Walaupun aku koma selama enam tahun, tidak membuat aku lupa akan kejadian kelam yang menimpa hidupku.
Saat aku tersadar dari koma, aku berpura-pura tidak mengetahui kejadian sebelum terjadi kecelakaan.
Aku sengaja melakukan itu, karena aku ingin mangsaku masuk dalam perangkap.
Aku akan membalaskan dendamku, karena meninggalnya anak semata wayangku dan atas perselingkuhan suamiku.
"Aku akan balas dendam secara halus mas, dan kau dengan selingkuhanmu akan menangis darah." Adeela Athala.
Bagaimana kelanjutan selanjutnya, cuss lanjut....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lido kyungsoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Paparazzi
Ia berjongkok dan membenamkan kepalanya di pertengahan lipatan lututnya. Air matanya lagi-lagi tumpah membasahi wajah cantiknya. Sakit rasanya ketika diperlakukan seperti itu oleh suami sendiri. Suaminya menuduhnya berselingkuh, sedangkan selama ini yang selingkuh itu adalah dia, suaminya. Adeela sungguh tidak tahan terus-terusan menahan sakit hati berada di dekat suaminya. Ingin rasanya, ia mengeluarkan segala sakit yang selama ini tersimpan di hati, fikiran dan mata kepalanya. Namun ia harus kuat sampai dendamnya terbalaskan.
Ia menangis sesenggukan di sana dengan posisi berjongkok. Untung saja di sana sedang sepi, jadi ia bisa menumpahkan segala sakit hati dan kebenciannya yang kian memuncak.
"Huffff... sabar... sabar..." Gumam Adeela mencoba menguatkan dirinya dan menormalkan keadaannya yang masih sesenggukan setelah menumpahkan sedihnya.
Tiba-tiba dari belakangnya ada seseorang yang membalut pundaknya dengan jaket. Adeela segera menghapus sisa air mata di sekitar matanya dan setelah itu ia menoleh ke belakang.
"Justin!" Gumamnya dalam hati melihat lelaki yang memasangkan jaket di pundaknya ternyata adalah Justin.
Adeela segera berdiri dan melepaskan jaket yang berada di pundaknya. "Ada apa lo kesini?" Tanya Adeela dengan mata yang sembab dan hidung memerah.
"Lo kenapa nangis?" Ucapnya dengan nada pelan sambil menatap wajah Adeela.
"Ya, karena gue sedihlah, makanya gue nangis!"
"Semua orang kalau sedih pasti nangis lah, Deel. Yang gue tanya alasannya kenapa lo nangis kayak gini?" Mereka saling pandang-pandangan untuk sesaat. Justin mencoba menatap kedua mata Adeela dan terlihat dengan jelas kesedihan yang terpancar di sana.
"Bukan urusan lo!" Jawabnya ketus dan ingin segera berlalu dari sana meninggalkan Justin. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, Justin sudah lebih dulu mencekal lengannya. Alhasil, ia pun berhenti karena cengkeraman tangan Justin di lengannya.
"Maunya lo apa, Justin!" Bentak Adeela pada Justin yang kini menatapnya dengan rahang yang mengeras.
"Gue mohon, jangan ganggu gue. Gue enggak mau berdebat sama lo, di sini. Biarin gue sendiri dulu!" Kini nada bicara Adeela sudah melemah. Ia sungguh sangat lelah dan ingin segera pergi dari sana.
Lagi-lagi Justin menatapnya dengan rahang yang mengeras dan tidak mengindahkan ucapannya barusan.
"Gue pengen sendiri!" Ujarnya dengan nada lirih berharap Justin mendengar ucapannya dan melepaskan cekalan tangannya di lengannya.
Mereka kembali menatap dalam diam. Entah apa arti pandangan Justin padanya, ia tidak bisa membacanya.
Tiba-tiba saja, Justin menarik tangan Adeela dan kini mendekapnya dengan erat. Adeela meronta dalam dekapan Justin, namun Justin malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Walaupun lo sama gue selalu berantem setiap kali ketemu, tapi yang perlu lo tahu kalau gue...
gue... juga kasihan lihat lo kalau nangis kayak gini."
Adeela tertegun mendengar ucapan Justin. Entah mengapa rasanya bukan itu yang ingin diucapkan oleh Justin. Ia kini tidak lagi meronta dalam pelukan Justin dan memasang telinganya mendengarkan apa lagi yang akan Justin katakan padanya.
"Gue enggak terima kalau sampai ada yang buat kesal dan buat nangis musuh gue. Gue enggak terima kalau ada yang melakukan itu sama musuh gue sendiri. Harusnya hanya gue yang melakukan itu!" Adeela menengadahkan kepalanya dan melototkan matanya menatap Justin. Memang dasar ya, Justin memang selalu memancing kemarahannya.
"Lepas nggak!" Ucapnya dengan judes.
Justin terkekeh melihat reaksi Adeela dan segera melepaskan dekapannya.
"Nah gitu dong, jangan nangis mulu. Judes gini lebih mending daripada lo nangis. Tambah jelek tahu enggak!"
"Isshhh... lo emang selalu memancing emosi gue Justin. Gue sumpahin, keluar dari sini pantat lo digigit sama anjing!"
"Enggak usah sumpahin gue. Gue kebal sama sumpah. Mending sekarang lo hapus tuh ingus di hidung lo!"
Mendengar ucapan Justin, Adeela segera mengangkat tangannya dan menghapus ingusnya. Saat ia menatap tangannya, ternyata lagi-lagi ia dikerjai oleh Justin. Kekesalannya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Justin!" Teriaknya memekikkan telinga. Adeela ingin memberikan pukulan pada Justin, namun Justin menghindar dan berlari menjauhinya.
"Awas ya lo, gue dapat bakalan gue bejek-bejek!" Adeela berlari mengejar Justin yang sudah jauh di depannya. Hatinya akan merasa lega saat telah memberikan bogeman pada Justin.
Mereka saling kejar-kejaran layaknya anak kecil. Berkali-kali Adeela hampir menggapai Justin namun lagi-lagi Justin berhasil menghindar.
Karena terlalu kelelahan berlari mengejar Justin, kini nafasnya sudah ngos-ngosan. Ia pun menyerah memendam kekesalannya pada Justin dan berjalan menuju kearah teman-temannya.
"Tunggu pembalasan gue!" Ucap Adeela tidak terima telah dikerjai oleh Justin, si bule gila.
Tanpa Adeela sadari ternyata Farhan sudah berada di resort diadakannya acara reunian. Farhan sebenarnya juga mengadakan pertemuan dengan kliennya di Bali. Dan untuk masalah saat ia tadi menuduh istrinya, karena ia terbakar cemburu melihat gambar istrinya terlihat sedang mencium pipi sahabatnya, Justin (Yang sebenarnya adalah Adeela membisikkan sesuatu kepada Justin saat berada di panggung. Namun karena ulah seorang paparazzi yang membidik fotonya dari samping, Adeela terlihat seakan-akan sedang mencium pipi Justin). Farhan juga dikirimi lokasi acara reuni istrinya oleh orang tak dikenal tadi.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Jangan lupa vote, like dan komennya kk😚😚
Salam story from By_me
tiap hr jgn biarkan dia ketemu selingkuhan tiap hr datang ke kantor jgn ksh celah mereka bertemu! pintar2lah.
lalu bawa kopi tiap hr klu pagi kasih kopi dgn satu sendok teh biji apel yg sdh dihaluskan
datang ke kantor buat kopi biji apel.
hrs tegas dan tega jgn kasih smoun ingat anskmu mati gara2 suamimu tdk ingat pulang. tiap hr ikut ke kantor. setelah anter suami siang datang sampai pulang kantor.
ambil hp suami yg lama ksh yg baru dgn tipe yg sama.hpus semua kontak telpnya termasuk selingkuhannya.
laki2 jarang yg ingat no hp.
menghancurkan hububgan relasi suami. biar hancur juga perusahaannya.
satu biji apel nengadung 0.2 mg sianida. selama 3 minggu akan ada efeknya, suamimu jd gampang lupa, kobsentrasi hilang 50 % juniornya sdh tdk bisa bangun.alias impoten.
secara perlahan organ2 pentingnya menurun secara perlahan dan inibtdk terdekteksi.
persis kasus Pembunhan MIRNA KASUS KOPI SIANIDA.