Penjara cinta yang suaminya ciptakan membuat Firda tak tahan lagi . Ia hidup namun tak bisa hidup dengan bebas seperti manusia pada umumnya . Suaminya itu menyuruhnya melakukan hal hal yang tak ia sukai mulai dari Memakai softlens berwarna biru setiap hari , menghadiri les memasak juga menghadiri les piano .
Bukan hanya itu saja , setiap ia pergi keluar dari rumah .Para bodyguard selalu mengikuti dirinya , ia merasa tak nyaman namun ia berusaha berpikir positif bahwa itu semua suaminya lakukan demi keselamatan nya .
Namun semakin hari ia semakin tak nyaman , ia seperti seorang boneka yang hanya bisa pasrah di mainkan dan di atur oleh orang lain . Kebebasan nya seakan terenggut saat ia menikah dengan suaminya itu . Karena merasa lelah dan muak dengan itu semua akhirnya Firda mulai tak menuruti apa mau suaminya . Ia mulai lupa mengenakan softlens biru yang suaminya suruh pakai setiap hari .
Awal nya ia kira suaminya tak akan marah namun justru ia salah . Suaminya murka dan mengamuk hingga berakibat kekerasan dalam rumah tangga yang ia alami .Hal itu semakin membuat Firda tak kuat lagi menjalankan rumah tangga nya , keinginan nya untuk mengakhiri rumah tangga nya semakin kuat setelah mengetahui fakta bahwa suaminya menikahi dirinya hanya karena ia mirip dengan istri laki aki itu yang sudah meninggal . Hatinya semakin hancur kala mengtahui jika perintah perintah yang suaminya berikan hanya lah agar dia terlihat semakin mirip dengan mendiang istrinya .
Hingga akhirnya wanita itu memilih pergi mulai dari meminta cerai yang suaminya tolak mentah mentah. Hingga memalsukan kematian nya sendiri agar terbebas dengan dari cengkraman sang suami .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia puspitaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Oprasi.
Saat ini Firda sudah berada di ruang oprasi, wanita itu akan menjalani oprasi yang akan merubah wajah sekaligus kehidupan nya.
"Sudah siap?" tanya Farel yang telah berganti dengan pakaian khusus nya . Firda hanya tersenyum dan mengangguk tanda bahwa wanita itu sudah siap untuk menjalankan operasi yang sebentar lagi akan di mulai.
"Oprasi ini mukim berjalan lebih lama karena kamu merubah seluruh bagian wajah. Dari mulai mata, hidung , bibir dan pipi. Apa kamu siap?" tanya Farel sekali lagi.
"Siap dokter."
"Baiklah, Novi kamu tolong bawa pasien ini keruang oprasi segera. Aku akan melakukan prosedur bedah plastik sekarang." ucap Farel pada salah satu perawat yang berada di tempat itu.
"Baik dok, kami akan melakukan nya." Ucap Novi tersenyum, kemudian wanita cantik itu mendorong ranjang yang Firda tiduri menuju ruang operasi.
Setelah sampai di ruang oprasi Farel dan yang lainnya segera mengambil tempat untuk memulai Operasi tersebut.
"Oke pasien yang ada di didepan kita ini bernama Firda, beliau ingin mengoperasi seluruh bagian wajah nya jadi ...oprasi ini akan sedikit memakan waktu dan saya minta kalian untuk fokus dan jangan menimbulkan suara apa pun yang dapat memecah konsentrasi saya . Mengerti kan?" Tanya Farel pada seluruh perawat dan dokter yang berada di ruang oprasi tersebut.
"Mengerti dok."
"Oke sebelum kita mulai mari kita berdoa dulu pada yang maha kuasa, semoga oprasi ini berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apapun. Berdoa di mulai." Ucap Farel memimpin doa tersebut, mereka pun memulai doa tersebut sementara Firda, wanita itu sudah di masuki obat bius sejak tadi.
"Berdoa selesai. " Ucap Farel mengakhiri doa tersebut, oprasi pun dimulai. Mereka nampak sibuk dan fokus, Farel sesekali menatap foto istrinya dengan sendu.Wajah istrinya itu sebentar lagi akan ia pindahkan pada wajah Firda.
"Maafkan aku Viona, aku tak bisa jauh darimu makanya aku melakukan ini. Maaf..." Batin Farel menatap foto itu sendu, setelah itu ia menatap Firda dengan pandangan yang sama sendunya pula.
"Maafkan aku Fir, anggap saja ini sebagai balasan hutang balas budi mu kepadaku." ucap Farel setelah itu kembali melanjutkan oprasi nya .
Setelah 5 jam berlalu akhirnya oprasi itu telah selesai dan muka Firda pun sudah di perban dengan perban tipis yang menutupi seluruh bagian kepalanya.
"Suster setelah ini tolong bawa dia ke kamar Rawat ya. Setelah itu kalian boleh pulang, dan nikmati lah hari libur kalian." Ucap Farel mengakhiri oprasi tersebut.
Para suster pun membawa Firda pergi dari ruang operasi, wanita itu di tempatkan pada salah satu kamar rawat yang memang tersedia khusus untuk pasien yang telah menjalankan operasi nya.
"Apa dokter mengenal pasien tadi?" Tanya Novi saat ia sedang mencuci tangan nya bersama dengan Farel.
"Dia pasien ku tentu saja aku mengenalnya, ada ada saja pertanyaan kamu itu." Tutur Farel tersenyum mendengar pertanyaan yang Novi berikan kepada nya.
Senyum Farel selalu saja menghipnotis Novi, wanita itu sungguh kagum dengan ketampanan laki laki di hadapannya itu. Ingin rasanya melihat senyum manis itu saat ia terbangun dari tidur nya setiap hari, tapi apa itu mungkin.
Sedangkan hanya dirinya yang ingin itu terjadi tidak dengan laki laki di hadapannya.
"Em ..patas dokter memperlakukan wanita itu berbeda dari para pasien lainnya."
Farel terdiam mendengar hal itu, Dirinya memang memperlakukan Firda dengan berbeda tak seperti para pasien yang lain nya dan ia baru sadar akan hal itu.
"Apa dokter memiliki hubungan dengan pasien tadi, apa pasien tadi seseorang yang berarti untuk dokter?" Tanya Novi sedikit cemburu jika memang apa yang ia tanyakan itu benar adanya. Farel tak menjawab laki laki itu masih terdiam dan memikirkan kenapa ia bisa memperlakukan Firda lebih sepesial dari pada para pasien nya yang lain.
"Maaf jika saya lancang menanyakan hal ini pada dokter." ucap Novi tak enak hati karena Farel hanya terdiam dan tak berniat menjawab pertanyaan nya.
"Eh ...maaf tadi kamu tanya apa?" ucap Farel yang baru tersadar setelah mendengar nada kekecewaan dari wanita di samping nya.
"Tidak ada, lupakan saja dokter." Ucap Novi terlanjur kecewa dan tak enak hati pada pria di hadapannya itu.
"Em baiklah, kalau begitu saya keruangan dulu ya. Kamu sudah boleh pulang sekarang."
"Apa dokter tak pulang kerumah?" Tanya Novi tiba tiba saja penasaran.
"Saya menunggu pasien tadi sadar dulu baru setelah itu saya pulang kerumah, memang nya kenapa apa kamu mau mengajak saya pulang bersama." Ucap Farel terkekeh pelan, niat laki laki itu sebenarnya hanya bercanda mengatakan hal itu namun tidak dengan Novi.
"Apa dokter mau jika saya ajak pulang bersama?" Tanya Novi membuat Farel terkejut dan tak menyangka jika Novi malah mengajak nya pulang bersama.
"Em, tadi aku hanya bercanda. Kamu pulang lah dulu pasti orang di rumah sedang menunggu kepulangan mu. Sudah dulu ya, aku mau ke lihat keadaan pasien tadi dulu. Permisi." Ucap Farel salah tingkah, laki laki itu berlalu pergi dari hadapan Novi, sedangkan Novi hanya bisa memandang punggung laki laki yang menjauh itu dengan pandangan nanar.
"Eh alah masih di lihatin saja, orang nya udah gak kelihatan juga." Ucap seorang laki laki bernama Varo asisten dari Farel.
"Eh dokter Faro, saya gak ngelihatin dokter Farel kok dok. " Ucap Novi salah tingkah karena kedapatan memandangi kepergian Farel dari hadapannya.
"Ngelihatin juga gak apa apa gak ada yang larang juga kok. Hehehe." Ucap Varo membuat pipi Novi memerah, wanita itu menunduk kan kepalanya dengan malu malu.
"Tak usah malu, justru aku senang jika ada yang mau mendekati sahabat kesepian ku itu." Ucap Varo tersenyum dengan lebar nya.
" Kalau senang, bantuin deketin kenapa dok." Ucap Novi berhadap bisa lebih dekat dengan Farel berkat bantuan Varo.
"Boleh saja tapi gak gratis harus ada imbalan nya ya."
Dahi Novi berkerut mendengar hal itu , ia bertanya tanya apa yang akan Faro minta sebagai imbalan untuk mendekatkan nya dengan Farel.
"Apa imbalan yang dokter minta?" Tanya Novi pemasaran.
"Dekatkan saya dengan suster ana."
Mata Novi seketika melotot mendengar hal itu , bagiamana ia tak terkejut. Varo meminta mendekatkan nya pada sahabatnya sendiri sedangkan laki laki itu sudah beristri dan memiliki anak.
"Tidak ...saya gak mau, bagaimana dengan istri dokter nanti jika tau dokter dekat dengan wanita lain. Saya tak mau jadi perantaraan perselingkuhan kalian ya." Jawab Novi dengan begitu tegas nya.
"Ayolah jangan menolak nov, lagi pula aku sudah mau bercerai dengan istriku. Kami sedang menyerahkan berkas perceraian kepada pengadilan." Ucap Varo membuat Novi terdiam, berusaha memikirkan apa kah ia harus membantu Varo atau justru menolak nya. Jika ia menolak maka tak ada peluang lagi untuk mendekati Farel sedangkan kalau ia terima. Itu artinya ia sama saja menjerumuskan sahabatnya dalam dunia perselingkuhan .
..
..
..
Akankah Novi menerima tawaran itu dan mengorbankan sahabatnya.
Tunggu kelanjutannya besok ya.
Jangan lupa berikan like komen dan vaf ya .
Dukungan kalian sangat berarti untuk kami para author.
tapi seru juga ....
semangat otor.