Gladisia putri maharani siswi menengah atas yg begitu populer di sekolah nya tak ada yg tidak mengenal dirinya sosoknya yg cantik pintar dan yg paling penting ia adalah wakil ketua osis yg membuat dirinya sangat pamiliar di sekolah.
Tak hanya itu prestasinya juga terbilang bagus hanya saja sikap angkuh nya yg begitu tinggi membuat dirinya memiliki nilai plus bagi dirinya di mata para siswa siswi bahkan guru sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ufika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32 gugup
“Assalamualaikum om,” salam Irfan yg baru saja datang memenuhi undangan dari Hadi.
“Malam nak Irfan, saya kira nak Irfan gak bakalan datang.” Kekeh pak Hadi dengan ramah.
Setelah sedikit berbincang malam itu pak Hadi sedikit tertarik akan Irfan terlebih mengenal Irfan yg ternyata seorang pemilik restoran itu membuat dirinya seolah memiliki peluang untuk bagi pak Hadi membantu seseorang yg saat ini sedang membutuhkan bantuan.
“Tak mungkin lah om saya mana bisa mengabaikan undangan om,” kekeh Irfan jujur.
“Ya idah mari masuk ke dalam.” Ujar pak Hadi dengan ramah.
Ia mengajak Irfan ke dalam rumah dan sedikit berbincang setelah menyuruh bi Hanum menyajikan teh hangat bagi mereka.
Tak banyak yg di bahas setelah sedikit berbasa-basi pak Hadi langsung mengutarakan permintaan nya pada Irfan karena ia sendiri tak mungkin menawarkan bantuan nya sendiri ia butuh seseorang yg ia rasa cukup handal dalam bidang nya terlebih jika dengan Irfan besar kemungkinan ia akan menerima bantuannya.
“InsyaAllah om, saya akan berusaha tapi ada satu masalah.” Jujur Irfan tak mengerti.
“Masalah apa?” Tanya pak Hadi mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Tapi maaf sebelumnya ini hanya keingin tahuan saya saja dan maaf kalau saya sedikit lancang tapi kenapa om meminta saya untuk hal seperti ini?” Jujur Irfan tak mengerti.
Pak Hadi tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Irfan.
“Tak ada alasan pasti hanya saja jika kamu yg membantunya saya akan sangat-sangat berterimakasih.” Ungkap pak Hadi.
Irfan hanya terdiam ia rasa mungkin memang ayah dari Gladis ini memang sangat memiliki sosialisasi yg tinggi sehingga ia tidak ingin orang lain tahu akan dirinya yg telah menolong orang itu.
“Bagaimana?” tanya pak Hadi kemudian.
“Baik om, om tinggal kirim alamat nya saja dan soal biaya nya om jangan pikirkan itu ok gak usah kirim dulu dana nya jika memang orang itu setuju saya yg akan membantunya om jangan khawatir soal nama om dan maksud om saya tak akan mengungkapnya.” Papar Irfan panjang lebar.
“Makasih fan,”
“Gak usah seperti om saya sendiri justru merasa malu om sangat memiliki hati yg sangat luas.”
Pak Hadi hanya tertawa kecil menanggapi pujian Irfan yg sedikit berlebihan bagi dirinya.
Mereka pun kembali menikmati secangkir teh bersama karena Irfan sendiri memang tak terlalu suka kopi begitupun dengan pak Hadi.
Meski sebenarnya pak Hadi suka akan kopi tapi setiap kali ia meminum kopi rasanya ia selalu teringat akan anak gadis nya membuat pak Hadi kini sangatlah jarang mengkonsumsi minuman yg dulu sangat ia favorit kan itu.
“Ngomong-ngomong saya baru sadar setiap kali saya kesini om tak pernah minum kopi,” kekeh Irfan yg baru saja menyadari itu.
“Selera kita saja yg sama.” Balas pak Hadi dengan tawa nya.
Irfan pun tertawa menanggapi omongan pak Hadi yg selalu membuatnya sedikit menohok.
“Bi ayah dimana?” tanya Gladis yg baru saja turun dari kamarnya.
“Bapak di depan non sama tamu,” ujar bi Hanum tak mengatakan siapa tamunya.
“Oh makasih ya bi.”
Gladis langsung berjalan ke depan dimana ayahnya berada.
“Yah?” Panggil Gladis yg baru saja menghampiri ayahnya itu.
Seketika Gladis terdiam ia kira ayahnya sedang berbicara dengan seorang tamu kepercayaan nya tapi begitu ia menghampiri ayahnya ia sedikit terkejut karena ternyata tamu ayahnya itu adalah pak Irfan.
Irfan seketika melirik ke arah Gladis melihat Gladis kembali membuat Irfan sedikit gugup entah mengapa dirinya menjadi seperti kaku.
“Pak Irfan,” tutur Gladis pelan.
Ia pun akhinya memilih menghampiri kedua pria itu karena dirinya tanggung telah menampakkan dirinya di depan pak Irfan.
“Mmm kalau begitu saya pamit ya om saya rasa ini sudah sedikit larut.” Pamit Irfan setelah banyak berbincang dengan pak Hadi.
“Kok buru-buru sih, kenapa gak ngobrol dulu Gladis saja baru turun.” Sahut ayah Hadi.
“Ayah apaan sih,” gerutu Gladis tak enak hati.
“Kapan-kapan aja om lagian udah terlalu malam juga Gladis juga harus istirahat.” Kekeh Irfan mencoba bersikap biasa saja.
Tapi tidak dengan pak Hadi ia tahu jika guru dari putrinya itu terlihat memang berubah ia yakin jika ada sesuatu yg Irfan berusaha sembunyikan dari dirinya meski mungkin Gladis tak menyadari itu tapi tidak dengan pak Hadi ia cukup berpengalaman soal perasaan.
“Dis kamu antar pak Irfan sampai depan.” Perintah pak Hadi pada Gladis.
“Tapi yah,” cicit Gladis pelan.
Dengan sedikit terpaksa Gladis akhinya memilih mengantar Irfan sampai teras depan meski dirinya tak ingin tapi ia harus bagaimana lagi permintaan tetaplah permintaan bagi dirinya.
“Makasih ya,” sahut Irfan dengan senyum lebarnya.
“Gak usah geer kali pak lagian aki terpaksa.” Ketus Gladis tanpa merasa tak sopan.
Bagaimana bisa ia bersikap layaknya Irfan adalah gurunya setiap kali dirinya bertemu dengan Irfan seolah Gladis bukan muridnya melainkan seperti adiknya.
“Tapi kayaknya kamu senang mengantar saya sampai depan rumah.” Kekeh Irfan lagi.
“Hmmm,” Gladis bergumam malas ia tak menanggapi ocehan gurunya itu.
“Lagian bapak malam-malam dari rumah saya emangnya udah apa?” tanya Gladis sambil memicingkan matanya.
Pertanyaan yg sudah sejak tadi berada dalam benaknya kini ia utarakan. Ia a memang cukup penasaran terlebih ia rasa ayahnya sedikit berlebihan pada gurunya itu.
“Kepo aja urusan orang tua.”
“Ih bapak,” kesal Gladis pada Irfan.
Irfan hanya tertawa melihat Gladis kembali menampakkan wujud aslinya.
“Udah sana masuk, belajar yg benar istirahat cukup jangan sampai besok kesiangan lagi.” Balas Irfan tak menanggapi pertanyaan Gladis.
“Ya udah sana,”
Seketika Gladis beranjak pergi ia sedikit kesal karena Irfan tak menjawab pertanyaan nya.
Baru saja Gladis melangkah kini Irfan kembali memanggilnya.
“Dis bentar.” Panggil Irfan lagi.
Gladis kembali membalikan tubuhnya meski dirinya sangat malas menanggapi gurunya itu. “Ada apa sih pak?”
“Aku melupakan sesuatu,”
Irfab merogoh saku nya dan berjalan menghampiri Gladis. “Ini jam tangan milik kamu, kayaknya waktu kamu pukul saya di mobil jam kamu terlepas.” Tutur Irfan sambil menyodorkan sebuah jam berwarna silver.
Gladis tak langsung mengambilnya ia menatap wajah gurunya yg sama menatap dirinya entah mengapa situasi itu membuat Gladis seolah gugup bahkan lebih gugup dari saat pertama ia di tembak oleh Frans terlebih jarak antara Gladis dan Irfan cukup dekat ia bahkan merasakan dadanya yg berdegup cukup kencang.
“Mmm makasih,” sahut Gladis yg langsung berbalik.
Ia segera pergi dari hadapan Irfan dengan debaran jantung yg seakan tak bisa ia kondisikan.
“Sama-sama.” Ucap Irfan tak mungkin Gladis dengar.
Diam-diam seseorang di balik sana melihat semuanya itu rasa sakit kini ia rasakan meski ia tak tahu pasti apa yg sudah terjadi diantara mereka berdua ia kembali menyalakan motornya dan segera pergi dari hadapan rumah itu.
Bersambung...
langsung favorit deh
salam keluarga besar arsgaf ya ka