DILARANG KERAS BOOM LIKE YAH, Kalau nggak berminat baca.
YANG MERASA BOCIL JANGAN BACA.
Adenia wulandari wanita cantik dan s*ksi dari dulu hingga kini tetap sama, berusia 29 tahun istri dari Adnan Dirgantara pengusaha cukup ternama sekaligus sahabatnya sendiri.
Awalnya pernikahan mereka berjalan baik-baik saja hingga menginjak tepat di tahun ke empat, badai pernikahan mulai menghampiri. Kehadiran orang ketiga dari masa lalu keduanya dengan sekejap mata menghancurkan pernikahan yang mereka bangun begitu saja.
Tidak sampai di situ, Adenia yang memiliki seorang adik kandung yang juga sejak lama ikut bersamanya terjebak juga dengan pesona sahabatnya itu. Hingga dia harus di hadapkan dengan seorang wanita yang dengan gampangnya merebut perhatian kedua pria terpenting dalam hidupnya itu.
Akankah Adenia masih bisa bertahan dalam situasi yang seakan tak sedikitpun berpihak kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aeni Masbait, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Nela Pada Adnan
...Sebelum baca, Author ingin ngucapin dulu Selamat lebaran Idul Adha bagi yang menjalankan. Semoga kita semua di berikan keberkahan dalam bentuk apapun, hal baik selalu mengelilingi kita semua dan keluarga. Selamat Idul Adha 1443 Hijriah🙏😇....
............🌹Happy Reading🌹 .............
.
.
.
Tanpa menjawab Nela, Adenia bergegas mendekati wanita itu. Namun siapa sangka, Adnan malah beranjak dan mendekati Adenia.
Di rangkul nya pinggang Ade tanpa permisi, membuat sang empunya menghembuskan nafas muak nya dengan tingkah sang suami..
"Apa keadaanmu baik-baik saja." Tanya Adenia pada Nela setelah melepas paksa tangan Adnan yang melingkar posesif di pinggangnya.
Adnan tak habis akal, takut jika Adenia kembali tak menghiraukan dirinya. Pria itu kembali mendekati Adenia dan merangkulnya lagi, mengikuti Adenia yang sudah duduk di ranjang Nela.
Sementara Nela nampak hanya bisa pasrah melihat pemandangan di depannya. Dengan mandiri wanita itu mengatur posisi duduknya dengan susah payah, namun Ade segera membantunya dengan Adnan yang terus menempel pada dirinya.
"Terima kasih Ade. Aku tak tahu aku baik-baik saja atau tidak. Bayiku De, bayi ku dia sudah pergi meninggalkan aku De. aku pasti ibu yang buruk hingga dia tak betah berada di rahimku." Lirih Nela sedih, namun kini kesedihannya berlipat ganda tak sanggup melihat Adenia juga Adnan. Bagaimana tidak, Adnan kini nampak duduk di belakang Adenia dengan memeluk Ade dari arah belakang. Menumpukan dagunya di pundak Adenia tanpa memikirkan perasaannya saat ini.
"Kau sungguh kejam tehadap ku Adnan. Tak bisakah kau memikirkan perasaanku biar sedikit saja." Batin Nela sakit, walau itu wajar-wajar saja Adnan melakukan hal itu pada Adenia karena Ade juga istrinya bahkan istri pertama pria itu.
Adenia yang melihat wajah menyedihkan Nela pun akhirnya hanya bisa membiarkan Adnan melakukan sesuka hatinya terhadap dirinya sekarang. Adenia pun tak lupa mengucapkan kata sabar untuk Nela.
"Sabar Nel, aku turut berduka atas kepergian bayi kalian. Mungkin belum rejeki mu dan Mas Adnan akan anak itu. Kalian bisa mencoba lagi nanti, Adnan pasti bakalan dengan senang hati menghamili mu ribuan kali Nel." Kata Adenia berhasil membuat Adnan terkejut, begitupun Nela yang tadinya cemburu akan perlakuan Adnan pada Adenia berganti menjadi rasa bersalah atas sindiran wanita itu.
"Bukan begitu sayang?" Tanya Adenia beralih pada Adnan yang sudah melepas dirinya itu..
Belum Adnan menjawab, Brian lebih dulu menyela di antara keluarga besar itu setelah sejak tadi hanya menjadi penonton atas drama keluarga sang kakak itu.
"Hahahahaha, Mba Ade itu nggak usah di tanya kali. Khan mereka udah suami istri. Yang nggak ada ikatan aja, udah dapat hasilnya dengan mudah. Yah pasti dengan senang hati bahkan berpahala kini kakak iparku itu akan mencetak banyak anak nantinya Mba. Bukan begitu Kakak ipar?" Seru Brian di akhir kalimatnya dia menatap mengejek pada Adnan.
Mendengar itu Adnan hanya bisa memijit pelipisnya, pusing.
"Bisakah kau menghargai kami yang sedang berduka Brian. Kumohon sedikit saja berikan hati nurani kamu. Apakah pantas kamu membahas hal yang sudah berlalu di situasi seperti ini, tolong kami sudah baik-baik saja sekarang jangan di perkeruh lagi." Ucap Adnan dengan gusar, sebenarnya dia ingin marah pada adik iparnya itu. Namun dia terlalu takut pada sang istri yang mungkin saja akan kembali marah padanya jika membentak sang adik.
"Hahaha Mba lihatlah suamimu itu, dia melarang ku membahas sesuatu yang sudah menyakitimu. Oh astaga, jika hukum di negara ini memperbolehkan memb*nuh ipar brengsek sepertimu. Mungkin kau tak ada lagi di sini sejak hari itu aku melihatmu menghianati Mba Ade ku." Tegas Brian dengan nada geram di kalimat menohok nya untuk Adnan.
"Aku hanya mengatakan fakta, jangan lupakan itu. Karena aku tak mungkin bisa melupakan hal itu sampai kapanpun. Jadi mari sama-sama mengingat agar kau tahu seberapa rendahnya dan bej*tnya dirimu. Dan satu lagi, kuharap jika saatnya tiba nanti kau tak akan menyesal." Tambah Brian kemudian beralih fokus ke arah sang kakak yang nampak diam tanpa ekspresi.
"Mba aku pamit. Dan untukmu Nela, aku turut berduka atas perginya bayimu. Tapi camkan ini, ini mungkin karma untukmu karena berani merebut milik orang lain. Tolong pikirkan ucapan ku ini dan sadarlah." Ucap Brian kemudian berdiri dan keluar ruangan itu.
Kini tinggallah keluarga kecil Adnan di ruangan itu tanpa suara. Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka, tak berselang lama Dokter periksa datang membuat Adenia menjauh ke sisi sofa.
...****************...
Dua hari Setelah kejadian di rumah sakit, kini Nela sudah kembali pulang. Wanita itu nampak lebih betah di kamarnya, membuat Adnan kini lebih ekstra memperhatikan wanita itu.
"Sayang, makan dulu. Kau sudah tampak kurus sekarang. Nggak empuk lagi kalau aku nempel di kamu." Ucap Adnan sembari memeluk Nela yang nampak setia berbaring di ranjangnya sejak siang hingga sore ini ketika dia pulang kantor.
Adenia mengatakan padanya jika Nela tak makan siang tadi meski Bibi sudah membujuknya.
"Masih Ada Adenia yang bisa kau peluk kalau aku sudah tak empuk lagi." Kata Nela santai sembari mengusap tangan Adnan yang nampak bertengger di dadanya.
Adnan tak berkutik, bingung harus menjawab Nela apa. Pria itu akhirnya memilih bangun dan mengambil nampan yang dia bawa untuk Nela.
"Bangun sayang, jangan membuatku marah." Ucap Adnan tak mau di bantah.
Tanpa berucap dan menunggu kalimat lanjutan Adnan, Nela pun bangkit dan duduk menghadap Adnan.
"Biar aku yang menyuapi mu." Kata Adnan saat Nela hendak mengambil alih nampak yang dia tahan, dan tanpa suara Nela mengikuti mau suaminya itu.
"Aaaa." Seru Adnan sembari menyendok kan makanan ke mulut Nela dan di terima wanita itu tanpa protes.
Selama makan berlangsung, Nela rak sedikitpun melepas pandangannya dari melihat wajah Adnan.
"Aku tahu aku tampan, jangan menatapku seperti ini." Kata Adnan dan lagi-lagi Nela tak bersuara.
Hingga sampai makanan di piring habis, Nela tak bersuara. Membuat Adnan gemas sendiri.
"Kenapa diam saja sejak tadi hmm? Cup." Ucap Adnan sembari dia mengecup sekilas bibir Nela.
"Manis banget, tapi kenapa diam terus hmm. Kau mengabaikan aku sayang, kenapa? Ada apa? Apa kau memikirkan bayi kita sayang.? Kamu harus ikhlas, mungkin itu sudah jalannya. Kita bisa buat lagi yang banyak, asal kamu sehat dulu. Biar nanti ketika kamu hamil lagi nggak beda jauh sama yang lagi di perut Adenia. Aku pasti bahagian punya anak yang lucu-lucu dari kalian berdua..."
"Aku pingin kita cerai Adn." Satu kalimat itu lolos dari bibir Nela membuat Adnan tercengang, tak habis pikir Nela bisa berkata seperti itu
"Apa maksudmu?" Kesal Adnan, moodnya tiba-tiba buruk ketika mendengar kalimat mengerikan itu.
"Aku mau kita cerai Ad, aku sudah tak lagi mengandung anakmu. Itu berarti pernikahan ini tak bisa kita lanjutkan lagi seperti awal niat kau menikahi ku karena bayi yang ku kandung."
"Berhenti bicara yang tidak-tidak Nela, jangan merusak moodku." Kata Adnan sembari dia berjalan ke arah meja sofa untuk meletakan piring bekas makan Nela yang sudah usai.
"Adn kit.."
"Tutup mulutmu itu, sampai kapanpun aku tak akan menceraikan dirimu bahkan Adenia sekalipun." Teriak Adnan dan langsung keluar dari kamar Nela dengan membanting keras pintu kamar wanita itu.
...****************...
...Btw, Jangan lupa like dan komennya yah🥰. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini🙏🤗. Sehat-sehat untuk kalian semua di manapun kalian berada😇...
"Rasa yang terpendam"
q jg bru siuman dri semedi...hehe
semangat !
dan cerita aku suka
Sofia , MENCINTAI SAHABAT KU,
cerita nya seru, rumah tangga yang romantis dan harmonis,
jangan sampai kedatangan nela meretak kebahagiaan mereka.