kisah tentang seorang gadis lulusan sekolah kedokteran bernama Maudy yang terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan seorang pria dingin yang ditinggal pergi kekasihnya karena penyakit leukimia yang ia derita.
Maudy terpaksa menerima perjodohan tersebut karena ayahnya yang telah berhutang budi pada ayah calon suaminya. sedangkan si pria dipaksa sang ayah untuk menikah karena prilakunya yang tak kunjung membaik semenjak di tinggal pergi sang kekasih.
pernikahan mereka mulai menjadi rumit sejak kembalinya kekasih si pria di tengah pernikahan mereka yang sudah mulai membaik. dan hadirnya seorang pria yang mengharapkan cinta Maudy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunia Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hotel!
Genggaman itu semakin rekat meski keringat dingin membanjari selah jari di antara kedua tangan Rehan dan Maudy. Mereka masih di dalam lift, dan sejak tadi Maudy sudah melemaskan tangan-nya tapi pihak lain di sana masih enggan memberi kesenjangan.
Maudy malu. Ada kerisihan lain di dirinya selain isi kepalanya yang masih traveling, tentu saja. Dia belum mandi, dan pakaiannya belum di ganti seharian. Sekarang ketakutannya berganti, bagaimana jika baju-nya terlihat basah dengan keringat? Bagaimana jika aroma tubuh-nya menyesakkan? Bagaimana dengan penampilan kacau-nya sekarang?
Maudy menggeleng pelan. Menghapus segala pikiran rancu dari otak-nya, berusaha menenangkan diri. Dan tanpa sadar mereka sudah tiba di depan pintu kayu coklat kehitaman dengan nomor 303. Dengan santainya Rehan mengeluarkan sebuah kartu dari dompet-nya, melakukan sesuatu di gagang pintu, dan masuk begitu saja beriringan dengan Maudy yang masih setia mengikutinya.
"Han...." Panggil Maudy sebagian. Dia menghentikan langkahnya agar tidak kembali tertarik. Tangan kirinya bersusah payah melepaskan jeratan Rehan di tangan-nya yang lain.
Rehan melirik ke arahnya, menunggu jawaban. Tapi Maudy kebingungan sendiri mengungkapkannya. Rehan mengambil posisi duduk di pinggir ranjang king size di sana, menggenggam lagi pegangannya yang sempat terpisah sambil menatap istrinya sembari menunggu jawaban dari sumber bicara. "Why?" Katanya bertanya dengan suara berat. Sungguh, jantung Maudy lebih tidak karuan dibanding saat terbangun di pelukan Rehan.
'deg,deg,deg!'
Suara detakkan jantung itu sepertinya akan sampai ke Rehan jika mereka sedikit saja lebih dekat. Maudy pengep sendiri tiap kali berusaha membuka mulutnya.
"Han.... Kamu mau apa?" Maudy semakin gemetar saat si suami menariknya hingga terduduk di atas pangkuan.
"Saya rasa, kamu benar. Seenggaknya kita perlu buat beberapa kenangan kan?" Katanya dengan suara datar yang sedikit serak. Sebelah tangannya mengunci pinggang Maudy agar tak kemana-mana, sedangkan yang lainnya menjelajah leher dan pipi. Wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi justru terasa semakin menakutkan.
"Han..." Maudy kesulitan sendiri saat berbicara. Jujur dia sangat takut sekarang, tapi tubuhnya tak cukup mampu melepaskan diri.
"Hm?" Rehan membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang dan membelai rambut Maudy.
"Han.... kamu janji gak bakal sentuh saya."
"Kapan saya janji gitu?"
"Ray, tolong..." Tanpa sadar Maudy mulai menangis. Sedikit tapi cukup menyesakkan.
"kalau mau berhenti kenapa gak dari tadi?"
"saya tau ayah punya banyak orang yang dipercaya..." cicit Maudy beralasan.
Rehan masih setia membelai perlahan rambut Maudy. Maudy menangkup wajah Rehan dengan kedua tangannya. "Rayhan, saya percaya sama kamu." Ucap Maudy dengan kekuatan terakhir yang dia miliki.
Rehan tersenyum, dan bangkit dari tempat tidurnya. Membuka lemari pendingin di ujung kamar, mengambil dua minuman kaleng dari dalamnya, dan menyerahkan salah satunya pada Maudy yang masih terbaring kaget. "Mau makan apa?" Tanya Rehan dan dengan santainya membuka kaleng minuman dingin yang ia pegang dan menegaknya sambil memperhatikan Maudy yang berusaha mengambil posisi duduk, dengan wajah tanpa dosa.
"Ha?" Maudy heran sendiri dibuatnya.
"Katanya masih laper?"
"Are you seriously?" Maudy menggerutu kesal dengan candaan Rehan. Tangannya menyilang memegang pundak, waspada. Tapi Rehan mengambil telpon kabel di dekatnya, menekan sesuatu dan melakukan panggilan. Meyakinkan Maudy, dia tak akan kenapa jika menurunkan kewaspadaannya.
"Nasi goreng 2" kata Rehan begitu saja pada seseorang di telepon. "Mau apa lagi?" Tanyanya pada Maudy. Maudy menggeleng saja. "Udah itu aja. Anter ke kamar saya" panggilan terputus.
"Nasi goreng kamu gak enak. Lain kali bikin kue aja" celetuk Rehan saat menghampiri Maudy seraya mengacak-ngacak pucuk kepala Maudy. Setelahnya, tanpa basa-basi langsung meninggalkan Maudy yang tercengang sendiri dibuatnya. Rehan menutup pintu kamar mandi, dan tak lama bunyi air mengguyur memenuhi ruangan.
•
•
•
•
•
Sungguh apa yang kamu lakukan adalah hal yang tak dapat aku bayangkan, meski terkadang lebih baik dari apa yang aku harapkan.
•
•
•
•
•
Happy first weekend in this new year🥳🥳🥳.
ada yang nungguin kah? kangen? jangan lupa tinggalkan jejak dan beri semangat authornya ya karena author sayang kalian😊😊😊
Bonus :
sexy husband :