Kisah gadis polos bernama Kania dengan seorang laki-laki yang Kania anggap sebagai monster karena memiliki banyak memar di wajah.
Jangan lupa add Facebook Author ya : Helly IV
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defina Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan
***
Kini luka pada tengkuk Kania sedang diobati oleh Daniel menggunakan krim antiseptik.
"Pelan-pelan, Kak!" pinta Kania.
"Iya Sayang. Tahan sebentar ya."
Daniel kemudian menutupi area luka Kania dengan perban perekat.
"Nah udah selesai! Apa masih sakit Sayang?" tanya Daniel memastikan.
Kania menggeleng. "Engga Kak. Sekarang udah lebih mendingan," jawab Kania seraya tersenyum meyakinkan.
"Syukurlah!" gumam Daniel di akhiri dengan mengelus lembut puncak kepala Kania.
"Oya Kak, Kakak ga lapar?" tanya Kania sambil mendongak menatap Daniel dengan tatapan tanda tanya.
"Sebenarnya sih lapar," jawab Daniel terus terang.
"Hah beneran? Yaudah kalo gitu Kania izin keluar dulu ya Kak," ucap Kania seraya bangkit dari tempat duduknya. Namun, dengan cepat Daniel menahan bahu Kania.
"Mau ngapain Sayang?" tanya Daniel.
"Mau beliin makanan buat Kakak," timpal Kania.
"Ga perlu!" seru Daniel dengan suara paraunya.
"Loh kenapa? Bukannya Kakak lapar?" tanya Kania heran.
Daniel sejenak tersenyum menyeringai. Setelah itu ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada telinga Kania.
"Karena makan siangku ada di depan mataku sendiri Kania," bisik Daniel di akhiri dengan mengecup singkat bahu Kania yang tertutupi piyama tidur.
Mendengar hal itu, Kania langsung melototkan mata. "Maksud Kakak makan siang Kakak itu Kania?" tanya Kania agak ngegas.
"Iya," gumam Daniel.
Buru-buru Kania bangkit dari tempat duduknya dan berdiri agak jauh dengan Daniel.
"Kakak mau makan daging Kania?" tanya Kania seraya memasang wajah polosnya.
"Kalo iya gimana?" Daniel balik bertanya sambil bersedekap dada.
"Ho!" Kania membulatkan mata sempurna. Ia tak menyangka Suaminya yang romantis akan berubah Suami yang mengerikan.
"KAKAK MONSTER KANI*BAL?" tanya Kania dengan meninggikan suaranya.
"Hmm, bisa jadi," jawab Daniel seraya berjalan mendekati Kania.
Melihat hal itu, Kania pun langsung melangkah mundur menjauhi Daniel. "Jangan deketin Kania!" peringat Kania dengan memasang wajah panik.
Daniel tak menghiraukan peringatan Kania. Ia terus mendekati sang Istri dengan tatapan seperti harimau bu*as yang sedang kelaparan.
Bruk!
Punggung Kania sudah menempel pada dinding. Itu artinya ia tidak bisa berjalan mundur lagi.
Bahkan saat ini Daniel sudah berdiri di hadapannya.
"Jangan makan Kania Kak!" pinta Kania seraya memejamkan mata erat.
Lantas Daniel terkekeh. Ia tak menyangka Istrinya akan menganggap serius ucapannya.
"Sayang!" Dengan jail, Daniel meraih tangan Kania. Dan ...
Gret!
"Aaaa," jerit Kania histeris saat merasakan jari telunjuknya digigit oleh sang Suami.
"Huaaa, jangan makan Kania Kak. Kania mohon, jangan makan Kania." Saking paniknya, Kania mulai menangis kejer.
Bukannya berhenti, Daniel malah semakin jail dengan menggigit jari tengah Kania.
Gret!
"Huaaa, ampun Kak! Ampun! Jangan makan Kania! Kania mohon! Kania-- Hmmph--"
Ucapan Kania terpotong saat Daniel tiba-tiba menyambar bibirnya dengan sangat ga*n4s.
Refleks Kania pun langsung membulatkan mata karena terkejut mendapat serangan mendadak dari sang Suami.
"Umm ..." Kania mulai memukul-mukul dada Daniel. Ia ingin bertanya sebelum Suaminya itu bertindak lebih jauh.
"Kak," ucap Kania usai bibirnya terlepas dari bibir Daniel.
"Kenapa, hm?" tanya Daniel seraya menangkup kedua pipi Kania, lalu mengusapnya dengan lembut.
"Bukannya Kakak mau makan Kania, tapi kenapa Kakak malah cium Kania?" tanya Kania polos.
Sekilas Daniel terkekeh. Setelah itu, ia mencubit pelan pipi Kania. "Dasar lugu! Siapa juga yang mau makan daging kamu Sayang. Tadi aku cuma bercanda," ungkap Daniel.
"Jadi Kakak bukan monster kani*bal?" tanya Kania memastikan.
Daniel menggeleng. "Bukan Sayang."
"Syukurlah!" ucap Kania seraya menghela napas lega.
"Ekhem." Daniel tiba-tiba berdehem.
"Kenapa Kak?" tanya Kania tak mengerti.
Daniel tak merespon. Malah yang ada lelaki tampan itu mendekatkan wajahnya pada telinga Kania.
"Mau mencoba sensasi menjelajahi surga dunia di ruang kerja?" tawar Daniel dengan tersenyum menyeringai.
Cepat-cepat Kania pun menggeleng. "Ga mau! Kania belum mandi Kak!" tolak Kania.
"Harus mau." Tanpa babibu, Daniel menggendong Kania ala bridal style. Setelah itu, ia membawa tubuh mungil itu menuju meja kerja.
"Mau ngapain Kak?" tanya Kania waswas saat Daniel tiba-tiba mendudukan dirinya di atas meja.
"Mau ajak kamu jalan-jalan," timpal Daniel di akhiri dengan tersenyum menyeringai.
"Ihh Kakak, udah Kania bilangin, Kania belum mandi Kak," ucap Kania berusaha untuk tidak ngegas.
"Terus hubungannya sama kamu belum mandi apa?" tanya Daniel seraya menatap lekat wajah Kania.
"Ya Kania ga mau aja Kakak ngerasa jijik deket Kania. Kania-- Ummh---"
🚫 Harap bijak ya 🚫
Tanpa aba-aba, Daniel kembali menyambar bibir Kania.
Kali ini ciu*man yang Daniel lakukan sangat bru*tal. Membuat Kania yang ingin mengimbangi ciu*man tersebut langsung kewalahan.
"Eummm ..." Kania refleks meracau saat Daniel semakin memperdalam ci*mannya.
Lalu tak lama kemudian, Kania pun terbawa suasana dengan permainan bibir Daniel. Hingga akhirnya Kania langsung membalas cium*4n Daniel seraya mengalungkan kedua tangannya di leher sang Suami.
"Cppp ... Cppp ..."
Decapan demi decapan mulai terdengar memenuhi ruangan tersebut. Terlihat mereka sangat menikmati sensasi cium*4n pan*4s di ruang kerja.
Hingga 8 menit lamanya, mereka saling melepas tautan satu sama lain.
"Hah ... Hah ... Hah ...."
Tampak Kania mulai terengah-engah karena aktivitas panasnya barusan dengan Daniel.
"Udah Kak, Kania capek!" keluh Kania.
Daniel terkekeh. "Kok capek? Padahal kita belum menuju surga dunianya loh Sayang!"
"Jangan ke sana dulu Kak, Kania belum mandi!" ucap Kania memperingati.
Daniel tak menghiraukan ucapan Kania dan lebih memilih melanjutkan aksinya kembali.
Kali ini sasarannya bukan bibir, melainkan leher.
"Kakk!" ucap Kania dengan suara tertahan saat bibir Daniel mulai menciumi jenjang lehernya secara bertubi-tubi.
"S*hh ..."
Mendengar hal itu, Daniel semakin bersemangat menjelajahi leher Kania dengan kedua tangan yang mulai bergerak membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Istrinya.
K--Kak!!"
Sejenak Daniel mengakhiri aktivitasnya. "Kenapa, hm? Mau minta lebih?" tanya Daniel seraya membelai rambut Kania dengan lembut.
"Bukan Kak. Kania cuma mau tanya, kenapa kancing baju tidur Kania dibuka?"
"Menurutmu?" Daniel balik bertanya dengan senyuman jail di bibirnya.
Glek!
Kania menelan ludahnya susah payah. Ia mengerti ke mana arah pembicaraan Daniel saat ini.
"Kakak mau hi**p punyanya Kania?" tanya Kania dengan wajah polosnya.
"Tentu saja Sayang. Aku kan belum makan siang. Ya anggap aja ini adalah makan siangku," jawab Daniel seraya mengelus lembut salah satu aset Kania yang masih tertutupi b*a.
"Hmm, Kak ... geli!!" gumam Kania dengan suara tertahan.
"Boleh kan Sayang?" tanya Daniel memastikan.
Malu-malu Kania menganggukan kepalanya. "Tapi pelan-pelan ya Kak." peringat Kania.
"Iya Sayang," tandas Daniel.
Lalu tanpa babibu, Daniel mengeluarkan salah satu aset Kania. Setelah itu, ia sedikit membungkuk agar lebih mudah bermain dengan dua aset sang Istri.
"Eum, pelan-pelan Kak!" pinta Kania sambil melenguh saat Daniel tiba-tiba menghi*s4p punc4k da*danya begitu kuat.
"Maaf Sayang. Habisnya pwnya kamu makin en4k!" ucap Daniel dengan mulut penuh.
Tiba-tiba ...
Tok ... Tok ... Tok ....
"Ho!" Kania langsung terkejut saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
"Kak, berhenti Kak!" pinta Kania seraya memasang wajah panik.
"Ga mau!"
Tok! Tok! Tok!
"S*shh berhenti Kak! Di lu-luar ada orang!" pinta Kania dengan suara tertahan.
'Arghh, si*al,' gerutu Daniel dalam hatinya.
Dengan terpaksa Daniel pun mengakhiri aktivitasnya.
"Nanti dilanjut lagi ya Sayang!"
Kania hanya merespon dengan anggukan.
Sebelum pergi, Daniel memasukan kembali aset Kania ke dalam b**. Setelah itu, ia mengancingkan kembali piyama tidur sang Istri.
"Ya sudah, aku keluar dulu. Kamu tunggu di sini ya!" seru Daniel sembari mengacak-acak puncak kepala Kania dengan gemas.
"Iya Kak," timpal Kania dengan senyum manisnya.
Sekilas Daniel mengecup kening Kania. Setelah itu, ia bergegas keluar melakukan aktivitas kerjanya kembali.
"Huh, selamat," gumam Kania sambil menghela napas lega.
Kalau saja orang yang mengetuk pintu itu tidak ada, mungkin Kania akan digempur habis-habisan oleh Daniel.
Bersambung
ini kania emang gak tau apa apa atau gimana kk. ko lugu ya kebangetan
lo ketemu sama orang jahat gimana coba....