena
Knp menyesakkan dada🤧🤧😒😒
🪱Dena
Sudah 4th saja ya👀👀
🪱Dena
Wow apakah ada kejutan dipesta itu?😁😁
🪱Dena
Knp sesedih ini🤧🤧
🪱Dena
Terima bea siswa itu, mulailah dg hidup baru, kau kuat kau pasti bisa lily😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!