Seorang putri kerajaan yang memiliki segel dewa naga merah pergi berpetualang mencari 12 zodiak lainnya untuk membantunya dalam merebut kembali tahta kerajaannya.
Mampukah sang putri menemukan 12 zodiak itu? untuk meminjamkan kekuatannya dalam merebut kembali tahta yang seharusnya menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ren Chan~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-Hari Mereka Yang Bahagia
Rin dan yang lainnya kembali melakukan perjalanan kali ini mereka ingin ke kota membeli beberapa pakaian dan menjual sesuatu yang di dapatkan Kai saat di kuil Cancer.
Persediaan sudah hampir habis, karena Kai sangat pintar ia terkadang meracik obat-obatan dari tanaman saat melakukan perjalanan ke gunung dan beberapa desa.
Kai sedikit lemah dalam pertarungan fisik tapi kuat saat menjadi setengah wujud. Berbeda dengan Ryou dan Ruki, tubuh mereka keras dan dalam pertarungan fisik mereka sangat kuat apalagi menjadi setengah wujud. Ryou adalah jenderal kerajaan terkuat termasuk jantung dari kerajaan pada saat itu. Ruki sepertinya juga memiliki tubuh kuat bahkan benda tajam yang menusuk dirinya pun tidak berpengaruh kulit tebal, memang seperti banteng. Sakuya dan Takuya pandai bertarung tangan kosong maupun senjata karena mereka Gemini jadi tidak berubah setengah wujud melainkan dari elemen udaranya, mereka memanfaatkan elemen udara menjadi pusaran angin kuat. Dan Tamaki si Leo masih belum terlihat tapi memiliki tubuh yang keras juga. Rambutnya orange kemerahan mirip rambut Ryou terkadang mereka berdua seperti adik kakak karena memiliki rambut yang berwarna sama meski rambut Ryou lebih rapi sementara Tamaki memiliki rambut orange yang sedikit gondrong matanya juga tajam berwarna orange juga.
Kai memang pria cantik, kulit putih yang lembut, rambut putih yang bersih dan mata besar yang cantik ia terkadang terlihat mirip seperti anak perempuan ia manis sekali.
Sejauh ini Rin sudah bertemu dengan Aries, Taurus, Gemini, Cancer dan Leo lima zodiak sudah berkumpul. Maka sedikit lagi Rin bisa mencapai kerajaan dan membalaskan dendam pada Yan, orang itu setiap saat terlintas di pikiran Rjn dadanya menjadi sesak dan air matanya bisa jatuh dengan sendirinya.
"Kita sudah sampai di kota, jangan lupa memakai jubah dan penutup kepala kalian karena desa ini berhubungan dengan penduduk suku bumi, jika ketahuan kita pasti akan sampai kekerajaan sebelum waktunya," ujar Ryou memberi peringatan.
Semua mengangguk paham dan merapikan pakaian mereka.
Rin terkagum-kagum, bukan Rin saja sikembar Gemini dan si Cancer Kai juga terkagum-kagum seperti pertama kali ke kota.
Meskipun Rin adalah puteri tunggal kerajaan, selama 16 tahun ia hanya menatap dunia luar dari jendela kamarnya, ia punya taman bermain yang di penuhi bunga-bunga yang dimintanya pada ibunya karena ia sangat ingin bisa tahu dunia luar, meskipun begitu ia tidak pernah meyesal terlahir sebagai puteri raja dan ratu ia selalu melindungi dunia kecilnya yang berharga tanpa menatap dunia luar.
Sikembar Gemini meskipun mereka juga termasuk pandai menjelajah, tapi mereka malah senang menghancurkan sendiri sehingga kuil Gemini melarang mereka pergi keluar menatap dunia luar dan kekuatan itu harus di lindungi oleh karena itu si kembar Gemini ini terkenal akan kenakalannya di kuil Gemink dan desanya.
Kai si Cancer adalah tuan yang di lindungi di kuil Cancer, penduduk mereka sangat ramah Rin ingat saat pertama kali bertemu dengan Cancer yang sangat antusias bertemu dengannya juga memancarkan rasa bersyukur bahwa Cancer di jemput oleh tuan mereka jadi selama 20 tahun ini ia diindungi dan menjadi tuan besar bagi kuil Cancer.
"Hei kalian tarik pelanggan padaku, jika tidak aku tidak akan memberi uang jika tidak bekerja," ujar Kai seperti seorang ibu.
"Kejam sekali kau Cancer," ujar Ryou mencibir Kai.
"Baik," ujar Rin bersemangat sambil mengangkat tangannya.
Kai menaruh semua barang yang ia jual di atas sebuah karpet yang telah ia jahit, ngomong-ngomong kenapa Kai bisa sehebat itu?
"Hei kalian berdua datanglah belanja di tempat kami," ujar Sakuya dan Takuya serempak sambil memasang wajah suram mereka karena tidak pernah berinteraksi kepada orang lain memaksa pelanggan datang kepada Kai.
"Kalian si kembar bodoh bagaimana kalian bisa memaksa seorang pelanggan?" ujar Kai memperlihatkan kerut di dahinya.
"Jadi seperti itu salah ya? merepotkan sekali," ujar Sakuya memasang muka tidak suka.
"Ayo kita coba lagi," ujar Takuy merangkul saudarannya itu dengan semangat.
"Nona cantik bagaimana kalian kalau datang belanja di tempat kami, ada obat yang bisa membuatmu awet muda dan tambah cantik lho," ujar Ruki tersenyum menggoda para wanita pergi belanja ketempat Kai.
Para wanita menggila karena sekilas melihat ketampanan Ruki dan berbondong-bondong pergi belanja di tempat Kai.
"Aku mau,"
"Aku mau menjadi cantik,"
"Aku mau awet muda,"
"Hei nak ada obat untuk panjang umur?"
"Meski aku seorang pria tulen aku juga ingin menjadi cantik," Kai merinding ketika melihat pria-pria ****** yang juga mampir belanja.
Dari yang muda sampai tua dari kakek sampai nenek. Kai kewalahan mengurus semua kostumer ini bahkan semuanya ikut membantu Kai mengambil berbagai obat racikan. Dasar banteng melepaskan kostumer seperti binatang yang kelaparan yang siap menerjang Kai. Namun Kai juga merasa puas karena Ruki pandai merayu bisa banyak menghasilkan uang meski sedikut kewalahan.
"Kerja bagus Ruki," ujar Kai mengacungkan ibu jari.
"Wahhh Ruki memang hebat," ujar Rin juga mengacungkan ibu jari.
"Tcih, aku juga bisa begitu," ujar Ryou merasa iri meski tidak peduli rasanya menjadi orang rendahan dari Ruki itu tidak adil.
"Hei nona hari ini mukamu sangat berjerawat, kusam dan keriput," ujar Ryou kepada seorang nona muda.
Ryou mengatakan santai tanpa bermaksud menyinggung perasaan seorang wanita.
"Apa katamu? Dasar pria brengsek," ujar wanita itu murka, Ryou yang merasa tidak aman segera berlari menjauh.
Wanita itu dan Ryou bermain kejar-kejaran, wanita itu mengeluarkan api yang membara dari matanya kecepatan larinya mengalahkan pelari internasional. Kemarahan wanita yang menyinggung tentang tubuhnya lelaki mana pun bisa mati.
"Ryou sebenarnya apa penyakit yang di derita oleh otakmu?" tanya Kai lelah melihat kelakuan bocah Ryou itu.
"Maafkan aku nona aku tidak bermaksud begitu," ujat Ryou yang masih lari kesana kemari sambil terbirit-terbirit.
"Lihat-lihat kucing-kucing ini sangat lucu," ujar Tamaki sambil menggendong beberapa kucing liar.
"Tamaki bodoh bukan waktunya menjadi ibu kucing," ujar Kai sudah kehabisan stamina.
"Dasar binatang dan orang-orang bodoh, kenapa aku punya saudara seperti kalian?" ujar Kai geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh semua saudara zodiaknya.
"Tamaki lihat ibu sudah murka," ujar Ruki merangkul Tamaki dan menunjuk Kai yang sudab tidak berdaya.
Tamaki yang polos tidak tahu apa-apa mungkin sebentar lagi otaknya juga akan di cuci oleh si cabul Ruki.
Rin hanya tersenyum melihat tingkah teman-temannya itu. Semenjak ada mereka dunia kecil Rin meluas dan berbagi keluh kesah, melindungi dan di lindungi.
"Ibu apa kau lihat sekarang aku punya banyak teman," kata hati Rin tersenyum.
Terlintas pikirannya saat ia kecil ia sangat mendambakan seorang teman dan akhirnya datanglah Yan menjadi sahabat sekakigus orang yang di cintainya.
Rin segera mengalihkan pikiranny setelah selesai berjualan tidak lupa mengunjungi pasar tradisional suku bumi. Kot benar-benar hidup.
Rin berjalan-jalan ketoko aksesoris, yang lain mendapat tugas hanya Rin saja yang di suruh berjalan-jalan.
Ryou membeli perlengkapan senjatata bersam Ruki, Sakuy dan Takuya membeli persediaan makanan, Kai memilih masuk ke apotik dan Tamaki sibuk menghamburkan uang membeli makanan.
Jika di lihat Tamaki begitu kekanakan, pria kecil yang terjebak kedalam tubuh pria besar benar-benar manis.
Rin mengambil sebuah kalung liontin yang sangat cantik, batu liontinnya berwarna biru cerah cantik sekali.
"Tuan Puteri,"
"Ryou, sudah selesai belanja?" ujar Rin tersenyum ia pun kembali meletakan kalung liontin itu.
"Kenapa tidak jadi di ambil itu cocok untukmu,"
"Tidak lain kali saja,"
"Apa mau kubelikan untukmu?"
"Heheh tidak usah repot-repot Ryou ayo kita kembali," ujar Rin pergi dengan senang hati.
Ryou tersenyum lalu diam-diam membeli kalung itu untuk Rin. Mendapat uang dari ibu Kai sedikit menguntungkan, meski Ryou payah dalam merayu orang untuk berbelanja di tempat Kai.
Next